
“Serangan mendadak!”
“Jangan biarkan mereka lewat!”
Teriakan demi teriakan bisa terdengar di gerbang Selatan Kerajaan Wu. Para pasukan musuh yang telah menguasai gerbang dikejutkan dengan serangan mendadak dari rombongan Chen Long.
Seorang pria yang tengah berdiri di atas gerbang untuk memantau keadaan luar ibu kota dengan cepat berbalik mendengar keributan di bawah. Walau ukuran tubuhnya lebih pendek dibandingkan para pejuang padang rumput lainnya, pria tersebut mengeluarkan aura yang sangat berbahaya dan mendominasi. Maniknya yang berwarna cokelat terang itu menggerayangi sosok Chen Long, menghantarkan pandangan membunuh yang begitu dingin.
Berbalikan dengan sikap tenang pria itu, seorang pria lain di sisinya terlihat panik. “Ketua, kalau dibiarkan saja, maka saudara yang lain akan mati sia-sia!” serunya.
Nanhan Ding, pria bertubuh pendek dengan aura yang mendominasi itu, melirik wakilnya. “Untuk apa kau begitu panik? Selama bisa menjatuhkan paling tidak satu musuh, itu berarti mereka tak akan mati sia-sia,” jelasnya. “Lagi pula, kalau mereka mati sia-sia, itu berarti mereka tidak berguna.”
Sebagai bagian dari suku Nanhan, para prajurit padang rumput seharusnya tahu bahwa kekuatan merupakan segalanya. Kalau mereka mati di sini, maka itu dikarenakan mereka lemah. Oleh karena itu, bahkan tanpa perintah sang Ketua, semangat mereka untuk menjatuhkan musuh tetap berkobar.
“Habisi para bedeb*h Wu itu!” seru salah satu prajurit Nanhan.
Karena memulai serangan terlebih dahulu, pihak Chen Long telah berhasil menjatuhkan beberapa musuh. Bahkan bila sekarang keberadaan mereka telah diketahui, Chen Long tidak khawatir. Orang-orang yang dia bawa saat ini adalah orang-orang terbaik dari pasukan Keluarga Chen, dan walau dia tidak tahu apakah dirinya akan selamat, tapi wakil jenderal itu yakin bahwa paling tidak satu dari bawahannya akan berhasil lolos.
Di luar keuntungan sebagai penyerang pertama, rombongan Chen Long juga memiliki kelebihan lain; semua anggota pasukannya berkuda. Tidak hanya musuh sulit mendaratkan sebuah serangan, tapi para prajurit Wu itu juga bisa dengan mudah menerobos melewati pertahanan musuh, terutama karena pintu gerbang Timur terbuka dengan lebar.
Selagi dirinya sibuk menjatuhkan lawan, tiba-tiba Chen Long mendengar sebuah siulan tinggi di tengah peperangan. Mendengar siulan itu, sang wakil jenderal beserta prajurit Wu lainnya tersenyum lebar.
Siulan itu memiliki satu arti, “Aku berhasil lewat!”
Walau sudah ada satu orang yang berhasil lewat, tapi para prajurit Wu yang lain juga tak ingin menyia-nyiakan nyawa mereka. Dengan motivasi yang semakin membara, mereka mulai menjatuhkan musuh-musuh yang berusaha menghadang.
Ketika Chen Long berhasil menjatuhkan musuhnya yang kesekian, dirinya mulai memacu kudanya untuk melewati gerbang ibu kota. Namun, mendadak salah satu prajurit musuh berseru, “Tak akan kubiarkan kau lewat!” Prajurit padang rumput itu melemparkan goloknya ke arah kaki kuda yang ditunggangi wakil jenderal Wu itu.
Ringkikan kuda terdengar nyaring dan memilukan, hal itu diikuti dengan dentuman keras yang disebabkan oleh tubuh kuda yang terbentur keras ke tanah. Suara tersebut membuat beberapa prajurit Wu sempat menoleh, terkejut melihat bahwa korban serangan itu merupakan wakil jenderal mereka.
“Wakil Jenderal!” Hongchen—orang pertama yang berhasil melewati baris pertahanan musuh—berteriak lantang ketika melihat para prajurit padang rumput mulai menghampiri Chen Long.
__ADS_1
Beruntung ilmu bela diri Chen Long cukup hebat, sebelum kudanya terjatuh dan menjepit dirinya, dia melompat menjauhi kudanya dan mendarat dengan aman di tanah. “Pergilah!” teriaknya seraya menangkis serangan yang dilayangkan oleh salah seorang prajurit Nanhan.
“Tapi—!”
“Pergi!” geram Chen Long seraya menebas leher musuhnya tanpa belas kasihan.
Hongchen mengepalkan tangannya. Namun, kenyataan bahwa dirinya merupakan orang pertama—dan mungkin satu-satunya—yang berhasil lolos membatasi pilihan yang dia miliki. Ditambah dengan ucapan Chen Long beberapa saat yang lalu, Hongchen tak memiliki pilihan lain selain kembali memacu kudanya untuk meninggalkan gerbang ibu kota.
Pesan harus disampaikan demi keberlangsungan Kerajaan Wu.
Melihat hal ini, Nanhan Ding menyeringai. “Luar biasa, tekad yang mengagumkan, bahkan nyawa pun tak berarti selama kewajiban bisa terpenuhi,” pujinya yang entah kenapa terdengar lebih kepada ejekan. Lalu, dia merentangkan tangan kanannya ke arah wakilnya. “Busurku,” ucapnya singkat. Tanpa menunggu lama, wakil Nanhan Ding segera memerintahkan kepada salah satu prajurit untuk memberikan busur kepada sang jenderal.
Setelah menerima busurnya, Nanhan Ding meraih satu anak panah, lalu membidik targetnya—Hongchen. Otot-otot di tangannya mengencang seiring dirinya menarik tali busur itu ke belakang, dan begitu dia melepaskan pegangannya, angin pun terbelah oleh anak panah yang melesat kencang ke arah Hongchen.
Dengan kemampuan pendengarannya yang berada di atas orang biasa, Chen Long menangkap suara siulan anak panah yang baru saja terlepas dari busurnya. Sembari menahan serangan prajurit musuh, dia berteriak kencang, “Hongchen! Panah!” Harapannya pada saat itu hanyalah satu, bahwa Hongchen mampu mendengar suaranya.
Sayangnya, dengan segala keributan yang terjadi dan jarak yang terpaut jauh, Hongchen sama sekali tidak dapat mendengar peringatan yang diberikan oleh Chen Long. Dia hanya terfokus pada satu hal, yaitu memacu kudanya untuk segera meninggalkan daerah ibu kota dan mencapai tujuannya—Kerajaan Shi.
Melihat bahwa panah Nanhan Ding tidak berhasil mencapai targetnya, Chen Long tersenyum penuh kemenangan. Tak hanya itu, siulan demi siulan lain pun mulai terdengar, menunjukkan bahwa sebagian besar pasukannya telah lewat. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan pesan darurat Chen Qiang tiba di Shi sangatlah besar. Bahkan bila dirinya jatuh di sini, Chen Long tidak lagi memiliki penyesalan.
Tiga siulan.
Empat siulan.
Enam.
Sepuluh!
‘Tunggu,’ batin Chen Long tiba-tiba. Sembari menusukkan pedangnya kepada salah seorang musuh, pria itu mengerutkan kening. ‘Bagaimana bisa yang lain lewat dengan begitu mudah?’ Matanya menyapu sekilas sekeliling, menyadari bahwa jumlah orang yang mengepung dirinya menjadi semakin banyak. ‘Trik yang mereka lakukan padaku bisa saja mereka gunakan lagi kepada yang lain,’ batinnya. ‘Lalu, kenapa tidak mereka lakukan hal tersebut?’
Apabila prajurit musuh menargetkan kuda yang ditunggangi pasukan Wu, maka jelas hal tersebut akan mempersulit bawahan Chen Long untuk melewati pertahanan gerbang. Tidakkah Nanhan Ding sadari bahwa semakin banyak orang yang lewat, maka semakin besar pula kemungkinan bala bantuan akan datang dari Shi? Kenapa dia seakan tidak berusaha keras untuk menahan pasukan Chen Long?
__ADS_1
Mendadak, Chen Long menyadari sesuatu. ‘Kenapa mereka tidak mengirim prajurit berkuda untuk mengejar!?’
Detik itu juga, suara sangkakala yang memekakkan telinga bisa terdengar. Mengikuti suara itu, semua prajurit musuh yang sempat mengepung Chen Long terpisah, mereka berhenti menyerang sang wakil jenderal. Hal tersebut membuat Chen Long kebingungan, dan dia pun mulai menengok ke kanan dan ke kiri dengan waspada.
“Apa-apaan …?” Chen Long tak bisa menahan diri untuk tidak bergumam. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.
Dengan cara kepungannya terbelah, pandangan Chen Long secara alami terarah ke satu tempat—luar gerbang. Pria itu bisa melihat dari kejauhan sebagian besar bawahannya memacu kuda dengan cepat menuju hutan, Hongchen memimpin di barisan paling depan.
Karena tidak ada yang menahan dirinya, Chen Long pun dengan sigap berlari ke luar gerbang. Musuh memberikan kesempatan baginya untuk pergi, lalu untuk apa dia berdiam dan menyia-nyiakan kesempatan, bukan begitu?
Melihat sosok Chen Long berlari meninggalkan gerbang ibu kota, Nanhan Ding memasang sebuah seringai di wajahnya, pancaran matanya terlihat sangat bersemangat. Kemudian, pandangannya berpindah pada pasukan Wu yang dipimpin oleh Hongchen.
Saat prajurit terakhir Chen Long melewati panah yang menancap di tanah—panah yang sebelumnya terarah kepada Hongchen—Nanhan Ding berteriak, “Sekarang!” Begitu perintah tersebut dijatuhkan, sangkakala kembali berbunyi dengan nyaring.
Tiba-tiba, ujung pandangan Chen Long mendapati munculnya titik-titik cahaya dari dalam hutan. Melihat hal tersebut, ekspresinya sekejap berubah buruk dan dia pun berteriak, “Kembali!” Dia membuat beberapa bawahannya menoleh sekilas dengan wajah kebingungan. Namun, mereka yang berada di bagian depan sama sekali tidak bisa mendengarnya. “Hongchen, kembali! Ini jebak—”
Belum sempat Chen Long menyelesaikan ucapannya, ratusan panah melesat keluar dari dalam hutan dan menghujani pasukannya. Tanpa belas kasihan, panah-panah itu menembus tubuh setiap pejuang Kerajaan Wu, menyebabkan beberapa langsung terjatuh ke tanah dengan bunyi retakan tulang yang mengerikan.
Mata Chen Long membesar, kakinya yang tadi masih berlari kencang perlahan melambat. Dia menatap satu per satu bawahannya terjatuh dari kuda, dan sosok Hongchen yang berada di barisan paling depan ... menampilkan pemandangan yang paling mengenaskan.
Sebagai seseorang yang berada di barisan paling depan, Hongchen merupakan orang pertama yang menerima serangan. Selain itu, dia sama sekali tidak bisa menghindar. Tak hanya tubuhnya, tapi kepalanya juga menjadi tempat bersemayamnya sejumlah panah. Tubuh Hongchen yang telah menjadi seonggok daging semata mulai miring ke samping, dan dentuman keras terdengar seiring tubuhnya bertemu dengan tanah.
Pemandangan mengerikan itu membuat Chen Long terjatuh ke tanah. “Ah ….” Tenggorokannya terasa kering, napasnya menjadi sangat sesak. “Hongchen ….”
Chen Long menyapu pemandangan di depannya. Mereka yang beberapa saat yang lalu masih sempat berteriak penuh semangat, sekarang tak lagi bersuara. Orang-orang yang merupakan bagian dari pasukannya, orang-orang yang hampir setiap hari menghabiskan waktu dengannya menjadi penopang kerajaan, semuanya … mati.
“Semuanya …,” suara Chen Long bergetar. Jantung sang wakil jenderal berdetak kencang, matanya membuyar akibat air mata yang berkumpul. ‘Kita … gagal?’ Kedua tangan Chen Long menyentuh kedua sisi kepalanya, mencoba menutup telinganya akan suara-suara yang mulai mengganggu pikirannya. Suara retakan itu menjalar di telinganya, suara yang dihasilkan oleh kehancuran kewarasannya. “AHH!!!”
___
A/N: *Author yang baru tiba di perbatasan hutan dan gerbang Timur ibu kota Wu*: ... Hongchen ....
__ADS_1