
“Kau bilang, Huang Miaoling akhirnya mengunjungi markas pasukan Longzhu?” Kaisar Weixin mengerlingkan matanya, menatap tajam ke arah Kasim Gao yang baru saja memberikannya laporan.
“Itu benar, Yang Mulia. Selain itu, sesuai izin yang diberikan olehmu, Jenderal Besar juga memimpin Pasukan keluarga Huang untuk membantu Wu,” balas Kasim Gao dengan suara rendah, tidak memberikan kesempatan kepada para pelayan dan kasim lainnya yang berada di belakang mereka untuk mendengar pembahasan penting tersebut.
Mendengar hal tersebut, Kaisar Weixin mengalihkan pandangannya kembali ke jalanan di hadapannya. “Sepertinya, Mingwei Junzhu kembali bergerak dibalik layar.” Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. “Namun, apakah dia sudah menduga rencanaku untuk …,” dia tidak melanjutkan ucapannya. Sebaliknya, Kaisar Weixin malah menaikkan pandangan ke langit. “Harus kuakui, jika dia adalah seorang pria, bukankah dia akan menjadi kaisar yang lebih baik dariku?”
Ucapan Kaisar Weixin membuat wajah Kasim Gao sedikit sendu. “Yang Mulia, menjadi seorang kaisar bukanlah hal mudah, setiap langkah yang kau ambil memerlukan pengorbanan. Selain itu, dengan segala hormat, perdamaian yang kau pertahankan telah melampaui para leluhur.”
Kaisar Weixin mendengkus, “Perdamaian?” Dia menoleh kepada Kasim Gao dan menampakkan sebuah senyuman pahit. “Tidakkah kau tahu betapa banyak darah yang melumuri perdamaian ini?” Kemudian, ekspresinya menggelap. “Berbeda dengan keturunan Wu yang berjuang dengan jujur, keturunan Wang bergerak dalam sandiwara.” Pria itu mulai melangkah, melanjutkan perjalanannya. “Dan, setiap sandiwara memiliki akhir.” Tangannya mengepal. “Entah kapan akhir tersebut akan menyambut sandiwara ini.”
Khawatir dirinya akan salah bicara, Kasim Gao akhirnya memutuskan untuk bungkam. Dilihat dari ucapan dan gerak-gerik sang kaisar, pria itu tahu bahwa Kaisar Weixin telah memiliki sebuah rencana sendiri. Yang tidak diketahui oleh Kasim Gao adalah … siapa lagi yang akan dikorbankan dalam rencana Kaisar Weixin kali ini ….
‘Orang dalam?’ Kasim Gao menebak. ‘Atau … orang luar?’
Langkah kaki Kaisar Weixin menyusuri jalanan menuju sebuah halaman. Semakin lama, suara tangis dan teriakan kepanikan bisa terdengar. Namun, pria tersebut mengabaikannya dan terus melangkah dengan tidak gentar. Hanya ketika dia mendapati sekumpulan pelayan yang berusaha untuk menahan seorang gadis, barulah pria itu berhenti.
Mendapati tamu tak diundang di dalam halamannya, Wu Meilan sedikit terkejut. Dengan air mata yang mengalir bak sungai di wajahnya, gadis itu menarik diri dari para pelayan yang menahannya.
Wu Meilan memaksakan sebuah ketenangan dan memberi salam kepada Kaisar Weixin, “Salam, Yang Mulia Kaisar,” suaranya bergetar hebat, mencerminkan kekhawatiran dan ketakutan dalam dirinya. “Maaf karena Yang Mulia harus melihat diriku yang seperti ini.”
Pandangan Kaisar Weixin terlihat sendu melihat sikap putri di hadapannya. Dia membayangkan putrinya sendiri dalam posisi Wu Meilan, dan hatinya sedikit terenyuh.
“Tuan Putri, aku bisa mengerti perasaanmu saat ini. Namun, aku memiliki suatu hal yang perlu kubahas denganmu.” Pancaran mata Kaisar Weixin yang sebelumnya begitu lembut berubah tegas. “Ini mengenai pernikahanmu.”
***
Terlihat seseorang memacu kudanya menyusuri jalanan utama ibu kota. Berbeda dengan hari-hari biasa, jalanan terlihat jauh lebih sepi. Hal tersebut kemungkinan diakibatkan oleh berita kepergian Perdana Menteri Liang dan Jenderal Besar Huang dari ibu kota. Semua orang merasa ada baiknya menghindari aktivitas berlebih untuk menghormati kepergian para pejuang.
“Kalau bukan karena tahu budaya ibu kota, aku akan mengira ini adalah kota mati,” ujar Wei Shulin selagi menunggang kudanya.
Rong Gui yang berada di sebelahnya hanya membalas, “Sebagai orang Kerajaan Shi, akan sangat menarik apabila kau sungguh tak mengetahui tradisi kerajaanmu sendiri, Ketua.”
__ADS_1
Wei Shulin sama sekali tidak tersinggung, dia hanya tertawa. “Kita sudah sampai,” ucapnya seraya memelankan laju kudanya. Matanya terarah pada pelat besar yang terpampang di depan sebuah gerbang. “Markas Pasukan Longzhu memang menarik perhatian.”
Melihat kedatangan Wei Shulin dan Rong Gui, seorang penjaga gerbang markas segera menghampiri. “Silakan tunjukkan tanda pengenal,” ujarnya dengan tegas.
Wei Shulin melirik Rong Gui sekilas, seperti memberikan isyarat. Hal tersebut hanya ditanggapi Rong Gui dengan helaan napas. Kemudian, pria itu mengeluarkan sebuah plakat dan menunjukkannya pada sang prajurit.
Mengenali plakat yang ditunjukkan, prajurit itu segera memberi hormat. “Salam kepada Ketua Wei dan Penyelidik Rong!”
Rong Gui segera turun dari kudanya, mengikuti Wei Shulin yang telah terlebih dahulu melakukan hal tersebut. “Antarkan kami pada Mingwei Junzhu,” perintah Rong Gui yang segera dilaksanakan oleh prajurit tersebut.
Baru masuk beberapa langkah, Rong Gui dan Wei Shulin segera dikejutkan dengan suara seruan lantang nan nyaring, “Ha!”
Di tengah lapangan markas, ratusan prajurit membentuk formasi latihan dan mengayunkan tombak dengan baju zirah terpasang rapi di tubuh. Terik matahari yang tajam membuat keringat mengucur membasahi dahi dan tubuh mereka.
“Silakan ikut denganku, Ketua Wei, Penyelidik Rong,” prajurit penjaga gerbang itu memanggil keduanya, menyadarkan mereka agar tidak terpaku di tempat.
Selagi berjalan melewati pinggir lapangan, Rong Gui dan Wei Shulin bisa mendengar napas tersengal-sengal dari beberapa prajurit. Beberapa bahkan tidak lagi bisa menahan diri untuk menggerutu.
Di sebelahnya, seorang prajurit lain menggeram, “J-jangan berisik! Kalau … kalau Mingwei Junzhu mendengarmu, kau akan berakhir seperti Letnan Jenderal!” ujarnya dengan suara parau yang menunjukkan bahwa dirinya sungguh kelelahan.
Bertepatan dengan hal tersebut, Wei Shulin dan Rong Gui dikejutkan kembali dengan sebuah teriakan, “Lebih cepat lagi! Ayunkan dengan kuat!”
Satu sosok dengan tubuh tinggi dan berisi berjalan di antara para prajurit dengan wajah mengerikan. Tidak hanya ekspresi yang terpasang di wajahnya yang mengerikan, melainkan juga memar yang wajahnya terima.
Sempat menjadi bagian kementerian pertahanan, Wei Shulin mengenali sosok di tengah lapangan itu. ‘B-bukankah itu Fang Yu?’ batinnya. ‘Apa yang terjadi padanya?!’ Sedikit ngeri dengan perawakan Fang Yu, Wei Shulin pun tak berlama-lama menatap pria itu, dia mengalihkan pandangannya ke depan.
Di atas panggung yang berada di ujung lapangan, tempat para pemimpin pasukan berdiri untuk mengumandangkan perintah atau kata-kata motivasi, terlihat sosok Huang Miaoling duduk dengan tangan menopang sisi kepalanya. Ekspresi di wajahnya terlihat datar, seakan tak tertarik maupun terkagum dengan performa latihan para prajurit di hadapannya. Pancaran wanita itu terlihat gelap, segelap malam yang ingin menelan semua cahaya terang yang ada.
‘Li Shijing, Li Yanran, Li Yanmei ….’ Mata Huang Miaoling memang terfokus ke depan, ke arah pasukannya yang sedang berjuang melawan lelah. Namun, pikiran wanita itu melayang ke berbagai tempat. ‘Qing Zhuang dan Chen Meiping.’ Manik hitam Huang Miaoling terlihat menciut, menunjukkan amarah. Kemudian, dia kembali terlihat tenang. ‘Selain itu, masih ada Lan’er ….’
“Miaoling!”
__ADS_1
Mendengar panggilan namanya, Huang Miaoling segera menoleh. Begitu matanya mendarat pada sosok Wei Shulin dan Rong Gui, wanita itu segera berdiri. “Kakak Sepupu, Penyelidik Rong,” panggilnya dengan sopan.
Rong Gui segera membungkuk. “Salam kepada Mingwei Junzhu.”
“Berdirilah,” balas Huang Miaoling seraya memasang senyuman tipis. Lalu, teringat dengan para prajurit malang yang masih berlatih di tengah lapangan, dia melirik pada seorang prajurit muda di sisi panggung. “Cukup.”
Setelah itu, prajurit muda itu pun berseru lantang, “Diistirahatkan!” dan semua orang pun terkulai lemas ke tanah. Hal itu diikuti helaan napas lega dan erangan kesakitan.
Mengabaikan keluhan tidak langsung pasukannya, Huang Miaoling berkata kepada kedua pengunjungnya, “Apa Kakak Pertama telah menjelaskan semuanya?” Begitu mendapatkan anggukan dari kedua orang di hadapannya, Huang Miaoling pun mengangguk kembali. “Ikut denganku,” ucapnya seraya berjalan menuruni panggung. Matanya sempat melirik ke arah Fang Yu yang sedang sibuk menegur beberapa prajurit yang terbaring di tanah. “Fang Yu!” teriak Huang Miaoling, mengalihkan perhatian bawahannya itu. “Ikut denganku.”
***
“Miaoling, apa kau serius?” pertanyaan itu terlontar dari bibir Wei Shulin yang tak bisa lagi menutup setelah mendengar ide gila sepupunya. “Membunuh Kaisar Weixin?!” desis Wei Shulin, ada kekhawatiran pada pancaran mata pria itu. “I-ini adalah pengkhianatan besar! Sebuah tabu!”
Wajah Huang Miaoling tetap datar, pandangannya terlihat menerawang. “Wang Chengliu tak akan peduli apakah tindakannya adalah sebuah tabu atau tidak. Yang ada di benaknya … hanyalah kekuasaan.”
Merasa kalau dirinya telah terdiam terlalu lama, Fang Yu memutuskan untuk angkat bicara, “J-Junzhu, kenapa kau begitu yakin bahwa … bahwa Pangeran Keenam berniat untuk berkhianat?” Sulit baginya untuk percaya bahwa Wang Chengliu, satu-satunya pangeran yang merupakan idola para prajurit, adalah seorang pengkhianat. “Pangeran Keenam adalah pria yang paling tidak memiliki ambisi, dia begitu setia mendukung Pangeran Mahkota!”
Pada saat ini, Huang Miaoling mengalihkan pandangannya pada Fang Yu. Wanita itu menatap letnan jenderalnya itu dalam-dalam.
Alasan Wang Chengliu diidolakan oleh para prajurit cukup sederhana, yakni karena pangeran itu adalah pangeran yang paling sering berjuang bersama prajurit-prajurit yang lain. Karena lahir tanpa diinginkan, sedari kecil pangeran itu selalu dikorbankan untuk berjuang demi negara oleh Kaisar Weixin. Secara tidak langsung, Wang Chengliu pun memiliki ikatan bisu dengan sebagian besar prajurit Kerajaan Shi.
Sejujurnya, jika bukan karena kehidupan lalunya, Huang Miaoling sendiri tidak akan pernah menyadari bahwa Wang Chengliu adalah seseorang yang menyimpan begitu banyak ambisi. Awalnya, dia mengira bahwa ambisi untuk mendapatkan takhta tumbuh dalam diri Wang Chengliu akibat kematian Pangeran Mahkota, saudara yang paling dekat dengannya.
Namun, bagaimana jika … sedari awal persaudaraan yang ditunjukkan oleh Wang Chengliu … hanyalah sebuah sandiwara? Apakah selain Wang Wuyu, Wang Chengliu telah lebih awal menyimpan ambisi tersembunyi?
Huang Miaoling menutup matanya untuk sesaat. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Wei Shulin dan Fang Yu dalam-dalam. “Jika aku berkata … bahwa Wang Chengliu merupakan keturunan keluarga Zhou, apakah kalian akan percaya?”
___
A/N: Tempo cerita akan sedikit kupercepat. Soalnya, sudah waktunya cerita ini segera ditutup :)
__ADS_1