
‘Wanita kurang ajar! Wanita kurang ajar!’ makian itu berkali-kali terucap di dalam batin pria bermanik hitam kecokelatan itu. Jubah keemasan tersampir di tubuhnya dan mahkota kehormatan seorang raja menghiasi kepalanya.
Di belakangnya, sosok pengawal pendampingnya menampakkan wajah penuh kekhawatiran dan kebingungan. ‘Ini malapetaka, bagaimana bisa rencana Pangeran Keenam berbalik menyerangnya seperti ini?’ Matanya mengarah ke depan, ke arah sang majikan yang memancarkan aura membunuh yang kental. ‘Dia pasti murka …,’ batin pria yang tak lain adalah Chenxiao.
Ketika Wang Chengliu dan Chenxiao mencapai gerbang penjara bawah tanah, terlihat sejumlah mayat prajurit tergeletak tak bernyawa dengan luka pedang mengerikan di tubuh mereka. Beberapa prajurit lainnya sedang berusaha menyingkirkan mayat-mayat tersebut dari jalan sang pangeran keenam, sebuah usaha untuk menekan amarah pria itu.
Wang Chengliu tidak meluangkan sedikit pun waktu untuk melirik korban yang telah berjatuhan, dia terus berjalan melalui mayat para prajurit dan masuk ke dalam penjara bawah tanah. Napas pria itu memburu, bukan karena lelah, melainkan karena emosi yang menggebu-gebu.
Melihat majikannya melenggang masuk ke dalam penjara, Chenxiao berhenti sejenak. Pria itu memberi isyarat kepada salah seorang pengawal untuk mengikutinya dan Wang Chengliu. “Jelaskan segera,” perintahnya pada pengawal tersebut.
Sembari mengiringi Wang Chengliu dan Chenxiao, pengawal tersebut berkata, “Penyerangan dilakukan sepuluh orang, Jenderal. Salah satunya kukenali sebagai wanita yang pernah melayani Selir Huang.”
Kening Chenxiao berkerut, langsung mengerti siapa yang pengawal itu bicarakan. ‘Yuanli …,’ batinnya. “Bagaimana dengan Yang Defei dan pelayan kecil bersamanya?” tanyanya lagi.
Pengawal itu sedikit terkejut, “Yang Defei?” wajahnya terlihat bertanya-tanya.
Chenxiao melambaikan tangannya, paham bahwa selain pengawal yang pertama kali datang untuk mengabarkan kunjungan sang Defei ke penjara, semua pengawal lainnya telah mati di tangan Yuanli dan orang-orang yang datang bersamanya. ‘Tunggu, ini aneh,’ pikir pria itu dengan alis bertaut.
Sebelum Chenxiao sempat mengatakan sesuatu, Wang Chengliu telah terlebih dahulu bertanya kepada pengawal itu, “Tidak ada yang keluar melalui gerbang?” Matanya menggelap.
Pengawal itu segera memberi hormat, tak berani menatap Wang Chengliu terlalu lama. “Jawab, Raja Hui. Setelah mereka masuk ke dalam penjara, tak ada lagi yang keluar,” jelasnya. “Bahkan ketika bala bantuan tiba dan mengejar ke dalam, tak ada lagi orang lain selain …,” entah kenapa, pengawal itu merasa ragu melanjutkan ucapannya, “Selir Huang.”
Mendengar hal itu, Wang Chengliu mempercepat langkahnya. Tak lama, dia melihat sejumlah prajurit memasang wajah canggung menunggu di depan salah satu sel.
Bau anyir darah yang kental membuat pengawal yang mengikuti Wang Chengliu dan Chenxiao mengernyit. Dia melirik kedua orang di sebelahnya, dan dia cukup terkejut mendapati tak ada dari dua orang itu yang terlihat terganggu—sudah terbiasa.
Langkah kaki Wang Chengliu membuat para prajurit menoleh. Mendapati tamu mereka adalah sang pangeran keenam, para prajurit itu langsung memberi hormat, “Raja Hui.”
“Kenapa kalian berkerumun di sini?” tanya Wang Chengliu dengan mata tajam, sedikit menuduh para prajuritnya karena tidak melanjutkan pencarian tentang keberadaan para penyusup.
Para prajurit itu langsung memasang wajah takut, tapi mereka tak berani menunda jawaban terlalu lama. Akhirnya, salah satu orang menjawab, “Beberapa prajurit lain masih melakukan pencarian, Yang Mulia. Namun, kami semua berada di sini karena … Selir Huang berada di dalam.” Dia menambahkan, “Namun, kami tidak berani menyentuhnya karena ….”
Menyadari bahwa prajurit itu kesulitan untuk menyelesaikan ucapannya, Wang Chengliu merasa ada yang salah. Dia pun langsung melewati para prajurit itu dan melangkah masuk ke dalam sel. Di belakangnya, Chenxiao mengikuti.
__ADS_1
Di saat kedua pria itu masuk ke dalam, mereka membeku menyaksikan sebuah pemandangan mengerikan yang disuguhkan di ruangan tersebut. Chenxiao sendiri bergegas mengalihkan pandangannya ke tempat lain, menghindar dari menatap sosok yang berada di tengah ruangan.
“Huang Wushuang,” gumam Wang Chengliu dengan mata terkejut.
Di tengah ruangan, Huang Wushuang terduduk dengan tubuh bersandar pada kursi, terlihat tak berdaya dan tak memiliki tenaga. Pada beberapa sisi tangan dan kakinya, terdapat sejumlah jarum perak yang tertanam dalam. Walau tak mengerti ilmu medis, tapi Wang Chengliu bisa menebak bahwa jarum-jarum itulah yang menyebabkan Huang Wushuang kehilangan kemampuannya untuk bergerak.
Begitu banyak luka sayatan menghiasi wajah dan tubuh Huang Wushuang yang setengah tak berbusana. Letak di mana sayatan-sayatan itu ditorehkan merusak kecantikan yang sebelumnya dimiliki oleh wanita itu. Tak hanya itu, darah yang mengalir turun dari luka-luka yang sang Selir Huang terima juga semakin membuatnya terlihat mengerikan.
Wang Chengliu menghampiri Huang Wushuang, menyadari adanya bekas air mata yang mengering pada wajah wanita tersebut. Siksaan keji yang dilakukan—entah oleh siapa—pasti membuatnya menangis sampai tak sadarkan diri.
Wang Chengliu mengarahkan kedua jarinya di bawah hidung Huang Wushuang, lalu tersenyum mengejek dengan mata memancarkan emosi yang sulit dimengerti. ‘Wanita itu … sungguh tidak menyia-nyiakan kesempatan,’ pikirnya. ‘Inikah yang dipanggil hidup lebih buruk dibandingkan kematian?’ Setelah mengatakan hal tersebut dalam hati, dia berbalik dan berucap lantang, “Segera bawa Selir Huang kembali ke istana!”
Mendengar hal itu, Chenxiao segera terbelalak dan menghentikan Wang Chengliu, “Yang Mulia!” panggilnya, membuat majikannya itu menoleh. “Kondisi Selir Huang tidak memungkinkan siapa pun untuk menyentuhnya!”
Wang Chengliu melirik ke arah Chenxiao, lalu kembali pada sosok Huang Wushuang yang setengah tak berbusana. Dengan pancaran mata dingin, sang pangeran keenam mendecakkan lidahnya, merasa direpotkan.
Tanpa berpikir panjang, Wang Chengliu melemparkan jubah luarnya ke arah Chenxiao. “Gunakan itu untuk membawanya ke istana,” perintahnya seraya mengalihkan pandangan pada beberapa pengawal yang muncul dari dalam penjara. “Bagaimana?”
“Lapor, Raja Hui! Tak ada jejak para penyusup!” jawab prajurit tersebut dengan kening berkerut, merasa sedikit takut jawabannya akan membuat Wang Chengliu semakin murka. Lagi pula, bagaimana mungkin sekelompok penyusup itu bisa membawa kabur tahanan mereka dan menghilang begitu saja?
Yuanli dan orang-orangnya datang untuk menyelamatkan Huang Miaoling, dan mereka bersedia menghadapi risiko untuk melalui gerbang depan penjara bawah tanah. Ini semua sesuai dengan ekspektasi Wang Chengliu.
Awalnya, Wang Chengliu berencana menangkap para penyusup dan menggantung kepala mereka di gerbang istana demi memprovokasi pihak Huang Yade untuk keluar dari persembunyian. Namun, alih-alih mendapatkan umpannya, dia malah kehilangan umpan utamanya—Huang Miaoling.
‘Mereka masuk dari jalur depan, tapi pergi menggunakan cara lain. Ini membuktikan … Huang Miaoling mengenali jalur-jalur rahasia istana,’ pikir Wang Chengliu dengan alis bertaut. ‘Wanita kurang ajar ini … dia mengetahui dan menyembunyikan terlalu banyak hal!’ makinya dalam hati.
Baru saja Wang Chengliu melangkah keluar dari penjara bawah tanah, seorang prajurit lain dari arah pengadilan istana berlari menghampirinya. “Yang Mulia!” teriaknya dengan wajah yang terlihat bersemangat. “Yang Mulia! Pasukan Wu tiba di gerbang Timur!”
Berbeda dengan perihal kaburnya Huang Miaoling, berita ini membuat urat di pelipis Wang Chengliu tampak begitu jelas. “Kau bilang apa?!”
***
“Hindari jalan utama, Wang Chengliu pasti menempatkan mata-mata di sana,” ujar seorang gadis sembari terus berlari beriringan dengan sejumlah orang lainnya. Deru napas memburu bisa terdengar dari wanita yang bertengger di punggungnya. “Nyonya … kau baik-baik saja?” tanya gadis tersebut dengan wajah khawatir.
__ADS_1
Wanita di punggung gadis itu berkata dengan suara rendah, “Masih … hidup.” Dia terdengar begitu lemah, selaras dengan penampilannya yang begitu pucat, bahkan manik hitamnya yang biasa berbinar sekarang terlihat sayu.
“Kau seharusnya tidak memaksa tubuhmu untuk melakukan penyiksaan itu,” gumam sang gadis membuat wanita tersebut terkekeh.
“Layak … dan memuaskan,” balas wanita itu singkat.
“Berhenti,” ucap seorang pria yang berada di barisan paling depan dengan tangan terangkat, membuat orang-orang yang mengikutinya—termasuk gadis tadi—menghentikan langkah. “Kuda,” imbuhnya singkat, “Lewat sini.” Bersamaan dengan ucapan itu, pria tersebut berbelok ke arah persimpangan gang yang lain dan kembali berlari.
Gadis yang menggendong wanita pucat di punggungnya itu mengerutkan kening. “Yunlin, kau yakin?” tanyanya.
Yunlin tidak melirik lawan bicaranya dan membalas, “Aku yakin, Yuanli.”
“Ini mengarah ke gerbang Timur!” desis Yuanli dengan frustrasi. “Aku memang berkata untuk tidak melewati jalan utama, tapi tidak berarti kita harus pergi ke arah yang berlawanan dari Qiongpo Di!”
“Kenapa kita mengarah ke gerbang Timur?! Bukankah kita seharusnya mengarah ke Qiongpo Di?” pekik seorang gadis lain yang segera membuat Yuanli melotot tidak senang—Mingyue.
Di saat ini, seorang wanita berkata dengan nada rendah, sedikit lelah, “Apa derap kaki kuda yang kau dengar terdengar cepat?” Walau tak lagi mengenakan mahkota kehormatannya, ucapan wanita tersebut membuat semua orang bungkam seketika.
Yunlin sedikit terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba wanita itu, tapi dia menjawab, “Benar, Defei.”
Pertanyaan Yang Yuechan membuat Yuanli langsung mengerti, ‘Sesuatu menyita perhatian para prajurit Wang Chengliu,’ tebaknya. ‘Mungkinkah … mereka telah mengetahui tentang Qiongpo Di?!’
Selagi Yuanli memikirkan hal ini, Yunlin mendadak menghentikan larinya. Hal tersebut mengejutkan gadis itu dan membuatnya menatap melalui punggung pria di depannya.
Mata hitam Yuanli membulat seketika saat mendapati sejumlah manik menatap ke arah rombongannya dengan pandangan terkejut. Pemilik beberapa pasang manik itu terlihat sedang mencuri kesempatan beristirahat, mengabaikan tugasnya berpatroli di jalan besar Zhongcheng. Namun, tindakan lalai itu yang membuat mereka beruntung dan menemukan sejumlah pelarian.
‘Prajurit … Shiyan,’ batin Yuanli, mengenali para pemilik manik itu dari plakat yang bertengger di pinggang mereka.
Dalam hitungan detik, ekspresi para prajurit Shiyan itu berubah keji. “Tangkap mereka!”
___
A/N: Apa menurut kalian yang akan terjadi? :
__ADS_1