
Menyadari bahwa para pria di hadapannya terbengong, Huang Miaoling mengangkat alis kirinya. "Tidak ada sambutan untukku, Letnan Jenderal?” tanyanya dengan nada menyindir.
Sadar dari kekagetannya, Fang Yu segera berlutut dengan satu kaki seraya berteriak, “S-salam kepada Mingwei Junzhu.” Ratusan prajurit yang berada di sana pun ikut memberi salam kepada Huang Miaoling, mengikuti tindakan pemimpin nomor dua pasukan tersebut.
“Berdirilah,” balas Huang Miaoling seraya melangkah turun dari Mazu. Dia mengusap leher kuda itu, lalu berkata pada beberapa prajurit. “Telah begitu lama sejak kudaku berlari lepas, dan sepertinya hal itu yang membuatnya kehilangan kendali.” Dia mengalihkan pandangan pada seorang prajurit—si pria kedua yang sempat bergosip tentang dirinya—lalu berkata, “Kau, namamu?”
Menyadari bahwa dirinya ditunjuk, pria tersebut mengerjapkan matanya, sedikit tak percaya. “A-A Pao.”
“A Pao, bawa kuda ini keliling kota.”
“Ah?” Prajurit tersebut terlihat bingung. “M-membawa kuda Junzhu keliling kota?” ulangnya dengan tidak yakin, sebagian rasa itu didasari kekhawatirannya atas sikap gila Mazu.
Huang Miaoling mengabaikan ketidakyakinan A Pao, lalu menambahkan, “Jangan lupa untuk menanyakan kabar setiap pemilik toko.” Sebuah senyuman tipis terpampang di wajahnya. “Lakukan perintahku dengan baik. Kalau nanti aku bertanya mengenai sesuatu dan kau tidak bisa menjawabnya,” senyuman di wajah Huang Miaoling menghilang, dan hanya ada pandangan dingin yang ditujukan pada prajurit itu, “maka jangan salahkan aku menjatuhkan hukuman padamu.”
Mendengar hal tersebut, A Pao bergegas berseru, “A-aku menerima perintah, Junzhu!” Tanpa banyak basa-basi, dia menerima tali kekang Mazu dari Huang Miaoling, lalu membawa kuda tersebut pergi. Walau ragu mengenai apakah dia bisa menungganginya, tapi A Pao lebih memilih untuk menghilang terlebih dahulu dari pandangan Huang Miaoling. ‘E-entah kenapa … aku merasa Mingwei Junzhu tahu mengenai ucapanku tentangnya …,’ batin A Pao. ‘Sungguh mulut sial!’ makinya seraya menampar mulutnya sendiri.
Di sisi lain, melihat A Pao memukul dirinya sendiri, Huang Miaoling mengernyitkan dahi. ‘Apa aku baru saja menyerahkan Mazu di tangan yang baik?’ Dia mulai khawatir kalau prajurit yang dia tunjuk memiliki gangguan jiwa.
Tentu saja Huang Miaoling tidak tahu apa yang sempat A Pao bicarakan tentangnya. Walau dia memiliki pendengaran melebihi manusia biasa, tapi itu tidak berarti dia bisa mendengar lebih dari ratusan meter!
Di saat ini, Fang Yu bertanya, “Junzhu, apa kiranya yang membuatmu datang kemari?” Dia tak bisa mengalihkan perhatiannya dari sosok Huang Miaoling yang berdandan layaknya pria, jujur … wanita itu terlihat begitu gagah dan menawan.
“Seorang pemimpin pasukan mengunjungi pasukannya, tidakkah itu suatu hal yang wajar?” balas Huang Miaoling, tak berniat untuk terlihat sopan dan lembut. “Pasukan Nanhan mengambil kesempatan konflik internal yang ada pada Kerajaan Wu untuk menyerangnya, siapa yang tahu apakah hal yang sama akan terjadi pada Shi atau tidak.”
Mendengar ucapan Huang Miaoling, kening Fang Yu berkerut. Walau jabatannya hanya sekadar letnan jenderal dari sebuah pasukan kecil, tapi dia tahu adanya makna tersirat dari ucapan wanita di hadapannya itu.
‘Apakah Mingwei Junzhu bermaksud mengatakan bahwa akan ada orang yang mengambil kesempatan untuk menimbulkan masalah di dalam Shi?’ tebak Fang Yu dalam hati.
Melihat sekilas ekspresi Fang Yu, Huang Miaoling tahu bahwa pria itu mengerti maksudnya. ‘Cepat tanggap, seseorang yang bisa diandalkan.’ Dia mengalihkan pandangan pada prajurit di sekitarnya, sebagian memberikan tatapan kagum, dan sebagian lagi … memberikan tatapan tak suka. “Letnan Jenderal Fang,” panggilnya.
“Siap menerima perintah, Junzhu,” balas Fang Yu dengan hormat.
Huang Miaoling berjalan ke tengah lapangan, lalu berbalik untuk menatap ke arah para prajurit dengan wajah datar. “Lima orang terbaik Pasukan Longzhu, lawan aku sekarang,” ucapnya.
Ucapan Huang Miaoling membuat Fang Yu termenung sesaat. “Y-ya?” dia sedikit khawatir dirinya salah dengar.
“Kau dengar aku,” ucap Huang Miaoling sembari memiringkan kepalanya sedikit. “Tak perlu dirimu untuk mengatakannya, tapi aku tahu bahwa sebagian besar dari kalian mempertanyakan kemampuanku. Sebagai pasukan yang seharusnya mengabdi di bawah kaisar, kalian malah dipindahtangankan kepada seorang wanita—diriku. Jika kalian merasa terluka, itu bukanlah hal yang aneh.” Wanita itu meraih dua belati yang bertengger di kedua sisi pinggangnya—belati yang merupakan hadiah dari suaminya. “Sebagai seorang ahli bela diri, mari kita luruskan masalah dengan kemampuan.”
__ADS_1
Beberapa prajurit saling menatap satu sama lain, wajah mereka menunjukkan keterkejutan dan ketidakpercayaan. Berbagai pertanyaan terbersit di benak mereka, mempertanyakan apakah akan ada konsekuensi apabila mereka melukai sang Junzhu. Namun, apabila mereka mengutarakan hal tersebut, tidakkah itu sama dengan menganggap Huang Miaoling tidak mampu melawan mereka?
Merasa para bawahannya terlihat serba salah, Huang Miaoling memutar bola matanya. “Tidak ada dari kalian yang bisa mengalahkanku,” dia yakin akan hal itu. “Kalaupun ada, ratusan orang di sini adalah saksi terhadap janjiku. Aku tak akan menghukum mereka yang melukaiku.” Sebuah seringai terpampang di wajah Huang Miaoling. “Jika mereka mampu, aku bahkan tak akan segan memberikan hadiah kepada seluruh pasukan. Seratus tael per orang, bagaimana?”
Mendengar hal ini, mata para prajurit segera berbinar. “Junzhu! Kau tak boleh berbohong!” seru salah satu prajurit dengan semangat, tak menyadari bahwa ada dari beberapa prajurit lainnya yang merasa sedikit terhina dengan tantangan Huang Miaoling.
Huang Miaoling melirik ke arah Fang Yu. “Sebagai letnan jenderal, kau adalah satu dari lima orang yang harus menantangku. Empat lagi, kau yang pilih.”
Fang Yu menghela napas. “Junzhu, kau tak perlu melakukan ini.” Dia merasa kalau Huang Miaoling menggunakan cara ini untuk memenangkan hati para prajuritnya, tapi sungguh ... ini berlebihan.
Bagi Fang Yu, siapa pun orang yang menjadi pemimpinnya adalah orang yang akan dia hormati, termasuk Huang Miaoling. Oleh karena itu, dia akan mengalah dan tidak mengerahkan seluruh kemampuannya dalam pertarungan ini. Namun, bagaimana dengan empat orang lainnya? Dengan hadiah seratus tael, tidaklah aneh apabila ada yang tergiur dan mengesampingkan hubungan atasan dan bawahan mereka.
Namun, niat baik Fang Yu bak dua mata pisau. Walau niatnya adalah untuk membantu, tapi itu juga merupakan cara untuk menghina Huang Miaoling, menyatakan bahwa dirinya menganggap wanita itu lemah.
Huang Miaoling terdiam. Kemudian, dia memasukkan dua belati ke sarungnya. Hal tersebut membuat Fang Yu mengira bahwa sang Mingwei Junzhu akhirnya berpikir jernih dan sadar bahwa dirinya terlalu gegabah.
Hanya saja, tebakan Fang Yu salah besar.
Detik berikutnya, Huang Miaoling melesat ke arah Fang Yu dengan kecepatan mengerikan. Begitu dia tiba di hadapan pria itu, Huang Miaoling meraih kerah dan tangan pria tersebut. Kemudian, dengan mencengangkan, wanita itu melemparkan Fang Yu ke tanah.
Semua orang yang berada di sana terdiam, membeku, terutama Fang Yu yang masih belum sepenuhnya menyadari apa yang baru saja terjadi. ‘A-apa-apaan …?’
Tidak perlu waktu lama bagi empat orang yang merupakan perwakilan dari para prajurit untuk keluar dari barisan. Berbeda dengan Fang Yu, mereka lebih siap dan tidak memiliki niat untuk mengalah. Tindakan Huang Miaoling yang mengambil kesempatan ketika Fang Yu lengah dianggap sebagai suatu hal yang memalukan. Oleh karena itu, alasan mereka tak ingin mengalah bukan hanya karena uang, tapi juga karena mereka merasa harus mengembalikan kehormatan Pasukan Longzhu, membuktikan bahwa Fang Yu kalah karena Huang Miaoling menyerang saat pria itu tak siap.
“Junzhu, harap jangan salahkan diriku karena tidak bersikap sopan,” ujar seorang prajurit dengan tubuh kekar.
Baru saja prajurit dengan tubuh penuh otot itu mengambil langkah maju, Huang Miaoling mengangkat tangannya. “Tunggu.”
Mengira Huang Miaoling takut, prajurit itu bertanya, “Apa Junzhu berubah pikiran?” Ada pancaran mata merendahkan darinya.
“Fang Yu, aku tidak membantingmu dengan keras. Bergabunglah dengan mereka dan serang aku bersama-sama,” ucap Huang Miaoling membuat para prajurit lainnya terbelalak. “Hari sudah menjelang siang, dan aku masih harus melatih kalian. Mari selesaikan hal ini dengan cepat, jangan buang-buang waktu.”
Ekspresi gelap menghiasi wajah empat prajurit tersebut. Mereka merasa Huang Miaoling sungguh sedang merendahkan mereka.
Di sisi lain, Fang Yu merasa bahwa dirinya harus meningkatkan kewaspadaan. Sebagai seorang pria, juga seorang prajurit, dia tahu jelas bahwa tubuhnya tidaklah ringan, terutama untuk seorang wanita. Namun, Huang Miaoling bisa mengangkat dan membanting tubuhnya ke tanah dengan begitu mudah. Hal itu menunjukkan bahwa kekuatan wanita itu tak bisa diremehkan.
Fang Yu menatap keempat prajurit lainnya, dan mereka pun menganggukkan kepala, memberikan tanda bahwa mereka telah siap. Akhirnya, Fang Yu pun menurunkan perintah, “Maju!”
__ADS_1
Melihat lawannya telah maju, Huang Miaoling berdiri dengan tenang. Pandangannya menyapu sekilas kelima prajurit di hadapannya, memperhitungkan jarak yang tersisa di antara dirinya dengan orang-orang tersebut.
Setelah merasa waktu telah tepat, Huang Miaoling melesat ke arah lima orang tersebut. Lalu, dengan gesit dan akurat, Huang Miaoling menotok titik-titik tertentu pada leher mereka. Alhasil, lima lawannya tersebut berakhir membeku di tempat, lalu roboh ke depan, tidak mampu menggerakkan tubuhnya.
Sembari menatap lawannya yang membeku di tanah, Huang Miaoling mengumumkan, “Kalian kalah.”
“I-ini—!” Di sela-sela rasa sakit akibat kembali bertemu dengan tanah, Fang Yu merasa sangat terkejut. ‘Ilmu … pengunci otot?’ Walau harus dia akui bahwa Huang Miaoling sungguh memiliki ilmu yang menakjubkan, tapi ilmu itu bukanlah ilmu yang pantas digunakan dalam pertarungan seperti ini. “J-Junzhu! Tidakkah ini di luar aturan?!” serunya, mewakili pemikiran para prajurit lainnya yang juga tidak terima dengan hasil yang ada.
Apa yang Huang Miaoling gunakan bukanlah jurus berkelahi, melainkan ilmu medis!
Huang Miaoling mengernyitkan dahinya, memasang wajah tidak suka. Sebuah senyuman mengejek terpampang di wajahnya. “Aturan?” ulang wanita itu. “Apa ada yang namanya aturan dalam sebuah perang?” Ada api membara pada manik hitamnya.
Suara dalam yang digunakan oleh Huang Miaoling ketika mengucapkan hal tersebut membuat hati Fang Yu terasa dingin. Ditambah dengan telinganya yang begitu dekat dengan tanah, dia bisa mendengar jelas langkah kaki sang Mingwei Junzhu yang semakin mendekat ke arahnya. Bisa dikatakan, irama jantung Fang Yu mengikuti tempo langkah kaki wanita itu.
Dari sudut matanya, Fang Yu melihat Huang Miaoling tiba di sisinya. Bersamaan dengan itu, dia melihat wanita itu meraih satu belati di pinggangnya. Desingan melengking yang dihasilkan gesekan mata belati pada sarungnya membuat jantung Fang Yu berdetak semakin kencang.
“Kalau dalam perang ada aturan, maka Pangeran Kelima tidak akan menjadi korban,” ujar Huang Miaoling seraya mengangkat belatinya tinggi, siap menancapkan benda itu pada targetnya.
Aksi Huang Miaoling membuat beberapa prajurit tak bisa menahan diri untuk tidak berteriak, “Junzhu!” Tak ada yang menyangka bahwa Huang Miaoling sungguh seorang wanita yang mengerikan.
Melihat ujung runcing belati mengarah padanya, Fang Yu menahan napas dan menutup matanya. Suara benda tajam yang menancap dalam tertangkap jelas oleh telinga pria itu.
Namun, tak ada rasa sakit yang menyelimuti dirinya.
Fang Yu membuka matanya. Dia termenung ketika menyadari bahwa Huang Miaoling baru saja menancapkan belati di tanah, begitu dekat dengan wajahnya. ‘D-dia tidak membunuhku,’ batinnya dengan keringat dingin yang mulai menuruni dahinya.
“Kalau ada peraturan, maka Kerajaan Wu tidak akan jatuh.” Hati Huang Miaoling terasa panas akibat pernyataan Fang Yu mengenai ‘aturan’. Wanita itu pun berbalik dan menatap kepada para prajurit lainnya. “Jika di dunia ini ada aturan, maka tak ada yang namanya perang.” Dia menambahkan, “Sebagai prajurit sejati, sebagai pejuang kerajaan, dan sebagai pelindung, kalian harusnya tahu bahwa di era kekacauan ini … tak ada peraturan dalam sebuah peperangan.”
__
*Author yang lagi ngintip dari gerbang markas*: Hanjay\, GG Miaomiao.
__
A/N:
Pas bikin ini lagi rada ngantuk, jadi kalau ada salah, moon maap.
__ADS_1