
Melihat ujung pedang terarah ke dada Wu Huatai, Liang Fenghong yang tidak berdaya hanya bisa berteriak dalam hati, ‘Tidak!’
Detik itu juga, sebuah bayangan melesat masuk ke dalam ruangan. Dengan kecepatan melebihi manusia, bayangan tersebut menangkis serangan Hudie. Karena tangkisannya begitu keras, pedang di tangan Hudie terlepas dan berakhir menancap di tembok.
Hudie sempat terkejut, tapi dia dengan cepat mengalihkan pandangan untuk melihat lawannya sekarang. “Siapa yang—!?” Tak sempat dia menyelesaikan ucapan, tubuhnya terpental ke ujung ruangan yang lain akibat sebuah tendangan.
Semua orang di dalam ruangan yang melihat hal itu membeku. Mereka tak menduga Wu Huatai masih bisa menghindari kematian, juga tak menyangka akan ada seseorang yang bisa tiba begitu tepat waktu.
Di sisi lain, seiring pandangannya membuyar, Liang Fenghong berhasil menangkap wajah orang yang menyelamatkan saudaranya. ‘T-tidak mungkin …,’ batinnya. Melihat orang itu membuatnya berusaha keras untuk tetap sadar.
Tepat pada saat itu, sejumlah prajurit yang dipimpin oleh Huang Qinghao menerobos masuk ke dalam ruangan Wu Huatai. Sepertinya kegaduhan di dalam ruangan tersebut terdengar oleh seseorang yang langsung melapor kepada sang jenderal besar.
Melihat Hudie terkapar tak sadarkan diri di lantai, Huang Qinghao segera berseru, “Tangkap baj*ngan ini!” Kepalanya berputar ke arah ruangan lain dan terkejut dengan sosok Li Changsheng yang terluka parah. “Raja An?!”
“J-jangan pedulikan aku, c-cepat periksa Penasihat Liang …,” balas Li Changsheng dengan napas pendek.
Huang Qinghao menoleh ke arah yang ditunjukkan pandangan Li Changsheng, bibirnya sekejap merasa kelu melihat keadaan Liang Fenghong. “Fenghong!” Dengan tergesa-gesa dia menghampiri menantunya itu, tapi dia tak berani menyentuhnya.
Luka yang diderita Liang Fenghong begitu parah. Satu tebasan dalam jarak yang begitu dekat berhasil membelah daging tubuh pria itu. Dalam satu tengok, Huang Qinghao tahu bahwa dalamnya luka itu lebih dari satu inci dan telah mengenai organ dalam.
“Panggil tabib! Cepat panggil tabib!” perintah Langcao, menggantikan majikannya yang tak mampu mengeluarkan suara.
“Dengan luka seperti itu, tak ada tabib yang mampu menyembuhkannya,” ujar seseorang, membuat semua orang mengalihkan pandangan ke satu arah dengan tidak senang.
Huang Qinghao ingin sekali mengeluarkan sumpah serapah. Namun, sekejap dia terdiam ketika mendapati penampilan satu sosok yang berada di dekat Wu Huatai itu.
Sosok berpakaian hitam itu menatap dingin ke arah Liang Fenghong. “Dia akan segera mati.”
“Lancang! Siapa kau sehingga berani berkata seperti itu!?” seru Huang Qinghao.
Sebagai seseorang yang baru saja diselamatkan oleh pria asing itu, Wu Huatai menelan emosinya dan berkata, “Tuan, aku berterima kasih karena kau telah menyelamatkan kami. Namun—”
“Aku bisa menyelamatkannya,” ujar pria tersebut sembari menatap ke arah Wu Huatai, membuat kaisar itu terhipnotis dengan mata merahnya yang mencolok. “Namun, ada bayarannya.”
__ADS_1
Karena tidak mengetahui identitas pria bermata merah itu, Wu Huatai tak elak merasa waspada. “Apa syaratnya?”
“Nyawamu.”
“Jangan … bercanda!” geram Liang Fenghong, mengerahkan segala kekuatan yang tersisa hanya untuk mengatakan hal tersebut. “Lu … Si!”
Tak mampu menahan emosinya, Huang Qinghao menudingkan pedang ke arah Lu Si. “Beraninya kau!” Matanya terlihat membara dengan api kemarahan, terutama ketika menyadari betapa gentingnya keadaan menantunya itu. “Apa yang membuatmu berpikir bahwa kami akan percaya padamu? Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bahkan bisa berada di sini?!”
Lu Si tidak banyak bicara. Dia mengalihkan pandangan kepada Huang Qinghao. Pria itu mengangkat tangannya, lalu menjentikkan jarinya.
Dalam sekejap, pedang di tangan Huang Qinghao berubah menjadi debu, menyebabkan seisi ruangan yang melihat hal tersebut membelalak.
“A-apa yang—?!”
“Apa kau lihat itu?! Pedang Jenderal Besar menjadi abu!”
“Apa itu sihir?!”
Ketika Li Changsheng menurunkan pandangan untuk melihat lukanya yang terasa nyeri, dia melotot. “Aku … sembuh?” ucapnya seraya menyentuh tempat luka tusuk Hudie seharusnya berada. Dia mengangkat pandangan untuk menatap Lu Si dan berkata, “Kau ….”
Lu Si mengabaikan tatapan penuh tanya yang diarahkan kepadanya. Dia memutar kepala untuk menatap Wu Huatai. “Kau punya waktu satu dupa untuk memutuskan. Setelah itu, kau akan kehilangan satu-satunya saudara kandung yang kau miliki,” ujarnya, mengejutkan mereka yang mendengar kenyataan ini.
‘Satu-satunya … saudara kandung?’ Ekspresi Huang Qinghao memburuk, tak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.
Sementara itu, Liang Fenghong menggeram keras, merasakan rasa sakit yang luar biasa menyerang dirinya. Hal tersebut membuat Wu Huatai berusaha menghampiri adiknya itu. “Hong’er!” Namun, dia malah berakhir terjatuh keras ke lantai.
“Yang Mulia!” seru Huang Qinghao yang dengan cepat membantu Wu Huatai untuk menghampiri Liang Fenghong.
“Hong’er, bertahanlah!” seru Wu Huatai.
‘Lu Si, apa yang kau rencanakan?’ Liang Fenghong memandang sosok pria bermata merah itu dengan amarah menggebu dalam hatinya. Namun, amarah itu dipaksa menghilang akibat kegelapan yang menelan kesadarannya. ‘Jelas-jelas … kau tahu perjanjiannya ….’
Melihat Liang Fenghong kehilangan kesadarannya membuat kepanikan menyelimuti Wu Huatai. Akan tetapi, dia berusaha untuk tetap berpikir dengan kepala dingin.
__ADS_1
“Kau bisa menyelamatkan Changsheng tanpa bayaran, lalu kenapa kau membutuhkan nyawaku untuk menyelamatkan Liang Fenghong?” tanya Wu Huatai kepada Lu Si.
Lu Si mengangkat alis kanannya. ‘Memang seorang kaisar,’ batinnya, cukup terkagum dengan kejelian Wu Huatai. “Karena dia tidak ditakdirkan untuk mati hari ini, tapi tidak dengan adikmu.” Pria itu melirik Liang Fenghong dan berkata, “Segala usaha untuk melawan takdir memerlukan sebuah bayaran, dan bayaran untuk sebuah nyawa … ialah nyawa.”
Semua orang mencoba untuk memahami ucapan Lu Si, mengira bahwa maksudnya adalah luka Liang Fenghong akan membunuhnya. Dengan demikian, perlu satu nyawa lain untuk menyelamatkannya.
“Gunakan nyawaku, aku rela menggantikannya.” Li Changsheng berdiri dan menghampiri Lu Si, dengan siap menyodorkan pangkal pedangnya ke arah pria bermata merah itu.
Li Changsheng tahu betapa pentingnya Wu Huatai dan Liang Fenghong untuk Kerajaan Wu dan Shi. Dibandingkan kedua pria itu, dirinyalah yang paling tidak memiliki makna untuk terus hidup.
“Changsheng!” Wu Huatai berseru, berniat untuk menghentikan Li Changsheng. “Ini bukan keputusan baik.”
Li Changsheng menatap Wu Huatai dengan wajah serius dan berkata, “Kakak, hanya dengan melakukan ini … barulah aku bisa bertemu Rongya dan Kakak Ipar dengan kepala terangkat.” Dia beralih kepada Lu Si. “Lakukan apa yang perlu kau lakukan.”
Melihat sikap Li Changsheng yang begitu tulus, Lu Si memasang wajah dingin. “Aku merasa bahwa kalian salah mengerti maksudku,” ujarnya.
“Apa maksudmu?” tanya Li Changsheng dengan ekspresi memburuk, merasa arah pembicaraan tidak akan terdengar menyenangkan.
Lu Si menunjuk ke arah Liang Fenghong. “Orang yang berusaha melawan takdir … adalah dirinya.” Kemudian, jari telunjuknya berpindah ke arah Wu Huatai. “Dan, yang seharusnya mati adalah dirinya.” Lu Si menurunkan jarinya seraya menjelaskan, “Demikian, hanya nyawa pria itu yang bisa kugunakan untuk menyelamatkan Liang Fenghong.”
Seisi ruangan terdiam mendengar ucapan Lu Si, tidak tahu harus mengatakan apa. Mereka merasa ucapan pria itu tidak masuk akal, tapi melihat hal yang bisa dia lakukan, semua orang hanya bisa menelan segala pernyataannya bulat-bulat.
Lu Si menatap ke arah Wu Huatai yang terlihat sedang berpikir keras, ada ketidaknyamanan yang terpancar di mata pria bermata merah itu. Kemudian, dia pun kembali bertanya, “Ya … atau tidak?”
____
A/N: Lu Si ... *otor menghela napas*
Melanjutkan percakapan kita kemarin, kenapa sempat mau berhenti dari dunia kepenulisan? Karena merasa sedikit frustrated dengan real life. Sempat ada sesi depresi and all, but puji Tuhan semua sudah lewat dan author merasa jauh lebih baik!
Selain itu, author masih janji mau selesain novel ini. So, here we go!
Jangan berhenti komen dan dukung author terus ya. Author akan angkat semakin banyak cerita yang--amin--menarik untuk kalian setelah Phoenix Reborn selesai~
__ADS_1