
Huang Miaoling menatap ke udara hampa, matanya menerawang ruang dan waktu. Gadis itu sedang membawa kesadarannya kembali ke masa-masa dirinya menjabat sebagai Permaisuri Huang, pemimpin istana belakang, pasangan sang Naga, titisan sang Dewi Perang.
Di balik semua nama-nama mewah dan bermartabat yang diberikan padanya, Huang Miaoling teringat sosok wanita yang penuh dengan belas kasih. Namun, apa yang Huang Miaoling dapatkan dari semua itu?
Kematian dan pengkhianatan.
Mata Huang Miaoling tertutup, mencoba mengingat kembali saat-saat terakhirnya di kehidupan lalu. Bagaimana dirinya memohon untuk keadilan anak dalam kandungannya, bagaimana dirinya dianggap pendusta oleh orang yang dia perjuangkan untuk sebagian besar hidupnya, dan bagaimana dua orang yang dia kasihi menjadi alasan dirinya kehilangan nyawa.
Semua itu adalah mimpi buruk yang telah menghantui Huang Miaoling sampai di kehidupan ini.
Sekarang, mimpi buruk Huang Miaoling kembali menjadi kenyataan. Wang Chengliu dari kehidupan lalu … sesungguhnya ada di kehidupan ini.
Mata Huang Miaoling terbuka, sudut bibirnya terangkat. Gadis itu menertawakan tingkah-laku yang ditunjukkan pria itu padanya beberapa saat yang lalu, mengundang simpati, membicarakan hati.
Perlahan, senyuman mengejek Huang Miaoling menghilang. Pandangan gadis itu berubah sendu.
‘Begitu tega dirimu, Wang Chengliu. Sampai detik terakhir dan kau—’ Huang Miaoling tak mampu menyelesaikan kalimatnya, bahkan hanya sekadar dalam benaknya. ‘Apa yang kupikirkan di kehidupan lalu sampai bisa menikahi makhluk keji sepertimu?’ Satu tetes air mata menuruni wajahnya.
Huang Miaoling menarik napas dan segera menghapus air mata dengan lengan pakaiannya. Tak seharusnya dia membuang tenaga untuk menangisi pria yang sama sekali tak mementingkan perasaannya.
Memikirkan Wang Chengliu di hari pernikahannya, tidakkah itu membuat Huang Miaoling berdosa pada Liang Fenghong?
Setelah menghapus air matanya, mata Huang Miaoling menangkap keberadaan sebuah guci anggur yang berada di atas meja. Gadis itu terdiam sesaat, memandangi guci tersebut dengan saksama.
Kemudian, dengan kasar, Huang Miaoling meraih guci tersebut. Gadis itu membuka tutup guci dan menuangkan isinya ke dalam cangkir.
Dalam sekejap, Huang Miaoling meneguk isi cangkirnya. Lalu, dia menuangkan anggur tersebut lagi. Hal tersebut terus berulang sampai kali ketiga, dan gadis itu pun mengabaikan cangkir dan langsung meneguk isi guci dengan tidak sabar.
Huang Miaoling mendengus seraya menyeka sisa anggur di sudut bibirnya. “Permaisurimu?” ucapnya dengan nada mengejek. “Setelah bertahun-tahun, aku baru pernah mendengarmu mengatakan hal tersebut.” Dia meneguk lagi isi guci tersebut dengan ganas. “Mungkin, kalau kau mengatakannya dulu, itu akan terdengar lebih indah.” Gadis itu tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. Lalu, dia membanting guci tersebut ke atas meja. “Sekarang, itu terdengar menjijikkan!”
Qiuyue tersentak mendengar suara entakkan yang begitu keras dari dalam ruangan. Dia bergegas masuk ke area kamar tidur hanya untuk menemukan Huang Miaoling sedang setengah tertunduk dengan postur duduk yang kacau. Dari pandangan Qiuyue, majikannya itu terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha keras untuk mempertahankan tubuhnya agar tidak terjatuh.
__ADS_1
“Nyonya!” pekik Qiuyue seraya menghampiri majikannya, berniat membantu Huang Miaoling untuk menegapkan tubuh.
“Benar bukan, Qiuyue?!” tanya Huang Miaoling membuat pelayannya itu terkejut. “Bukankah pria itu seorang bajing*n?!”
Mata Qiuyue terbelalak mendengar ucapan yang begitu kotor keluar dari mulut Huang Miaoling. “Nyonya!” pekiknya. “Siapa yang kau bicarakan?!” Kepanikan dan kebingungan menghiasi wajahnya. ‘Apa Nyonya menyesali pernikahan ini?! Apakah Nyonya memergoki Tuan Liang berselingkuh?!’ Pikiran pelayan itu meliar.
Qiuyue dengan susah-payah menangkap lambaian tangan Huang Miaoling yang tak menentu, khawatir majikannya akan tanpa sengaja mendorong piring hidangan menjauh dari meja. Pada saat itu pula, gadis itu menyadari bahwa tangan kanan majikannya itu terhubung dengan sebuah guci.
‘Guci itu ….’ Qiuyue menoleh ke arah Huang Miaoling, lalu kembali pada guci tersebut. ‘Oh, tidak …,’ batinnya. Melihat Huang Miaoling ingin kembali meneguk isi guci, Qiuyue berseru, “Nyonya! Jangan minum itu lagi! Itu adalah anggur malam pernikahan!”
Ah, anggur malam pernikahan. Berbeda dengan anggur pernikahan yang memiliki makna simbolik dan dianggap sakral, anggur malam pernikahan memiliki tujuan untuk … mendukung ‘terjadinya’ malam pernikahan.
Mengerti maksudnya?
Bagus.
Singkat kata, bagi para gadis yang khawatir mengenai malam pernikahannya, mereka akan dipersilakan minum dari guci tersebut. Namun, tentu tidak dalam jumlah banyak. Itu karena … anggur tersebut begitu keras.
Tidak.
Huang Miaoling menekan wajah Qiuyue dengan telapak tangannya, menghalangi pelayan itu dari meraih guci yang dia genggam. Merasa Qiuyue akan membawa pergi minumannya, Huang Miaoling segera meneguk isinya hingga tetes terakhir, bak anak kecil yang menelan permennya agar tak direbut bocah lain.
“Ini, kau bisa ambil.”
Huang Miaoling memberikan guci kosong tersebut kepada pelayannya tersebut, tapi Qiuyue hanya mematung selagi menatapnya dengan pandangan kosong. Kemungkinan besar, pelayan tersebut tertegun dengan tindakan majikannya yang begitu kekanakan.
“Tak mau?” Tak mendapatkan tanggapan dari lawan bicaranya, Huang Miaoling membanting guci kembali ke atas meja. “Ya, sudah.”
Qiuyue masih terdiam untuk beberapa detik di tempatnya. Lalu, dia menengadahkan kepalanya dengan perlahan. “N-Nyonya, apa kau merasa ada yang aneh?” tanya pelayan tersebut dengan hati-hati.
Konon, seorang ahli bela diri akan kehilangan kesadarannya ketika menghabiskan satu guci anggur malam pernikahan. Qiuyue sedikit kagum mengenai bagaimana Huang Miaoling masih bisa bersikap ‘cukup’ normal.
__ADS_1
Melihat Huang Miaoling tidak membalasnya, Qiuyue merasa jantungnya berdetak kencang. Dia curiga efek anggur mulai mengambil alih. Ketenangan yang akhirnya menyelimuti ruangan membuatnya semakin ketakutan, khawatir Huang Miaoling kehilangan kesadaran di malam pernikahannya!
“N-Nyon—!?”
Qiuyue dikejutkan dengan Huang Miaoling yang secara tiba-tiba berdiri dari kursinya. Dia memperhatikan majikannya itu berjalan menuju tempat tidur dengan langkah kaku—tidak gontai, hanya kaku. Hal tersebut membuat Qiuyue segera mengejar Huang Miaoling, khawatir majikannya itu akan terjatuh.
Sebelum Qiuyue bisa menangkap lengan Huang Miaoling untuk membantunya berjalan, gadis itu menjatuhkan diri ke atas tempat tidur dengan keras, membiarkan mahkota di kepalanya bergeser secara paksa. Ujung mahkota Feniks yang tajam menekan keras ke dalam kulit Huang Miaoling, meninggalkan jejak merah pada dahi bagian atas gadis tersebut.
“Ah, Nyonya! Kau tak boleh terlebih dahulu berbaring di tempat tidur sebelum Tuan kembali!” Qiuyue berseru, tahu bahwa tindakan Huang Miaoling dipercaya akan membawa kesialan. Gadis itu berusaha keras untuk membuat sang Mingwei Junzhu kembali terduduk. “Nyonya, aku mohon, tetaplah seperti ini sampai Tuan kembali!” pinta Qiuyue sembari memasang wajah seperti ingin menangis.
Kalau ada yang salah dengan malam pernikahan ini, maka Qiuyue jelas akan menjadi orang yang disalahkan. Bukan hanya keluarga Huang yang akan menegurnya, tapi juga keluarga Liang!
Kenapa? Jelas karena Qiuyue adalah pelayan pendamping Huang Miaoling!
Huang Miaoling memandang Qiuyue untuk waktu yang cukup lama, membuat pelayannya itu sedikit gugup. Mengejutkan, tapi sang Mingwei Junzhu menganggukkan kepalanya. “Permintaan Qiuyue tak akan kutolak, aku berutang nyawa padamu,” balasnya dengan serius.
Qiuyue sama sekali tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Huang Miaoling. Namun, dia hanya tahu bahwa dirinya sangat bersyukur dengan hal tersebut. Saat ini, Qiuyue tak membutuhkan hal lain selain kerja sama sang Majikan.
Tiba-tiba, telinga Qiuyue menangkap suara gelak tawa dari kejauhan. Matanya membesar dan jantungnya berdetak keras. “Kain merah! Di mana kain merahnya?!” pekik Qiuyue seraya menoleh ke kanan dan ke kiri. “Ah!” Dia menemukan benda tersebut tergeletak di sisi tempat tidur. “Pakai ini!”
Kening Huang Miaoling berkerut, tak senang dengan kain merah yang mendadak menutupi pandangannya. Baru saja tangannya ingin menarik lepas kain tersebut, dia merasakan sebuah tamparan pada punggung tangannya.
“Nyonya berkata akan menuruti diriku!” desis Qiuyue. “Oleh karena itu, kau tak boleh menyentuh kain ini.” Pelayan itu mengangkat jari telunjuknya, memasang ekspresi memperingati. “Ingat! Hanya Tuan Liang yang boleh membuka kain merah ini, mengerti?! Selain Tuan Liang, tak boleh ada yang lain!”
Mendengar hal itu, Huang Miaoling tidak menjawab. Namun, beberapa detik kemudian, gadis itu menurunkan tangannya dan meletakkannya di atas paha dengan patuh. Kalau Qiuyue tak tahu apa yang sudah terjadi beberapa saat yang lalu, dia pasti tak akan sadar kalau majikannya itu berada dalam pengaruh alkohol.
Qiuyue menghela napas dan segera berlari keluar dari ruangan. Dia menutup pintu di belakangnya, dan bersandar sebentar di sana. Napasnya terasa begitu sesak. Takut dan khawatir bercampur aduk dalam hatinya.
Begitu Qiuyue melihat rombongan Liang Fenghong mendekat, dia segera berlari menjauh dari ruangan tersebut. Di dalam hatinya, Qiuyue berdoa, ‘Ya, Langit! Semoga Tuan Liang bisa menjinakkan Nyonya!’ Dia meringis. ‘Malam pernikahan harus berjalan dengan mulus!’
_____
__ADS_1
A/N: Hmm, MP di bawah pengaruh alkohol? Kayaknya kurang seru deh? Menurut kalian? Tunggu MIaomiao sadar atau gaskeun? #maksudnyaapayathorrr?