
Rong Gui menatap Huang Miaoling, tenggelam dalam kegelapan yang disajikan manik seindah malam milik wanita itu. Kemudian, dia menghela napas, “Junzhu, telah kukatakan bahwa aku tidak bisa—”
“Penyelidik Rong,” Huang Miaoling memotong ucapan Rong Gui, sebuah senyuman manis terlukis di bibir wanita itu. “Kau sudah datang sejauh ini, apa kau kira Wang Chengliu akan melepaskanmu?” tanyanya kepada pria itu. “Kalau kau ingin mengatakan bahwa kau menjaga rahasia pria itu demi melindungi kehormatanmu, maka akan kukatakan satu hal padamu,” senyuman di wajah sang Mingwei Junzhu menghilang, “Perset*n dengan hal itu.”
Seisi ruangan terbelalak mendengar kata yang begitu kasar keluar dari bibir Huang Miaoling, terkecuali Liang Fenghong yang hanya tersenyum sembari menyesap tehnya. Perkataan kasar sama sekali bukan hal besar bila dibandingkan dengan segala hal yang mampu Huang Miaoling lakukan, bukan begitu?
Melihat Rong Gui membeku di tempatnya, senyum kembali merekah di wajah Huang Miaoling. “Bergabunglah denganku, tidakkah itu cara yang baik untuk membalaskan budi dan juga melindungi dirimu sendiri?”
Selagi dirinya mengingat kembali mengenai apa yang terjadi setelah penawarannya kepada Rong Gui di ruang tengah, senyuman mengembang di wajah Huang Miaoling. Mendengar sang Mingwei Junzhu mengumpat dengan begitu terbuka sepertinya membuat Rong Gui mengerti bahwa wanita itu bukanlah seseorang yang menyukai basa-basi. Oleh karena itu, pria itu dengan cepat mengambil sebuah keputusan, yakni bergabung bersama kubu Huang Miaoling.
Huang Miaoling berujar dalam hati, ‘Mendapatkan Rong Gui sama dengan mematahkan satu jari Wang Chengliu. Walau tidak memberikan keuntungan besar, tapi paling tidak hal tersebut akan mempersulit pria itu dalam bertindak.’
Melihat senyuman di wajah Huang Miaoling, Liang Fenghong mendecakkan lidahnya. Pria itu kemudian memeluk leher istrinya dari belakang, dia berbisik, “Ling’er, berhenti memikirkan pria lain.” Dirinya begitu mengenal Huang Miaoling, tak perlu bertanya untuk tahu bahwa wanita itu sedang memikirkan mengenai Rong Gui. Kemudian, Liang Fenghong menarik Huang Miaoling berdiri. “Malam sudah begitu larut, sudah waktunya untuk istirahat,” nada bicaranya terdengar begitu lembut.
Selagi berbaring di tempat tidurnya, Huang Miaoling menyadari bahwa Liang Fenghong sedang memandang dirinya. Manik hitam milik pria itu terlihat mendung, tak selaras dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“A Feng, kalau kau mengkhawatirkan Wu, maka pergilah,” ucap Huang Miaoling secara mendadak.
Liang Fenghong mengerutkan keningnya, “Kalau aku pergi, bagaimana denganmu?” Tahu jelas bahwa istrinya adalah seseorang yang memiliki harga diri yang tinggi, pria itu segera menambahkan, “Bukan maksudku untuk mempertanyakan kemampuanmu, tapi aku tidak akan merasa tenang meninggalkanmu sendirian.”
Tidak ada ekspresi di wajah Huang Miaoling, tapi mulutnya terbuka untuk membalas, “Kau hanya akan pergi beberapa waktu, aku bisa melindungi diriku sampai kau kembali.”
Dengan tegas, Liang Fenghong menggelengkan kepalanya. “Segera, Shi akan menghadapi perang besar dengan Zhou dan Suku Padang Han. Hal itu berarti Ayah Mertua dan Kakak Ipar Kedua akan meninggalkan ibu kota.” Pandangan Liang Fenghong seakan menerawang, membayangkan keadaan dalam benaknya. “Kakak Ipar Pertama mampu melindungi keluarga Huang. Namun, siapa yang melindungimu ketika aku dan Ayah kembali ke Wu?”
Huang Miaoling mendudukkan dirinya, membuat Liang Fenghong melakukan hal yang sama—menunjukkan pria itu tak bersedia kalah dalam perdebatan ini. “Kalau Wu sungguh jatuh, Shi juga tak akan lepas. Rong Gui telah memperingati kita, dan Kaisar Weixin juga sudah menunjukkan padamu pertanda dari Suku Padang Han. Kita tidak mungkin diam saja.” Pandangan Huang Miaoling terlihat begitu serius.
Helaan napas kabur dari mulut Liang Fenghong. Di saat seperti ini, dia sungguh berharap dirinya dan Huang Miaoling hanyalah warga desa yang tinggal di gunung. Tak peduli ada perang apa di bawah gunung, mereka tak akan ikut campur.
__ADS_1
“Apa kau tak pernah berpikir ada kemungkinan bahwa Wang Chengliu telah memanipulasi Rong Gui? Mungkin saja ketika Penyelidik Rong mengira dia sedang membantu kita, dia sebenarnya sedang membantu Wang Chengliu untuk menjebak kita.” Liang Fenghong mencoba menjelaskan, “Siapa yang bisa menebak apa yang akan Wang Chengliu lakukan ketika diriku dan rombongan Wu keluar dari ibu kota?”
Rahang Huang Miaoling mengeras, mengerti bahwa ucapan suaminya masuk akal. Namun …. “Kalaupun ini jebakan, maka kita hanya bisa menghadapinya.”
Liang Fenghong menyisir rambutnya ke belakang dengan frustrasi, “Ling’er, kau ingin aku melakukan apa? Pergi ke Kerajaan Wu dan menyelesaikan masalah di sana?” Nada bicaranya membocorkan kekesalan yang mulai merebak, “Baik, aku akan pergi. Namun, bagaimana dengan dirimu di sini? Apa rencanamu?”
Bibir Huang Miaoling terpisah, tapi kemudian kembali tertutup. Dia tidak memiliki rencana apa pun. Tanpa Huang Miaoling sadari, dia telah melibatkan Liang Fenghong dalam segala rencananya. Sekarang, apabila Liang Fenghong pergi, maka dia harus menyusun kembali semua rencana yang dia miliki.
“Aku memiliki perhitunganku sendiri,” balas Huang Miaoling seraya menjatuhkan pandangannya.
Wanita itu jelas berbohong, dan Liang Fenghong tahu itu. “Huang Miaoling, jangan keras kepala,” ujarnya dengan melembutkan nada bicaranya, tersadar bahwa emosinya sempat terpancing. Liang Fenghong merebahkan kembali tubuhnya, lalu menarik istrinya ke dalam pelukan, “Tidurlah.”
“A Feng,” Huang Miaoling merasa percakapan ini belum selesai. “Pernikahan kita telah dilaksanakan, paling tidak Ayah Mertua harus segera kembali. Walau sebagian besar pasukan keluarga Liang ditinggalkan di Kerajaan Wu dalam tangan Jenderal Besar Chen, tapi tanpa pemimpin mereka yang asli, mereka akan—”
Liang Fenghong menarik Huang Miaoling ke dalam pelukannya, lalu mendekapnya dengan erat, tak membiarkan wanita itu melanjutkan ucapannya. “Kita bicarakan ini di hari esok.”
***
Entah berapa lama telah berlalu sejak perdebatan Liang Fenghong dengan Huang Miaoling, tapi pria itu masih tidak bisa memejamkan matanya. Selagi memeluk istrinya, benak Liang Fenghong sedang sibuk memikirkan mengenai langkah berikutnya yang harus dia lakukan.
Liang Fenghong tahu ucapan Huang Miaoling benar, dirinya harus segera kembali ke Kerajaan Wu. Namun, kembali ke Kerajaan Wu sama saja dengan meninggalkan Huang Miaoling dan juga Shi, dan itu berarti membiarkan istrinya berperang sendirian melawan Wang Chengliu. Setelah apa yang terjadi malam itu, malam di mana Wang Chengliu menyentuh Huang Miaoling, Liang Fenghong tak lagi rela meninggalkan istrinya bersama dengan baj*ngan itu.
Mata Liang Fenghong melirik ke bawah, memperhatikan wajah Huang Miaoling yang tertidur dengan pulas. Berbeda dengan topeng ketenangan yang biasa wanita itu kenakan, wajah Huang Miaoling terlihat begitu damai. Hal tersebut membuat sebuah senyuman merekah di bibir sang Tuan Liang.
Tangan kiri Liang Fenghong menyisir ke belakang helaian rambut yang terjatuh ke wajah Huang Miaoling, lalu jarinya menyusuri sisi wajah wanita itu dengan lembut. ‘Aku tidak rela meninggalkanmu,’ batin Liang Fenghong dengan ekspresi pahit. ‘Jika aku meninggalkanmu, lalu hal yang sama kembali terjadi … maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.’
Di saat Liang Fenghong sibuk berkutat dengan benaknya sendiri, telinganya menangkap suara derap langkah kaki dari kejauhan. Walau awalnya samar, tapi semakin lama suara tersebut menjadi semakin besar. Hal tersebut menandakan bahwa ada seseorang yang sedang berlari menghampiri ruangan tidurnya.
__ADS_1
Saat Liang Fenghong telah terduduk untuk meraih pedang yang diletakkan di sisi tempat tidurnya, dia mendengar teriakan yang familier, "Ketua! Ketua!”
Kening Liang Fenghong berkerut, dia mengenali suara itu. ‘Meihua?’ batinnya dalam hati.
Mendengar suara Meihua, roh Huang Miaoling yang sempat melayang dalam dunia mimpi dengan cepat tertarik kembali ke dalam tubuh, matanya pun terbuka mendadak. Dia dengan sigap mendudukkan diri, bersiaga terhadap gangguan yang begitu tiba-tiba.
“Apa yang terjadi?” tanya Huang Miaoling dengan waspada sembari melirik suaminya.
Liang Fenghong menggelengkan kepalanya. Bukanlah hal yang biasa bagi bawahannya untuk mengganggu tidurnya, dan hal itu memunculkan prasangka buruk dalam hati sang Penasihat Liang. Pria itu pun bergegas turun dari ranjang dan menghampiri pintu kamarnya. “Ada apa?” tanyanya setelah membuka pintu.
Huang Miaoling baru saja muncul di belakang Liang Fenghong ketika Meihua berkata dengan wajah panik, “K-Kerajaan Wu … jatuh.”
Tidak hanya Liang Fenghong, tapi ekspresi Huang Miaoling pun sekejap berubah buruk. “Kau bilang apa?” tangan Liang Fenghong bergetar ketika mengatakan hal tersebut, kentara berusaha mengendalikan emosi yang bergejolak dalam dirinya. “Katakan dengan jelas!”
Terlihat mata Meihua memerah, dia seperti sedang menahan tangis. “Pesan … pesan datang dari Wu, dikatakan istana disergap secara mendadak. Dalam usaha untuk menyelamatkan Kaisar, Jenderal Besar Chen menyerbu ke istana yang telah dikuasai musuh.” Meihua menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Sementara sebagian pasukan kerajaan berusaha menyelamatkan Kaisar Huatai yang dijadikan sandera, gelombang pasukan musuh kedua menembus pertahanan ibu kota dan membantai para prajurit yang tersisa, bahkan rakyat biasa pun menjadi korban!”
“I-ini …. Bagaimana mungkin ini terjadi?!” Ketenangan yang biasa menyelimuti Liang Fenghong telah sepenuhnya menghilang, bahkan Huang Miaoling menampakkan kekhawatiran besar. “Ini tidak mungkin! Bahkan dengan pertahanan Wu yang tidak maksimal, tidaklah mudah bagi sembarang orang untuk menyerbu sampai ke ibu kota!” Selain itu, di dalam hatinya, ada suatu hal yang mengganjal, ‘Ini berbeda ….’
Huang Miaoling segera bertanya, “Siapa dalang di balik penyerangan?!”
Meihua melirik Huang Miaoling, lalu berkata dengan nada bergetar, “Dalangnya ....”
_______
A/N: Awwhh, liat komentarnya mostly tentang betapa kalian merindukan dirikuu. Aku terharuuu~~ Kirain bakalan lebih banyak yang merindukan Ling'er sama A Feng. Biasanya lu pada kan kerjaannya ngebully gue molo! Wkwkwk
Anyhow, I miss you guys too~ Siap-siap tiap hari kena serangan jantung dan rasa penasaran!
__ADS_1