Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 72 Terlambat


__ADS_3

“Tuan Putri?” Wang Junsi menatap Wu Meilan yang berjalan keluar dari balik pohon. “Sejak kapan kau berada di sana?” tanyanya dengan jantung yang kembali berdetak kencang, bak seseorang yang baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah.


Ya, memang tak salah, Pangeran Keempat sungguh baru saja melakukan sebuah kesalahan besar.


‘Bagaimana mungkin aku tidak menyadari keberadaannya?’ pikir Wang Junsi. ‘Begitu pula Miaoling dan Xiaoming, apa mereka juga tak sadar?’ Pikiran pria itu sedikit meliar, mulai curiga bahwa ada sesuatu yang tuan putri itu sembunyikan dari semua orang.


Mungkin, ini juga bagian dari rencana Huang Miaoling?


“Apa kau juga berpikiran demikian terhadapku?” tanya Wu Meilan tanpa menjawab pertanyaan Wang Junsi. Kepala gadis itu tertunduk, matanya tak berani menatap ke arah sang Pangeran Keempat.


“Aku tak mengerti maksudmu, dan kau belum menjawabku,” balas Wang Junsi dengan waspada.


Wu Meilan menengadahkan kepalanya, lalu menatap manik biru pangeran di hadapannya dengan sendu. “Karena berasal dari kerajaan lain, maka Tuan Liang adalah seorang asing?” Gadis itu terdiam sesaat. “Apa itu juga pandanganmu terhadapku?”


Pelipis Wang Junsi berkedut, tahu bahwa jawabannya akan menentukan segalanya. Otaknya berputar untuk menemukan jawaban yang tepat, sesuatu yang patut untuk Wu Meilan dengar. Jika dia menyakiti perasaan Wu Meilan saat ini, maka kemungkinan besar gadis itu akan menjauhinya. Dengan demikian, segala hubungannya dengan Kerajaan Wu terlepas dari plakat yang diberikan Wu Huatai akan hilang.


Pada akhirnya, Wang Junsi membuka mulutnya, “Itu benar.”


Wu Meilan merasakan hatinya bak tertusuk sebuah belati. Namun, dia menghibur dirinya sendiri selagi menundukkan kepalanya, ‘Kami memang belum cukup dekat, bahkan teman saja bukanlah panggilan yang cocok untuk hubunganku dengannya.’ Putri itu menggigit bibirnya. ‘Itu tak berarti aku tak ada kesempatan, bukan?’


Seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Wu Meilan, Wang Junsi menambahkan, “Dan, itu tak akan pernah berubah.” Pandangan pria itu terlihat tegas.


Dengan cepat, Wu Meilan mengangkat kepalanya dan menatap Wang Junsi dengan saksama. Kerutan halus terbentuk di kening gadis itu, mengisyaratkan kebingungannya. “Kenapa?” tanyanya.


“Tidak ada alasan,” balas Wang Junsi singkat seraya mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


“Ada alasan ….” Wu Meilan bersikeras, “Pasti ada alasan.” Mata bulat itu memancarkan harapan yang perlahan retak. “Katakan padaku, apa alasannya?”


Wang Junsi menggertakkan giginya, lalu mengepalkan tangannya. Pria itu mengalihkan pandangannya kembali kepada sosok Putri Wu. “Aku tidak akan pernah mencintaimu,” ucapnya dalam satu tarikan napas. “Apa itu cukup?”


Wu Meilan tak bisa berkata-kata, hanya termenung bak orang bodoh di tempatnya. Setelah mendapatkan kembali kesadarannya, dia bertanya, “Apa hanya Mingwei Junzhu yang ada di dalam hatimu, bahkan ketika dia telah menikah?”


Selama sesaat, Wang Junsi terdiam. Matanya tak berpaling sedikit pun dari manik cokelat Wu Meilan. Kemudian, dengan penuh keyakinan, dia berkata, “Ya.”


Angin berhembus, menyapu wajah Wu Meilan. Jawaban samar yang tersalurkan bersamaan dengan sentuhan lembut dari alam itu membuat dirinya membeku. Cinta yang begitu kuat, apa hal tersebut tak mampu dirinya ubah? Tidak, apa dia pantas untuk mengubahnya?


Melihat Wu Meilan menjatuhkan pandangannya dengan lesu, Wang Junsi merasa dadanya merasa sesak. Namun, dia tak berniat untuk menarik kembali apa yang telah dia katakan. Adalah sebuah hal yang baik apabila Wu Meilan menjauhi dirinya. Dengan demikian, gadis itu bisa menghindari rasa sakit hati yang jauh lebih dalam di masa depan.


Baru saja Wang Junsi ingin mengatakan sesuatu untuk sepenuhnya memutuskan harapan Wu Meilan, tapi dia berhenti ketika mendengar putri itu berkata, “Aku mengerti.”


Wang Junsi terbelalak. ‘Apa dia sungguh mengerti?’ pria itu mempertanyakan kenyataan tersebut.

__ADS_1


“Namun, tak berarti aku bisa semudah itu menghentikan perasaanku, bukan?” lanjut Wu Meilan.


Kening Wang Junsi berkerut. “Putri, kau—”


“Aku mengerti, Pangeran Keempat. Kau tidak menyukaiku, dan karena itu, aku tak akan memilihmu ketika ayahmu meminta kembali jawabanku.” Sebuah senyum mengembang di wajah Wu Meilan, mencoba menutupi kesedihan yang terpancar dari matanya. “Namun, sama seperti dirimu yang bisa tetap menjaga perasaanmu untuk Mingwei Junzhu, aku juga memiliki hak untuk menjaga perasaanku untukmu, bukan begitu?”


Wang Junsi tak bisa berkata-kata. Wu Meilan baru saja menggunakan ucapannya sendiri untuk melawan dirinya, membuat Wang Junsi tak bisa mengelak. Akibatnya, pria itu hanya bisa bungkam, menatap wajah sendu sang Tuan Putri Wu yang begitu menawan.


Wu Meilan kembali menjatuhkan pandangannya. “Aku akan mengurus sendiri perasaanku, Pangeran.” Dia menambahkan, “Dan, agar tidak merusak suasana hatimu lebih lanjut, aku mengundurkan diri.” Gadis itu pun bergegas pergi meninggalkan halaman tersebut.


Dengan cepat, Wang Junsi berbalik, berniat untuk mengejar Wu Meilan, merasa sangat bersalah karena telah menyakiti perasaan gadis itu. Namun, sekejap dia berhenti. Wang Junsi mengepalkan tangannya, dan pada akhirnya terdiam di tempatnya.


‘Tahan emosimu, Wang Junsi!’ Wang Junsi memperingatkan dirinya seraya menutup mata. ‘Ini demi kebaikan dirinya, dan juga untuk semua orang ….’ Kelopaknya perlahan terbuka, khawatir ekspresi kecewa Huang Miaoling dan Wu Meilan akan kembali terbayang di benaknya. ‘Ini keputusanku.’


Wang Junsi bergegas berjalan keluar halaman dari gerbang yang lain, dia tak ingin melalui jalan yang sama dengan kedua wanita itu dan memberikan petunjuk pada orang-orang yang mungkin lewat mengenai apa yang terjadi. Dia harus menjernihkan pikirannya, masih ada begitu banyak hal yang harus diurus, terutama mengenai Zhou dan para suku.


Pada saat kakinya menginjak sisi luar halaman, dia membeku ketika mendapati sosok Huang Yan’an sedang dengan santai bersandar di tembok luar halaman. Wanita itu terlihat mengenakan pakaian latihannya, menunjukkan bahwa dirinya telah membaik dan telah kembali menjalankan rutinitas ‘nakal’-nya. Bukan satu atau dua kali wanita itu kabur dari istananya untuk ‘berpetualang’ seperti ini.


“Ibunda ….”


Berbeda dengan Wu Meilan, Wang Junsi tak akan terkejut bahwa dirinya tak bisa menyadari keberadaan Huang Yan’an, Ibundanya itu memiliki kemampuan berpedang yang cukup luar biasa. Hal tersebut tidak mengherankan mengingat kalau wanita itu berasal dari kediaman Huang. Lagi pula, Huang Yan’an sendiri adalah guru berpedang Wang Junsi sejak kecil.


Mata Huang Yan’an terarah tajam pada sosok putranya. “Aku memang mengajarkanmu untuk menghindari masalah.” Ada ketidaksenangan dalam pancaran matanya. “Namun, aku tak ingat telah mengajarkanmu untuk menjadi seorang pengecut,” tuturnya.


“Huang Miaoling adalah orang yang seperti apa, seharusnya kau mengerti, terutama bila kau mengaku bahwa kau mencintai dirinya,” Huang Yan’an memotong Wang Junsi. “Menurutmu, kenapa dia membiarkan Li Shijing hidup? Untuk menyiksanya? Karena tidak bisa menyentuhnya? Atau mungkin karena Wang Xiangqi?” Sang Shufei mendengus, “Mungkin sebagian alasannya adalah karena hal-hal itu. Namun, sebagian lagi adalah karena dirimu.”


Wang Junsi mengernyitkan dahi. “Diriku?” Dia mendengus mengejek, “Tak masuk akal.”


“Maka, kau tidak mengerti dirinya. Atas hak apa kau mengatakan bahwa kau mencintai dirinya?” balas Huang Yan’an. Lalu, wanita itu melanjutkan, “Selain itu, mengenai Tuan Liang.” Huang Yan’an menegapkan tubuhnya dan menghampiri putranya. “Setelah apa yang terjadi kepada Ling’er, dia pasti akan mencari cara untuk menghabisi Li Shijing, sama halnya dengan yang dia lakukan untuk memastikan Yang Yuechan tak melakukan apa pun untuk membela Wang Wuyu.”


‘Liang Fenghong … memastikan Yang Defei tak membela putranya? Bagaimana?’ pikir sang Pangeran Keempat, sedikit teralihkan dengan pernyataan terakhir ibunya.


Huang Yan’an meletakkan ujung jari telunjuknya di dada putranya sembari berkata dengan tegas, “Namun, karena dirimu, dia tidak melakukannya!”


Mendengar hal ini, Wang Junsi mengerutkan dahinya. “Ibunda, jangan berbicara omong kosong! Untuk apa menjadikan diriku alasan untuk tidak membunuh Li Shijing?! Kalau mereka sungguh melakukannya demi diriku, maka seharusnya mereka membunuh wanita itu agar aku tak mengotori tanganku!”


Mata Huang Yan’an membesar. “Wang Junsi! Apa kecerdasanmu telah sepenuhnya diserap oleh adik keenammu itu?!” bentak wanita itu. “Tentu karena mereka ingin memberikanmu kesempatan untuk membalaskan dendam ibumu dengan tangan dan kakimu sendiri!” Sang Huang Shufei memandang putra angkatnya dengan tatapan mengejek. “Mengotori tanganmu? Apa membalaskan dendam ibumu adalah suatu hal yang sekarang kau anggap kotor?”


“Kau tahu bukan itu maksudku!” seru Wang Junsi. “Namun, Xiangqi—"


“Jangan jadikan Wang Xiangqi alasan!” bentak Huang Yan’an. “Kalau kau takut adikmu itu akan berbalik membencimu, maka kau sungguh adalah seorang pengecut!”

__ADS_1


Bungkam, hanya itu yang bisa Wang Junsi lakukan ketika mendengar balasan ibundanya itu. Pikirannya yang sudah kacau menjadi semakin kacau akibat penuturan sang Ibunda mengenai tindakan-tindakan yang telah dia ambil.


“Selain itu, alasanmu mendorong pergi Wu Meilan … itu karena kau juga khawatir dia mengetahui kerja samamu dengan ayahandanya, bukan?”


Mata Wang Junsi terbelalak. “B-bagaimana …?” Dia yakin bahwa tak ada satu roh pun yang tahu mengenai hal tersebut selain dirinya dan Kaisar Huatai.


“Plakat Kehormatan dan juga kuasa atas sebagian pasukan Kerajaan Wu.” Huang Yan’an melipat kedua tangannya. “Apa kau menganggapku sebagai seorang bodoh?” tukas sang Shufei dengan mata memicing. “Wu Huatai menawarkanmu kekuasaan dengan syarat kau harus menikahi dan menjaga Wu Meilan, bukan begitu?”


Wang Junsi mengalihkan pandangannya, mencoba menjauhi pandangan menuduh ibundanya. Benak sang Pangeran Keempat pun berputar mengingat perjanjiannya dengan Wu Huatai ketika dirinya masih berada di Kerajaan Wu.


“Pangeran Keempat, kau tentu mengerti bahwa dengan kepergian adikku, harus ada orang yang menggantikan posisinya untuk menikah dengan Kerajaan Shi,” ujar Kaisar Huatai dengan pandangan serius. “Sebagai satu-satunya putri yang tersisa, putriku akan menjadi gantinya.”


Pada saat itu, Wang Junsi kurang-lebih mengerti maksud sang Kaisar membicarakan hal tersebut dengannya. Dia menebak bahwa sang Kaisar berniat meminta bantuannya untuk mengawasi Wu Meilan di Kerajaan Shi, terutama karena ekspresi kekhawatiran seorang ayah terpampang jelas dari wajah sang Pria Agung dari Kerajaan Wu itu. Namun, siapa yang menyangka kalau pria itu berniat mengajukan kerja sama yang terdengar gila?


“Nikahilah putriku, dan aku akan memberikanmu penghargaan serta bantuan besar.” Wu Huatai memberikan pandangan penuh keyakinan. “Sebagai seseorang yang berdampingan dengan Nona Pertama Huang dan Tuan Muda Liang, aku yakin kau adalah orang yang bisa dipercaya.”


Awalnya, Wang Junsi berniat untuk menolak. Dia merasa hal tersebut seakan memaksakan kehendak terhadap Wu Meilan yang bahkan tak terlibat dengan percakapan itu. Namun, saat Kaisar Huatai mengungkit permasalahan yang dialami Kerajaan Tubo, Wang Junsi pun terpaksa untuk menerima. Lagi pula, dia juga khawatir akan menyinggung perasaan sang Kaisar Wu apabila dirinya menolak.


Tentunya, Wang Junsi berniat mencari cara untuk membatalkan perjanjian itu. Dengan kebebasan memilih yang diberikan oleh Kaisar Wu kepada Wu Meilan, perjanjian Wang Junsi dengan Wu Huatai akan batal apabila sang Tuan Putri Wu memilih pangeran lain.


Kehilangan bantuan Wu bukanlah sesuatu hal yang Wang Junsi sayangkan, terutama karena dirinya merasa kurang nyaman menggunakan bantuan Wu untuk menyokong Tubo. Bisa-bisa, ayahnya—Kaisar Weixin—akan mengira dirinya sedang mengumpulkan pasukan untuk melengserkan Wang Zhengyi. Selain itu, dia merasa bekerja sama dengan Wu akan memberikan sang Kakek kesempatan untuk meninggikan diri, sebuah cara untuk mendapatkan ganti rugi atas kematian putrinya, Yang Changxi.


Dengan alasan-alasan itu, Wang Junsi lebih memilih untuk menjatuhkan Huang Wushuang dari posisinya. Apabila Wang Zhengyi dan Wu Meilan menikah, maka itu adalah perayaan besar bagi Kerajaan Shi dan juga Kerajaan Wu. Posisi Wang Zhengyi akan diperkuat, dan sang Putri Wu akan menjadi permaisuri, wanita dengan posisi tertinggi di Kerajaan Shi. Kehidupan Wu Meilan tentunya akan terjamin, entah dalam keamanan dan kemakmuran—kesampingkan masalah istana belakang dalam hal ini.


Akan tetapi, siapa yang menduga kalau gadis mulia dari Kerajaan Wu itu malah menaruh hati kepada Wang Junsi? Jika Wu Meilan sungguh berakhir dengan dirinya, lalu mengetahui kerja samanya dengan sang Kaisar Wu, bukankah itu akan menghancurkan hati gadis itu?


Wang Junsi tidak ingin hal itu terjadi!


Huang Yan’an mengerti ekspresi yang terlukis di wajah putranya itu, sebuah ekspresi bersalah dan ketakutan. ‘Tanpa dirinya sadari, dia sudah memiliki perasaan terhadap gadis itu ….’ Wanita itu menghela napas. “Plakat dan pasukan telah kau dapatkan. Kalau kau merasa bersalah terhadapnya, maka akan lebih masuk akal bagimu untuk bertanggung jawab atas dirinya.”


Wang Junsi menatap Huang Yan’an, mencoba mencari tahu apa maksud ibundanya itu. Apakah Huang Yan’an sedang berusaha untuk membuatnya bertanggung jawab atas Wu Meilan?


“Kentara jelas perasaannya padamu, Junsi. Kau khawatir dia akan merasa dikhianati setelah menikah denganmu? Lalu, kau tidak khawatir dia akan digunakan oleh pangeran lain?” Huang Yan’an memasang ekspresi serius. “Kalau kau mendorongnya ke dalam pernikahan hampa, maka itu berarti kau lari dari tanggung jawabmu, dan bukan berpikir demi kebaikannya.” Wanita itu mendengus, “Jangan cari alasan untuk lari dari kewajibanmu!”


Wang Junsi terdiam di tempatnya, menyerap segala ucapan ibundanya. Perlahan, dia menundukkan kepalanya, menyadari segala kesalahan yang telah dia lakukan.


Kemudian, sang Pangeran Keempat tersenyum pahit. “Terlambat, Ibunda.” Dia menatap sendu Huang Yan’an. “Tak ada cara untuk menarik kembali segala yang telah kuucapkan.”


___


A/N: Main focus berubah dulu dari main characters, ya. Kasihan pemeran-pemeran lain kurang disenter, wkwk

__ADS_1


 


 


__ADS_2