Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 128 Kejanggalan, Keanehan, dan Tidak Biasa


__ADS_3

“Di mana dia?!” Suara parau itu diselimuti kepanikan dan juga amarah, seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu yang begitu dia jaga.


‘Suara itu ….’ Huang Miaoling segera menghampiri pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika sesuatu mencengkeram lengannya. Wanita itu menoleh dan mendapati Qiuyue menghentikan dirinya. “Qiuyue?”


Qiuyue tampakkan ketakutan, tubuhnya bergetar. “Nyonya … kau—”


Belum sempat Qiuyue melanjutkan kalimatnya, Xiang Momo berdeham, mengejutkan gadis itu. Qiuyue melirik Xiang Momo, menerima pandangan memperingati dari wanita tua tersebut.


Akhirnya, gadis pelayan itu melepaskan cengkeramannya dari lengan Huang Miaoling. “A-ah, tidak apa-apa,” tutur Qiuyue dengan sebuah senyuman yang sangat dipaksakan.


Huang Miaoling mengerutkan keningnya, merasa ada sesuatu hal yang sangat salah. Dia melirik Xiang Momo, meminta penjelasan. Akan tetapi, wanita itu hanya membalasnya dengan senyuman.


“Di mana kalian menyembunyikannya!?”


Mendengar kembali teriakan itu, Huang Miaoling segera melangkah keluar. Dia membuka pintu dan berlari menghampiri sumber suara.


Ketika dirinya baru saja berlari lima langkah meninggalkan teras kamar itu, Huang Miaoling melihat Liang Fenghong sedang mencengkeram tangan seorang pelayan dengan wajah marah. “A Feng?” panggil wanita itu dengan kebingungan.


Di saat suara Huang Miaoling mendarat di telinga Liang Fenghong, ekspresi marah pria itu sekejap menghilang. Dia mengalihkan pandangannya dan menatap istrinya dengan pandangan penuh damba.


“Ling’er!” Liang Fenghong segera melepaskan cengkeramannya pada lengan pelayan malang itu, lalu dia berlari menghampiri Huang Miaoling.


Huang Miaoling menatap Liang Fenghong dengan ekspresi penuh tanya. “Apa yang—” Pertanyaannya terpotong karena pria itu memeluknya dengan erat, membuat sang Mingwei Junzhu kewalahan. “A Feng ….”


Liang Fenghong melepaskan pelukannya, lalu menatap Huang Miaoling dengan ekspresi marah yang asing. “Kenapa kau pergi begitu saja?! Apa yang harus kulakukan kalau kembali terjadi hal buruk padamu?!” bentak pria itu membuat mata sang istri membesar, sangat terkejut.


Sangatlah jarang Liang Fenghong membentak Huang Miaoling seperti itu!


Huang Miaoling memperhatikan pria di hadapannya itu dengan saksama, menemukan bahwa napas sang suami terengah-engah. Saat mereka berpelukan tadi, dia juga mendapati detak jantung Liang Fenghong begitu kencang, menunjukkan bahwa pria itu mencarinya dengan begitu panik sembari diselimuti ketakutan yang luar biasa.


Tiba-tiba, Huang Miaoling merasakan sakit pada kedua lengannya—cengkeraman Liang Fenghong menjadi semakin erat. “A Feng, kau menyakitiku!” pekiknya dengan wajah meringis.


Teriakan istrinya itu membuat Liang Fenghong terbelalak, dia segera melepaskan Huang Miaoling. “Ah! Maaf, aku …,” pria itu mendadak terdiam.


Liang Fenghong menatap kedua tangannya, seperti merasa asing dengan tubuhnya sendiri. Kemudian, dia mengepalkan kedua tangannya dan menutup mata.


Liang Fenghong berkata dengan sedikit tergagap, “A-aku pergi dulu.” Lalu, dia berbalik dan melangkah pergi, seakan berusaha untuk meninggalkan Huang Miaoling secepat mungkin.


Sayang, tapi Huang Miaoling tidak akan membiarkan pria itu pergi begitu saja setelah keonaran yang baru saja tercipta. “Tunggu!” teriaknya seraya menjulurkan tangan untuk menghentikan suaminya itu, memaksa Liang Fenghong untuk menoleh dan menatap dirinya. “Kita harus bicara.”

__ADS_1


Huang Miaoling mengalihkan pandangannya ke satu arah. Dia menoleh kepada gadis pelayan yang masih terdiam di tanah dengan wajah ketakutan, lalu pada Xiang Momo dan Qiuyue yang berdiri di depan pintu kamar tempatnya merias diri.


“Xiang Momo, aku minta tolong padamu,” perintah Huang Miaoling singkat.


Xiang Momo memberi hormat, “Tentu, Nona.”


Dengan paksa, Huang Miaoling menarik Liang Fenghong kembali ke dalam ruangan yang sempat mereka tempati bersama. Kemudian, dia menutup pintu dengan suara keras, tak sengaja meloloskan sepercik amarah dalam dirinya.


Setelah menutup pintu, Huang Miaoling mencoba menenangkan diri dari emosinya. Dia menutup mata, menarik napas dalam-dalam dan menghelanya. Kemudian, dia berbalik untuk menatap Liang Fenghong yang menghindar dari tatapannya.


“Sedari awal, aku sudah merasa sikapmu sungguh aneh,” tutur Huang Miaoling. “Yang terjadi pagi tadi … janji yang kau ingin kuucapkan.” Alis wanita itu bertaut, menampakkan ketidaksukaannya atas dugaan yang berada dalam benaknya saat ini. “Apa itu caramu untuk mengikatku?”


Kerutan pada kening Liang Fenghong menjadi semakin dalam, ekspresi enggan untuk mengutarakan kebenaran terlukis jelas di wajahnya. Akan tetapi, mendadak dia menoleh untuk menatap lurus Huang Miaoling.


Huang Miaoling tersentak. Pandangan pria di hadapannya itu begitu asing, tapi juga begitu familier. Bukan, itu bukan tatapan Liang Fenghong, suaminya. Akan tetapi, itu merupakan tatapan ….


“Ling’er,” panggil Liang Fenghong seraya menjulurkan tangannya.


Huang Miaoling tanpa sadar mengambil langkah mundur, tapi punggungnya menabrak pintu. “Katakan sekarang juga,” dia baru teringat akan suatu hal yang begitu penting, “apa hubunganmu dengan Lan’er?”


***


Selagi Qiuyue sedang mengkhawatirkan hal tersebut, seseorang yang berada di dekatnya berkata, “Kau hampir saja melangkahi posisimu.”


Manik bulat Qiuyue beralih pada sosok Xiang Momo, wanita tua itu baru saja selesai mengurus gadis pelayan yang terluka akibat perilaku Liang Fenghong. “Momo, kau tahu sendiri perihal apa yang terjadi di hari sebelumnya ….” Keraguan menyelimuti pandangan gadis itu seiring dirinya menatap ke arah kamar Huang Miaoling dan Liang Fenghong, “Ada yang aneh dengan Tuan.”


Benak Qiuyue melambung ke kejadian hari yang lalu.


Setelah Liang Fenghong tiba dengan pasukannya ke Jingcheng, dia membawa Huang Miaoling kembali ke kediaman Huang. Namun, dengan alasan mengobati sang istri, pria itu tidak membiarkan siapa pun menemui Huang Miaoling. Hal ini tentunya menimbulkan perselisihan antara pria itu dengan sejumlah anggota keluarga Huang, terutama Huang Junyi dan Huang Hanrong. Kalau bukan karena Huang Qinghao yang melerai kedua pihak, Qiuyue yakin adegan berdarah seperti kali terakhir di Zhongcheng akan kembali terjadi.


“Sejak dirinya kembali, Tuan bersikap aneh, seakan tidak ingin orang lain menemui Nyonya,” tutur Qiuyue. ‘Selain ketika mengubah pakaian, membersihkan tubuh, juga mengantarkan makanan, Tuan Liang tidak pernah membiarkan orang lain mendekati kamarnya dan Nyonya ….’


“Aneh …,” gumam Xiang Momo. “Mengingat kondisinya ketika tiba di kediaman, kenyataan bahwa tidak ada yang salah dengan tubuh Nona memang merupakan suatu hal yang aneh.” Alis wanita itu bertaut, ekspresinya terlihat dipenuhi pertanyaan. “Apakah kepulihan Nona sungguh diakibatkan kemampuan sang Tabib Jianghu?”


Mendengar hal itu, Qiuyue tertegun. Selain sebagai pelayan pendamping Liang Siya di Jingcheng, Xiang Momo juga memiliki kemampuan medis. Oleh karena itu, mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir wanita itu, Qiuyue merasa cukup terkejut.


“Nyonya sepenuhnya sembuh, bukankah itu hal baik, Momo?” tanya Qiuyue dengan ragu.


Xiang Momo melirik Qiuyue selama sesaat, lalu dia menggelengkan kepalanya. “Masih banyak hal yang belum terjawab, tapi itu bukan hak kita untuk bertanya,” tutur Xiang Momo seraya melangkah pergi.

__ADS_1


“M-Momo, kau ingin ke mana?” tanya Qiuyue yang langsung mengikutinya.


“Nona telah pulih, tentu aku harus memberi tahu Nyonya Besar mengenai hal ini,” jawab Xiang Momo. Kemudian, dia memberikan tugas pada Qiuyue, “Kau harus segera memberi tahu anggota keluarga yang lain. Jangan lupa untuk mengirimkan pesan kepada keluarga Liang juga.”


“Baik, Momo,” balas Qiuyue dengan sopan.


Setelah melihat Qiuyue melangkah pergi, Xiang Momo pun melanjutkan perjalanannya menuju halaman Liang Siya. Setibanya di sana, dia melihat sekelompok pelayan yang menunggu di depan aula leluhur. Xiang Momo menghampiri tempat tersebut dan mendapati majikannya sedang berlutut di depan altar, mungkin memohon keselamatan demi sang cucu kedua yang masih tidak diketahui kabarnya, juga untuk cucu ketiga yang belum diketahui telah sadar.


“Nyonya,” panggil Xiang Momo seiring dirinya berlutut tidak jauh dari sisi Liang Siya.


Liang Siya sedikit tersentak, mungkin tak menyangka ada yang berani mengganggunya. Namun, begitu menyadari identitas pengunjungnya, wanita itu segera tenang dan menoleh.


“Xiang Yin?” Liang Siya meletakkan tasbihnya dan tersenyum tipis, terlihat begitu rapuh. “Ada apa?”


Xiang Momo merasa hatinya teremas melihat kondisi nyonyanya yang begitu buruk. Sebelum Liang Siya pergi ke ibu kota, kondisi tubuhnya sudah bukan yang terbaik. Sekarang, kembali ke Jingcheng, kesehatannya mengalami penurunannya. Ditambah dengan tekanan dari krisis yang dihadapi kerajaan, Xiang Momo sangat khawatir terhadap majikannya.


“Nona telah sadar,” jelas Xiang Momo.


Detik itu juga, mata Liang Siya membesar. Tubuhnya goyah, tapi beruntung tangannya mampu menopang diri dari tumbang ke lantai.


“Nyonya!” Xiang Momo segera menghampiri majikannya. “Kau baik-baik saja?”


Liang Siya melambaikan tangannya, lalu menganggukkan kepalanya. “Aku baik-baik saja,” jawabnya. “Bagaimana keadaannya? Apa dia sungguh—”


Xiang Momo tahu dugaan Liang Siya, lagi pula dia yang menyampaikan spekulasinya. Oleh karena itu, dia dengan cepat membenarkan, “Nona pulih dengan sempurna, tidak ada yang salah dengan dirinya. Aku yang melihatnya dengan mata-kepalaku sendiri.”


Mendengar hal itu, Liang Siya mengangguk-anggukkan kepalanya, sebuah senyuman tipis penuh syukur menghiasi wajahnya. “Itu bagus, itu bagus.”


Majikan yang cerdas memang didampingi pelayan yang cerdas pula. Melihat perkembangan situasi, Xiang Momo kemudian berkata, “Sekarang, Nona telah sadarkan diri, itu berarti pertemuan besar akan segera diadakan, bukan begitu?”


Helaan napas Liang Siya bisa terdengar seiring dirinya berkata, “Dengan situasi saat ini, jelas demikian.” Alis wanita itu bertaut, memperdalam kerutan pada dahinya. “Begitu banyak pertanyaan telah diajukan dari berbagai pihak, tapi Qinghao serta para prajurit itu … tak ada satu pun yang membuka mulut mereka tanpa izin dari Liang Fenghong. Kalau bukan karena kondisi Miaoling, Yade pasti sudah melayangkan tangannya.”


“Sepertinya, suami Nona bukanlah pria biasa ….” Xiang Momo menggelengkan kepalanya, merasa pernyataannya sedikit bodoh. “Aku tahu dia adalah sang Tabib Jianghu, juga putra dari perdana menteri Kerajaan Wu, tapi kemampuan medisnya, juga kuasanya untuk menekan Jenderal Besar … itu ….” Wanita tersebut tak mampu menyelesaikan ucapannya, khawatir akan dianggap tidak sopan.


Liang Siya berusaha untuk berdiri, lalu dia melangkah keluar dari aula leluhur. “Tidak biasa, jelas dia tidak biasa,” tutur wanita itu. “Begitu pula dengan sang pangeran keenam dan juga … Miaoling.” Pandangan wanita itu terangkat ke langit. ‘Ketiganya … bak terikat takdir yang mengerikan.’


___


A/N: Oof ... revelation time di next chapter??? R u guys ready?

__ADS_1


__ADS_2