Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 122 Aku Tidak Kembali Hidup Hanya Untuk Mati


__ADS_3

“Tangkap mereka!” teriakan tersebut langsung membuat para pasukan Lianhua Yuan beserta Yunlin bersiaga.


Begitu Yuanli menyentuh pangkal pedangnya, Yunlin segera berkata, “Tidak, kau tetap di belakang dan lindungi Junzhu! Kalau memang terpojok, maka kau harus lari bersamanya dan Defei!” Pria itu menghunuskan pedang dengan wajah serius.


Mendengar hal tersebut, Mingyue segera terbelalak. “Bagaimana denganku?!”


Namun, Yunlin sama sekali tidak sempat menanggapi ucapan Mingyue karena para prajurit Pasukan Shiyan itu melesat ke arahnya. Sejumlah pejuang Lianhua Yuan yang berada di belakang pun melesat maju, membantu pria tersebut untuk mendorong mundur musuh mereka dan melindungi para wanita keluarga kerajaan.


Di belakang punggung Yuanli, Huang Miaoling mengangkat kepalanya untuk memeriksa keadaan. Namun, pandangannya sedikit buyar dan kepalanya pening. “Turunkan … aku,” bisiknya dengan suara lemah.


Yuanli yang sebenarnya menunggu waktu yang tepat untuk berlari melewati para prajurit Shiyan itu sedikit terkejut. “Junzhu?” panggilnya, bingung dengan maksud ucapan Huang Miaoling.


Kening Huang Miaoling berkerut, kentara bahwa wanita itu sedang memaksakan dirinya untuk tetap sadar. “Aku … bisa membantu,” jelasnya seraya berusaha turun dari gendongan Yuanli.


“Tidak masuk akal!” teriak Yuanli, mengeratkan pegangannya pada Huang Miaoling. “Tidakkah kau mengerti kondisi tubuhmu sendiri?!”


Napas Huang Miaoling sedikit memburu, dia akui bahwa tubuhnya tidak terasa begitu nyaman. “Aku tidak akan mati,” balasnya. Dia menarik tubuhnya lepas dari gendongan Yuanli dan menapakkan kaki di tanah dengan gontai, matanya sedikit berkunang-kunang. “Aku tidak hidup kembali hanya untuk mati di tangan lawan yang sama.”


“Tapi—!” Yuanli baru saja ingin memulai perdebatan, tapi dia tak menyangka hal berikutnya yang akan Huang Miaoling lakukan. “Junzhu!” Gadis itu hanya mampu terbelalak ketika melihat Huang Miaoling melesat kencang ke arah petarungan, dia bahkan baru tersadar wanita itu telah mencuri pedang miliknya.


Teriakan Yuanli terdengar oleh Yunlin. Pria itu menoleh ke belakang dengan cepat untuk memeriksa keadaan. Hanya saja, tindakannya itu membuat Yunlin harus dikejutkan oleh sebilah pedang yang mengayun begitu dekat dengan wajahnya.


‘Apa yang—?!’ Yunlin terbelalak, terutama ketika maniknya bertemu dengan pandangan membunuh sang Mingwei Junzhu.


Tepat pada saat itu, cipratan darah mengalihkan fokus Yunlin. Dia melirik ke samping—arah yang tidak perhatikan—hanya untuk mendapati pedang di tangan Huang Miaoling tengah tertanam pada batok kepala seorang prajurit Shiyan yang malang.


‘Ah, Junzhu menyelamatkanku,’ batin Yunlin.


Yunlin sama sekali tidak tahu dari mana Huang Miaoling mendapatkan tenaganya. Namun, dia tak mampu berpikir terlalu lama ketika melihat sebilah pedang mengarah ke pinggang sang Mingwei Junzhu.


“Awas!” teriak Yunlin nyaring seraya mengitari Huang Miaoling dan menebas lawannya. Pria itu pun berbalik dengan niat menegur majikannya itu, “Junzhu—!” Akan tetapi, dia tak bisa menyelesaikan kata-katanya karena wanita itu segera terjatuh dengan satu lutut bertemu tanah.

__ADS_1


“Junzhu!” Yuanli segera menghampiri majikannya itu dengan wajah panik.


Huang Miaoling terbatuk, lalu segumpal darah terlempar keluar dari mulutnya. Hal tersebut membuat semua orang yang melihatnya terkejut.


Alis Huang Miaoling bertaut, dia merasa ada yang sangat salah dengan tubuhnya. ‘Chenxiao … apa yang dia lakukan padaku?’ batinnya bertanya-tanya.


Sebelumnya, Huang Miaoling memang merasa sakit pada sekujur tubuhya. Hal itu masuk akal mengingat penyiksaan yang Chenxiao lakukan padanya. Namun, paling tidak dia mampu bergerak selagi menahan rasa sakit itu. Sekarang, hanya dengan satu ayunan, dia memuntahkan darah?


Ada yang benar-benar salah.


Salah seorang anggota Lianhua Yuan mendadak berteriak, “Yuanli! Yunlin! Mereka terus berdatangan!”


Yuanli mengalihkan pandangan dari Huang Miaoling, melihat persimpangan yang sempat mereka lewati, berniat mempertimbangkan apakah jalan tersebut bisa dilalui. Namun, alih-alih melakukan pertimbangan, Yuanli malah melihat sosok Mingyue yang tengah berlari meninggalkan rombongan.


‘Sial!’ maki Yuanli seraya langsung berdiri dan mengejar pelayan itu. “Kembali kemari!” desisnya dengan suara yang cukup keras untuk hanya bisa didengar Mingyue.


Mingyue menoleh, menampakkan senyuman penuh arti. Kemudian, dia membuka mulutnya. “Tolong! Buronan! Ada buronan istana di sini!” teriaknya dengan lantang.


Yuanli segera menghentikan langkah kakinya, membelalakkan mata dengan tidak percaya. ‘Jal*ng!’ makinya.


Sebelum ada yang menyuarakan apa pun, Yuanli segera berlari kembali ke rombongannya. Tak ada waktu baginya untuk mempedulikan Mingyue. Perset*n dengan pelayan itu, ada hal yang jauh lebih penting!


Begitu Yuanli kembali, dia melihat sosok Yang Yuechan berada di sisi Huang Miaoling, membantu wanita itu untuk tetap berdiri. Yunlin tidak lagi bersama kedua wanita itu, melainkan sibuk menjatuhkan para prajurit Shiyan dari jalan di depan mereka.


Melihat kembalinya Yuanli, Yang Yuechan berkata, “Kita tak bisa lewat jalur ini, bagaimana dengan jalur yang satunya?” Dia masih belum tersadar bahwa Mingyue telah mengkhianati mereka.


‘Jalan yang satunya?’ Yuanli ingin tertawa sinis. Dia bisa mendengar derap kaki para prajurit dari jalur di belakang mereka. ‘Jalan yang mana?’ Gadis itu pun berkata, "Kita dikepung.” Pahit, tapi itu kenyataannya.


Walau tak mampu bertarung, tapi pendengaran Huang Miaoling cukup tajam. Dia bisa mendengar teriakan Mingyue. Huang Miaoling ingin memaki kebodohannya yang menggunakan Mingyue dalam rencana cadangannya, tapi di saat yang bersamaan, tanpa gadis pelayan itu … dirinya tak akan bisa sampai di sini.


Huang Miaoling melepaskan rangkulannya pada pundak Yang Yuechan, lalu menyeret pedang di tangannya dan berbalik untuk menghadap ke arah belakang—arah datangnya rombongan prajurit musuh yang lain. “Kau,” maniknya melirik Yuanli, “gunakan belatimu.”

__ADS_1


Yuanli dan Yang Yuechan ingin menegur Huang Miaoling, menyadarkan wanita itu perihal kondisi tubuhnya. Namun, pandangan Huang Miaoling penuh dengan tekad, dan situasi mereka juga tidak memberikan alasan untuk menghentikan wanita itu.


Tangan Yuanli pun menyentuh kedua sisi pinggangnya, menarik keluar belati dari sarungnya. Dia berkata pada Yang Yuechan, “Defei, pastikan kau tidak keluar dari lingkaran.”


Dengan pandangan gelap, Yuanli dan Huang Miaoling menatap bayangan hitam yang semakin besar pada dinding gang kecil itu, menunjukkan bahwa rombongan para prajurit Shiyan semakin dekat dan hampir tiba di hadapan mereka. Jantung keduanya berdebar kencang, pegangan mereka pada senjata masing-masing pun semakin erat.


Di saat ujung sepatu kulit terlihat dari balik tembok persimpangan gang, Huang Miaoling mendesis, “Sekarang!”


Huang Miaoling langsung mengerahkan tenaganya untuk melesat kencang ke arah musuh yang baru muncul. Dia berbelok dan mengayunkan pedang dengan kuat, sangat siap untuk membelah lawan tanpa ampun.


“Ah!” Namun, sebelum serangannya itu mendarat pada tubuh musuh, pergelangan tangan Huang Miaoling segera digenggam erat. ‘Aku … tertangkap?’ Dia meringis, merasa tangannya akan hancur.


Kekuatan prajurit itu luar biasa, hanya dengan satu tangan, dia bisa membuat seluruh tubuh Huang Miaoling terasa lemas. Ditambah dengan luka yang sempat dia derita, wanita itu merasa hampir gila karena rasa sakit.


Ketika Huang Miaoling ingin menarik dirinya menjauh, dia malah tertarik dan menabrak keras baju besi prajurit tersebut. ‘Ugh!’


“Junzhu!”


Huang Miaoling bisa mendengar teriakan Yuanli, dan hal itu membuat kepanikannya semakin menjadi-jadi. Wanita itu meronta kuat, berusaha untuk mengayunkan tinju menggunakan tangan yang terbebas pada musuhnya.


“Ling’er!” Panggilan itu membuat Huang Miaoling membeku.


‘Apa?’ Huang Miaoling bisa merasakan cengkeraman pada tangannya melunak, dan kakinya yang sempat sedikit menjauh dari tanah kembali menapak. Dia berhenti meronta, lalu menengadahkan kepalanya. ‘Ah ….’


Itu adalah wajah yang sangat Huang Miaoling kenal, juga rindukan.


“A Feng?”


___


A/N:

__ADS_1


Oh? Really A Feng?


*Ketawa maniak*


__ADS_2