
“Berjalanlah dengan perlahan,” ucap Huang Jieli kepada istrinya. “Kau harus lebih berhati-hati.”
“Aku tahu, aku tahu. Berhentilah mengulangi ucapan itu,” balas Shang Meiliang sembari mengerutkan wajah, gemas karena suaminya terus-menerus mengucapkan kalimat yang sama. Dirinya memang sedang hamil, tapi itu tak berarti setiap langkahnya harus diikuti dengan teguran dan peringatan untuk selalu berhati-hati, bukan?
Situ Yangle tersenyum melihat keintiman dua sejoli itu. Dengan bayi yang akan bergabung di antara dua orang itu dalam beberapa waktu, Huang Jieli dan Shang Meiliang akan membentuk keluarga lengkap.
Memikirkan hal tersebut membuat senyuman di wajah Situ Yangle sedikit meredup, tangannya menyentuh perutnya sendiri. ‘Andai aku juga bisa demikian ….’
“Berhentilah bersikap seperti seorang wanita tua, Jieli!” seru Shang Meiliang yang membuyarkan lamunan Situ Yangle. Terlihat wanita itu sedang mencubit bibir suaminya dengan kesal. Huang Jieli hanya bisa mengerutkan dahi dan menampakkan ekspresi kesakitan, tapi dia tak bisa melawan istrinya karena takut akan menyakitinya.
Melihat hal ini, Situ Yangle berdeham. “Meiliang, kalau Nenek melihatmu melakukan itu pada suamimu, apa yang mungkin akan terjadi?” tanyanya dengan nada mengancam membuat Shang Meiliang melepaskan suaminya.
Ketiga orang itu berjalan menuju halaman Taiyang, halaman yang memiliki lokasi paling dekat dengan halaman Yueliang. selain halaman Baixing. Ketiganya berbincang di bawah perlindungan atap paviliun kecil yang dibangun oleh Huang Jieli untuk Shang Meiliang beberapa bulan setelah pernikahan mereka. Pria itu tahu bahwa istrinya tak suka berada di dalam kamar, tapi wanita itu juga tak suka berada di bawah terik matahari. Oleh karena itu, Huang Jieli membangun paviliun tersebut dengan tujuan agar istrinya bisa berada di luar kamar selagi terlindung dari cahaya matahari.
“Tuan Muda Liang terlihat begitu perhatian pada Adik Ipar Ketiga,” cetus Shang Meiliang seraya menerima sodoran satu buah anggur dari suaminya. “Aku iri,” lanjutnya membuat Situ Yangle menahan diri sekuat tenaga untuk tidak memutar bola matanya.
Jelas-jelas Huang Jieli sangat memanjakan Shang Meiliang, tapi wanita itu masih belum puas? Yang benar saja.
Di sisi lain, Huang Jieli menautkan alisnya. “Aku tidak yakin dia akan terus bersikap seperti itu setelah menikah,” balasnya ketus, cemburu karena sang Istri memuji pria lain dan juga tak senang sang Adik akan segera terikat dengan seorang pria. “Kalau dia membuat Miaoling menderita, aku akan memastikan hidupnya tak tenang.”
Situ Yangle tak lagi bisa menahan diri untuk tak memutar bola matanya mendengar ucapan Huang Jieli. “Sebelum kau melakukan sesuatu, Adik Ipar Kedua, Miaoling akan menghabisinya terlebih dahulu,” ucapnya membuat Huang Jieli terbelalak karena tersadar ucapan kakak iparnya itu ada benarnya.
__ADS_1
Kalau Liang Fenghong sungguh berani berbuat macam-macam, Huang Miaoling pasti akan dengan mudah membasmi pria itu. Lihat apa yang terjadi pada orang-orang yang berani menyinggung gadis tersebut, ada yang kehilangan nyawa … dan ada pula yang kehilangan status.
‘Astaga, kalau ada yang berkata Miaoling adalah inkarnasi dari Xi Wang Mu [1], maka aku percaya. Dia memang bijak, tapi juga sangat mengerikan,’ batin Huang Jieli.
Mendengar ucapan Situ Yangle, Shang Meiliang teringat akan sesuatu. “Aku masih tak percaya Pangeran Kelima sungguh bekerja sama dengan sang Guifei. Selain itu, ada apa dengan Pangeran Keenam? Apa masalah antara dirinya dengan Miaoling?” Kerutan tipis terbentuk di keningnya. “Aku merasa semakin tidak mengenali saudara-saudara sepupuku itu. Semakin lama, mereka menjadi semakin asing.”
Huang Jieli dan Situ Yangle terdiam, sedikit mengerti maksud ucapan Shang Meiliang. Bagaimanapun, kedua orang yang telah dicap sebagai musuh oleh keluarga Huang—Wang Wuyu dan Wang Chengliu—memiliki hubungan saudara dengan wanita itu, tak heran Shang Meiliang merasa sedikit kebingungan dan canggung.
“Apakah Ibunda tidak mengatakan apa pun padamu?” tanya Huang Jieli kepada Shang Meiliang, ‘Ibunda’ jelas merujuk pada ibu dari Shang Meiliang, Jincheng Zhanggongzhu. “Begitu banyak hal yang terjadi, tapi tak kulihat Ibunda bergerak sedikit pun.”
Helaan napas kabur dari bibir Shang Meiliang. “Sejak pernikahanku denganmu, Ibunda telah bersumpah untuk tak mencampuri urusan istana, kau ingat?” Dia tak percaya Huang Jieli tak mengingat hal sepenting itu.
“Ah ….” Huang Jieli tersenyum canggung. Dia sebenarnya tahu mengenai sumpah Zhanggongzhu, tapi dia tak yakin. Oleh karena itu, dia berpura-pura tak tahu untuk kembali memastikan.
Berjaga-jaga demi hari ke depan bukanlah sebuah kesalahan, bukan?
Khawatir sang Kakak akan kembali merasa terancam, Jincheng Zhanggongzhu pun memutuskan untuk hidup di luar istana, tak lagi menginjakkan kaki di tempat penuh kekuasaan itu. Hal itu dia lakukan agar Kaisar Weixin maupun para penghuni istana lain tak merasa khawatir dengan keberadaannya. Walau demikian, banyak orang yang berspekulasi bahwa apabila dirinya terpojok, Jincheng Zhanggongzhu akan meminjam kekuatan keluarga Huang untuk melindungi keluarga intinya sendiri.
Selain kecerdasan, ada satu hal yang paling mencolok dari Jincheng Zhanggongzhu. Hal itu tak lain adalah tingginya harga diri wanita itu sebagai bagian dari keluarga kerajaan. Apabila ada orang yang menjatuhkan reputasi keluarga kerajaan, Jincheng Zhanggongzhu pasti akan melakukan sesuatu untuk membuat orang tersebut jera. Entah itu hukuman fisik maupun gunjingan yang mampu mengguncang pikiran, wanita itu mampu melakukan keduanya.
‘Kalau Jincheng Zhanggongzhu memang tak ikut campur tangan, maka itu lebih baik. Jika sebaliknya, maka aku khawatir kalau wanita itu akan berusaha untuk memberi Miaoling pelajaran atas tindakannya yang mencoreng nama baik keluarga kerajaan,’ batin Huang Jieli dengan ngeri. Lalu, pria itu kembali menghela napas. ‘Tentu Zhanggongzhu tak akan melakukan hal tersebut apabila Ibu Suri sudah terlebih dahulu menargetkan Miaoling.’ Pria itu kemudian berpikir lagi, ‘Ah, tapi Ibu Suri dan Permaisuri sedang sibuk mengurus Wushuang.’ Huang Jieli pun hanya berakhir menggaruk kepalanya karena bingung. ‘Apa ini perasaanku atau situasi di ibu kota menjadi sangat rumit?’
__ADS_1
Tepat ketika Huang Jieli memikirkan hal tersebut, dia mendengar langkah kaki dua orang mendekat ke paviliun. Pria itu melirikkan matanya dan menangkap dua sosok yang membuatnya menggeram rendah, tak berniat menutupi rasa malasnya menghadapi kehadiran dua orang itu.
Huang Miaoling terlihat berjalan berdampingan di sisi Liang Fenghong, sebuah senyuman lebar terlukis di wajah gadis itu. Di sisi lain, rona merah terlihat menghiasi wajah Liang Fenghong, membongkar topeng acuh tak acuh yang dia lukiskan pada wajahnya.
Situ Yangle menangkap perubahan ekspresi kedua orang itu dari beberapa saat yang lalu. ‘Tidakkah situasi terasa berbalik?’ Senyuman penuh arti terlukis di wajahnya. ‘Apa yang terjadi?’
Setelah menyapa ketiga saudaranya, Huang Miaoling berkata, “Apa yang membuat Kakak Kedua memberikan tatapan seperti itu padaku?” Dia menyadari tatapan malas yang diberikan Huang Jieli. “Apa aku telah menyinggungmu?”
“Kau—”
“Abaikan dirinya,” ucap Shang Meiliang memotong perkataan suaminya. Dia sadar dengan aura positif dari sisi Huang Miaoling, tapi Shang Meiliang tak berniat menggali lebih dalam. “Kenapa kau kemari? Kami sengaja pergi agar tak mengganggu waktu kalian berdua. Dalam hitungan hari, kalian tak bisa bertemu lagi. Kalian tahu itu, bukan?” Wanita itu mengingatkan kedua sejoli itu mengenai tradisi pernikahan keluarga mereka yang menghalangi pertemuan calon pengantin pria dan wanita untuk menghindari timbulnya hal-hal buruk.
Huang Miaoling tersenyum dan berkata, “Tentu, Kakak Ipar Kedua. Hanya saja, aku kemari karena memiliki urusan dengan Kakak Ipar Pertama.” Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah Situ Yangle yang sedang menyesap tehnya.
“Denganku?” Situ Yangle terlihat sedikit kaget. “Ada apa?” Dia melirik Liang Fenghong yang ekspresinya telah kembali serius. Hal tersebut membuat hatinya merasa tidak enak.
Seperti Situ Yangle, Huang Miaoling melirik calon suaminya. “A Feng,” panggilnya.
Liang Fenghong pun mengambil satu langkah mendekat kepada Situ Yangle. Pria itu bertanya, “Nyonya Situ, apa kau keberatan bila aku memeriksa nadimu?”
__ADS_1