
Liang Fenghong terdiam sesaat, lalu dia pun berbalik untuk menghampiri meja. Pria itu meraih guci anggur yang berada di sana, disediakan oleh para pelayan atas permintaannya selagi mengkhawatirkan kondisi istrinya beberapa hari belakangan ini.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Huang Miaoling dengan tidak sabar.
Liang Fenghong terdiam selagi menuangkan isi guci ke dalam dua cangkir kecil di hadapannya. “Duduklah,” ujar pria itu. “Kau memerlukannya,” imbuhnya.
Walau enggan, tapi Huang Miaoling memutuskan untuk menuruti ucapan suaminya. Dia menatap cangkir yang disodorkan oleh Liang Fenghong, lalu meneguk isinya. Setelah cerita yang dia dengar dari pria di hadapannya itu, Huang Miaoling mengaku dia perlu anggur untuk menjernihkan pikirannya.
Liang Fenghong mendudukkan dirinya, lalu menatap Huang Miaoling dalam-dalam. “Pertama kali aku bertemu dengannya … adalah ketika aku menyusun rencana untuk pergi menyelamat Huang Yade, juga dirimu.”
***
“Tidak masuk akal!” tamparan keras pada meja terdengar diikuti dengan bentakan tak rela. “Menyelamatkan Menteri Huang dan mantan Permaisuri Huang? Itu di luar kewajiban kita!” geram gadis dengan surai hitam yang diikat ke belakang itu. “Bagaimana mungkin kita meluangkan waktu untuk menyelamatkan Permaisuri Huang? Tidak … bahkan kita tak pantas menyebut tindakan ini sebagai ‘usaha menyelamatkan’ kalau kenyataannya kita hanya akan mengirim nyawa!”
“Diam!” bentak seorang pria dengan wajah terluka. “Apa kau menentangku!?” seru pria tersebut dengan jari tertuding ke arah sang gadis.
Ruang utama di pangkalan militer Kerajaan Wu itu luas, tapi suasana yang menyesakkan membuat tempat itu terasa begitu sempit. Pembahasan yang awalnya begitu damai, berubah menjadi penuh perdebatan dan bentakan.
__ADS_1
Melihat ketegangan yang terbentuk di antara dua orang itu, seorang pria lain segera menengahi. “Yang Mulia, tenanglah,” ujar sang pria. Dia melirik ke arah sang gadis. “Meihua, jaga sikapmu.”
Seorang gadis lain juga menyentuh pundak Meihua, “Meihua, jangan bersikap lancang.”
Meihua mengalihkan pandangan dari sang kaisar dan menoleh kepada kedua sahabatnya, “Xiaoming, Mudan, aku yakin kalian mengerti maksudku!” Dia melanjutkan, “Kerajaan Wu berada dalam posisi terlemahnya setelah peperangan internal. Kita tidak bisa menyia-nyiakan pasukan yang tersisa untuk menyelamatkan dua orang yang belum tentu akan hidup ketika kita sampai!”
Begitu banyak orang yang memerlukan bantuan di seluruh penjuru kerajaan, tapi sang pemimpin malah berniat memberikan bantuan pada orang yang berasal dari kerajaan lain? Tidak masuk akal!
“Cukup!” Wu Fenghong mengernyitkan wajah. “Beraninya kau berbicara seperti itu … beraninya kau ….” Pria itu menundukkan wajahnya, menghalangi semua orang dari menatap ekspresi pahit yang terlukis di sana. ‘Huang Miaoling akan baik-baik saja!’
Di saat ini, seorang gadis lain melangkah maju dan memulai, “Yang Mulia, maaf bila aku terdengar lancang. Walau kasar, tapi ucapan Meihua benar.” Gadis tersebut melanjutkan, “Setelah pertemuanmu dan mendiang Permaisuri Huang malam itu, aku yakin bahwa Wang Chengliu menyadari sesuatu.”
Yuanli merasa hal yang akan dia katakan seharusnya diketahui oleh Wu Fenghong. Akan tetapi, mengingat pikiran majikannya itu tidak jernih, dia terpaksa kembali meluruskan.
“Kemungkinan besar, Wang Chengliu sadar bahwa Jiang Feng dan Wu Fenghong adalah orang yang sama. Masuk akal mengingat Li Hongxia berada di bawah pengawasan pria itu,” jelas Yuanli. “Tahu bahwa kau masih hidup, dia jelas bisa menelusuri alasanmu menjadi sang menteri keuangan dahulu.”
“Alasan Yang Mulia … menjadi menteri,” ulang Meihua dengan kening berkerut. Dia menoleh ke arah Wu Fenghong dengan pandangan terkejut, “Yang Mulia, kau—” Selama ini, dirinya menetap di Qinglong, masuk akal bila Meihua tak tahu perihal perasaan sang pemimpin terhadap Huang Miaoling.
__ADS_1
Yuanli melanjutkan ucapannya, “Aku yakin Wang Chengliu sadar perihal perasaanmu terhadap mantan Permaisuri Huang, dan oleh karena itu, dia sengaja membiarkannya mendekam di istana dingin dan mengangkat Huang Wushuang menjadi permaisuri yang baru beberapa waktu belakangan ini.” Pandangan gadis itu berubah serius, “Tujuannya adalah memancing dirimu untuk menyelamatkan mantan Permaisuri Huang.”
Mendengar hal ini, Wu Fenghong mengepalkan tangannya. Rahang pria itu mengeras seraya dirinya berteriak dalam hati, ‘Aku tahu!’ Wu Fenghong menutup matanya rapat-rapat, merasa begitu frustrasi. ‘Tapi … aku sudah berjanji!’
“Kau harus pergi.”
Ketika mendengar suara tersebut, seisi ruangan langsung terkejut, beberapa bahkan melompat dengan tangan menyentuh pangkal pedang di pinggang. Semua manik tertuju pada sesosok gadis yang membelakangi pintu keluar ruangan tersebut, entah muncul dari mana dan sejak kapan berada di sana.
Gadis itu memiliki manik cokelat yang menyala terang ketika memantulkan cahaya lilin. Rambutnya yang berwarna cokelat muda berubah kemerahan saat dirinya melangkah menghampiri cahaya.
“Berhenti!” bentak Xiaoming. “Siapa kau?! Bagaimana kau bisa tiba di sini?!” geram pria itu dengan pedang yang telah terhunus di depan dada. Di belakangnya, Meihua, Yuanli, dan juga Mudan telah bersiaga dan melindungi Wu Fenghong.
Gadis bersurai cokelat terang itu menjawab, “Namaku, ya?” Dia terdiam sesaat sebelum akhirnya menampakkan sebuah senyuman manis. “Kalian bisa memanggilku Lan’er.”
Dan, itulah kemunculan pertama sang Gadis Bersurai Cokelat.
__ADS_1