Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 137 Lingkaran Api Menuju Wu


__ADS_3

*Beberapa hari yang lalu*


Di kegelapan malam, rombongan prajurit keluarga Liang dan Huang berkemah di tengah hutan. Dengan peralatan dan persediaan yang seadanya, mereka mengistirahatkan tubuh mereka setelah perjalanan panjang.


“Masih ada setengah jalan lagi,” ujar Liang Shupeng—sang Perdana Menteri Liang—dengan wajah khawatir. Cahaya yang berasal dari api unggun membantunya melihat jelas gambar peta di tangannya. “Kita masih perlu kurang-lebih empat hari lagi.”


Huang Qinghao yang terduduk di seberang Liang Shupeng membalas dengan wajah suram, “Masih begitu lama?” Dia mulai khawatir dengan keadaan di Zhongcheng, terutama dengan ketegangan yang meningkat antara Wang Chengliu dan Huang Miaoling.


Mendengar ucapan Huang Qinghao, Liang Fenghong yang sedang duduk bersandar di sebuah batang pohon besar memasang ekspresi serius. ‘Kekhawatiran Ayah Mertua masuk akal,’ pikirnya. Benaknya pun berputar dan dia teringat akan satu sosok, ‘Namun, dia juga membantu menyusun rencana, jadi semuanya akan baik-baik saja.’


Mendadak, suara garing daun yang terinjak membuat semua orang bersiaga. Setiap tangan meraih senjata terdekat dan setiap mata terarah ke sumber suara.


Liang Fenghong memberikan pertanda bagi semua orang untuk terdiam, matanya dengan cepat menyapu ke arah sang ayah yang sedang mematikan api unggun dengan sigap. Pria itu kemudian memberi isyarat bagi sejumlah prajurit untuk membentuk formasi, menjadi pertahanan pertama rombongan kalau-kalau pengunjung mereka adalah musuh.


Langkah kaki pada dedaunan yang berserakan di lantai hutan semakin lama menjadi semakin dekat, dan hal tersebut membuat jantung semua orang berdebar kencang. Aneh, tapi langkah kaki tersebut jelas hanya berasal dari satu orang, sedangkan pasukan mereka ada ribuan orang, kenapa mereka merasa begitu tertekan?


“Di sana!” desis salah seorang prajurit yang melihat bayangan hitam yang mencuat dari balik kegelapan malam. “Siapa ka—!"


“Liang Fenghong.”


Mendengar suara seorang perempuan memanggil nama sang putra keluarga Liang, semua orang langsung terkejut. Mata mereka terarah kepada sosok Liang Fenghong yang juga mengerutkan keningnya dengan bingung.


Detik berikutnya, semua orang terbelalak ketika sebuah lidah api muncul di tengah kegelapan. Sinar dari lidah api itu menerangi wajah sosok yang baru saja tiba.


Mengenali tamu tak diundangnya, Liang Fenghong segera memanggil, “Lan’er?” Dia menghela napas kasar dengan senyuman lega di wajahnya, “Baru saja kupikirkan Cao Cao, dan Cao Cao pun tiba [1].”


Lan’er tersenyum paksa, membuat bibir pucatnya semakin menarik perhatian. “Jangan samakan aku dengan Cao Cao.” Pandangan gadis itu pun beralih kepada orang-orang di belakang Liang Fenghong yang menatapnya dengan bingung dan takjub.


“Nyalakan kembali apinya,” ujar Liang Fenghong. “Dia bukan musuh,” jelasnya. Pria itu menghampiri Lan’er, lalu menjulurkan tangan untuk membantu gadis itu melangkah.

__ADS_1


Lan’er melirik tangan yang diulurkan oleh Liang Fenghong, lalu dia meletakkan tangannya di sana. Lidah api di tangan kirinya menghilang, dan gadis itu melangkah dengan hati-hati menghampiri tengah rombongan.


Huang Qinghao dan Liang Shupeng mengerutkan kening, sangat penasaran dengan identitas gadis muda misterius itu, terutama dengan cara Liang Fenghong memperlakukannya. Mereka melirik ke arah putra mereka, mengharapkan pemuda itu untuk menjelaskan. Akan tetapi, pria itu terlalu sibuk memikirkan tentang hal lain.


Liang Fenghong mengerutkan kening, terkejut dengan betapa dinginnya tangan Lan’er. Mengambil kesempatan dirinya sedang menggenggam tangan gadis itu, dia mencoba untuk memeriksa nadinya.


Mata Liang Fenghong membesar, dan dia pun menoleh kepada Lan’er yang berjalan di sisinya. “Lan’er, kau—”


“Aku tahu,” balas Lan’er seraya menarik kembali tangannya, tak ingin Liang Fenghong berceloteh lebih jauh mengenai situasinya. Pandangan gadis itu terangkat kepada Liang Shupeng dan Huang Qinghao yang memandang ke arahnya penuh tanya. “Salam kepada Perdana Menteri Liang dan Jenderal Besar Huang. Maaf karena aku harus datang tanpa diundang.”


Liang Shupeng dan Huang Qinghao membalas sapaan Lan’er dengan anggukan kepala, lalu mereka menatap Liang Fenghong. “Fenghong, kau tidak memperkenalkan nona ini kepada kami?” tanya Liang Shupeng dengan hati-hati, merasa kalau Lan’er bukanlah sembarang orang. Ada sesuatu dari sikap gadis itu yang membuatnya meningkatkan kewaspadaan.


“Perkenalan bukanlah suatu hal yang diperlukan,” ujar Lan’er, mengejutkan semua orang yang berada di tempat itu. Tak ada yang menyangka bahwa ada orang yang berani berbicara seperti itu dengan sang perdana menteri. “Aku kemari untuk membantu kalian tiba di Wu dengan lebih cepat.”


Mendengar hal ini, ekspresi Liang Fenghong terlihat memburuk. “Kau tidak bisa melakukan itu,” ujarnya.


Lan’er melirik ke arah Liang Fenghong dan berkata, “Bisa atau tidak adalah urusanku, tugasmu saat ini adalah tiba di Wu.” Gadis itu tidak sedang bercanda. “Waktu tidak lagi berpihak pada kita, Liang Fenghong.”


“Dialah alasan aku harus melakukan ini,” balas Lan’er dengan ekspresi pahit. Gadis itu menengadahkan kepalanya, lalu menatap Liang Shupeng dan Huang Qinghao. Kemudian, pandangannya mendarat pada Liang Fenghong. “Kalau kalian tidak segera menyelesaikan urusan di Wu, maka orang-orang di Shi yang akan menjadi korbannya.”


“Bagaimana mungkin?” tanya Liang Fenghong dengan kening berkerut. “Rencana kita sudah hampir sempurna.”


Lan’er menatap ke arah Liang Fenghong dengan alis kanan terangkat, ekspresinya menunjukkan seakan dia sedang menertawakan pria itu. “Kau harusnya menjadi orang yang paling mengerti bahwa tak semua hal berjalan sesuai rencana, bukan begitu?” balas gadis itu. Kemudian, dia menjelaskan, “Lu Si memutuskan untuk mendukung Wang Chengliu.”


“Apa?!” Ekspresi Liang Fenghong berubah menjadi sangat buruk. “Kenapa?!”


“Kebodohan,” balas Lan’er singkat, tidak ingin menjelaskan lebih jauh.


Lan’er kemudian melayangkan tangannya ke satu arah, dan percikan api terlihat di tengah perkemahan itu. Semua orang masih belum sempat sembuh dari keterkejutan mereka sebelumnya, tapi gadis itu kembali membuat mata semua orang membesar dengan lingkaran api besar yang perlahan terbentuk. Layaknya sebuah pintu, lingkaran api itu berdiri tegak.

__ADS_1


Tarikan napas takjub akan keajaiban yang dia ciptakan bisa Lan’er dengar dari sekelilingnya, tapi gadis itu tak punya waktu untuk menanggapi hal tersebut. “Lewatilah lingkaran api ini … dan kalian akan tiba di kediaman Putri Rongya,” jelasnya membuat semua orang menatapnya dengan terheran-heran. “Setelah kalian berhasil menguasai kembali Wu, lingkaran api ini akan kembali muncul di tempat yang sama. Ketika kalian melewatinya, kalian akan tiba di gerbang Jingcheng.”


Liang Fenghong tak mampu berkata-kata, lagi-lagi Lan’er mengambil tindakan sepihak tanpa memedulikan kondisinya sendiri. Hanya saja, ketika melihat darah mengalir turun dari sisi telinga gadis itu, Liang Fenghong berseru seraya menopang tubuh Lan’er yang mulai goyah, “Lan’er!”


Napas Lan’er sedikit terengah-engah, tapi dia masih lanjut berkata, “Jangan pedulikan aku dan cepatlah pergi.” Gadis itu melepaskan tangan Liang Fenghong dari lengannya, lalu menambahkan, “Masih ada seorang istri yang menunggu kepulanganmu di rumah,”


Sebuah senyuman pahit terlukis di wajah Liang Fenghong, tak percaya gadis di hadapannya itu masih mampu bercanda dengan tubuh seperti itu. Walau ada sebagian dari dirinya yang meyakini bahwa Lan’er adalah seorang dewi, tapi tubuh gadis itu masih bekerja layaknya manusia. Selain itu, berdasarkan pemeriksaan Liang Fenghong tadi, dia cukup yakin bahwa … dalam hitungan hari, tubuh Lan’er akan berhenti bekerja.


Ya, gadis itu akan segera mati.


Mampu membaca pikiran Liang Fenghong, Lan’er berkata, “Kau sendiri yang berkata, aku bukan manusia, melainkan dewa.” Sebuah seringai terlukis di wajah Lan’er, “Dewa tidak akan mati semudah itu, Manusia.” Kemudian, dia menambahkan, “Hanya saja, jangan buang waktuku … dan segeralah pergi.”


Liang Fenghong menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. Dia adalah sang Tabib Jianghu, tapi dia harus menghadapi kenyataan bahwa ada sejumlah orang yang tak mampu dia selamatkan.


Dan, Lan’er adalah salah satunya.


Tanpa menunda lebih lama lagi, Liang Fenghong segera meminta kedua ayahnya untuk memerintahkan pasukan agar melewati lingkaran api. Saat dirinya menjadi orang terakhir yang harus melewati lingkaran api, dia melirik Lan’er yang berdiri kesepian di tengah kegelapan.


“Lan’er …,” Liang Fenghong memandang sedih gadis itu, “aku sungguh berutang budi padamu.”


Lan’er menatap Liang Fenghong selama beberapa saat, lalu berkata dengan sebuah senyuman lembut, “Pastikan kau dan Huang Miaoling berakhir bahagia, itu sudah cukup.”


___


[1] “Baru saja membicarakan Cao Cao, dan Cao Cao pun tiba”: peribahasa tradisional yang berarti “Speak of the Devil” atau merujuk kepada seseorang yang muncul tepat setelah dia dibicarakan. Kalo ada yang pernah baca Romance of the Three Kingdom, iya, Cao Cao dalam peribahasa ini diambil dari Cao Cao tokoh ROTTK.


___


A/N: Jujur, ngerasa banget kalo runutan alurnya rada berantakan. Bagian ini harusnya muncul jauh di belakang, tapi author lupa. Mau disekip gitu aja, tapi kok rasanya malah jadi kurang. Ya udahlah, gaskeun ae ya gak?

__ADS_1


For sure, buku kedua bakalan direvisi kalo cerita ini udah tamat dan otor ada waktu. Untuk sekarang, nikmatin aje apa yang ada yak wkwk


__ADS_2