
“Ada apa?” tanya Huang Yade, merasa sedikit tidak nyaman dengan ekspresi di wajah sang ayah.
Belum sempat Huang Qinghao menjawab, Huang Miaoling terlebih dahulu menebak, “Apa itu pesan dari Zhou?”
Huang Qinghao dengan cepat menatap putrinya. “Bagaimana kau tahu?”
Alih-alih menjawab, Huang Miaoling malah bergumam dengan wajah yang terlihat cerah, “Ternyata begitu.” Dia terlihat mendapatkan sebuah jawaban.
Mengabaikan tatapan kebingungan sang ayah dan para saudaranya, Huang Miaoling berdiri dari tempatnya dan berjalan cepat meninggalkan ruangan. Namun, belum sempat dia melewati batas pintu, dia menabrak sesuatu yang cukup keras. Hal tersebut diikuti dengan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.
Huang Miaoling yang terkejut segera mengangkat pandangan. “A Feng?” sebutnya dengan mata yang sedikit berkunang-kunang.
“Ling’er,” balas Liang Fenghong dengan pandangan penuh arti. Dia membantu wanita itu berdiri tegap sebelum akhirnya memberi salam kepada para senior di dalam ruangan. “Salam kepada Ayah Mertua dan Kakak Ipar Pertama.”
Pandangan dua pemuda Huang—Huang Hanrong dan Huang Junyi—terlihat kurang bersahabat, sepertinya masih kurang senang dengan sikap Liang Fenghong beberapa waktu belakangan ini. Di sisi lain, Huang Yade mempertahankan sopan santunnya dan membalas salam saudara iparnya itu.
Ketika Huang Yade melirik ke arah sang ayah, dia terkejut mendapati wajah Huang Qinghao terlihat … kesulitan. “Ayah?” panggilnya, mengejutkan pria tersebut. “Ada apa?”
“T-tidak, Ayah tidak apa-apa.” Huang Qinghao segera menggelengkan kepalanya, lalu berkata ke arah Liang Fenghong, “Duduklah.” Entah kenapa gerak-geriknya terlihat aneh. ”Aku ingin menyuruh dirimu dan Ling’er untuk beristirahat lebih lama, tapi sepertinya situasi kita tidak begitu memungkinkan.”
Huang Yade kembali bertanya, “Apa isi surat tersebut?”
Selagi dituntun ke arah tempat duduk oleh sang suami, Huang Miaoling berujar, “Kakak Kedua bersama dengan kedua pangeran sekarang berada Zhou.” Dia melirik ayahnya yang langsung terlihat kaget. ‘Sesuai dugaan.’
“Bagaimana mungkin?!” Huang Yade terlihat khawatir. “Kalau Zhou menangkap mereka, maka—”
“Kakak Kedua tidak perlu panik,” ucap Huang Miaoling. Dia pun melirik Liang Fenghong yang baru saja terduduk. “Aku rasa … kau memiliki penjelasan mengenai hal ini juga, bukan begitu?” tanyanya, membuat pelipis Huang Yade dan Huang Junyi berdenyut mendengar cara bicara yang begitu manis.
Liang Fenghong memasang sebuah senyuman tipis seraya menatap sang istri dengan lembut. “Sepertinya, aku tidak bisa menyembunyikan apa pun darimu.” Dia pun mengalihkan pandangan kepada anggota Keluarga Huang lain yang terlihat bingung. “Kakak Ipar Kedua dan kedua pangeran berada di tangan yang aman.”
“Apa maksudmu?” Huang Yade mengerutkan keningnya. Kemudian, dia pun teringat akan suatu hal. “Tidak mungkin … kau bermaksud untuk mengatakan bahwa Kaisar Zhou—” Dia tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
Di sisi lain, Liang Fenghong dengan tenang menganggukkan kepalanya. “Qing Zhuang adalah sekutu.”
***
__ADS_1
Di dalam sebuah ruangan yang terlihat mewah, terbaring seorang pria dengan perban yang menyelimuti tubuh dan dahinya. Wajahnya dipenuhi luka yang mulai mengering, menandakan bahwa dirinya pulih seiring waktu.
Mendadak, bola mata yang tersembunyi di balik kelopak pria itu bergerak-gerak. Dalam hitungan detik, kelopak tersebut terbuka, memamerkan manik hitam segelap malam yang merupakan kekhasan keluarganya.
Pelayan wanita yang berjaga di ruangan itu segera berseru, “Sudah sadar!” Dia berlari keluar, menyampaikan pesan pada prajurit yang berjaga di depan pintu, “Panggil tabib istana kemari! Wakil Jenderal Huang sudah sadar!”
Ya, pria itu adalah Huang Jieli.
Mendengar ucapan pelayan tersebut, Huang Jieli mengerutkan kening. Dia merasa seluruh tulang dan otot dalam tubuhnya seakan hancur.
Ketika melihat pelayan itu kembali, Huang Jieli bertanya, “Di mana … ini?” Suara pria itu terdengar parau, seakan tenggorokannya berkarat karena terlalu lama tidak digunakan.
Pelayan wanita dengan sigap menuangkan air ke dalam cangkir dan menyodorkannya ke bibir Huang Jieli. Dengan sopan, dia menjawab, “Jawab, Wakil Jenderal Huang. Kau berada di Istana Zhou, di—”
Kalimat pelayan itu belum selesai, air yang baru saja diteguk Huang Jieli kembali dikeluarkan.
“Apa?!” Huang Jieli merasa tenggorokannya sakit karena berseru. Akan tetapi, dia tidak bisa menahan diri untuk melanjutkan, “Bagaimana aku bisa di sini?!”
Pelayan wanita itu membeku sesaat, hanya bisa bersabar dengan reaksi terkejut sang wakil jenderal. Dia mengusap wajahnya dengan sapu tangan dan berkata, “Tenanglah, Wakil Jenderal Huang. Seseorang akan segera datang untuk menjelaskan semuanya padamu.”
“Wakil Jenderal!” seru seseorang dengan suara tinggi dan bersemangat.
Huang Jieli menoleh dan mendapati sosok familier berlari ke arahnya. “P-Pangeran Ketujuh?” Dia berusaha untuk berdiri, ingin memberi hormat yang seharusnya.
“Jangan berdiri, tubuhmu belum sepenuhnya pulih,” ujar Wang Xiangqi dengan mata sedikit memerah, terlihat sangat mensyukuri kenyataan bahwa Huang Jieli akhirnya sadar. Melihat sekujur tubuh pria di hadapannya dipenuhi luka, pangeran itu mengerutkan kening, merasa sangat bersalah. “Syukur kepada langit.”
Wang Xiangqi tidak bisa mengelak bahwa dirinya begitu bahagia atas sadarnya Huang Jieli. Bukan hanya karena dirinya merasa berterima kasih terhadap pria itu karena telah berusaha keras untuk menyelamatkannya, tapi juga karena dia tidak tahu cara menghadapi Huang Miaoling kalau kakak kedua wanita itu mati di medan perang selagi dirinya selamat.
Sikap Wang Xiangqi membuat Huang Jieli merasa serba salah. Dia menginginkan penjelasan, tapi kurang sopan baginya untuk bertanya dan mengabaikan suasana hati pangeran tersebut.
“Kau sudah berjuang,” ujar sebuah suara lain dari belakang Wang Xiangqi.
Huang Jieli mengalihkan pandangan dan melihat sepasang mata biru yang begitu mencolok. “Pangeran Keempat,” panggilnya. Teringat akan sosok Tubo Rang yang berkhianat, kerutan di dahi Huang Jieli menjadi lebih dalam. “Kau ….”
Wang Junsi langsung mengenali tatapan itu. Dia yakin bahwa Huang Jieli mengira bahwa dirinya telah berkhianat.
__ADS_1
“Wakil Jenderal Huang, jangan salah paham,” jelas Wang Xiangqi, dia juga mengerti alasan Huang Jieli bersikap waspada kepada kakaknya. “Kakak juga terkena jebakan.”
Huang Jieli hanya terdiam. Dia merasa bahwa Wang Xiangqi mungkin saja dengan mudah ditipu oleh Wang Junsi. Bagaimanapun, pangeran ketujuh itu masih begitu muda dan mudah dikendalikan orang lain, terlebih karena sedari awal dirinya dekat dengan saudara keempatnya itu.
‘Namun, tidak masuk akal,’ pikir Huang Jieli. ‘Kalau benar dia berkhianat, tidak ada guna baginya membiarkanku hidup.’
Tepat ketika Huang Jieli memikirkan hal tersebut, suara nyaring seorang kasim terdengar dari luar. “Kaisar Zhou tiba!”
Tak lama, satu sosok berparas tampan berjalan masuk ke dalam ruangan dengan jubah keemasan membalut tubuhnya. Sebuah mahkota menghiasi kepalanya.
Wajah pria bermahkota itu begitu muda, tapi pandangannya terlihat sangat tua. Dia terbukti merupakan orang yang dipaksa dewasa oleh situasi dan juga keadaan.
Melihat kedatangan pria tersebut, semua orang yang berada di dalam ruangan langsung memberi hormat sesuai status mereka. “Hormat kepada Kaisar.”
Qing Zhuang melambaikan tangannya, “Berdirilah.” Kemudian, pria itu melihat ke arah Huang Jieli yang menatapnya penuh keterkejutan dan kewaspadaan.
Begitu melihat sosok pria yang berjaga di sisi Qing Zhuang, ekspresi Huang Jieli berubah bingung. Pria berparas garang dengan luka panjang yang menghiasi mata kanannya itu terlihat familier.
Huang Jieli mengalihkan pandangannya kepada Qing Zhuang. “Kau … Kaisar Zhou?” Tak mengerti dengan perkembangan alur cerita ini.
Bagaimana dia bisa di sini?
Kenapa Kaisar Zhou, Qing Zhuang, terlihat begitu sungkan kepada dirinya? Dia bahkan tidak menghukumnya karena tidak sempat memberi hormat!
“Bisa kulihat bahwa belum ada yang menjelaskan apa pun padamu.” Qing Zhuang melirik sejumlah pelayan dan kasim. “Kalian semua, pergilah.”
“Baik.”
Ketika semua bawahan meninggalkan ruangan itu, pria dengan luka di mata kanannya itu menarik sebuah kursi untuk Qing Zhuang. Hal tersebut diikuti dengan sang kaisar mempersilakan Wang Xiangqi dan Wang Junsi untuk duduk.
“Karena kau sudah sadar, maka aku akan menjelaskan semuanya padamu,” Qing Zhuang memulai. “Aku akan memulai dari yang paling utama,” ujarnya. “Aku, Qing Zhuang, adalah sekutu dari Tabib Jianghu, Liang Fenghong.”
___
A/N: Oh tidak\, libur lebaran kelar T______T harus kerja lagi
__ADS_1
Semoga kalian para pejuang nafkah maupun ilmu terus semangat! wkwkwk