Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 78 Pengorbanan dan Pilihan


__ADS_3

Tangan Wu Huatai bergetar, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “K-kau bilang apa?” jantungnya terasa berhenti berdetak untuk sesaat saat mendengar ucapan Li Changsheng.


Senyuman terpampang di wajah mantan Raja An itu, tapi matanya berkaca-kaca, mencerminkan kesedihan dalam hatinya. Pria itu kemudian menurunkan pedangnya, “Aku tidak memiliki waktu untuk berpura-pura denganmu.” Lalu, dia beralih pada Hudie, “Laksanakan sesuai rencana.” Setelahnya, dia berkata dengan dingin, “Tangkap Wu Huatai.”


Alis Hudie terangkat, lalu dia melambaikan tangannya ke depan seraya berkata dengan nada melantun, “Serang.”


Detik berikutnya, pasukan dari sisi Hudie dan Li Changsheng segera menyerbu pasukan Wu Huatai. Walau terimpit dua pasukan, para prajurit Kerajaan Wu tetap bersikeras mempertahankan formasi mereka. Dalam situasi terpojok seperti ini, kabur sama sekali bukan sebuah pilihan. Oleh karena itu, mereka hanya bisa melaksanakan kewajiban mereka untuk melindungi sang kaisar, bahkan bila bayarannya adalah nyawa.


Wu Huatai hanya bisa memperhatikan bawahannya mati satu per satu di hadapannya. Permaisuri Tianzhen yang berada di dalam pelukannya bergetar hebat, tapi wanita itu tak mengeluarkan suara apa pun, tahu bahwa berteriak ketakutan tak akan membantu.


Di tempatnya, Hudie menatap lurus ke arah Kaisar Huatai. Kemudian, dia melirik ke arah Li Changsheng yang juga sedang sibuk memperhatikan sang pemimpin Kerajaan Wu itu. Hudie mengetuk-ngetukkan jari telunjuk pada lengannya, seakan sedang sibuk memikirkan sesuatu.


Mendadak, Hudie melirik ke arah satu bawahan yang berada di sebelahnya. Kemudian, dia menganggukkan kepala, melemparkan dagunya ke arah Wu Huatai.


Tahu dengan maksud pemimpinnya, satu prajurit itu menganggukkan kepala. Pria itu melesat melewati para prajurit Wu Huatai, begitu mudah karena musuhnya sedang sibuk melawan prajurit sekutunya. Kemudian, prajurit itu mengarahkan pedangnya ke arah Wu Huatai, bersiap menusuk pria tersebut.


“Yang Mulia!” Permaisuri Tianzhen berteriak dengan panik seraya dirinya mendorong keras suaminya untuk menyingkir.


Wu Huatai yang terdorong beberapa langkah ke samping terkejut. Ketika dia melihat sebuah pedang terarah kepada istrinya, dia hanya bisa berteriak, “Zhen’er!”


***


Suara daging terkoyak dan lenguhan rendah bisa terdengar. Hal itu diselingi dengan teriakan kematian dan juga tangisan keputusasaan. Di bawah matahari terik, aroma darah tersebar di seluruh penjuru ibu kota Kerajaan Wu.


“Bunuh semuanya! Jangan sisakan satu pun, terutama bila mereka bangsawan tanpa plakat!” teriak seorang pria dengan perawakan yang terbilang mengerikan. Tubuhnya tinggi dan berotot, golok besar di tangannya disertai beberapa lubang yang dihiasi dengan cincin-cincin. Suara gemerincing bisa terdengar setiap kali pria itu mengayunkan golok tersebut dan menebas korbannya. Senyuman lebar menghiasi wajahnya seraya dirinya berteriak, “Habisi semua baj*ngan dari Kerajaan Wu!”


Teriakan perang dari pria dengan golok besar itu diikuti dengan seruan semangat beberapa orang dengan penampilan yang serupa, pakaian yang terbuat dari kulit hewan ditemani pelindung besi yang utamanya menutupi dada dan juga pundak menyelimuti tubuh mereka. Rambut orang-orang itu dibiarkan tergerai berantakan, menambahkan elemen liar khas suku padang rumput.


Tanpa memandang bulu, sekelompok pasukan itu menyerang semua orang yang berada di hadapan mereka, entah itu prajurit ataupun rakyat biasa, bahkan pengemis saja tidak elak menjadi korban. Sesuai perintah pria bergolok besar yang bisa ditebak merupakan pemimpin pasukan itu, mereka tidak menyisakan satu pun orang yang melintasi pandangan.


Tidak jauh dari tempat penyerangan itu berlangsung, satu sosok terlihat sibuk menyembunyikan diri di sebuah gang kecil. Setelah area tersebut selesai ‘ditangani’ oleh para prajurit padang rumput—menyisakan jalanan sepi tanpa nyawa—sosok tersebut bergegas kembali ke ujung lain gang.


Setelah berlari sekian lama, sosok itu berhenti di hadapan sekelompok orang berkuda. Kemudian, dia berlutut, “Lapor, Wakil Jenderal. Mereka telah melewati jalan Wuyi.”


Di atas kuda, seorang pria dengan alis tebal dan mata runcing memasang ekspresi yang sangat serius. Wajahnya begitu tampan, dan baju besi yang dikenakan membuatnya terlihat begitu gagah. Namun, aura membunuh yang mengelilinginya akan membuat sebagian besar orang berlari menjauh.


“Bagus, kita bisa langsung melewati jalur Wujia untuk kemudian berusaha menembus gerbang Timur ibu kota,” ujar pria di atas kuda yang tak lain adalah Chen Long, sang wakil jenderal Kerajaan Wu. Dia kemudian beralih kepada prajurit berkuda lain yang berada di belakangnya, “Bersiaplah,” ujar Chen Long dengan nada rendah. “Setibanya kita di gerbang Timur, kita harus berusaha melewati mereka secepat mungkin, kalian mengerti?” tegasnya yang segera diikuti dengan anggukan seluruh bawahannya. Kemudian, dia melirik Hongchen, “Tak peduli apa yang akan terjadi nanti, tak ada dari kalian yang boleh menoleh ke belakang dan berusaha saling menyelamatkan.”

__ADS_1


Hongchen mengerutkan keningnya, “Wakil Jenderal, tapi—”


“Pesan harus disampaikan kepada Perdana Menteri Liang,” potong Chen Long dengan wajah serius, tak ingin dirinya dibantah. “Oleh karena itu, paling tidak satu dari kita harus berhasil keluar dari ibu kota, bahkan bila yang lainnya harus kehilangan nyawa … termasuk diriku.”


Mendengar hal ini, Hongchen mengepalkan tangannya. Ekspresi wajah pria itu berubah gelap, tak terima dengan perintah yang baru saja diturunkan oleh majikannya. Sebagai pengawal pendamping, dia telah dilatih seumur hidupnya untuk mematuhi dan melindungi Chen Long. Namun, ketika kedua tugas itu saling mengontradiksi satu sama lain, apa yang sebaiknya Hongchen lakukan?


Akhirnya, Hongchen hanya bisa menjawab, “Aku mengerti.” Di dalam hatinya, Hongchen hanya bisa berdoa bahwa saat di mana dirinya harus memilih antara mematuhi atau melindungi Chen Long tak akan tiba.


Setelah menurunkan perintahnya, Chen Long beralih kepada pria yang masih berlutut di hadapannya. “Berdirilah,” ujarnya yang dengan cepat diikuti oleh prajurit tersebut. “Kau hanya perlu mengawasi dari kejauhan. Apabila kami … salah satu dari kami berhasil lewat, segera beri tahukan hal ini kepada Tuan Muda Shen. Kau tahu tempat di mana dirinya berada.”


Prajurit itu mengangguk dengan mantap, “Aku mengerti.”


Mendengar hal ini, Chen Long segera memacu kudanya. Hal tersebut dengan cepat diikuti oleh para bawahannya di belakang. Wajah mereka memancarkan tekad bulat untuk memenuhi tugas yang telah diberikan.


Selagi memacu kudanya, rombongan pasukan Wu itu bisa melihat mayat bergelimpangan pada jalanan yang dilewati. Walau tak ada satu pun yang berhenti maupun memberikan reaksi besar, tapi kesedihan dan amarah terpancar jelas dari mata mereka. Bagaimanapun, mayat-mayat tersebut merupakan bagian dari kerajaan mereka, bahkan beberapa mungkin merupakan orang yang sempat mereka kenal.


Sementara para prajuritnya membulatkan tekad untuk membalaskan dendam negara, Chen Long sedang memikirkan tentang ayahnya. Beberapa saat yang lalu, ketika tersadar bahwa situasi kerajaan telah mencapai titik terburuk, terutama ketika datang pembawa pesan yang mengabarkan bahwa Kaisar Huatai menjadi sandera, Chen Qiang terpaksa menurunkan sebuah perintah kepada putranya itu.


“Chen Long! Kau harus memberitahukan situasi kerajaan kepada Perdana Menteri Liang!”


Chen Qiang bersikeras untuk menyerbu ke dalam istana, bahkan setelah mengetahui akan adanya jebakan dan kemungkinan dirinya tak akan selamat. Hal tersebut membuat Chen Long sempat enggan menuruti perintahnya. Namun, ucapan ayahnya membuat pemuda itu bungkam.


‘Li Changsheng…,’ geram Chen Long dalam hati, teringat akan informasi yang diberikan oleh sang pembawa pesan mengenai dalang penyerangan istana. ‘Baj*ngan tidak tahu diri!’ Chen Long sangat marah mengetahui bahwa pria yang diberikan kesempatan hidup kedua oleh sang kaisar akan mengikuti jejak langkah ibunya!


Tidak, dibandingkan dengan Ibu Suri He, Li Changsheng mengambil tindakan yang jauh lebih parah, dia melibatkan rakyat biasa!


Setelah memacu kudanya untuk sekian lama, Chen Long bisa melihat jarak antara rombongannya dengan gerbang Timur telah sangat dekat. Dia pun menghunuskan pedangnya ke depan, sebuah gerakan dalam kebisuan yang mengisyaratkan satu hal, ‘Serang!’


***


Mata gadis itu terbuka perlahan, memamerkan manik cokelat mudanya yang mencolok. Sejenak, dia mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya yang menerobos masuk penglihatannya. Dia mendudukkan diri, lalu mengangkat tangannya ke depan dada untuk kemudian mengepalkannya. Berbeda dengan sebelumnya, dia merasa tubuhnya lebih ringan.


Setelah memastikan bahwa kondisi tubuhnya lebih baik, gadis itu menoleh ke kanan, menyapu pemandangan ruang tidurnya. Tak melihat keberadaan sosok yang dia harapkan membuat gadis itu mengerutkan keningnya.


‘Di mana Lu Si?’ batin gadis tersebut.


Ya, gadis bermata cokelat terang dan rambut bergelombang itu adalah Lan’er.

__ADS_1


Baru saja Lan’er melambungkan sebuah pertanyaan mengenai keberadaan pendampingnya, dia menangkap keberadaan bukunya di atas meja. Gadis itu menjulurkan tangannya, dan buku tersebut pun mendadak terangkat ke udara. Telapak tangan Lan’er mengayun ke arahnya, dan buku yang melayang di udara itu lantas melesat ke arahnya.


Lan’er bergegas membuka buku di tangannya, lalu membaca isinya. Hanya perlu beberapa detik sebelum ekspresi di wajah gadis itu berubah buruk. Pegangan Lan’er pada buku tersebut pun mengencang, menyuarakan emosi yang menggebu dalam dirinya.


Tiba-tiba, Lan’er menutup buku tersebut dengan keras dan langsung melemparnya ke sembarang arah. “Baj*ngan! Beraninya dia!” maki gadis itu seraya bergegas turun dari ranjang. Baru saja Lan’er menapakkan kaki ke lantai, dia langsung terjatuh dengan keras. “Ah!” serunya, tak menyangka kakinya tak memiliki tenaga. ‘Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?!’ Sadar bahwa emosi membuat dirinya gegabah, Lan’er menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya untuk tenang. ‘Tenang ….’


Lan’er mengubah posisi duduknya menjadi bersila. Dengan kedua tangannya diletakkan di atas lutut, gadis itu mengambil posisi meditasi. Matanya tertutup seiring dirinya merasakan kekuatan yang meresap masuk ke dalam tubuh.


Setidaknya waktu satu dupa telah berlalu ketika telinga Lan’er menangkap suara derap langkah kaki yang begitu cepat, menunjukkan pemiliknya sedang dalam keadaan panik. Hal tersebut diikuti dengan pintu yang terbanting terbuka, menunjukkan sosok Lu Si dengan mata merahnya yang memasang ekspresi terkejut di wajahnya.


“Lan’er!” seru Lu Si seraya menghampiri gadis itu. Tak disangka, gadis itu berdiri dan melayangkan sebuah tamparan ke arahnya. Terkejut, Lu Si membeku di tempatnya. Lalu, dia mengerutkan kening dan menatap Lan’er dengan tajam. “Apa masalahmu?!”


“Apa masalahku?!” tanya Lan’er dengan nada tinggi. “Jangan mencoba bermain denganku, Lu Si!” Gadis itu mengangkat tangannya dan buku malang yang tadi dia lempar sekejap mendarat di tangannya. “Apa ini?!” Lan’er menampakkan satu halaman ke hadapan Lu Si. “Apa kau berani mengatakan bahwa kau tak ada hubungannya dengan hal ini?!”


Menangkap apa yang Lan’er maksudkan, ekspresi Lu Si berubah tenang. Pria itu membalas ucapan gadis itu, “Kau tahu bahwa hal tersebut tak bisa dihilangkan untuk mencapai tujuan akhir.”


Lan’er menatap Lu Si dengan pandangan tak percaya. “Lu Si, kau tahu jelas bahwa aku bisa—”


“Aku tidak mengizinkannya,” potong Lu Si dengan amarah terpancar dari matanya. “Sampai kapan pun, aku tak akan membiarkanmu melakukan hal itu. Mereka tidak pantas!”


Mendengar balasan Lu Si, Lan’er terdiam di tempatnya. Kemudian, tubuh gadis itu bergetar, emosinya tidak bisa lagi dibendung. “Kau kira siapa dirimu sehingga bisa mengaturku?!” teriaknya. Lalu, gadis itu membanting buku di tangannya ke dada Lu Si, dan dia berlari melewati pria itu.


Sebelum Lan’er sempat meninggalkan ruangan, Lu Si segera menangkap pergelangan tangan gadis tersebut. “Kau mau ke mana?!”


Lan’er mengayunkan tangannya dengan keras, menyebabkan tangan Lu Si terlepas dari pergelangan tangannya. Dengan mata cokelat yang terlihat membara dengan api amarah, gadis itu menggeram rendah, “Membereskan kekacauan yang kau ciptakan!” Dan, sebelum Lu Si sempat mengatakan apa pun lagi, dia menghilang dari pandangan.


Di tempatnya, Lu Si hanya bisa terdiam sembari mengepalkan tangannya. ‘Untuk menyelamatkan sebuah nyawa, maka harus ada nyawa lain yang menggantikannya.’ Kemudian, manik semerah darah pria itu mengarah ke langit. ‘Dan, kalau satu nyawa itu berhasil hidup sampai akhir … maka kau … akan menerima hukuman langit.’ Ekspresi terluka menggerayangi wajah Lu Si, ‘Bagaimana mungkin aku rela melihat hal itu terjadi?!’


___


A/N:


Kulihat banyak yang sulit mengikuti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Nah, author lagi baek, jadi berniat kasih clue untuk siapa dalang di balik penyerangan Wu:


Kalian inget gak sih sama Hudie?


Udah, cluenya itu doang. HAHAHAHAHA

__ADS_1


*Langsung lari karena bakalan dilemparin panci*


__ADS_2