Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 46 Persiapan


__ADS_3

Manik hitam kecokelatan itu bergerak dari kanan atas ke kiri bawah, membaca surat yang baru saja tiba di tangannya. Bulu mata lentik gadis itu bergetar ketika dirinya mendapati sebuah informasi yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dengan sebuah helaan napas yang kabur dari bibirnya, gadis dengan kepala berhiaskan mahkota kecil itu melipat surat tersebut, membakarnya di atas tungku perapian yang disediakan.


Ketukan pada pintu ruangannya membuat pandangan gadis tersebut terangkat. “Tuan Putri, Pangeran Keempat datang berkunjung,” ujar pelayan yang berjaga di luar ruangannya.


Mata yang tadi memancarkan kesenduan itu mendadak berbinar. ‘Pangeran Keempat datang?!’ batinnya dengan girang. Sadar emosi bahagia mulai menguasai ekspresinya, gadis itu berdeham. “Persilakan dirinya untuk menunggu, aku akan segera keluar. Pastikan untuk menjamunya sebaik mungkin,” perintahnya.


“Baik, Tuan Putri,” balas sang Pelayan.


“T-tunggu!” gadis itu kembali bersuara. “Panggilkan beberapa pelayan untuk membantuku merapikan diri.”


“Tentu, Tuan Putri.”


Beberapa waktu berselang selagi gadis yang dipanggil ‘Tuan Putri’ itu memastikan kembali penampilannya. Dia tak memakan waktu yang lama, khawatir akan membuat sang Tamu menunggu terlalu lama dan tersinggung. Setelah selesai, gadis tersebut keluar dari ruangannya dengan langkah anggun.


Mendengar suara pintu berdecit terbuka, Wang Junsi yang sedang menyesap teh di taman segera mengalihkan pandangannya. Walau hanya sedikit, tapi pria itu tak mampu mengelak kenyataan dirinya sempat membeku sesaat ketika melihat putri tersebut.


“Salam, Tuan Putri Wu,” ujar Wang Junsi selagi membungkuk hormat. “Maaf karena harus datang dengan mendadak.” Tangannya mengarah ke kursi, mempersilakan Wu Meilan untuk duduk.


Wu Meilan mendudukkan dirinya di kursi taman dan memasang sebuah senyuman sopan di wajahnya. “Sebuah kehormatan menerima kehadiranmu, Yang Mulia Pangeran Keempat.” Gadis itu tak bisa mengalihkan pandangannya yang terpaku pada mata biru Wang Junsi. “Apa yang mungkin menjadi alasan kedatanganmu hari ini?”


Walau yakin Wu Meilan tidak akan berpikir yang tidak-tidak mengenai kedatangannya, tapi Wang Junsi tidak yakin dengan bawahan putri tersebut. Bagaimanapun, dirinya adalah salah satu pangeran Kerajaan Shi, pihak yang berniat untuk mengikat sang Tuan Putri Kerajaan Wu itu dalam sebuah pernikahan. Tak heran kalau para bawahan Wu Meilan menatapnya dengan penuh kecurigaan. Ada yang terlihat antusias, ada yang waspada. Yang jelas, semua hal itu membuat Wang Junsi tidak ingin bertele-tele dalam percakapannya.


“Terlalu banyak hal yang terjadi di hari sebelumnya, dan ada begitu banyak hal yang perlu kuurus setelah kelalaianku,” jelas Wang Junsi dengan terus-terang. “Tujuanku datang hari ini adalah untuk meminta maaf padamu, Tuan Putri.”


“Maaf?” Wu Meilan tidak menyangka itulah tujuan kedatangan Wang Junsi hari ini. “Kesalahan apa yang mungkin telah kau lakukan padaku, Yang Mulia?” Jujur, dia memang tak tahu mengenai hal itu.


Wang Junsi terdiam untuk sesaat, lalu dia tersenyum. “Melibatkanmu dengan permasalahan kerajaanku?” Saat kalimat itu keluar dari bibirnya, pria itu memaki dalam hati, ‘Apa-apaan? Kenapa nada terakhir membuat kalimatku seakan menjadi sebuah pertanyaan?!’ Dia sedikit malu dengan kebodohannya sendiri. “Juga tentang sikap adik keenamku,” lanjut Wang Junsi, mencoba untuk menyelamatkan kesalahannya.

__ADS_1


Mata Wu Meilan berkedip beberapa kali. ‘Pangeran Keenam? Untuk apa Pangeran Keempat meminta maaf untuk Pangeran Keenam?’ pikirnya. “Aku merasa kalau Pangeran Keenam tidak begitu menyukai diriku,” ujar putri tersebut, mencoba untuk mengabaikan kebingungannya. “Terlebih lagi setelah aku dengan begitu kasar menuduhnya yang tidak-tidak.”


Bahkan setelah perkataan Huang Miaoling kepadanya, Wu Meilan tak bisa menahan diri untuk merasa bersalah kepada Wang Chengliu. Perkataan sang Mingwei Junzhu mengenai niat sang Pangeran Keenam untuk menarik dirinya memang masuk akal, tapi kenyataan bahwa Wu Meilan bersikap tak sopan kepada pria itu nyata adanya. Terlepas niat buruk Wang Chengliu, Wu Meilan sendiri memiliki kesalahan, dan nurani gadis itu sedikit terluka.


Wang Junsi tersenyum pahit. “Jangan berpikir terlalu banyak mengenai hal itu, Tuan Putri.” Pria itu menunjukkan dukungan aneh terhadap saudaranya. “Chengliu hanya … memiliki cara yang sedikit berbeda dalam berhubungan dengan orang lain.”


Mendengar hal ini, Wu Meilan merasa sedikit aneh. ‘Bukankah Tuan Muda Liang mengatakan hubungan Pangeran Keempat dan Pangeran Keenam tidak begitu baik, lalu apa ini?’ pikirnya. ‘Selain itu, apakah tujuan Pangeran Keempat datang mengunjungiku … sebenarnya hanya untuk membenarkan perilaku Wang Chengliu?’ Wu Meilan merasa sedikit kecewa.


Baiklah, Wu Meilan mengakui kalau dirinya berharap banyak dari kedatangan Wang Junsi. Namun, bukankah itu pemikiran yang normal, terutama ketika dirinya memiliki niat lebih terhadap sang Pangeran Keempat?


Dengan usaha untuk mempertahankan senyuman manisnya, Wu Meilan berkata, “Tentu, Pangeran Keempat. Aku mengerti.” Tidak, dia tidak mengerti dan tidak memiliki niat untuk mengerti tentang Wang Chengliu. Dia kemudian teringat sesuatu. “Ah, bukan maksudku untuk menyelidiki, tapi beberapa saat yang lalu pelayanku mengatakan ada keributan dari halaman Putri Mahkota.” Matanya berubah sedikit tajam. “Apa yang terjadi?”


Wang Junsi terdiam sesaat ketika mendengar pertanyaan Wu Meilan. Namun, dia tak merasa perlu untuk menutupi hal yang baru saja terjadi pada Huang Wushuang. Lagi pula, status wanita itu adalah musuh bagi Wu Meilan sekarang, terutama setelah interaksi keduanya di hari sebelumnya.


“Aku yakin setelah kejadian tempo hari, Tuan Putri sadar mengenai betapa buruknya hubungan Putri Mahkota dan Mingwei Junzhu,” ucap Wang Junsi yang diiringi dengan anggukan kepala Wu Meilan. “Singkat cerita, Huang Miaoling telah menyediakan jalan bagi Huang Wushuang untuk meninggalkan posisinya sekarang.”


Wu Meilan tahu jelas mengenai betapa kejamnya Huang Miaoling terhadap musuh-musuhnya, terlebih setelah melihat apa yang terjadi pada Ibu Suri He, Li Hongxia, dan Wang Wuyu. Namun, bukankah Huang Wushuang masih memiliki hubungan darah dengannya? Bagaimana mungkin gadis itu begitu tega?


Wang Junsi mengerti apa yang ada di pikiran Wu Meilan, tapi dia tak berniat untuk menjelaskan apa pun. Lagi pula, menjembatani hubungan sang Tuan Putri Wu dan Huang Miaoling bukanlah hak dan kewajibannya. Selain itu, dirinya tak tahu apakah sang Nona Pertama Huang menginginkan Wu Meilan untuk mengetahui kebenarannya.


“Sepertinya, tahun ini akan menjadi tahun yang paling meriah dalam sejarah Kerajaan Shi,” celetuk Wang Junsi dengan nada bercanda, mencoba untuk mengalihkan pikiran Wu Meilan dari Huang Miaoling dan Huang Wushuang. Lalu, dia sadar ucapannya sedikit membingungkan. “Akan ada tiga perayaan pernikahan dalam waktu dekat, lalu begitu banyak masalah juga bermunculan satu per satu.”


Semakin Wang Junsi ingin menyelamatkan perkataannya, semakin tidak jelas apa maksudnya. Antara dia ingin mengatakan bahwa Kerajaan Shi sungguh diberkati … atau malah terkutuk.


Wu Meilan yang sedikit kebingungan sedikit memiringkan kepalanya. “Hmm?” Dia tidak mengerti apa maksud ucapan sang Pangeran Keempat.


Ketika sadar bahwa dirinya memperburuk keadaan, Wang Junsi sedikit memaki dalam hati, ‘Ya ampun, tidakkah kau bisa mencari ucapan yang lebih baik, Wang Junsi? Kenapa sepertinya kau malah semakin menghancurkan reputasimu di hadapan sang Tuan Putri?’ Tiba-tiba, dia tersadar akan suatu hal. ‘Tunggu, memangnya untuk apa aku membangun reputasi di hadapan Putri Meilan? Aku sama sekali tidak memiliki niat padanya!’

__ADS_1


Ekspresi beterbangan pada pancaran mata biru Wang Junsi, membuatnya menjadi lebih mudah dibaca oleh sang Tuan Putri Wu. Wu Meilan ingin terkekeh, tapi dia merasa tak enak. Hal tersebut membuat dirinya menunjukkan sebuah senyum yang seakan dipaksakan.


Melihat hal tersebut, Wang Junsi menghela napas. “Aku telah melemparkan gurauan yang buruk. Mohon Tuan Putri maafkan diriku.” Rona merah samar-samar terlihat di wajahnya.


“Ah, bukan masalah besar, Pangeran!”


Wu Meilan sungguh tidak menganggapnya sebagai sebuah masalah besar. Namun, sepertinya ucapannya sama sekali tak membantu Wang Junsi mendapatkan kembali harga dirinya.


Ekspresi Wu Meilan terlihat melembut dan dia pun berkata, “Pangeran Keempat, apa kau sibuk hari ini?”


Pertanyaan yang mendadak dilontarkan membuat Wang Junsi tak sempat berpikir sebelum menjawab, “Tidak.”


“Aku dengar kalau di hari sebelumnya kau sedang mempersiapkan perpindahanmu dari istana menuju kediaman barumu,” ujar Wu Meilan, mencoba memastikan. “Apa semuanya telah selesai?”


Kepala pangeran itu mengangguk. “A Rang telah melaporkan padaku pagi tadi bahwa semuanya telah selesai, dan aku akan mulai menetap di sana malam ini,” jelas Wang Junsi. Lalu, dia menambahkan, “Apa Tuan Putri memerlukan sesuatu?”


“Hari ini, Tuan Muda Liang tidak bisa datang dan membawaku berkeliling kota.” Wu Meilan tak mengatakan bahwa alasannya adalah karena pria itu sibuk mempersiapkan pernikahannya. “Nona Pertama Huang juga terkena hukuman dari keluarganya dan tidak diperbolehkan keluar.” Dia jelas tak tahu kalau Liang Fenghong ada campur tangan dalam hal itu. “Nona Liang juga tak diizinkan keluar dari kediamannya karena beberapa hal.” Baiklah, yang ini adalah sebuah kebohongan, Liang Jian hampir mati karena bosan.


Mata Wu Meilan sempat bergetar dan ada rona merah yang merayap di telinganya. Semakin lama dirinya berbicara, Wang Junsi sadar kalau kepala gadis itu semakin tertunduk.


Kemudian, dengan nada yang sedikit tertekan, Tuan Putri Wu itu berkata, “Apakah Pangeran Keempat memiliki waktu luang untuk membawaku keliling kota?”


___


A/N:


Ada yang pernah orang tuanya ditelepon malem-malem terus dikatakan anaknya diculik? Yap, kemaren kejadian sama otor -___- Mo tak timpuk itu yang telepon.

__ADS_1


__ADS_2