
A/N: Tabung saja, tabung saja, tabung saja sekarang~
______________________
*Beberapa saat yang lalu*
“Suamiku, kau kembali?” tanya Huang Miaoling pada sosok yang menghampiri dirinya dalam diam.
Jujur, Huang Miaoling sedikit bingung. Dia bertanya-tanya dalam hati mengenai apakah suaminya itu telah begitu mabuk sampai tak mampu berbicara. Namun, Liang Fenghong memiliki kemampuan medis dan keahlian bela diri yang luar biasa. Kalau pria itu tidak menginginkannya, maka dia bisa saja membuat minuman keras tidak berefek pada dirinya sendiri.
Lalu, kenapa Huang Miaoling begitu yakin kalau itu adalah Liang Fenghong?
Tentu karena langkah kaki orang yang baru masuk begitu berat, jauh berbeda dengan para wanita yang memiliki pijakan yang ringan. Dan, selain suaminya, seharusnya tak ada pria lain yang akan melangkahkan kaki ke dalam ruangan ini.
Benar, ‘kan?
“Ling’er.”
Ketika mendengar suara yang menyebutkan namanya, Huang Miaoling mematung. Tangan gadis itu mengepal kuat selagi darah dalam dirinya berdesir. Kedua mata Huang Miaoling membesar, memancarkan emosi terkejut dengan sekelebat perasaan abu yang tak dapat dimengerti.
Dengan kasar, Huang Miaoling membuka kain merah yang menutupi kepalanya. Manik hitamnya terarah lurus pada sosok pria yang begitu dia kenali.
“Apa yang kau lakukan di sini, Pangeran Keenam?” tanya Huang Miaoling dengan nada bicara tidak senang. “Kau tentunya tahu bahwa tempat ini bukanlah tempat yang bisa dengan sembarangan kau kunjungi.”
Kening Wang Chengliu berkerut. “Kau sungguh akan menikahi Liang Fenghong?” tanyanya, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang Huang Miaoling lemparkan padanya. “Kau tahu bahwa dia hanya mempergunakanmu untuk memperkuat posisinya di Kerajaan Shi, bukan?”
Pandangan Huang Miaoling bergetar. “Pergi,” balasnya dengan ketus. “Tempat ini tidak mengindahkan kedatanganmu.”
“Kau mendengar ucapanku malam itu,” ucap Wang Chengliu lagi, pandangannya memancarkan kesedihan. “Aku melihatmu berusaha mengejarku.” Pria itu mengambil langkah mendekat dan meraih tangan Huang Miaoling. “Kau masih mencintaiku.”
Huang Miaoling bergegas melepaskan tangan pria tersebut, lalu mendorong Wang Chengliu menjauh. “Wang Chengliu! Apa kau kehilangan akal sehatmu!?” seru Huang Miaoling, tak khawatir bahwa ada yang akan mendengar suaranya.
Wang Chengliu bisa masuk dengan begitu leluasa dari pintu depan, itu dikarenakan tak ada siapa pun yang berjaga di luar. Huang Miaoling sendiri yang mempersilakan para pelayan dan pengawal untuk bersenang-senang, mengabaikan usaha Liang Fenghong untuk memperketat keamanan bagi dirinya.
__ADS_1
Kalau memang ada yang mendengar seruan Huang Miaoling, maka itu lebih baik. Gadis itu ingin agar Wang Chengliu segera enyah dari tempat ini!
Ekspresi marah menghiasi wajah sang Pangeran Keenam. “Ya! Aku memang telah kehilangan akal sehatku!” teriaknya. “Sudah kuputuskan untuk meninggalkan dirimu!” Mata pria itu memancarkan kerinduan. “Namun, saat memikirkan bahwa pria lain akan memilikimu, aku tidak rela!” Dia mencengkeram pundak Huang Miaoling. “Ling’er, kau adalah permaisuriku!”
“Lepaskan aku!”
Plak!
Suara tamparan keras terdengar nyaring dalam ruangan tersebut.
Kepala Wang Chengliu terlihat menoleh ke samping, pipinya menampakkan jejak merah berbentuk tangan yang mengerikan. Ada kebencian dan keyakinan dalam tamparan yang diberikan oleh Huang Miaoling, pangeran itu bisa merasakannya.
“Sentuh aku lagi dengan tangan kotormu, dan aku pastikan bahwa kali berikutnya aku akan mengambil nyawamu,” Huang Miaoling memperingati. “Jangan kau kira aku tidak mengerti cara bermainmu, Wang Chengliu.” Mata gadis itu memancarkan amarah menggebu-gebu. “Ingin menipuku untuk yang kedua kalinya? Aku tak sebodoh itu.”
Mendengar hal ini, mata Wang Chengliu memancarkan kesedihan yang mendalam. “Ling’er, aku—!”
“Jangan gunakan nama itu!” bentak Huang Miaoling. “Hanya orang-orang yang sungguh mengasihiku yang berhak menggunakannya.” Gadis itu menyeringai, menantang Wang Chengliu. “Kau … bukan salah satunya.”
Wang Chengliu terdiam, memandang Huang Miaoling untuk waktu yang cukup lama. Manik hitam kecokelatannya itu menggerayangi wajah gadis menawan di hadapannya, mencari-cari apakah ada jejak kasih yang tertinggal di sana.
“Nyonya?! Apa kau baik-baik saja?!” Suara Qiuyue terdengar panik, sepertinya dia mendengar suara Huang Miaoling yang menggelegar sepanjang koridor kediaman Liang.
Pada saat ini, Huang Miaoling menatap tajam ke arah Wang Chengliu. “Pergi,” desisnya. “Aku bukan Huang Miaoling yang dulu, Wang Chengliu. Aku bukanlah permaisurimu, dan kau bukan kaisarku.” Tenggorokan Huang Miaoling tercekat, dan napasnya sedikit sesak. Namun, dia menguatkan diri untuk mengutarakan perasaannya, “Seperti ucapanmu, kau dan aku … kita berada di sisi yang berbeda sekarang.”
Wang Chengliu mengepalkan tangannya. Namun, api amarah yang berkobar di dalam mata Huang Miaoling bukanlah hal yang bisa dia padamkan.
Gadis itu sudah bukan miliknya lagi.
Dengan kesimpulan tersebut di benaknya, Wang Chengliu pun menutup matanya. Kedua tangannya mengepal erat. Detik berikutnya, sang Pangeran Keenam membuka kelopak matanya, menunjukkan manik hitam kecokelatan dengan pancaran tekad. Kemudian, pria tersebut melesat tanpa suara dan pergi melalui jendela.
Suara jendela yang mendadak terbuka membuat Qiuyue sedikit terkejut. Namun, sebelum gadis itu sempat pergi memeriksa, suara kayu yang terjatuh dari dalam kamar mengalihkan fokusnya.
“Nyonya?!”
__ADS_1
Qiuyue bergegas masuk ke dalam ruangan. Matanya membesar saat mendapati sosok Huang Miaoling terduduk di lantai dengan pandangan kosong. Sebuah kursi yang mungkin sempat menjadi tumpuan gadis itu terbalik di sisinya.
“Apa yang terjadi?!” pekik pelayan itu. “Ada penyusup?!”
Belum ada beberapa lama sejak Qiuyue meninggalkan Huang Miaoling, lalu majikannya sudah dihampiri oleh bahaya. Kalau bukan karena dirinya mendengar seruan Huang Miaoling, mungkin penyusup tersebut sudah melakukan hal yang terbayangkan!
Tangan Huang Miaoling bergetar, pandangannya terlihat menerawang. Qiuyue hanya bisa terdiam memperhatikan majikannya itu menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam. Lalu, pelayan itu menjadi semakin panik ketika melihat tangan Huang Miaoling menepuk-nepuk dadanya sendiri.
“Aku akan memanggil Tuan Liang!” Qiuyue bergegas untuk berdiri.
Huang Miaoling dengan cepat menahan pelayannya itu. “Kau tidak mendengar maupun melihat apa pun.” Itu adalah sebuah perintah.
“Tapi—!”
“Ulangi ucapanku,” sela Huang Miaoling, tidak menginginkan sebuah penolakan.
Qiuyue memandangi mata majikannya untuk beberapa saat, mampu menangkap adanya awan gelap dari pancaran sepasang manik sehitam malam itu. Bibir pelayan itu dengan terpaksa berpisah. “Aku … tak melihat maupun mendengar apa pun,” ucapnya seraya kembali berlutut di sisi majikannya.
“Bagus,” balas Huang Miaoling seraya menganggukkan kepalanya dan menjatuhkan pandangannya ke bawah.
Qiuyue merapatkan bibirnya, membuatnya membentuk satu garis tipis. Hal tersebut dilakukan guna melampiaskan ketidakrelaannya. “Ayo, berdirilah,” ujar gadis itu seraya membantu majikannya berdiri. “Apa kau tak apa?”
Huang Miaoling mendudukkan dirinya di atas kursi, merasa seluruh tenaga pada kakinya telah terserap habis. “Aku tak apa,” ucapnya singkat. Ada aura dingin yang menusuk dalam nada bicaranya.
Qiuyue memandangi Huang Miaoling lekat-lekat. “Kau tak ingin membicarakannya, maka aku akan diam,” ucap pelayan tersebut. “Namun, aku akan menemanimu di sini sampai Tuan kembali ke kamar.”
“Pergilah, aku ingin sendiri.” Huang Miaoling tidak berbohong, dia terlalu lelah berinteraksi dengan orang lain saat ini. Perasaannya begitu kacau, dan dia harus menatanya kembali.
“Tapi—”
“Kau bisa menunggu di luar,” ucap Huang Miaoling membuat Qiuyue terdiam.
“Aku mengerti,” balas Qiuyue yang akhirnya memutuskan untuk pergi. Saat Qiuyue berbalik dan meninggalkan area kamar tidur, matanya menangkap jendela ruang kerja yang terbuka. Hal tersebut membuat dirinya membatin, ‘Sungguh ada seseorang yang … mengunjungi Nyonya.’
__ADS_1