
Mendengar hal ini, Meihua langsung melipat kedua tangannya. “Hah! Tuan muda kami pasti bisa melewati segala tantangan! Sebutkan saja!” Dia terlihat begitu percaya diri dengan kemampuan majikannya.
Merasa tertantang, Huang Jieli pun berkata, “Kudengar, Tuan Muda Liang sangat mahir dalam memecahkan sebuah teka-teki. Oleh karena itu, aku akan mengajukan sebuah pertanyaan!”
Ketika Huang Jieli mengatakan hal tersebut, Wei Shulin bercelatuk, “Kakak Sepupu Kedua, kau tahu Tuan Muda Liang mahir dalam teka-teki, tapi kau malah menantangnya dalam hal yang dia kuasai. Tidakkah ini sungguh memudahkannya?!”
Huang Jieli meletakkan jari telunjuknya di bibir dan mendesis. “Diam, diam. Dia belum tentu lebih mahir dariku,” balasnya dengan sombong.
Detik itu juga, Huang Junyi menatap ke arah Huang Jieli dengan tatapan terbengong, seakan tak percaya kakak keduanya itu bisa mengatakan sesuatu yang begitu tidak tahu malu. Di sebelahnya, Huang Hanrong mengernyitkan dahi, berpikiran sama seperti adiknya.
Tanpa tahu apa yang semua orang pikirkan, Huang Jieli melanjutkan dengan semangat, “Dengarkan dengan hati-hati!” Lalu, dia berdeham, menarik perhatian semua orang. “Aku selalu sendiri, menghadang luka dan tangis pedih. Perang menyambut kedatanganku, tapi keengganan menghadapinya membuat tubuhku begitu berat. Gelora perang tak akan berhenti, paling tidak sampai aku tak lagi berguna.” Lalu, sang Wakil Jenderal Kerajaan Shi itu bertanya, “Siapa aku?!”
Meihua yang berada di sisi Liang Fenghong bergumam mengulangi ucapan Huang Jieli. Dia termenung memikirkan jawabannya. Namun, dalam hal teka-teki, dia sadar diri kalau benda di dalam batok kepalanya itu tidak bisa digunakan. Akhirnya, gadis itu hanya memasang wajah cemberut karena tak bisa membantu majikannya.
Di sisi lain, Xiaoming berseru, “Perisai! Itu pasti jawabannya!” Senyuman bangga menghiasi wajahnya. Meihua yang ada di sisinya pun berjingkrak riang, setuju dengan jawaban pria itu.
Tak sesuai perkiraan Xiaoming, Huang Jieli mendecak-decakkan lidahnya selagi menggoyangkan jari telunjuknya. “Ho ho, kau salah.” Lagaknya membuat saudara-saudaranya tertawa.
Yunlin yang memaksakan diri untuk ikut tertawa melihat hal tersebut. “Sepertinya, Tuan Muda Liang tidak akan membawa pergi nona kami!” cetusnya.
Yuanli yang ikut datang bersama dengan Wang Qiuhua untuk mengantarkan kepergian nonanya tertawa. Satu tangannya melingkari lengan Yunlin, membantu pria yang memaksa untuk ikut meramaikan acara itu untuk berdiri. Kentara dari gerak-gerik gadis itu bahwa dia begitu protektif terhadap pria di sisinya.
Liang Fenghong yang sedari tadi hanya tersenyum tipis menggelengkan kepalanya. Dia terdiam sesaat, lalu berkata, “Huang Jieli.” Ucapannya membuat semua orang terdiam, terkejut dengan cara pria itu memanggil calon kakak iparnya. Lalu, Liang Fenghong pun memiringkan kepalanya. “Itu jawabannya, bukan?”
Semua orang bergegas menoleh ke arah Huang Jieli.
“Cih.” Huang Jieli mendecakkan lidahnya dan mendengus. “Ya, ya.” Pria itu melambaikan tangannya dengan tidak rela.
“Ah?! Jawaban macam apa itu?!” seru Meihua, sedikit kesal dengan jawaban konyol itu. Susah-susah dirinya memutar otak, jawaban dari teka-teki tersebut ternyata begitu … aish.
Melihat Huang Jieli sibuk tertawa canggung menerima cacian beberapa orang, Liang Fenghong berusaha menaiki undakan tangga lagi. Namun, Huang Hanrong dan Huang Junyi menutup jalan pria itu menuju undakan berikutnya.
“Tidak seperti tantangan konyol Kakak Kedua, kami telah menyiapkan tantangan yang jauh lebih sulit,” ucap Huang Hanrong.
“Apa maksudnya itu?!” celetuk Huang Jieli tidak terima.
Huang Junyi mengabaikan pertanyaan kakaknya dan berkata, “Susunlah sebuah puisi yang menyentuh! Kalau semua orang di sini menyukainya, maka kau baru boleh lewat!”
__ADS_1
Huang Hanrong dan Huang Junyi menyeringai. Keduanya tahu bahwa Liang Fenghong sangat mahir dalam berbagai hal. Namun, mereka tak percaya seseorang bisa begitu baik dalam ‘semua’ hal. Oleh karena itu, mereka memilih keahlian yang tak pernah Liang Fenghong tonjolkan sebagai tantangannya.
Huang Yade yang berada di barisan paling belakang melirik Liang Fenghong dengan santai. Dia menyesap teh yang disediakan pelayannya dan mengipas-ngipas dirinya. ‘Hmm, tantangan yang ini memang jauh lebih sulit. Aku sendiri tak pernah mendengar riwayat membuat puisi dari sang Tuan Muda Liang.’ Dengan berwibawa, pria itu mengangguk-anggukan kepala. ‘Sebuah pertunjukan bagus, pertunjukan bagus,’ batinnya.
Liang Fenghong mengerutkan kening, seperti sedang berpikir keras. Melihat hal ini, semua orang merasa jantung mereka berdebar.
Apakah sang Tuan Muda Liang sungguh tak bisa menyusun puisi? Karena kalau memang tidak, maka gawat!
Tujuan utama susunan tantangan ini diberikan hanya untuk mencobai sang Pengantin Pria, bukan sungguh-sungguh untuk menghalangi jalannya!
Huang Jieli melotot ke arah Huang Hanrong dan Huang Junyi, membuat kedua bocah itu mengangkat kedua bahu dengan tak berdaya. Ketiga orang tersebut sekejap sadar kalau mempermalukan Liang Fenghong di saat ini bukanlah hal yang baik.
Bagaimanapun, pernikahan harus terjadi! Kalau tidak, mau ditaruh di mana wajah keluarga Huang?!
“Kalau kau tak bisa—"
Baru saja Huang Hanrong ingin memberikan kemudahan, tapi Liang Fenghong telah terlebih dahulu menyuarakan puisinya.
Wanita bak giok mengacaukan langit.
Pengorbanan Feniks berakhir pahit.
Penyesalan hadir terbitkan diri.
Janji lalu kekejian kini.
Hati terbelenggu masih di sini.
~ [1] ~
Semua orang terdiam mendengar puisi singkat yang Liang Fenghong utarakan. Sungguh, kata-kata yang dia pilih tidaklah luar biasa indah, bahkan artinya sedikit diragukan. Namun, ada tekad yang tersirat dari susunan kata tersebut, dan hal tersebut membuat semua orang mematung, sedikit bingung.
Ketika melihat semua orang membeku di tempat, Huang Yade segera mengayunkan kipasnya yang telah tertutup. Dengan nada memerintah, pria itu berucap, “Puisi telah disusun, reaksi telah didapatkan. Masih tunggu apa lagi? Cepat jemput istrimu!”
Mendengar hal itu, Liang Fenghong pun menganggukkan kepalanya dan segera melewati kerumunan yang masih belum sempat bereaksi. Hanya ketika pria itu berhasil menerobos barisan pertahanan, semua orang baru mendapatkan kesadaran mereka kembali.
Huang Hanrong dan Huang Junyi berteriak, “Ah! Dia lewat!” Keduanya bersama dengan Huang Jieli dan beberapa orang lainnya langsung mengejar ke dalam, bersiap menonton pertunjukan berikutnya.
__ADS_1
Wei Shulin yang belum sempat mengajukan tantangan mengangkat kedua bahunya. Dia bersyukur dalam hati, ‘Beruntung aku tak mencari masalah dengan Tuan Muda Liang. Bahkan bila aku sepupu Miaoling, aku tak yakin pria itu akan diam saja bila aku menghalanginya.’ Dia kemudian melirik Huang Yade dengan curiga. “Tidakkah Kakak Sepupu Pertama terlalu memudahkan calon iparmu?”
Huang Yade menggelengkan kepalanya sembari mendecak-decakkan lidah. “Kalau mereka cerdas, maka mereka tak akan berusaha menghalangi pria itu,” ucapnya. “Dengan sifatnya, entah itu lautan air maupun lautan api, dia akan mengarunginya untuk tiba di sisi adikku.” Senyum santai terlukis di bibirnya. “Mengetahui hal itu, untuk apa aku membuat lelah diri sendiri?”
Ketika mendengar hal ini, Yunlin yang masih berada di dekat gerbang bersama dengan Yuanli memutar bola matanya. “Jelas-jelas Tuan Muda Pertama tidak berani ikut campur karena stempel Lianhua Yuan diberikan padanya. Masih berlagak bijak, hmph!” gumam pengawal tersebut selagi diakhiri dengan dengusan.
Yuanli yang membantu Yunlin berjalan terkejut dengan pernyataan itu. Lalu, dia menatap Huang Yade dengan tatapan sedikit kecewa. “Tak kusangka, ternyata di balik kebijaksanaan Tuan Muda Pertama Huang ….”
Walau dia tidak memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa, tapi Huang Yade tidak tuli. Pria itu melemparkan kipasnya tepat ke kepala Yunlin, membuat pria itu melenguh kesakitan dan Yuanli membelalak.
Sementara kekonyolan itu terlihat di depan kediaman Huang, Tang Lixi yang sedari tadi menonton di pinggiran hanya bisa menggelengkan kepalanya. ‘Apa ini masih orang-orang yang sama? Ke mana perginya sikap mereka yang biasanya begitu tertata?’ Lalu, dia teringat dengan gurunya. ‘Ah, jangan-jangan, di balik semua orang di ibu kota, ada sikap memalukan yang tertahan.’
***
“Di sana!” teriak Xiaoming dan Meihua sembari berlari di belakang Liang Fenghong.
Tanpa memedulikan banyaknya orang yang dia lewati, Liang Fenghong melesat ke halaman Huang Miaoling. Saat dia menginjakkan kaki di depan halaman tersebut, dia melihat para wanita sedang bercanda-tawa. Namun, mata Liang Fenghong hanya tertuju pada satu orang.
Saat sosok Liang Fenghong muncul di depan halamannya, pandangan Huang Miaoling dengan cepat beralih kepada pria itu. Suara terkesiap bisa terdengar dari sekelilingnya, juga dari orang-orang yang baru saja tiba bersama dengan Liang Fenghong. Mungkin, mereka semua terkagum dengan sosok dua pemeran utama dalam acara hari ini.
Pada saat ini, seorang pelayan pria yang telah ditugaskan untuk mengiringi jalannya pernikahan berseru lantang, “Pengantin pria telah tiba!”
___
A/N: Mau cerita dulu sebelum kasih note untuk puisinya. Pas author bikin puisinya itu, author dengan bodohnya bikin versi Mandarinnya dulu. Susah-susah riset cara bikin puisi, dan tiba-tiba tersadar, kan gak ada yang ngerti ya kalo nggak ditranslate :")
Alhasil, jadilah puisi setengah hati hasil adaptasi dari yang asli. Jadi, klo sempet cringe, merinding, ato geli. Gak apa-apa. Sama otor juga kok. Geli-geli gitu pas baca HAHAHA. Anyway, di bawah ada literal translationnya dari yang asli (bukan adaptasi seperti yang di dalam cerita):
[1] 前生之诺 (Qián shēng zhī nuò): Perjanjian Kehidupan Lalu
女子如玉,惹乱飞鸟。(Nǚzǐ rú yù, rě luàn fēiniǎo.) --> Wanita bak giok, mengacaukan burung yang berterbangan
为佳之花,凤凰废掉。(Wèi jiāzhī huā, fènghuáng fèi diào) --> Demi bunga tercantik, Feniks dijatuhkan
前世苦命,今世无情。(Qiánshì kǔmìng, jīnshì wúqíng) --> Kehidupan lalu begitu tersiksa, kehidupan ini begitu tak berperasaan
今生我娶,前生之情。(Jīnshēng wǒ qǔ, qián shēng zhī qíng)--> Hari ini yang kunikahi, perasaan dari masa lalu
__ADS_1
Ya, semoga ngerti maksudnya apa. LOL
Another note, kemarin ada yang bilang mau 3 hari 3 malem kondangannya, 'kan? Nih, beneran otor kasih 3 hari 3 malem cerita kondangan Hahahaha