
“Huang Miaoling,” suara lembut itu memanggil. “Huang Miaoling ….”
Di tengah kegelapan, suara tersebut berulang kali memanggil namanya. Akan tetapi, Huang Miaoling sama sekali tidak mengetahui pemilik suara itu.
“Sungguh kau tak tahu?” tanya suara itu lagi, terdengar merajuk.
Huang Miaoling ingin bertanya, tapi semua indra yang dia miliki tak berfungsi, terkecuali pendengarannya. Dia meminta dalam hati, berharap mulutnya mampu terbuka dan bersuara.
“Siapa?” Mendadak, Huang Miaoling mendengar suaranya sendiri. ‘Aku bisa bicara!’ pikirnya.
“Kau keterlaluan,” gerutu pemilik suara itu, membuat Huang Miaoling merasa familier.
“Lan’er?”
Tawa lembut terdengar, menghangatkan hati Huang Miaoling yang sebelumnya terasa dingin. “Kau merindukanku?” tanya Lan’er.
“Kau berkata kita tak akan pernah bertemu sebelum tali takdir memisahkan kita,” balas Huang Miaoling, sengaja tidak menjawab. “Aku rasa ucapanmu tak bisa diandalkan,” ujarnya dengan nada menantang, tawa keluar dari bibirnya.
“Aku tidak berbohong mengenai hal itu,” ujar Lan’er. “Lagi pula, kita sungguh tidak bertemu secara langsung, ini hanya mimpi,” jelasnya. Dengan cepat, nada bicara riang itu menghilang, digantikan dengan nada serius dan suram, “Maafkan aku.”
Selama sesaat, Huang Miaoling terkejut. “Kenapa?” tanyanya.
“Aku sudah berusaha, sungguh,” jawab Lan’er, tak sepenuhnya menjawab pertanyaan Huang Miaoling. “Namun, aku tak mampu menyelamatkanmu dari siksaan itu.”
Tak perlu waktu lama sebelum Huang Miaoling mengerti arah pembicaraan Lan’er. “Itu hal yang tak bisa dihindari,” balasnya. “Kau telah membantu banyak, bahkan dengan menyalahi takdir. Aku tidak seserakah itu sampai masih menyalahkanmu untuk hal sepele seperti itu.” Dia terdiam sesaat. “Apa aku sudah mati?”
Kali ini, tawa Lan’er yang begitu ceria terdengar. Tawa keras itu membuat Huang Miaoling merasa sedikit malu. “Apa kau sungguh bertanya mengenai apakah kau sudah mati atau tidak?” tanya Lan’er dengan nada mengejek.
“Tidak bisakah kau langsung menjawab?” balas Huang Miaoling, mempertanyakan kenapa Lan’er terdengar begitu kekanakan di sini. ‘Tunggu, dia selalu bersikap kekanakan, hanya kekuatannya itu yang membuatnya terlihat agung,’ maki wanita itu dalam hati.
“Aku bisa mendengar benakmu, kau ingat?” tegur Lan’er, yang kalau Huang Miaoling bisa lihat wajahnya pasti sedang memutar bola matanya. “Menjawab pertanyaanmu, tidak, kau masih hidup.” Dia menjelaskan, “Liang Fenghong menyelamatkanmu tepat waktu.”
__ADS_1
Teringat dengan sosok Liang Fenghong yang terakhir kali dia temui, Huang Miaoling sedikit terkejut. “Ah! Kau yang membantu Liang Fenghong?” tanyanya. “Apa itu alasannya dia bisa muncul di Shi dengan begitu cepat?” Dia mengerutkan keningnya, mempertanyakan kemampuan Lan’er. “Tunggu, sungguh? Kau memindahkan ribuan orang dengan kekuatanmu?! Apa Wu sungguh telah selamat?”
Lan’er terdiam, merasa pening dengan segala hal yang Huang Miaoling tanyakan. Kemudian, dia berkata, “Tanyakan itu pada suamimu ketika kau bangun nanti.”
Huang Miaoling mendecakkan lidah, merasa kesal karena Lan’er tak pernah menjawab pertanyaannya. “Apa kau mendatangi mimpiku hanya untuk meminta maaf padaku?” tanyanya. “Aku merasa tersanjung,” ujarnya dengan nada sinis, sengaja ingin menantang Lan’er.
Walau tak mampu melihat wajahnya, tapi Huang Miaoling bisa membayangkan sebuah senyuman di wajah Lan’er seiring dirinya berkata, “Tentu saja ….” Bukan senyuman ceria, melainkan senyuman sendu penuh kepahitan seperti yang terakhir kali dia nampakkan sebelum pergi. “Lagi pula, aku tidak tahu apakah ini akan menjadi kali terakhir kita berbicara.”
Entah kenapa, ucapan Lan’er membuat hati wanita itu terasa sakit. “Lan’er,” panggilnya. “Kenapa kau membantuku?”
Hening.
“Lan’er?” Huang Miaoling merasa ada yang tidak beres.
“Karena aku bersalah padamu,” balas Lan’er membuat Huang Miaoling merasa sangat bingung, “dan aku ingin membenarkannya.”
“Bahkan jika membenarkannya memerlukan nyawamu?” Huang Miaoling tak mampu menahan diri. “Aku tidak mengerti.”
“Heh,” Huang Miaoling mendengus tertawa. “Tak perlu bagimu untuk memberitahukanku itu,” balasnya. “Terkekang bukanlah bagian dari rencana hidupku.”
“Bagus.”
Huang Miaoling tidak berniat bertanya lebih jauh perihal kesalahan yang Lan’er lakukan padanya. Kentara Lan’er tak akan menjawab pertanyaan apa pun terkait hal tersebut.
Oleh karena itu, Huang Miaoling memutuskan untuk membahas hal lain. “Kau tahu bahwa Lu Si mencarimu, bukan?”
“Dari segala hal yang bisa kita bicarakan, kau harus menyebut pria itu?” Lan’er tertawa, merasa Huang Miaoling melakukan suatu hal yang konyol.
“Dia hampir membunuhku karenamu, tentu saja aku harus membicarakannya,” ujar Huang Miaoling. “Jadi?” wanita itu merujuk pada pertanyaan pertamanya.
“Aku tahu,” jawab Lan’er, terdengar jelas usaha gadis itu untuk bersikap tegar. Sebelum Huang Miaoling mengutarakan hal lain, Lan’er menambahkan, “Namun, aku tidak akan menemuinya.”
__ADS_1
Huang Miaoling sedikit terkejut. “Kenapa?”
“Dia mencoba mengubah yang tidak mungkin.”
Kalau Huang Miaoling bisa menggerakkan tubuhnya, keningnya pasti sudah berkerut sekarang. “Apa kau tidak sedang membicarakan dirimu?” tuturnya, jelas mengingat bahwa aliran magis yang menghukum dan menyiksa Lan’er waktu itu diakibatkan oleh niat gadis itu untuk membuka tabir surga padanya. “Apa yang ingin dia ubah?”
“Takdirmu … dan takdirku,” jawab Lan’er, membuat Huang Miaoling terdiam, menjadi semakin pening. Kemudian, gadis itu menambahkan, “Tenanglah, Miaoling, semua pertanyaan dalam benakmu … suatu hari akan terjawab.” Bayangan Lan’er tersenyum terbentuk jelas dari nada riangnya ketika mengatakan, “Sekarang, kembalilah ke tempat seharusnya kau berada.”
***
Mata wanita itu terbuka perlahan, lembut dan tenang, sama sekali tidak terpaksa maupun terkejut. Bulu mata lentik itu bergetar seiring kelopaknya bergerak terbuka dan menutup beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang menabrak penglihatan.
‘Kami sungguh berbincang di mimpi?’ batin Huang Miaoling, merasa lucu. ‘Gadis itu sungguh sebuah misteri.’
Huang Miaoling mencoba menggerakkan tubuhnya, tidak ada yang terasa sakit. Dia perlahan mengalihkan pandangan dan menggerakkan kepalanya ke kiri, ke arah datangnya cahaya—jendela. Saat itu juga, Huang Miaoling terkejut mendapati wajah tampan yang terpampang di depan matanya.
‘A Feng …,’ bisik Huang Miaoling dengan lembut dalam hati. Manik hitam wanita itu menelusuri wajah sang suami, mendapati ada bekas air mata yang mengering. ‘Dia menangis?’ Hatinya terasa sakit.
Secara refleks, Huang Miaoling menjulurkan tangannya, ingin menyentuh wajah pria itu. Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh kulit wajah Liang Fenghong, sesuatu mencengkeram pergelangan tangannya.
“Ugh!” Huang Miaoling meringis, merasa tangannya akan hancur. Dia memaki dalam hati, merasa hal ini terjadi beberapa saat yang lalu.
“Ling’er!” Liang Fenghong yang terbangun dengan kaget segera melepaskan cengkeramannya. Dengan wajah bersalah, pria itu berkata, “Kau baik-baik saja?” Tangannya kembali meraih tangan Huang Miaoling, kali ini mengusapnya dengan lembut.
Melihat Liang Fenghong menampakkan ekspresi di wajahnya membuat Huang Miaoling termenung, ada kehangatan yang menyelimuti hatinya. Kemudian, wanita itu segera menghempaskan dirinya ke dalam pelukan pria itu.
Liang Fenghong terkejut, dan dia membeku di tempatnya. Seiring ketenangannya kembali, pria itu melirik wanita yang masih memeluknya erat. “Ling’er ….”
“Kau selamat ….” Huang Miaoling menutup matanya, menikmati kehangatan yang pria itu berikan. Wangi tubuhnya yang menenangkan membuat wanita itu merasa … dirinya telah kembali ke tempat yang seharusnya. “Aku tak akan pernah membiarkanmu pergi lagi.”
___
__ADS_1
A/N: Mau ngingetin aja, Sabtu-Minggu Author libur yaa. Hehe. Ini double up itung-itung nutup yang kemaren. Maap, ada acara.