
“Apa?” Huang Miaoling tak bisa menahan diri untuk membulatkan matanya. “Apa maksudmu dengan—”
“Ahh!”
“Hentikan dia!”
Tak sempat Huang Miaoling menyelesaikan ucapannya, dia mendengar kegaduhan dari lantai bawah. Wanita itu segera menoleh ke arah pintu, kewaspadaan juga mendorong tubuhnya untuk berdiri dan melesat ke luar untuk mengecek keadaan di lantai bawah.
Namun, saat Huang Miaoling baru saja ingin melewati ambang pintu, sebuah bayangan hitam menghadang jalannya. Dia menengadah dan melihat kilatan merah mengerikan.
“Lu S—!” Lagi-lagi, ucapan Huang Miaoling harus berhenti secara paksa. Dia kehilangan kemampuannya untuk membentuk kalimat sempurna saat sebuah tangan mencengkeram erat lehernya, membuatnya tercekik. ‘Lu Si!’ pekik Huang Miaoling dalam hati dengan wajah kesakitan.
Mata Lu Si berwarna merah membara, seakan darah sungguh sedang melapisi maniknya. Pancaran mata pria itu terlihat sangat mengerikan, berbeda dengan ekspresi penuh canda dan santai yang dahulu sering Huang Miaoling lihat di kediaman Lan’er dulu.
“Nyonya!”
“Junzhu!”
Mudan dan Yuanli berusaha mendekat dan menyelamatkan Huang Miaoling dari cengkeraman Lu Si. Namun, secara tiba-tiba muncul sebuah tekanan yang membuat mereka malah jatuh berlutut di lantai. Tak hanya merasa lemah, tapi kedua gadis itu merasa tubuh mereka seakan sedang diremukkan ke tanah.
‘A-aura yang sangat mengerikan!’ teriak Mudan dalam hati.
Melihat kedatangan Lu Si serta tindakannya yang tidak masuk akal, Lan’er memaksa diri untuk berteriak, “Lu Si!”
Lan’er menarik tubuhnya ke pinggir ranjang, berharap dirinya memiliki cukup kekuatan untuk berdiri dan menghentikan pria sinting itu. Namun, tubuhnya terlalu lemah, dan alhasil, dia terjatuh keras ke lantai.
“Ah!” Lan’er meringis, merasa seluruh tubuhnya terasa hancur. Namun, bahkan dengan keadaannya sekarang, Lu Si sama sekali bergeming. “Lu Si! Baj*ngan, lepaskan dia!”
Alih-alih melepaskan Huang Miaoling, Lu Si mengencangkan cengkeramannya pada leher wanita itu. Ada amarah dalam diri Lu Si ketika dirinya menatap Huang Miaoling.
Emosi berkecamuk di dalam diri Lu Si, kemarahan yang menggebu dan kesedihan yang mendalam. ‘Demi dirimu, dia ….’
__ADS_1
Tiba-tiba, ingatan ketika Huang Miaoling tinggal bersamanya dan Lan’er, serta semangat hidup yang ditonjolkan wanita itu saat berlatih bersama muncul di benak Lu Si. Tak hanya itu, Huang Miaoling juga salah satu orang yang secara ajaib bisa mengerti dirinya, terutama akan perasaan yang ada di dalam hatinya. Hal tersebut membuat Lu Si menggertakkan gigi.
Saat melihat manik Huang Miaoling mulai tak fokus, Lu Si melepaskan wanita tersebut, membiarkannya jatuh ke lantai dan terbatuk. Kebencian bercampur kekhawatiran terpancar dari matanya saat menatap kondisi sang Mingwei Junzhu.
Bersamaan dengan hal itu, tekanan di dalam ruangan pun kembali normal. Mudan dan Yuanli segera terbatuk-batuk, sangat bersyukur bahwa tubuh mereka bisa menerima udara lagi.
Tanpa memedulikan Huang Miaoling dan kedua bawahannya, Lu Si melangkah menghampiri Lan’er yang terbaring di lantai. Kening pria itu mengernyit ketika mendapati darah yang mengalir dari sisi pinggang gadis itu.
Lu Si mendecakkan lidah, dan pria itu memasang sebuah senyuman mengejek di wajahnya. Dia berjongkok di hadapan Lan’er, lalu berkata dengan nada merendahkan, “Ini caramu memperbaiki apa yang harus terjadi?” Matanya menggerayangi bekas luka pada wajah dan tubuh Lan’er. “Bisa kulihat bahwa takdir tak menyukai tindakanmu. Sudah berapa kali kuperingatkan untuk tidak melawannya?”
Ucapan dan pandangan merendahkan Lu Si membuat Lan’er menggertakkan giginya. Dia memalingkan wajahnya, enggan menatap pria di hadapannya. “Perset*n dengan takdir,” balas gadis itu di sela napasnya yang semakin berat. Lalu, dia kembali menatap Lu Si, kali ini penuh dengan tekad. “Aku yang akan menentukannya.”
Tatapan yang diberikan oleh Lan’er membuat Lu Si memasang wajah kesal. Pria itu mengepalkan tangannya erat, tak senang dengan semangat yang masih membara dalam diri gadis di hadapannya.
Merasakan tekanan yang menyesakkan dada perlahan kembali, Yuanli dan Mudan segera mempersiapkan kuda-kuda mereka. Kalau memang diperlukan, mereka akan meregang nyawa untuk menyerang pria gila di dalam ruangan tersebut. Selain Huang Miaoling, gadis misterius bernama Lan’er itu terlihat seperti seseorang yang perlu mereka lindungi.
Selagi dirinya sibuk mendelik ke arah Lu Si, Lan’er dikejutkan dengan tangan pria itu yang terselip di bawah tubuhnya. Sentuhan lembut itu tetap terasa menyakitkan karena luka yang berada di pinggangnya, dan hal tersebut membuat Lan’er meringis.
Lu Si menatap Huang Miaoling, pandangannya tak lagi mengerikan seperti yang dia lemparkan sebelumnya. Namun, keramahan yang dulu pernah ada telah sepenuhnya sirna.
Selagi meletakkan Lan’er ke atas tempat tidur, Lu Si menjawab, “Aku tak pernah berubah, Huang Miaoling.” Dia memutar tubuh dan menghadap sang Nyonya Liang, sebuah senyuman pahit terlukis di bibirnya. “Yang berubah adalah dirimu—hidupmu.”
“Lu Si!” Lan’er mencengkeram lengan Lu Si, terlihat panik dengan ucapan pria itu.
Reaksi Lan’er membuat Lu Si mengalihkan pandangan dan menatap saksama amarah yang terpancar dari mata cokelat gadis itu. Dia kemudian menutup mata, lalu berkata, “Karena kau memilih jalan ini, maka aku tak akan lagi menghentikanmu.” Pria itu kemudian membuka mata dan melayangkan tangannya di atas tubuh Lan’er. “Namun, itu berarti kau juga tak lagi memiliki hak untuk menghentikanku.”
Lan’er bisa merasakan sakit pada tubuhnya menghilang dalam sekejap, tapi hatinya terasa diremas. “Apa maksudmu?” tanya gadis itu dengan mata membulat, memancarkan kekhawatiran yang mendalam. Melihat Lu Si melangkah mundur selagi menatapnya, Lan’er meraih tangan pria itu. “Lu Si!”
Melihat emosi yang dipancarkan manik cokelat Lan’er, pelipis Lu Si berkedut, keraguan perlahan merayapi hatinya. Dia menggenggam erat tangan Lan’er yang perlahan kembali terasa hangat, lalu … dia melepaskannya.
“Keseimbangan harus dipertahankan, itu adalah peraturannya,” jawab Lu Si yang perlahan dikelilingi oleh asap hitam. “Dua naga, kau memilih yang ini … maka aku akan memilih yang satunya.”
__ADS_1
“Lu Si!” Lan’er berusaha menggapai tubuh Lu Si yang mulai tertelan gelombang awan kegelapan. Namun, jarak yang ada di antara dirinya dan pria itu terlalu jauh, dan Lan’er hanya mampu meraih udara kosong. “Kau tidak bisa melakukan hal ini!”
Lu Si menoleh ke arah Huang Miaoling, lalu memandangnya dengan tatapan tajam. “Feniks, kuserahkan dia padamu.”
Dan, pria itu pun menghilang.
***
“Kau pasti memiliki segudang pertanyaan,” ujar Lan’er kepada Huang Miaoling yang terduduk di sisi tempat tidurnya, sebuah senyuman masih dia paksakan untuk muncul. “Kau boleh coba menanyakannya, tiga darinya akan kuberikan jawaban.”
Diberikan kesempatan, Huang Miaoling pun tak ingin berdusta dan bersifat munafik. “Siapa dirimu?” tanyanya, lalu memperjelas maksudnya, “Kau … makhluk apa?”
“Manusia,” jawab Lan’er, “yang diberi kesempatan untuk mengubah takdir.”
Mendengar jawaban ini, Huang Miaoling tak bisa menahan diri untuk tidak mendengkus dengan sebuah senyuman di wajahnya. “Ambigu, khas dirimu.”
“Dan dirimu juga,” balas Lan’er. “Ayolah, Miaoling. Kau punya pertanyaan yang lebih penting daripada itu,” ujarnya, menantang. “Jangan sia-siakan kesempatan yang kuberikan padamu.”
Masih menatap manik cokelat itu, Huang Miaoling pun bertanya, “Kau memiliki sumpah untuk memberikanku akhir yang bahagia. Kepada siapa kau bersumpah?”
Pertanyaan kali ini membuat pandangan Lan’er memancarkan getaran. Kemudian, gadis itu memalingkan wajahnya. “Seseorang yang menyesali keputusannya di kehidupan lalu.”
Jawaban Lan’er berhasil membuat Huang Miaoling membelalakkan matanya. “Jadi, kau yang mengembalikanku ke masa ini?!”
“Apa itu pertanyaan terakhirmu?” Lan’er mengalihkan pandangannya untuk menatap Huang Miaoling, memperingati bahwa hanya ada satu jawaban lagi yang akan dirinya berikan kepada wanita itu.
Huang Miaoling menggertakkan giginya, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan terakhirnya. Lagi pula, hatinya sudah yakin bahwa Lan’er sungguh orang, manusia, dewi, … makhluk apa pun dia itu, yang telah memberikan dirinya kesempatan kedua. Dengan kekuatan yang Lan’er dan Lu Si miliki, itu bukanlah hal yang tidak mungkin.
Tangan Huang Miaoling mengepal selagi dirinya menyusun kalimat di dalam benaknya. “Lu Si mencintaimu, dan kita berdua tahu itu. Sesuatu yang mampu membuatnya melawan keinginanmu … kuyakini hanya satu.” Wanita itu memantapkan hatinya untuk mengajukan pertanyaan terakhir, “Apa yang akan terjadi padamu apabila aku berhasil menyingkirkan Wang Chengliu?”
____
__ADS_1
A/N: Apa menurut kalian?