Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 134 Eksekusi


__ADS_3

“Bunuh dia! Bunuh perempuan hina itu!”


“Begitu banyak darah ditumpahkan akibat dirinya! Menyingkirkannya adalah kebaikan untuk dunia!”


Sorakan kebencian terdengar dari berbagai arah di tengah kota Qinglong, ibu kota Kerajaan Wu. Semua mata tertuju kepada wanita yang berada di atas panggung eksekusi, memancarkan aura membunuh yang begitu mendalam.


Wajah wanita itu seharusnya begitu cantik, begitu menawan. Akan tetapi, darah yang mengalir turun dari luka mengerikan di dahi—hasil lemparan batu para penduduk—membuatnya terlihat mengerikan.


Derap kaki kuda membuat prajurit penjaga gerbang menoleh. Begitu melihat rombongan yang tiba, juga sosok yang berada di tengah rombongan itu, prajurit tersebut berteriak lantang, “Kaisar tiba!”


Mendengar teriakan tersebut, para penduduk yang menghadiri eksekusi tersebut langsung terdiam. Mereka dengan cepat berlutut dan bersujud di tanah, menyambut kedatangan sang pemimpin kerajaan—penyelamat mereka.


Pada panggung yang berseberangan dengan panggung eksekusi, seorang pejabat yang bertugas memimpin eksekusi berdiri dari kursinya. Dia membungkuk hormat dan memimpin semua orang untuk memberi salam, “Hormat kepada Kaisar Fenghong, semoga langit memberkatimu dengan umur panjang.”


Mendengar hal tersebut, bulu mata wanita di atas panggung bergetar. Dia mengangkat pandangannya yang penuh kebencian dan hasrat membunuh untuk menatap sang kaisar.


Dengan gagah pria itu turun dari atas kuda, terlihat begitu berbeda dengan penampilan yang dia tunjukkan kali terakhir sang wanita melihatnya. Mahkota kebesaran seorang kaisar dan juga balutan jubah keemasan berukirkan naga membuatnya terlihat begitu mulia, sepenuhnya menutupi identitas menteri keuangan Kerajaan Shi yang sempat dia pegang.


“Wu Fenghong!” geram wanita itu.


Ya, pria itu bukan lagi Jiang Feng, dia adalah Wu Fenghong, kaisar Kerajaan Wu yang terhormat!


Melihat sosok Wu Fenghong yang begitu mulia\, wanita itu menggeram\, “Kau baj*ngan! Kau yang menghasut Changsheng! Kau yang membuatnya menjadi baj*ngan kurang ajar yang—”


Sebuah tamparan mendarat di wajah wanita tersebut, menghentikan rentetan makian yang hampir saja keluar. “Diam!” bentak sang algojo dengan berani. “Apakah nama Kaisar sesuatu yang bisa kau panggil dengan sembarang?!”

__ADS_1


Wu Fenghong melirik wanita di atas panggung dengan mata dingin, ekspresi di wajahnya terlihat acuh tak acuh. Dia berjalan menghampiri wanita itu, lalu berdiri menjulang di hadapannya.


“He Wudi,” panggil Wu Fenghong dengan aura dominan yang menyelimuti dirinya, membuat wanita di hadapannya itu memasang ekspresi tertekan. “Setelah semua yang kau korbankan, apa kau masih belum sadar bahwa dalang kehancuranmu, juga kematian Changsheng … adalah dirimu sendiri?”


Ucapan Wu Fenghong membuat He Wudi menggertakkan giginya, dan wanita itu pun menyemburkan makian, “Omong kosong! Kalau bukan karena dirimu, maka Changsheng akan tetap hidup! Kerajaan ini akan tetap menjadi miliknya!”


Mendengar balasan He Wudi, sebuah senyuman terlukis di wajah Liang Fenghong, sebuah senyuman penuh ejekan dan kepahitan. “Tidak ada obat maupun tabib yang bisa menyelamatkanmu,” ujarnya seraya berbalik. Dia pun menambahkan, “Melihatmu seperti ini … sungguh melegakan.” Pria itu membatin, ‘Paling tidak, aku tidak akan merasa bersalah kepada Changsheng.’


Melihat kepergian Wu Fenghong, sang pejabat yang berada di atas panggung pun langsung tahu mengenai apa yang harus dilakukan. Dia melemparkan papan kayu sepanjang delapan inci ke depan panggung, tanda bagi algojo untuk melaksanakan tugasnya.


Sang algojo pun dengan kasar menarik ikatan pada tangan He Wudi, menyeretnya dengan paksa untuk kemudian menekan kepalanya ke atas papan eksekusi.


“Lepaskan aku! Lepaskan aku!” teriak He Wudi penuh amarah. Wanita itu melirik ke arah Wu Fenghong yang berjalan pergi meninggalkan lapangan eksekusi. “Wu Fenghong! Aku mengutukmu! Aku mengutuk—!”


Suara tulang yang dipatahkan dan daging yang terkoyak membuat semua orang terkesiap. Dentuman rendah akibat kepala yang menggelinding di atas tanah membuat rambut di belakang leher para penonton berdiri.


***


“Yang Mulia!”


Teriakan yang diarahkan padanya membuat Wu Fenghong menengadahkan kepalanya. Dia yang baru saja tiba di depan gerbang halaman aula utama istana mendapati satu sosok berlari menghampiri dirinya.


“Shen Qingyuan,” panggil Wu Fenghong dengan nada lemah, masih merasa bersalah atas ketidakmampuannya untuk menyelamatkan keluarga sahabatnya itu. “Eksekusi telah dilaksanakan,” jelasnya. “Wanita itu sudah mati.”


Shen Qingyuan yang awalnya memasang wajah panik sekilas menampakkan ekspresi sendu. Pria itu tersenyum pahit, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Itu tidak penting,” ujarnya seraya menyodorkan sebuah dokumen ke hadapan sang kaisar. “Berita dari Shi.”

__ADS_1


Kening Wu Fenghong berkerut, dan dia pun dengan cepat meraih gulungan kertas tersebut. “Huang Wushuang …,” napasnya sedikit tertahan, “… menjadi permaisuri?!”


***


“Aku yakin kau tahu kelanjutannya,” ujar Liang Fenghong, menatap Huang Miaoling yang memandangnya dengan tatapan penuh kejutan. Dia yakin wanita itu tahu bahwa Wang Chengliu berusaha menjatuhkan keluarga Huang dan mengambil alih pasukan Huang dengan menyingkirkannya.


‘Kaisar … Fenghong?’ batin Huang Miaoling, merasa jantungnya berpacu karena rasa takut yang perlahan timbul dalam dirinya. “Alasan kau meninggalkan Shi bukan hanya karena Wang Chengliu berniat membunuhmu, tapi juga karena kau harus meraih kembali takhta Kerajaan Wu dari tangan He Wudi?” tanya wanita itu dengan hati-hati.


Anggukan kepala diberikan oleh Liang Fenghong, mengiyakan pertanyaan Huang Miaoling. Walau sebenarnya masih banyak hal yang dia lewatkan, tapi dia merasa hal itu tidak penting.


Liang Fenghong mengatakan, “Setelah satu tahun, aku berhasil meraih kembali takhta … tapi aku tidak berhasil menyelamatkanmu.” Kedua tangan pria itu mengepal erat.


Huang Miaoling terdiam, teringat dengan detik-detik terakhir kematiannya di kehidupan lalu. “Di kehidupan berikutnya, aku, Huang Miaoling, akan membalas semuanya …!” Itu adalah kalimat terakhir yang dia ucapkan. Namun, ada satu kalimat lain yang dibisikkan oleh hati kecilnya. ‘Maaf, aku tak lagi kuat menunggu.’


Pening menyerang Huang Miaoling, membuat wanita itu menyentuh pelipis dan menutup matanya. Napasnya sedikit memburu, mengiringi benaknya yang berputar cepat.


“Ling’er,” panggil Liang Fenghong, merasa takut dengan apa yang muncul di dalam benak wanita itu. Dia menjulurkan tangannya, tapi Huang Miaoling menepisnya. “Ling’er,” panggilnya lagi dengan nada memohon.


“Jangan. Kumohon, berikan … berikan aku waktu,” ujar Huang Miaoling seraya berusaha mengendalikan emosinya. Wanita itu menautkan alisnya, teringat akan sebuah mimpi yang sempat menyelinap ke dalam tidurnya. “Kau bergegas pergi menuju Shi setelah mendengar berita itu, lalu dengan kerja sama antara Kakak Pertama dan dirimu, kau menyelamatkannya … dan juga—” ucapannya berhenti sesaat, “—dan juga apa yang tersisa dari diriku?”


Pada saat ini, Liang Fenghong yang menampakkan ekspresi terkejut. “Bagaimana—” dia tersadar akan sesuatu, lalu menampakkan wajah muram.


Melihat hal ini, Huang Miaoling langsung mengerti bahwa Liang Fenghong tahu sesuatu. Namun, dia masih memiliki sejumlah pertanyaan lain, “Lan’er, bagaimana dengannya? Bagaimana kalian bisa bertemu? Bagaimana dia bisa memutar waktu? Siapa dia?”


___

__ADS_1


A/N: Ada surprise


__ADS_2