
Mendengar pertanyaan Huang Liqiang, semua orang menoleh ke arah Huang Miaoling. Berbagai pandangan dilemparkan kepada gadis itu, dimulai dari kekhawatiran sampai dengan kekaguman.
‘Apakah Miaoling serius? Dia ingin mengubah status netral keluarga Huang?’ pikir Huang Jieli yang merasa tidak nyaman dengan kenyataan tersebut.
Di sisi lain, ada pula Situ Yangle yang memasang mata berbinar. ‘Kalau ada seseorang yang mampu mendorong salah satu pangeran untuk berdiri ke atas takhta, Huang Miaoling adalah salah satu orangnya. ´Pandangan wanita itu berubah tajam. ‘Jika Kakek Huang dan Ayah sungguh menyetujui keputusannya, maka siapa pun pangeran yang beruntung akan memiliki dukungan terkuat.’
Berbeda dengan kedua orang sebelumnya, Shang Meiliang menampakkan ekspresi penasaran. ‘Pertanyaannya adalah … siapa yang gadis ini dukung?’ Dia menebak dalam hati, ‘Dari kondisi saat ini, pangeran yang paling memungkinkan adalah … Kak Junsi.’
Liang Siya menatap ke arah cucunya dengan serius. Dia sendiri memiliki pemikiran yang sama dengan Shang Meiliang, tapi …. ‘Siapa yang tidak tahu kalau cara berpikir Ling’er berbeda dari kebanyakan orang?’ Wanita itu membatin, ‘Tak akan mengejutkan kalau dia berniat untuk mendukung Wang Zhengyi. Bagaimanapun, dia adalah pangeran mahkota yang sah.’
Hanya dengan melihat berbagai pandangan yang ditujukan padanya, Huang Miaoling bisa menebak apa yang ada di pikiran semua orang. Dia menutup matanya untuk sesaat, memikirkan cara terbaik untuk menyampaikan niatnya.
Detik berikutnya, Huang Miaoling membuka matanya. “Tebakan Kakek benar, aku memang ingin memberikan dukunganku.” Lalu, dia tersenyum kecil, membuat Huang Yade yang berada di kursinya memijit pelipisnya, sudah tahu apa yang ingin adiknya katakan. “Aku akan memulai dengan Wang Xiangqi.”
“Huang Miaoling! Kau kehilangan kewarasanmu?!” seru Situ Yangle. Sebagai putri dari sang Perdana Menteri, dia tahu satu-dua hal mengenai betapa gilanya tindakan Huang Miaoling. “Kau tahu kalau mendorongnya ke takhta sama saja dengan memberikan keluarga Li kesempatan untuk kembali bangkit?!”
Semua orang terdiam, itu karena pemikiran mereka dan Situ Yangle selaras.
Huang Miaoling menggelengkan kepalanya. “Tak ada kesempatan.” Kilatan mengerikan terpancar dari matanya. “Aku tak akan memberikan mereka kesempatan itu.” Lalu, sebuah seringai yang jarang terlihat tiba-tiba menghiasi wajahnya, membuat suasana terasa mencekam. “Lagi pula, aku merasa kalian salah paham dengan maksud ucapanku.”
***
“Salam kepada Pangeran Ketujuh,” ucap seorang pelayan sembari membungkuk.
Wang Xiangqi menganggukkan kepalanya, mempersilakan pelayan halaman Li Guifei tersebut untuk menghentikan salam hormatnya. “Bagaimana kabar Ibun—!”
Prang!
Suara benda yang pecah berkeping-keping menghentikan ucapan sang Pangeran Ketujuh, membuatnya terbelalak. “Itu—!”
Arah suara tersebut berasal dari ruang tidur sang Selir Agung. Hal tersebut membuat Wang Xiangqi segera berlari menghampiri ruangan ibundanya.
Dengan kasar, sang Pangeran Ketujuh mendorong pintu ruangan. Pandangannya menyapu seisi ruangan, menangkap sosok sang Ibunda dengan rambut berantakan yang berdiri di depan meja riasnya. Dua pelayan bersujud di belakang Li Guifei, kentara takut dengan kemarahannya yang meledak.
“Kalian menertawakan diriku, bukan?! Senang karena aku sekarang telah kehilangan segalanya?!” Li Guifei menuding kedua pelayan yang bersujud dengan tubuh gemetar itu. “Kalian kira aku butuh kekuatan besar untuk mengambil nyawa kalian?!”
“Guifei, Anda salah sangka! Sungguh!” pinta salah seorang pelayan dengan memelas selagi yang lain terdiam ketakutan.
“Masih berani—!”
Ucapan Li Guifei terhenti ketika sebuah tangan menyelip ke dalam telapaknya. Dia menoleh dengan cepat dan menangkap kehadiran putranya.
“Xiangqi?!” Li Guifei tak menyangka akan menerima kunjungan dari putranya di saat seperti ini. Dia menarik tangannya dari genggaman putranya dan berusaha untuk merapikan dirinya. “Kenapa kau tidak melaporkan kedatanganmu?!” tegurnya dengan ekspresi panik.
Wang Xiangqi menarik kembali kedua tangan ibundanya, menghentikan wanita itu dari merapikan penampilannya. Hati sang Pangeran Ketujuh begitu pedih melihat perilaku sang Ibunda, bahkan ketika di hadapan putranya sendiri, dia masih harus memberikan penampilan terbaik.
__ADS_1
“Ibunda, tenanglah,” pinta Wang Xiangqi membuat Li Guifei mematung. Melihat ibundanya mendapatkan kembali ketenangannya, Wang Xiangqi menoleh pada kedua pelayan. “Tunggulah di luar.”
“B-baik, Pangeran!” Kedua pelayan itu segera menyingkir dari ruangan itu.
Setelah para pelayan meninggalkan ruangan, Wang Xiangqi mengalihkan pandangannya pada meja rias ibunya. Saat mata Wang Xiangqi menangkap pecahan cermin di atas meja tersebut, dia langsung mengerti asal-usul suara mengerikan tadi.
Wang Xiangqi menjulurkan tangannya dan meraih sisir kayu yang berada di sisi meja. Saat dirinya menyentuh surai sang Ibunda, sebuah tangan dengan jari-jari lentik menghentikannya.
Sebuah senyuman terlukis di wajah Wang Xiangqi. “Apa membantu ibundaku juga tidak diizinkan sekarang?” tanyanya dengan pandangan sedih.
Li Guifei terdiam. Namun, wanita itu menyerah dan menarik tangannya kembali.
“Kau sudah dengar?” tanya Li Guifei dengan pandangan terarah pada cermin, mempelajari pantulan ekspresi sang Putra.
Wang Xiangqi menganggukkan kepalanya. “Ayahanda tidak mengizinkanmu keluar satu langkah dari halaman ini,” ucapnya. “Ibunda harus tahu kalau Ayahanda bermaksud baik.”
“Hah!” Li Guifei mendengus. “Mengurungku adalah niat baik, maka membunuhku adalah tindakan suci!” Wanita itu menoleh ke belakang dan menatap putranya dengan tajam.
Ekspresi Wang Xiangqi berubah pahit. “Ibunda, kau berada pada titik terlemahmu. Saat ini, semua orang yang membencimu sedang berniat untuk menghabisimu!” Pemuda itu mengerutkan keningnya. “Kalau Ayahanda sungguh ingin membunuhmu, maka dia akan mengirimkanmu ke istana dingin! Di sana, siapa pun bebas melakukan apa pun padamu!”
Li Guifei menggertakkan giginya, dia jelas tahu mengenai hal itu. Namun, satu-satunya alasan Wang Weixin tidak membunuhnya adalah … karena putranya.
Walau terlahir dari rahim wanita yang sangat dibenci, tapi Wang Weixin begitu menyayangi Wang Xiangqi, begitu pula semua orang. Terlepas dari kenyataan bahwa sang Pangeran Ketujuh merupakan putra dari Li Guifei, keturunan Keluarga Li, tapi tak ada yang sepenuhnya membenci pangeran tersebut. Hanya karena tidak ingin putranya terluka, Kaisar Weixin lebih memilih mengurung Li Guifei dibandingkan langsung membunuhnya.
Kenapa?
Wang Xiangqi terdiam, menahan diri untuk tidak membalas ucapan ibundanya. Dia tahu kalau sekalinya dia membantah, maka ocehan tiada akhir dari Li Guifei akan menjadi imbalannya. Dengan kondisi sang Ibunda yang sudah begitu buruk, Wang Xiangqi tak ingin lagi menambahkan beban pikirannya.
Selesai memasangkan konde pada rambut Li Guifei, Wang Xiangqi berkata, “Ibunda, apakah kau sungguh telah bekerja sama dengan Kakak Kelima untuk menyakiti Kakak Keempat dan Kak Miaoling?”
Pelipis Li Guifei berkedut mendengar putranya memanggil Huang Miaoling dengan begitu intim. “Jangan sebut nama jal*ng itu di hadapanku!” bentaknya.
Bentakan tersebut adalah jawaban bagi Wang Xiangqi. “Jadi, benar ….” Ekspresi kesulitan menghiasi wajahnya. Wang Xiangqi meraih tangan ibunya, lalu berkata, “Ibunda, sudahilah.” Dia mengeratkan genggamannya. “Apa tidak bisa kita hidup dalam damai bersama yang lain? Aku tak menginginkan kekuasaan, aku hanya ingin melayanimu seumur hidup sebagai putra yang taat, apa tidak bisa?”
Mendengar hal ini, api membara menyala pada dua manik Li Guifei. Wanita itu melepaskan genggaman tangan putranya dengan kasar.
“Kau kira karena dirimu tak memiliki niat buruk pada orang-orang itu, maka mereka tak akan berbuat buruk padamu?” bentak Li Guifei seraya berdiri dari kursinya. “Gunakan otakmu, Wang Xiangqi! Di mata orang-orang yang kau anggap saudara dan teman itu, kau hanyalah duri dalam daging!” Dia melanjutkan, “Lihat apa yang terjadi pada kakekmu! Dia kehilangan nyawanya di tangan keluarga Huang! Apa kau tak akan membalaskan kematiannya?!”
Teringat dengan cerita Wang Qiuhua mengenai tindakan Li Hongxia di kerajaan Wu, Wang Xiangqi tahu kalau apa yang ibundanya katakan adalah omong kosong. “Ibunda, Kakek mencari kematiannya sendiri!” teriaknya dengan tidak sabar.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat keras di wajah Wang Xiangqi, membuat pemuda itu membeku di tempatnya. Dia menyentuh wajahnya yang terasa begitu panas dan menatap sang Ibunda yang begitu marah.
“Dia melakukannya untukmu!” bentak Li Guifei seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah Wang Xiangqi. “Demi dirimu, dia kehilangan nyawanya! Sekarang, kau malah menyalahkannya? Wang Xiangqi, aku sangat kecewa padamu!”
__ADS_1
Selama sesaat, Wang Xiangqi terdiam. Dia mencari-cari sosok ibundanya yang begitu lembut, tapi wanita itu sudah tak lagi ada. Yang ada di hadapan Wang Xiangqi sekarang hanyalah seorang wanita yang telah sepenuhnya dikuasai oleh nafsu dan ambisi.
Wang Xiangqi muak dengan sifat manipulatif ibundanya. Bahkan di hadapan putra satu-satunya, Li Guifei masih mencoba menggunakan cara itu untuk mengendalikan dirinya kembali.
“Kecewa?” Wang Xiangqi mengerutkan keningnya. Kemudian, dia terlihat marah. “Apa Ibunda yakin Kakek tidak menginginkan kekuasaan itu untuk dirinya sendiri?”
“Kau—!”
“Jangan Ibunda kira aku tidak tahu bahwa Kakek berniat untuk membiarkan Ibu Suri He menjadikanku sebagai boneka di kerajaan Shi,” ujar Wang Xiangqi dengan suara dalam, matanya memancarkan kilat amarah.
Ekspresi terkejut menghiasi wajah Li Guifei. Wanita tersebut sedang terfokus pada kalimat pertama yang diucapkan putranya, dia tak pernah menyangka Wang Xiangqi memiliki kemampuan untuk mengetahui hal semacam itu. Di matanya, Wang Xiangqi adalah pemuda polos yang begitu taat.
Cocok untuk dijadikan alat.
“Kenapa? Ibunda tak menyangka aku bisa menebaknya?” Wang Xiangqi mendengus. “Tidak aneh, Ibunda hanya tahu memerintahkanku untuk menarik perhatian Ayahanda. Selain itu, Ibunda tak tahu apa pun lagi mengenaiku.” Dia terkekeh. “Mengenai apakah aku memiliki kemampuan memimpin negara atau tidak, itu tidak penting. Yang penting, aku bernapas dan akan menuruti setiap perintahmu.”
Wang Xiangqi menggerayangi wajah Li Guifei yang membeku. Pemuda itu menjatuhkan pandangannya dan meletakkan sisir kayu di tangannya di atas meja. Lalu, dia berjalan ke arah pintu. Kalau terus berbicara dalam kondisi ini, dia tahu yang akan terjadi hanyalah peperangan besar antara dirinya dan sang Ibu.
Li Guifei mengernyitkan dahi. Dia langsung berlari mengejar putranya. “Wang Xiangqi!” Wanita itu meraih tangan putranya. “Ibunda minta maaf, Ibunda dikendalikan emosi.” Kelembutan terpancar dari wajahnya seraya Li Guifei menyentuh bagian wajah putranya yang menerima tamparannya.
Kalau dirinya masih Wang Xiangqi yang dulu, maka dia pasti akan langsung menangis dan bersyukur karena sosok ibundanya yang begitu lembut masih ada. Namun, seseorang telah menjelaskan betapa gentingnya situasi yang ada pada saat ini. Kalau Wang Xiangqi tidak segera mengambil tindakan, maka hanya kehancuran dan kehilangan yang akan dirinya alami.
“Lalu, apakah kau bersedia pergi bersamaku ke istana musim panas?” tanya Wang Xiangqi. “Aku telah meminta izin pada Ayahanda untuk tinggal di sana untuk beberapa waktu. Kondisi istana tak stabil, akan lebih baik bagi kita untuk menjauh selama beberapa saat.”
Li Guifei menarik tangannya dari wajah putranya, matanya melotot. “Saat ini adalah saat terbaik untuk menyingkirkan musuh-musuh kita!”
Mendengar ucapan sang Ibunda, sebuah senyuman pahit menghiasi bibir Wang Xiangqi. “Aku mengerti.” Lalu, dia berkata dengan tegas, “Dengan demikian, aku akan pergi sendiri.” Pemuda itu berbalik dan berjalan meninggalkan halaman.
“Xiangqi!”
Li Guifei berusaha mengejar putranya. Namun, pemuda itu berjalan begitu cepat dan tidak menoleh sedikit pun.
Begitu dirinya ingin melewati gerbang, dua prajurit memalang jalan Li Guifei dengan tombak mereka. “Menyingkir!” teriak wanita itu. “Xiangqi!” teriaknya.
“Maafkan kami, Guifei. Perintah Kaisar tak boleh dilanggar!” balas salah seorang prajurit tersebut.
Walaupun sang Ibunda berteriak tanpa henti, tapi Wang Xiangqi sama sekali tidak berniat untuk kembali. Ekspresi kecewa terpasang jelas di wajah pemuda tersebut, menunjukkan kepedihan pada hatinya.
“Xiangqi,” sebuah suara yang memanggilnya membuat Wang Xiangqi menengadahkan pandangannya.
Ketika melihat sosok tersebut, Wang Xiangqi memaksakan sebuah senyuman. “Kakak Pertama,” panggilnya. “Ucapanmu … tidaklah salah.”
Wang Zhengyi tersenyum pahit melihat ekspresi adiknya. Lalu, dia meletakkan tangannya pada pundak Wang Xiangqi, meremasnya sedikit untuk memberikan dukungan. “Kau telah melakukan sebuah keputusan yang sangat bijak, Xiangqi.”
___
__ADS_1
A/N: Lagi coba-coba tambahin onomatope di dalam cerita, apa kalian ngerasa aneh? Atau malah ngerasa lebih bagus ada onomatope? Let me know, ya!