Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 65 Suku Sihan


__ADS_3

Suara roda kereta yang bergesekkan dengan tanah berbatu diiringi dengan ketukan sepatu kuda. Semilir angin yang berhembus menerpa tirai jendela kereta, membuatnya sedikit terangkat. Wangi rerumputan yang menyegarkan menyeruak masuk ke dalam kereta, membuat pria yang terduduk di dalamnya dengan wajah gelap membuka mata.


Wang Wuyu menyingkap tirai jendela, matanya menatap pemandangan di hadapannya dengan wajah datar. Padang rumput hijau terbentang di hadapannya. Dengan langit biru yang cerah, pemandangan tersebut terlihat begitu memukau. Walau hanya sedikit, pria itu merasa kesuraman hatinya sedikit terangkat.


“Pangeran, apa ada masalah?” tanya seorang prajurit berkuda yang segera menghampiri sisi kereta, menutupi pemandangan tersebut dari Wang Wuyu.


Wang Wuyu menatap pria tersebut dengan wajah tenang, tapi pandangannya terlihat kesal. “Tidak,” jawabnya ketus seraya membiarkan tirai jendela kembali tertutup.


Pangeran kelima itu merapatkan punggungnya ke tembok kayu kereta dan menghela napas. Dia masih tidak percaya kalau dirinya baru saja diusir dari kerajaan oleh ibundanya sendiri. Tak hanya itu, yang lebih menyebalkan adalah … itu semua karena Huang Miaoling!


Mata Wang Wuyu menutup, membayangkan kembali detik-detik pertemuannya dengan Huang Miaoling untuk yang pertama kalinya. Sosok Huang Miaoling yang begitu biasa terlihat bersinar bila dibandingkan dengan gadis-gadis lainnya. Bukan kecantikannya yang menawan, melainkan sikap dan pembawaan dirinya. Dia gadis yang cerdas, tapi juga licik bila mengingat bagaimana dia menyembunyikan kemampuannya dari orang-orang terdekatnya. Bahkan setelah memiliki status yang cukup tinggi, gadis itu masih mampu mengejutkan musuh-musuhnya.


“Wu Fenghong, ya?” Wang Wuyu membuka matanya, matanya menunjukkan keputusasaan. ‘Saudara kandung Kaisar Wu Huatai ….’ Kening halus pria itu berkerut. ‘Keturunan pria satu-satunya selain sang Kaisar Wu sendiri.’ Dia menutup matanya lagi. ‘Kalau gadis itu sungguh tahu mengenai identitas pria tersebut, maka dia adalah gadis yang mengerikan.’


Setelah Yang Yuechan memberitahukan perihal identitas asli Liang Fenghong kepada Wang Wuyu, tidak perlu waktu lama bagi pangeran itu untuk mengambil keputusan. Sepintar-pintarnya dirinya, Wang Wuyu tahu jelas bahwa dirinya tak mampu melakukan apa pun di hadapan kekuasaan. Wang Wuyu sadar bahwa dirinya saat ini masih terlalu lemah untuk berhadapan dengan keluarga kerajaan Wu.


Apabila yang dia hadapi hanyalah Huang Miaoling, Wang Wuyu masih mampu. Gadis itu hanyalah putri pertama dari sang Jenderal Besar, kedudukan Junzhu yang dimilikinya juga hanya ‘hadiah’. Bagaimanapun, Huang Miaoling masih berada di bawah Wang Wuyu dalam hal kedudukan dan kekuasaan. Namun, semuanya jelas berbeda ketika Liang Fenghong—dengan identitas aslinya—masuk ke dalam papan permainan.


Dengan status awal Liang Fenghong sebagai putra tunggal keluarga Liang saja Wang Wuyu sudah cukup kerepotan, dan oleh karena itu dia berniat untuk menggagalkan pernikahannya dengan Huang Miaoling. Sekarang, setelah gagal mengacaukan pernikahan kedua orang itu dan tahu kalau Liang Fenghong adalah keturunan dari Kaisar Wu Yifeng, Wang Wuyu semakin tidak berani bertindak.


“Wang Wuyu, apa alasanmu bertekad mendapatkan kuasa?” tanya Yang Defei di hari sebelumnya.


Wang Wuyu tidak menjawab wanita tersebut, dia hanya berlalu pergi meninggalkan ibundanya. Pangeran itu khawatir kalau wanita tersebut akan merasa bersalah apabila dia mengatakan yang sebenarnya.


Wang Wuyu membuka matanya, matanya terarah pada gulungan yang berada di tangannya. Dia membuka gulungan tersebut dan menatap lukisan di atasnya dengan sendu.


Seorang wanita yang begitu cantik dengan pakaian mewahnya sedang terduduk memainkan sitar. Di seberang wanita itu, terlihat seorang bocah kecil yang sedang memperhatikannya dengan saksama. Mata bocah itu berbinar, menunjukkan kekaguman terhadap wanita di hadapannya.


Wang Wuyu tersenyum, bibir tipisnya terpisah seiring dirinya berkata, “Tentu karenamu, Ibunda.” Kepedihan terpancar dari wajahnya. “Dengan keluhuranmu, kau pantas menjadi wanita paling dihormati di kerajaan.” Tangan pria itu meremas sisi gulungan.


Defei? Salah satu dari empat selir terhormat?


Perset*n dengan semua itu!


Di mata Wang Wuyu, ibundanya adalah wanita paling terhormat di dunia. Bila Wang Wuyu berkuasa, maka ibundanya juga akan dihormati oleh semua orang. Tak perlu lagi wanita itu menunduk di hadapan wanita lain di istana belakang!


Brak!


Suara kereta yang berhenti secara mendadak diikuti dengan ringkikan kuda yang melengking.


Wang Wuyu mengerutkan keningnya ketika mendapati kereta yang ditumpanginya tiba-tiba berhenti. Dia segera menyingkap tirai. “Ada apa?” tanyanya pada salah satu prajurit terdekat. “Kenapa kita berhenti?”


Salah satu prajurit menghampirinya. “Jawab, Yang Mulia. Jenderal merasa ada yang tidak beres.”


Mendengar hal itu, mata Wang Wuyu menggelap. Dia melirik ke kanan dan ke kiri. Dirinya sekarang berada di padang terbuka, kalau sungguh ada yang tidak beres, maka berhenti merupakan sebuah keputusan yang salah!

__ADS_1


Tiba-tiba, Wang Wuyu menyadari kalau telinganya sedikit berdengung. Baru saja prajurit tersebut ingin melanjutkan ucapannya, sang Pangeran Kelima menyuruhnya diam.


Wang Wuyu menajamkan pendengarannya dan menutup mata. Dia merasa dengungan itu semakin lama semakin keras.


“Putar balik!” teriak sang Jenderal yang berada di barisan depan, mengejutkan semua orang. “Kita diserang!”


Wang Wuyu tak sempat bereaksi karena dirinya mendadak terbanting menabrak tembok bagian belakang, kereta kudanya dengan tiba-tiba bergerak saat dirinya tak siap. Dengan cepat, kereta tersebut berputar ke arah yang belum lama mereka lalui.


Kepala Wang Wuyu segera mencuat keluar dari jendela, dia tentu harus melihat keadaan yang dihadapinya. Mata Wang Wuyu kemudian terbelalak ketika mendapati kepulan abu tebal yang berada di ujung pandangannya.


Bukan, itu bukan sekadar abu tebal yang beterbangan saja. Itu adalah pasukan besar yang sedang terarah kepada rombongnya!


“Itu pasukan Sihan!”


“Ada suku Nanhan juga!”


“Jenderal, kita akan terkejar!”


Jenderal Nan—salah satu jenderal di bawah pimpinan Huang Qinghao—segera berteriak, “Jangan berhenti!” Dia menunjuk ke satu arah. “Ke arah bukit!”


Jantung Wang Wuyu berpacu. ‘Suku Sihan? Bukankah Huang Qinghao telah mengalahkan mereka?!’ pekiknya dalam hati. ‘Apa-apaan ini?!’


Mendadak, kereta berhenti. Suara lengkingan kuda serta teriakan para prajurit bisa terdengar. Siulan angin yang menyeruak ke telinga Wang Wuyu membuat pria itu bergeser sedikit ke belakang, menghindari sebuah panah yang melesat menembus tirai.


Hanya dengan dorongan instingnya, Wang Wuyu turun dari kereta. Dia terbelalak ketika mendapati begitu banyak prajuritnya yang telah jatuh tak bernyawa, puluhan panah tertanam dalam tubuh mereka.


Wang Wuyu mengalihkan pandangannya ke arah bukit. Dia terkejut mendapati puluhan pemanah dari suku Sihan sedang mengarahkan busur mereka padanya.


“Pangeran!”


Teriakan lain yang Wang Wuyu yakini berasal dari Jenderal Nan menyadarkan dirinya. Sebelum ada satu pun panah yang mendarat di tubuhnya, Wang Wuyu berpindah ke belakang kereta, menghindari hujan panah yang dihadiahkan untuknya.


Mata Wang Wuyu berpindah-pindah menatap satu per satu panah menancap keras ke tanah berumput. Hal itu membuatnya menelan ludah, seluruh tubuhnya bergetar.


Wang Wuyu memang mengetahui beberapa hal mengenai bela diri. Namun, untuk berpartisipasi dalam perang, dia jelas tidak memiliki pengalaman sedikit pun. Ketegangan yang dia rasakan sekarang mulai menyelimuti kesadarannya.


Di tengah kekacauan yang terjadi, Wang Wuyu hanya bisa terdiam selagi para prajuritnya terbunuh satu per satu. Bahkan ketika Jenderal Nan berteriak beberapa kali untuk menyadarkannya, Wang Wuyu tak lagi bisa mendengarnya. Pangeran itu hanya terdiam membeku di tempat selagi menatap ngeri ke arah satu per satu mayat yang jatuh terlentang dengan panah menancap di tubuh mereka.


“Pangeran, awas!”


Satu teriakan lain yang bisa Wang Wuyu dengar membuatnya mengangkat kepala. Matanya menatap sebuah panah yang melesat dari langit ke arahnya.


Suara daging terkoyak tak lama terdengar, mata Wang Wuyu terhalangi bayangan gelap yang membuat pandangannya membuyar. Entah kenapa, hal tersebut membuat roh Wang Wuyu perlahan kembali ke dalam tubuhnya.


Ketika pandangan Wang Wuyu mulai terfokus, pandangannya jatuh pada sosok Jenderal Nan yang berdiri menjulang di hadapannya. Mata pria itu membesar dan terlihat mengerikan. “P-Pangeran, lari … lah ….” Seusai mengucapkan hal tersebut, tubuh Jenderal Nan terjatuh ke samping.

__ADS_1


Wang Wuyu menatap kosong ke arah tubuh Jenderal Nan yang tergeletak menyamping di hadapannya. Matanya menggerayangi panah yang menembus dada ksatria tersebut. Hal itu membuat pangeran tersebut terbelalak.


Panah itu seharusnya menancap di dadanya.


Ketika kesadarannya telah sepenuhnya kembali, Wang Wuyu menyadari suara gemuruh yang semakin dekat. Dia mengalihkan pandangannya dan mendapati gerombolan pasukan Sihan dan Nanhan tengah menghampirinya.


Dengan tenaga yang tersisa, Wang Wuyu berdiri dan menoleh ke kanan dan ke kiri. ‘Tidak ada kuda, tidak ada prajurit.’ Jantungnya berdetak kencang. ‘Mereka jelas ingin membunuhku, kenapa?!’


Wang Wuyu dengan gesit meraih pedang Jenderal Nan, itu adalah pertahanan terakhir baginya. Mata pangeran itu hinggap pada satu sosok yang paling mencolok pada barisan depan pasukan musuhnya.


‘Satu sayatan mengerikan pada mata kiri, kalung yang terbuat dari gigi lawannya taring lawannya.’ Semakin lama, ekspresi yang terpancar di wajah Wang Wuyu semakin menggelap. Dia mengenali pria itu. ‘Dia adalah adik dari Kepala Suku Sihan, Sihan Nu!’


Tangan Wang Wuyu bergetar melihat jumlah pasukan musuh yang perlahan mengepung dirinya, batinnya bertanya-tanya mengenai apakah dirinya akan mati di tempat menyedihkan itu. Hati Wang Wuyu merasa terjerat, tidak rela kalau dia akan mati begitu saja tanpa mengetahui alasannya.


“Kenapa kalian menyerang rombonganku? Apakah kalian tak tahu bahwa Kepala Suku Sihan telah tunduk kepada Kerajaan Shi?!” Wang Wuyu memilih untuk bertaruh dengan takdir. “Kalau ada sesuatu yang terjadi padaku, kalian jelas tahu kalau Kerajaan Shi tak akan melepaskan kalian.”


Mendengar teriakan Wang Wuyu, semua orang dari suku Sihan tertawa, dimulai dari Sihan Nu. Kemudian, pria bertubuh besar dengan penampilan mengerikan itu menatap sang Pangeran Kelima dengan wajah terhibur. “Pangeran Kelima, jangan khawatir. Aku tak akan menyiksamu.”


Mata Wang Wuyu memancarkan kengerian. ‘Dia mengetahui identitasku …. I-ini jelas bukan kebetulan belaka!’ Tangannya menggenggam erat pangkal pedang. “Siapa yang memerintahkan kalian melakukan ini?” Dia mulai kehilangan harapan. “Apa yang kalian inginkan?” Pertanyaan tersebut menggantungkan harapan terakhir sang Pangeran Kelima.


Sihan Nu menatap bawahan yang berada di sampingnya, lalu dia mengarahkan dagunya ke Wang Wuyu. Pria itu memberikan isyarat kepada bawahannya itu untuk menghampiri pangeran tersebut.


Satu bawahan Sihan Nu turun dari kudanya. Kemudian, dia berjalan mendekat ke arah Wang Wuyu sembari memberi hormat layaknya orang Kerajaan Shi. “Pangeran Kelima, hamba diperintahkan untuk menjemputmu.”


Selama sesaat, Wang Wuyu sedikit terkejut. Harapan yang semula meredup kembali bersinar. ‘Ibunda? Tidak …. Kakek?!’ pekiknya dengan gembira di dalam hati.


Tiba-tiba, suara benda tajam yang merobek pakaian dan mengoyak daging bisa terdengar. Serangan mendadak pada tubuh Wang Wuyu membuat keseluruhan pria itu membeku di tempat.


Mata Wang Wuyu yang masih terarah pada bawahan Sihan Nu itu terbelalak. “Hanya bercanda,” ujar pria tersebut dengan seringai keji. Tanpa belas kasih, pria itu menarik goloknya dari tubuh Wang Wuyu, membiarkan darah menyembur keluar dan terciprat pada rumput di bawah kaki mereka.


Kaki Wang Wuyu terasa lemas, seakan tenaganya terserap habis. Dia terjatuh berlutut ke tanah sembari melenguh. Darah mulai keluar dari sudut bibirnya.


“Sihan … Nu, kau … akan menyesal ….” Wang Wuyu masih enggan menunjukkan sifat putus asa kepada orang-orang di hadapannya. “Shi … tak akan diam saja ….”


Tak bisa menahan tubuhnya untuk tetap tegap, Wang Wuyu pun terjatuh ke samping. Pandangan matanya masih terarah kepada Sihan Nu, orang yang bertanggung jawab atas nasibnya saat ini.


Kesal karena korbannya sama sekali tidak menatapnya, bawahan Sihan Nu itu mendekat dan menendang tubuh Wang Wuyu, membuat pangeran tersebut mengerang keras dan tubuhnya menghadap ke arah langit. Berhasil mendapatkan perhatian korbannya, bawahan Sihan Nu itu tersenyum lebar.


“Tenang saja, Pangeran Kelima. Kerajaanmu juga akan segera menyusul. Kami tak akan membiarkanmu pergi sendiri,” ujar pria tersebut.


“Yuyin Sa, jangan banyak bicara dan selesaikan. Kita masih harus kembali ke Zhou,” seru Sihan Nu dengan nada malas.


Mendengar hal itu, mata Wang Wuyu sedikit membesar, jantungnya berpacu. ‘Zh— Zhou …?!’


Pria bernama Yuyin Sa itu bersenandung kecewa. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya kembali kepada Wang Wuyu dan memasang wajah girang. Dia mengangkat goloknya tinggi dan berkata, “Selamat tinggal, Yang Mulia Pangeran Kelima.” Dia menambahkan, “Adikmu menitip salam.”

__ADS_1


___


A/N: Whoopsies, gimana guys? Apa kangen otor? Plis jangan bilang lu pada kangen karakternya doang. Ngambek nih guee. #eh #loh Wkwkwk Anyhow, So? Apakah ada kemungkinan Wang Wuyu masih hidup setelah ini? Pfft.


__ADS_2