
“Jadi, sampai kapan kau akan mengurungku?” tanya Huang Miaoling tanpa berbasa-basi. Pintu baru saja tertutup dan tamu belum terduduk, tapi gadis itu sudah berbalik dan menodongkan pertanyaan kepada Liang Fenghong. “Apakah hal ini akan menjadi sebuah peraturan ketika aku menikahimu nanti?” tuduhnya dengan bibir merengut. “Sepertinya aku harus memikirkan kemba—!”
Tanpa menunggu Huang Miaoling menyelesaikan ucapannya, Liang Fenghong mendaratkan sebuah kecupan kecil di bibir Huang Miaoling, membuat gadis itu membeku di tempat. Pria itu tak bisa menahan diri melihat betapa menggemaskannya Huang Miaoling yang sedang merengut selagi mencoba mendapatkan kembali kebebasannya.
Saat rohnya kembali, Huang Miaoling telah siap dengan rentetan makian. “Kau—!” Namun sekali lagi, ucapannya terhenti akibat kecupan lain yang mendarat di bibirnya.
Tangan Huang Miaoling yang baru saja terangkat untuk menuding Liang Fenghong dengan sigap digenggam oleh pria itu. Kali berikutnya gadis itu ingin membuka mulut, pria itu akan mendaratkan kecupan lain untuk membungkamnya. Hal itu terus berulang sampai akhirnya Huang Miaoling berhenti berusaha mengatakan hal lain. Wajah gadis itu merah merona, antara marah dan malu.
“Hidung belang,” bisik Huang Miaoling dengan volume yang cukup besar agar Liang Fenghong bisa mendengarnya. ‘Tidakkah dia menjadi terlalu berani sejak kejadian di hari sebelumnya?!’
Saat Liang Fenghong telah menargetkan bibirnya, gadis itu dengan kuat menarik lepas tangannya dari tangan pria itu. Lalu, dengan tangan yang sudah terbebas itu, Huang Miaoling berusaha melindungi bibirnya dari serangan lain yang telah siap didaratkan oleh pria di hadapannya.
“Liang Fenghong!” bentak Huang Miaoling dengan pancaran mata penuh kekhawatiran, sungguh jarang melihatnya seperti itu.
“Kalau kau terus berbicara, aku akan menganggap kau menyukainya,” balas Liang Fenghong membuat Huang Miaoling sangat terkejut, tatapan tajam pria itu mengantarkan sebuah sensasi panas meremang di wajah gadis itu.
‘Apa ini ajaran lainnya dari Meihua?! Aku sungguh harus memberi pelayan itu pelajaran!’ teriak Huang Miaoling dalam hati seraya mengambil beberapa langkah mundur untuk menjauh dari Liang Fenghong.
“Bukan Meihua, tapi dirimu,” balas Liang Fenghong membuat Huang Miaoling mengerutkan keningnya dan memasang wajah kesal bercampur kebingungan. Pria itu mengabaikan ekspresi bingung calon istrinya, tak ingin memberi tahu kalau dirinya merujuk pada cara-cara licik Huang Miaoling untuk menekannya.
Kemudian, Liang Fenghong menggunakan satu tangannya untuk menarik Huang Miaoling mendekat ke arahnya. Dia lalu melingkarkan tangannya yang lain di pinggang ramping gadis itu. Kepalanya terbenam pada ceruk leher sang Nona Pertama Huang dengan nyaman.
__ADS_1
“Ling’er, aku mencintaimu.”
Amarah yang terpancar dari mata Huang Miaoling sedikit mereda. Ekspresi gadis itu yang sedari tadi menegang berubah santai. “Tak berarti aku akan diam saja dengan kenyataan kau menjadikanku tahanan rumah,” balas Huang Miaoling, berusaha mempertahankan kesadaran agar tak luluh dengan sikap pria tersebut. “Aku masih harus mengurus pasukan dan kediaman baruku, kau ingat?” Wajahnya menyentuh rambut halus Liang Fenghong yang tergerai panjang.
Hati Liang Fenghong merasa terbang ke langit ketujuh. Huang Miaoling tidak menolak maupun menepiskan ucapan kasihnya. Sebaliknya, aura penuh emosi dari tubuh gadis itu menyusut. Ini pertanda baik, bukan?
“Aku tak peduli,” balas Liang Fenghong dengan nada yang entah kenapa terdengar manja. Hal itu membuat Huang Miaoling sempat meronta untuk melepaskan diri, mungkin bersiap untuk kembali memaki pria itu. Akhirnya, Liang Fenghong dengan cepat membenarkan ucapannya. “Aku bercanda, aku sudah mengurus semuanya.”
“Apa maksudmu?” Huang Miaoling tetap melepaskan pelukan mereka untuk menatap wajah pria tersebut, sedikit menikmati mata hitam penuh kasih yang terarah padanya. “Bagaimana mungkin kau memiliki hak untuk menyentuh pasukan kerajaan Shi?” tanyanya dengan alis yang meninggi.
Liang Fenghong meraih tangan Huang Miaoling dan tertawa geli. “Tentu saja aku tidak bisa menyentuh pasukan kerajaan Shi, terutama karena pasukan yang sedang kita bicarakan adalah Pasukan Longzhu.” Dia mendorong beberapa helai rambut Huang Miaoling ke belakang telinga gadis itu. “Aku meminta Wang Junsi untuk menyampaikan pesanku kepada Yang Mulia Kaisar Weixin, meminta sang Kaisar agar membiarkanmu beristirahat untuk mempersiapkan pernikahan kita.” Mata pria tersebut menatap Huang Miaoling dalam-dalam. “Sementara itu, sang Pangeran Keempat akan membantumu mengurus pasukanmu.”
Ucapan Liang Fenghong membuat Huang Miaoling tersadar bahwa pernikahannya dengan pria itu semakin mendekat. Pandangan gadis itu terjatuh ke bawah. ‘Pernikahan lagi ….’ Dengan cepat, Huang Miaoling menggeser pikirannya pada topik lain. “Kau meminta sang Putra Langit untuk memberikanmu izin? Atas dasar apa dia bekerja sama denganmu?” Dahi gadis itu berkerut.
Huang Miaoling mengerti niat baik pria itu, tapi mulutnya tak bisa menahan diri untuk tidak membalas dengan ketus, “Jadi, kau ingin aku menjadi boneka di kediaman?”
Liang Fenghong terkekeh geli mendengar perumpamaan itu. “Aku tak akan pernah mencuri kebebasanmu. Lagi pula, aku tak bisa,” ujarnya jujur, tahu betapa keras kepalanya Huang Miaoling. “Namun, tubuh dan pikiranmu perlu istirahat. Jadi, biarkanlah aku menggantikanmu untuk beberapa waktu.”
“Tidakkah kau berlebihan, A Feng?” balas Huang Miaoling. “Aku baik-baik saja.”
“Aku adalah seorang tabib,” balas Liang Fenghong singkat, membuat Huang Miaoling bungkam. Pria itu kemudian menggenggam kedua tangan mungil Huang Miaoling. “Aku akan selalu pastikan kau mendapatkan waktu istirahat yang cukup, entah itu secara fisik maupun pikiran.”
__ADS_1
“Kau tahu aku tak terbiasa berdiam saja.”
Mendengar Huang Miaoling masih membalas ucapannya, senyuman Liang Fenghong menghilang dan sebuah seringai yang terlihat sangat asing menghiasi wajahnya. “Kau sebaiknya beristirahat sebanyak mungkin sekarang.”
Ucapan pria itu membuat Huang Miaoling menaikkan alis kanannya, bingung. Jelas ada maksud terpendam dari kalimat yang dikatakan Liang Fenghong, tapi gadis itu tak yakin.
Detik berikutnya, Liang Fenghong mendekatkan bibirnya di telinga Huang Miaoling. Suara rendah dengan getaran menggoda bisa terdengar mengatakan, “Karena saat kau menjadi istriku, aku tidak yakin kau memiliki banyak waktu untuk itu.”
Selama sesaat, arus panas bisa terasa menyebar di wajah Huang Miaoling. Namun, ketenangan dalam dirinya dengan cepat kembali dan mata gadis itu memancarkan kilatan menantang.
Tanpa Liang Fenghong duga, Huang Miaoling menggeser sedikit kepalanya, membuat bibir gadis itu berada sangat dekat dengan telinga pria tersebut. Dengan sebuah senyuman nakal yang terlukis di bibirnya, Huang Miaoling berkata dengan nada menggoda, “Aku rasa … sebelum kau menjadi suamiku, aku juga tidak akan membiarkan dirimu beristirahat.”
Dengan cepat, Liang Fenghong menarik kembali kepalanya. Tangan pria itu terarah pada telinganya yang sekejap berubah merah, sama seperti wajahnya yang memasang ekspresi terkejut. “Kau—!”
Huang Miaoling melingkarkan kedua tangannya di leher Liang Fenghong, membuat pria itu semakin salah tingkah dan membeku di tempat. Gadis itu sedikit berjinjit untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah sang Tuan Muda Liang.
Wangi tubuh Huang Miaoling terasa memabukkan bagi Liang Fenghong, insting pria itu mulai berusaha untuk mengambil alih akal sehatnya. Tangan sang Tuan Muda Liang secara otomatis bergerak untuk berpindah pada pinggang gadis itu, ingin memperkecil jarak yang ada di antara dirinya dan siluman menawan di hadapannya.
Sebelum kedua bibir mereka bertemu, Huang Miaoling berhenti dan memasang sebuah senyum penuh kemenangan. Dengan nada mengalun yang membuat hati Liang Fenghong berdesir, gadis itu berkata, “A Feng, masih perlu puluhan tahun sebelum kau berhasil menggodaku.”
___
__ADS_1
A/N: Jantungnya udah mulai pemanasan belom? Udah cukup? Mau lagi?
Kalian pada suudzon amat daaah, olahraga jantung langsung pada bilang Fenghong sama Miaoling pisah hahaha