
A/N: Sekali lagi, tabung aja. Kalau udah waktunya baca, otor bilangin wkwk
____
“Kau bilang apa?!” teriakan melengking itu membuat pria di tengah ruangan mengernyitkan dahi, merasa telinganya sedikit berdengung. “Jiang Feng! Kau kehilangan akal sehatmu!” maki Huang Miaoling selagi menuding ke arah menteri di sebelahnya itu. “Bagaimana mungkin kita memiliki dana untuk menyuplai perang dengan Wu, tapi tidak untuk membantu korban bencana di kota Xiangni!?”
“Diam!” bentak pria di atas takhta dengan wajah marah. “Permaisuri, aku yang telah menurunkan perintah untuk mendanai perang, apa aksimu ini bisa kuanggap sebagai perlawanan atas keputusanku?!” Wang Chengliu melemparkan tatapan memperingati pada Huang Miaoling. “Aku harap kau tidak kehilangan akal sehatmu!”
Huang Miaoling memasang wajah tak berdaya, “Yang Mulia, aku—!”
“Yang Mulia, aku punya satu usulan,” ujar Jiang Feng secara tiba-tiba, menarik perhatian semua orang. “Karena tidak mampu menggunakan dana istana, maka aku rela mengeluarkan dana dari sakuku sendiri untuk menangani kota Xiangni.” Pria itu melanjutkan, “Namun, aku memohon izin untuk pergi ke sana dan mengurus semuanya sendiri.”
Mendengar hal ini, Huang Miaoling menampakkan tampang ganas. Terlihat jelas ada tuduhan pada Jiang Feng dari pancaran matanya, yakin bahwa pria itu memiliki tujuan lain.
“Kalau kau pergi, siapa yang akan menggantikanmu mengelola kementerian keuangan?” ujar Wang Chengliu dengan wajah serius.
Jiang Feng adalah salah satu aset kerajaan. Tak hanya pria itu memiliki kemampuan luar biasa dalam mengelola keuangan kerajaan, tapi dia juga memiliki kecerdasan dan kekayaan yang luar biasa.
Membiarkan pria semacam itu pergi untuk menangani kota kecil seperti Xiangni? Wang Chengliu sedikit tidak rela.
“Aku bisa mengatur semuanya, Yang Mulia,” jawab Jiang Feng. “Tanpa diriku, kementerian keuangan masih memiliki sejumlah orang yang mampu diandalkan. Lagi pula, aku hanya pergi sementara, bukan selamanya,” jelasnya dengan santai.
Wang Chengliu terdiam selama sesaat, terlihat berpikir keras. Kemudian, dia menganggukkan kepalanya, “Baiklah.” Dia menambahkan, “Tuliskan surat utang dan kerajaan akan secara bertahap mengembalikan dana tersebut.”
Huang Miaoling segera menghadap Wang Chengliu. “Yang Mulia, izinkanlah aku untuk pergi dengan—"
“Cukup!” Wang Chengliu mengangkat tangannya, memotong ucapan Huang Miaoling.
Wang Chengliu tahu bahwa wanita itu akan meminta izin untuk ikut menangani hal tersebut. Namun, tidakkah Huang Miaoling sadar bahwa dia adalah ibu dari kerajaan ini, panutan para wanita, simbol keanggunan Kerajaan Shi, juga istri sang kaisar! Sejak detik dia menginjakkan kaki di pemerintahan, Huang Miaoling sudah melanggar norma yang ada. Sekarang, dia ingin pergi bersama pria lain untuk mengurus urusan pemerintahan?!
Konyol!
__ADS_1
“Keputusan telah diambil, Menteri Jiang akan menangani semuanya. Kota Xiangni akan menerima bantuan, bukankah ini sesuai yang kau inginkan di awal, Permaisuri?” tanya Wang Chengliu dengan tatapan tajam dan dingin. “Apa masih belum cukup?”
Huang Miaoling tersentak, terkejut dengan tatapan mengancam yang diberikan sang suami. Wanita itu pun hanya bisa menelan kembali segala sanggahannya dan berkata, “Yang Mulia bijaksana ….”
Melihat Huang Miaoling akhirnya menyerah, Wang Chengliu mendengus dan bergumam, “Kuanggap kau masih sadar diri.” Kemudian, dia pun berdiri dan melangkah meninggalkan ruang pengadilan.
Kasim yang berada di sisi panggung takhta mengumumkan, “Pengadilan dibubarkan!”
Detik itu juga, para pejabat bergegas meninggalkan ruang pengadilan, merasa butuh udara segar setelah berjam-jam berada di ruangan penuh ketegangan itu.
Huang Miaoling yang berdiri di tengah ruangan dengan cepat menoleh ke satu arah. “Jiang Feng,” wanita itu melemparkan tatapan mengerikan pada pria tersebut, “apa yang kau rencanakan?”
Jiang Feng tersenyum tipis, lalu berjalan melalui Huang Miaoling. “Tenang, Permaisuri Huang, aku tak memiliki niat mengkhianati kerajaan seperti dirimu dahulu,” ujarnya tepat ketika dirinya berada di sebelah sang permaisuri, membuat mata wanita itu membesar.
“Kau!” Huang Miaoling tidak melanjutkan ucapannya, merasa dirinya sedikit pening. Kemudian, rasa mual mulai menyerang dirinya. ‘Ugh … kurang ajar!’ makinya dalam hati.
Selagi melangkah meninggalkan ruang pengadilan, seorang prajurit muda menghampiri Jiang Feng, berniat mengawal pria tersebut. Melihat sosok Huang Miaoling yang pucat di tengah ruang pengadilan, prajurit muda itu menghela napas,
“Ketua, sampai kapan kau akan melakukan ini?” ujar prajurit muda itu selagi dirinya menuruni tangga bersama dengan Jiang Feng.
Prajurit muda itu tersentak, lalu memberi hormat. “Xiaoming bersalah, M-Menteri.” Jantungnya berdebar, merasa sangat takut dengan perubahan ekspresi majikannya.
Begitu banyak hal yang terjadi, dan identitas Jiang Feng pun tidak lagi sama. Dia bukan lagi Jiang Feng, sang ketua Lianhua Yuan, melainkan Jiang Feng, sang menteri keuangan Kerajaan Wu. Demi tujuannya, dia harus membuang jauh-jauh identitasnya itu di istana.
Jiang Feng menarik kembali tatapannya, lalu lanjut berjalan. “Selain itu, bukankah sudah kukatakan juga bahwa sampai saat yang tepat tiba … barulah aku akan mengatakan yang sebenarnya dan membawa wanita itu pergi.”
Xiaoming merapatkan bibirnya, menahan diri untuk mengutarakan isi hatinya, ‘Apa saat yang tepat itu akan tiba?’ Dia menautkan alisnya dan mencengkeram pangkal pedang di sisi pinggangnya. ‘Bahkan jika saat itu tiba, apa Permaisuri Huang sungguh bersedia meninggalkan Kaisar?’ Manik hitam kecokelatannya melirik sang majikan. ‘Ketua, apa wanita itu sungguh layak sampai kau rela memberi hormat kepada pria rendahan seperti Wang Chengliu?’
Selagi Xiaoming berjalan di sisi Jiang Feng, mendadak sebuah suara terdengar melantunkan, “Oh? Bukankah ini Menteri Jiang?” Suara itu mengejutkan Xiaoming dan membuatnya mengalihkan pandangan ke samping, ke arah salah satu cabang jalan utama istana.
Sosok seorang wanita terlihat berjalan menghampiri Jiang Feng dan Xiaoming dengan gemulai. Di sampingnya, seorang pelayan pendamping setia menemani. Sementara itu, di belakangnya, ada satu baris gadis pelayan dan satu baris kasim yang siap melayani.
__ADS_1
“Hormat kepada Huang Guifei,” ujar Jiang Feng seraya memberi hormat.
Dengan senyuman sopan yang mempesona, Huang Wushuang berjalan menghampiri Jiang Feng sembari melenggak-lenggokan tubuhnya. “Apa pengadilan istana akhirnya selesai?” tanyanya lagi.
Pelipis Jiang Feng sedikit berkedut. Huang Wushuang jelas-jelas seorang wanita kerajaan, selir dari sang kaisar. Namun, kenapa sikapnya tak jauh berbeda dengan wanita di rumah bord*l?
“Jawab, Guifei, itu benar,” jelas Jiang Feng.
“Hmm,” Huang Wushuang bersenandung dengan menggoda. “Kudengar lagi-lagi kakakku membuat pengadilan berakhir begitu larut, aku harap Menteri Jiang tidak menyalahkannya,” tutur wanita itu. “Karena hatinya yang penuh kasih, dia terkadang tak mampu membedakan hal yang lebih penting.”
Di sebelahnya, Mingyue memasang wajah tak berdaya. “Guifei, tidak seharusnya wanita ikut campur masalah pemerintahan.” Kepala gadis itu bergeleng kecil, seakan menyayangkan sesuatu. “Ada baiknya bagi Guifei untuk menyarankan Permaisuri untuk berhenti melangkahi posisinya.”
Mendengar hal ini, Xiaoming mendecakkan lidah diam-diam. ‘Terdengar seakan dia mewakili Permaisuri untuk menjaga relasi, tapi tujuan utamanya adalah untuk menjelek-jelekkan saudarinya. Permainan rendahan seperti ini ….’ Mata pria itu beralih ke kanan, memeriksa ekspresi majikannya.
Tak diduga, sebuah senyuman merekah di wajah Jiang Feng, membuat semua orang di tempat itu terkejut dengan ketampanan yang ditampakkan. “Apa yang pelayan kecil itu katakan benar, ada baiknya Guifei, selaku saudari Permaisuri, pergi memperingatkannya,” ujar pria itu.
Ucapan Jiang Feng membuat mata Mingyue berbinar, mungkin berharap bahwa pernyataannya membuat pria tampan itu tertarik padanya. Senyuman menawan itu tak elak membuat jantungnya berpacu kencang.
Jiang Feng membungkukkan sedikit tubuhnya, mendekatkan dirinya dengan Mingyue. Lalu, senyumannya berubah menjadi sedikit mengerikan.
“Namun, akan lebih baik apabila Guifei memperingatkan terlebih dahulu pelayan kecilmu ini. Tak baik baginya untuk melangkahi posisi seperti yang sedang dia lakukan sekarang.” Liang Fenghong menegapkan tubuhnya dan menambahkan, “Berbeda dengan Permaisuri, kalau seorang pelayan kecil melangkahi posisinya, maka kepalanyalah yang akan terpisah dari tubuhnya.”
“Kau!” Mingyue mengerutkan kening dan hampir saja memaki Jiang Feng.
Beruntung, Huang Wushuang cepat-cepat berkata, “Nasihat Menteri Jiang benar, aku akan mengingatnya dan mengajari pelayanku lagi.”
Senyuman di wajah Jiang Feng kembali lembut, lalu dia memberi hormat, “Aku permisi, Guifei,” dan berjalan pergi.
Di dalam hati, Huang Wushuang memaki, ‘Dari sikapnya yang terus menentang Miaoling, kukira dia membenci j*lang itu. Namun, sepertinya Jiang Feng bukanlah sembarang pria yang bisa diajak bekerja sama ….’ Namun, wanita itu kemudian tersenyum. ‘Tak masalah kalau dia tidak ingin membantu. Lagi pula, cepat atau lambat … Huang Miaoling akan jatuh.’
Sementara itu, setelah dirinya berjalan cukup jauh, ekspresi Jiang Feng pun berubah gelap. ‘Huang Miaoling … sampai kapan kau mau berada di istana jahanam ini?’ Kedua tangan yang berada di belakang punggungnya mengepal kuat. ‘Kebetulan kesempatan untuk meninggalkan istana tiba. Aku harus percepat rencana, lalu membawamu pergi.’
__ADS_1
___
A/N: Nah, kan ... nyesel lagi :")