
“Wang Junsi … masih hidup?” Wu Fenghong menatap gadis bersurai cokelat itu dengan mata terpana. Namun, beberapa detik kemudian ekspresinya berubah mengerikan, “Jangan kau berani menipuku.”
Lan’er menyodorkan sebuah gulungan kertas kepada Xiaoming yang masih berdiri di hadapan Wu Fenghong, menghalangi gadis tersebut untuk berbuat macam-macam kepada sang kaisar. Selagi Xiaoming menerima dan membaca cepat isi kertas tersebut, gadis itu menjelaskan, “Sewaktu kalian sibuk dengan perang internal kerajaan sendiri, ada kerajaan lain yang mengalami hal yang tak jauh berbeda.”
Xiaoming membelalakkan matanya, lalu mencengkeram surat tersebut dengan erat. “T-tidak mungkin!” Dia dengan cepat berbalik dan memberikannya pada sang pemimpin. “Tubo Sha membunuh Tubo Yun dan berniat menggulingkan Raja Tubo Zhen!” serunya membuat Wu Fenghong meraih kertas dengan kasar dan membaca isinya.
Selesai membaca isi surat yang menjelaskan mengenai kudeta Tubo Sha yang gagal—yang mana pria itu berakhir di tangan sang ayah, Tubo Zhen—Wu Fenghong mengangkat pandangannya. “Apa hubungannya ini dengan Wang Junsi?” tanyanya.
Sebuah senyuman tipis terlukis di wajah Lan’er. “Bisa dikatakan bahwa Tubo Zhen melakukan transaksi denganku, dan aku memberikannya sebuah jalan keluar,” ujar gadis itu, penuh dengan teka-teki.
Awalnya, tak ada yang mampu mengerti maksud dari gadis bernama Lan’er itu. Akan tetapi, mendadak Wu Fenghong mengerutkan keningnya. “Kau menyelamatkan Wang Junsi agar ada seseorang yang bisa meneruskan takhta Tubo Zhen?”
Lan’er memiringkan kepala, merasa tertarik dengan kecerdasan pria di hadapannya. “Cukup dekat,” balas gadis itu. “Aku menjanjikannya keturunan,” imbuhnya membuat Wu Fenghong menampakkan wajah bingung.
“Siapa dirimu? Bagaimana kau memiliki kemampuan untuk melakukan itu?” tanya Meihua yang merasa tidak nyaman dengan sikap Lan’er yang begitu mendominasi, bahkan melebihi Wu Fenghong, sang kaisar sendiri.
Lan’er menggelengkan kepalanya, “Itu bukan pertanyaan yang penting,” tepisnya. Dia menatap sejumlah orang di hadapannya dengan tenang dan berkata, “Intinya, aku adalah orang yang mampu memenuhi sebuah permintaan dengan bayaran yang sepadan.” Senyuman di wajahnya semakin mendalam seiring dirinya berujar, “Aku mampu menyelamatkan Huang Miaoling.”
Ucapan Lan’er membuat semua orang di dalam ruangan itu membelalak, terutama Wu Fenghong yang seperti menemukan harapan. “Bagaimana—”
Gadis bersurai cokelat itu tidak berniat memberikan Wu Fenghong waktu untuk mengatakan hal lain, “Tapi apakah kau bersedia memberikan hal paling berharga yang kau miliki?” tanyanya dengan mata tajam.
Detik berikutnya, ekspresi terkejut digantikan dengan ekspresi waspada. “Apa jaminan kau mampu melakukan hal tersebut?” tanya Mudan dengan alis bertaut, sangat curiga pada gadis berpenampilan aneh yang entah muncul dari mana itu. Matanya sesekali menatap pintu ruangan yang masih terkunci rapat, tak menunjukkan tanda-tanda pernah dibuka sebelumnya. ‘Bagaimana caranya masuk?’
Sementara itu, Wu Fenghong membatin, ‘Kalau Wang Junsi sungguh masih hidup di luar pengetahuan semua orang—termasuk Wang Chengliu—akibat bantuan gadis ini, maka mau tidak mau harus kuakui bahwa Lan’er ini sungguh memiliki kemampuan.’ Dia mengepalkan tangannya. “Aku yakin kau tahu bahwa transaksi tidak dapat dilakukan selagi didasari omong kosong, bukan?”
Lan’er terkekeh dengan sikap waspada orang-orang di hadapannya itu. Gadis itu berbalik dan membuka pintu ruangan, membuat sejumlah prajurit yang berjaga di dekat teras berbalik dan terkejut dengan sosoknya yang asing. Selain Wu Fenghong—sang kaisar—dan juga para bawahannya, tak ada orang lain yang pernah melewati pintu tersebut.
Mengabaikan tatapan aneh para prajurit, Lan’er berkata tanpa menatap Wu Fenghong dan para bawahannya, “Aku ingin kalian persiapkan segalanya dalam tiga hari untuk menyerang Shi.” Dia berjalan keluar, menjauhi ruang pertemuan di markas militer tersebut, seraya berkata, “Di hari ketiga perjalanan kalian, aku pastikan kalian akan bertemu dengan rombongan dari Tubo.”
Wu Fenghong membalas, “Apa bayaran yang kau inginkan?” pertanyaannya membuat para bawahannya—terutama Meihua—membelalak kaget, terkejut karena sang pemimpin sungguh mempertimbangkan ucapan gadis aneh dengan identitas mencurigakan itu.
Lan’er menoleh ke belakang, dan mendadak angin berhembus kencang. Semua orang membeku di tempat ketika melihat sebagian tubuh gadis itu, dimulai dari ujung jari-jarinya yang lentik, perlahan berubah menjadi kelopak bunga yang kemudian terbang tertiup angin.
Tanpa keberadaan dirinya di tempat tersebut, Lan’er membisikkan jawabannya di benak Wu Fenghong, “Takdirmu.”
***
“Heh,” Huang Miaoling tak bisa menahan diri dari tersenyum mengejek. ‘Sungguh khas Lan’er,’ pikirnya. ‘Cara yang begitu sombong.’ Tak lama, senyumannya berubah pahit. “Namun, langit sepertinya tidak mengizinkan kalian tiba tepat waktu.”
__ADS_1
Pada akhirnya, Huang Miaoling tetap mati secara menyedihkan. Sebagai seorang istri dan juga mantan permaisuri, harga dirinya diinjak-injak. Di sisi lain, sebagai seorang anak dan saudari, hatinya ditenggelamkan dalam penyesalan.
“Tidak,” balas Liang Fenghong dengan wajah sendu. “Sedari awal … Lan’er memang tidak berniat menyelamatkan … dirimu di masa itu.”
Mendengar hal ini, Huang Miaoling tak elak mengerutkan keningnya. “Apa?”
“Gadis itu … memiliki tujuan lain,” tutur Liang Fenghong.
Alis Huang Miaoling bertaut, mempertanyakan maksud suaminya. “Tujuan lain?” tanyanya. Dia memutar otak, mencari-cari tujuan sang gadis bersurai cokelat. ‘Selain A Feng dan diriku, hanya ada satu orang lain yang memiliki hubungan cukup erat dengan Lan’er dan Lu Si,’ tangan wanita itu mengepal erat, “Wang Chengliu.”
Ucapan Huang Miaoling membuat Liang Fenghong menganggukkan kepalanya. Benak pria itu berputar, mengingat kala dirinya berhasil menembus pertahanan Kerajaan Shi untuk menyelamatkan Huang Yade dan Huang Miaoling. Tak pernah dia sangka bahwa keberhasilannya hanya akan diberikan imbalan berita yang begitu memilukan.
***
Suara terkekeh keluar dari bibir pria berwajah tampan itu, penampilannya yang biasa begitu mulia berubah menyedihkan. Mahkota yang biasa bertengger di atas kepalanya telah tergeletak di lantai aula kehormatannya, kotor dan terinjak-injak serupa harga dirinya saat ini.
“Tak kusangka rumor itu benar, Wu Fenghong … adalah Jiang Feng,” tutur Wang Chengliu selagi menengadah, mencoba memberikan jarak antara lehernya dengan pedang yang dihunuskan oleh lawannya. “Begitu banyak pengorbanan dan darah kau tumpahkan, hanya demi seorang wanita yang telah menjadi istri pria lain! Kau—” ucapan pria itu terhenti ketika merasakan besi dingin menempel pada lehernya, menyayat kulitnya. “Sungguh sia-sia,” tambahnya.
Mendengar ucapan Wang Chengliu, Wu Fenghong yang berdiri menjulang di hadapan pria itu memasang sebuah senyuman lebar, terlihat begitu gila. Buku-buku jarinya yang mencengkeram pangkal pedangnya terlihat memutih akibat tenaga yang dia kerahkan.
“Dibandingkan dengan kenyataan kau menyia-nyiakan satu-satunya orang yang menyayangimu dengan tulus, menukarnya dengan kekuasaan yang membuatmu dikelilingi manusia bermuka dua, aku tidak merasa tindakanku sia-sia,” balas Wu Fenghong. “Kau bahkan mengorbankan dua saudara yang masih menyimpan kasih sayang untukmu.”
“Begitukah aku di matamu, Adik Keenam?”
Mendengar ucapan tersebut membuat Wang Chengliu menoleh cepat ke arah pintu aula utama yang terbuka lebar. Mata pria itu membelalak melihat sosok Wang Junsi melangkah masuk dengan gagah selagi tubuhnya dibalut pakaian besi. “Wang … Junsi?”
Sebuah senyuman mengejek penuh kebencian terlukis di wajah Wang Junsi, “Lama tak berjumpa, Saudara.” Setelah mengetahui usaha Wang Chengliu untuk membunuhnya, jelas Wang Junsi tak bisa memandang saudaranya itu dengan kasih sayang lagi.
Mendadak, tawa keras bergema di ruangan itu. Semua orang menatap aneh ke arah Wang Chengliu yang—alih-alih takut dan putus asa—malah tertawa puas.
“Luar biasa! Luar biasa!” seru Wang Chengliu dengan keras di sela-sela tawanya. “Sepertinya, langit sungguh tidak rela membiarkan duri-duri dalam dagingku mati dengan begitu mudah!” imbuhnya.
“Jiwanya tidak lagi sehat,” tutur Wang Junsi sembari menatap jijik ke arah saudaranya itu.
Wang Chengliu mengabaikan hinaan Wang Junsi dan menghela napas. Dia melirik saudara keempatnya itu. “Kau datang kemari untuk mengambil kuasa atas Kerajaan Shi?” tanyanya. “Kau beruntung, kau masih mampu mendapatkannya.” Lalu, dia menoleh ke arah Wu Fenghong. “Sebaliknya, kau sia-sia datang kemari.”
Mendengar hal itu, Wu Fenghong menampakkan wajah mengerikan. “Apa maksudmu?”
Tepat pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dari luar aula utama. Semua orang menoleh dan mendapati sosok Huang Yade menembus pintu aula utama selagi menunggang kuda, tak peduli dengan karpet mewah yang kotor akibat tindakannya itu. Bersamanya, terlihatlah sosok Huang Miaoling yang tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Miaoling!” Wu Fenghong segera meninggalkan Wang Chengliu dan menghampiri Huang Yade. Wang Junsi yang melihat hal itu dengan sigap menghunuskan pedang ke arah saudaranya, menggantikan sang Kaisar Wu untuk menjaga gerak-gerik pria itu.
Ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Huang Miaoling, jantung Wu Fenghong terasa berhenti. Dalam pelukannya itu … wanita dalam pelukannya itu … bukan seorang hidup. “Huang … Miaoling?”
Tak ada jawaban.
Huang Yade turun dari kuda selagi berteriak, “Di mana gadis itu?!” Dia memperjelas, “Di mana Lan’er?!”
“Lan’er?”
Walau dia sempat sibuk memperhatikan Wu Fenghong dan Huang Miaoling yang tak sadarkan diri, Wang Junsi tak elak melirik ke arah tawanannya, Wang Chengliu. Ucapan dengan nada tanya yang terlontar dari saudaranya itu menunjukkan bahwa … nama tersebut tak asing baginya.
“Kau mengenalnya?” tanya Wang Junsi, merasa reaksi Wang Chengliu cukup mencurigakan. “Sang Gadis Bersurai Cokelat?”
Mendengar pertanyaan Wang Junsi, juga panggilan yang dia gunakan untuk menyebutkan Lan’er, membuat Wang Chengliu memasang ekspresi mengerikan. Hal tersebut membuat Wang Junsi yakin bahwa saudaranya itu mengenali sang gadis misterius.
Namun, apa hubungan mereka?
Melihat Huang Yade dan Wu Fenghong menampakkan wajah panik dan ketakutan, Wang Chengliu pun tersenyum mengejek dan terkekeh. “Huang Miaoling sudah mati, apa kalian masih belum mengerti?” Dia tertawa keras, lalu menambahkan, “Yang lebih menyedihkan adalah … sang adik tercintalah yang membunuh dirinya.” Dia jelas merujuk pada Huang Wushuang.
Mendengar hal ini, Huang Yade menoleh cepat ke arah Wang Chengliu. Pandangan yang dilemparkan sang menteri pertahanan itu jelas adalah pandangan membunuh.
“Baj*ngan!” teriak Huang Yade seraya mendaratkan sebuah tinju di wajah Wang Chengliu. “Teganya kau melakukan ini pada Ling’er! Setelah semua yang dia lakukan, kau malah—!”
Sebelum Huang Yade menyelesaikan ucapannya, sebuah pedang mendadak melesat melalui sisi tubuhnya. Pedang tersebut berlanjut melesat ke depan dan mengoyak pakaian kehormatan Wang Chengliu, lalu menembus dadanya.
Semua orang terkejut, terutama Wang Chengliu yang tidak menduga serangan mendadak tersebut. Dia menengadahkan kepalanya dan terbelalak saat mendapati sosok familier yang berdiri menjulang di hadapannya sekarang.
“K-kau ….” Dari suaranya, kentara bahwa Wang Chengliu berusaha keras untuk menahan sakit. “L-Lan’er … kenapa …?”
Lan’er memandang Wang Chengliu dengan wajah pahit, lalu dia menarik keluar pedang tanpa keraguan dari tubuh pria itu, membiarkan darah mengalir turun dan perlahan membasahi pakaian sang Kaisar Shi. Kemudian, gadis itu menancapkan pedang ke lantai dan jatuh berlutut, darah perlahan keluar dari sisi bibirnya.
Tubuh Wang Chengliu tak mampu menunggu Lan’er mengutarakan jawabannya. Pria itu terjatuh ke samping dengna mata tetap terbuka, menatap gadis di hadapannya dengan penuh tanya. Kentara bahwa ada sejuta pertanyaan yang ingin Wang Chengliu tanyakan, tapi hanya satu yang paling ingin dia tanyakan.
‘Setelah semuanya … aku hanya mendapatkan akhir seperti ini?’
___
A/N: Maap kemaleman. Teehee.
__ADS_1