
Huang Miaoling menatap wajah pria yang terbaring di tempat tidur itu dengan saksama. Jari-jarinya yang lentik mengesampingkan sejumlah helai rambut di dahi suaminya.
Sembari berbaring di sisi Liang Fenghong yang tertidur, pandangan Huang Miaoling menggerayangi wajah sang suami. Hatinya merasa pedih ketika melihat jalur air mata yang membekas di pipi pria tersebut.
Huang Miaoling mengepalkan tangannya. ‘Dia jelas kembali untuk melawan takdir, tapi kenapa … kenapa pada akhirnya dia tetap kehilangan saudaranya?’ Dia ingin menyalahkan sesuatu … seseorang … apa pun itu. Namun, dia merasa satu kalimat menghantuinya. ‘Karma … adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari.’
Ingin rasanya Huang Miaoling memaki Lu Si karena telah membuat Liang Fenghong menderita seperti ini. Akan tetapi, dia juga berterima kasih karena pria itu berakhir menyelamatkan suaminya … bahkan bila Wu Huatai yang berakhir kehilangan nyawa.
‘Aku begitu egois,’ bisik Huang Miaoling dalam hatinya. Dia menutup mata erat-erat sembari mencium telapak tangan suaminya. ‘Namun, aku bersyukur kau kembali.’
Betapa pun dirinya sempat merasa terkhianati akibat banyaknya rahasia yang Liang Fenghong sembunyikan, tapi Huang Miaoling juga sadar jelas bahwa pengorbanan yang telah pria itu lakukan begitu besar. Mengulang kematian sang saudara untuk yang kedua kalinya, semua itu tak akan terjadi kalau bukan karena Liang Fenghong memutuskan untuk memutar waktu dan menyelamatkan dirinya.
Akan tetapi, satu pertanyaan bergantung di benak Huang Miaoling. ‘Apa … takdir sungguh tidak bisa diubah?’ Alisnya tertaut dan keningnya berkerut. ‘Wu Rongya tetap berakhir kehilangan nyawa, Wu Huatai juga. Kaisar Weixin berada di ambang kematian, sedangkan Kakak Kedua, Wang Xiangqi, dan Wang Junsi sama sekali tidak diketahui keadaannya.’ Satu tetes air mata mengalir turun pada wajah Huang Miaoling. ‘Mungkinkah … aku pun akan berakhir sama?’
Huang Miaoling membuka matanya, lalu dia memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Dia berjalan menuju meja yang berada di sisi kiri ruangan untuk kemudian menuliskan sesuatu. Setelahnya, dia merapikan penampilan dan meninggalkan ruangan.
Belum ada dua langkah sejak dirinya meninggalkan pintu, sebuah suara memanggilnya, “Nyonya.”
Huang Miaoling menoleh dan mendapati sosok familier menghampirinya. “Qiuyue,” balasnya dengan pandangan yang sedikit kosong. “A Feng sedang beristirahat, perintahkan semua orang untuk menjauhi ruangan.”
Melihat mata merah majikannya, Qiuyue bergumam, “Kau menangis.” Kerutan terbentuk pada keningnya. “Apa Tuan menyakiti—”
Kepala Huang Miaoling bergeleng. “Tidak, tentu tidak,” balasnya seraya menarik napas, merasa ada begitu banyak hal yang perlu diselesaikan. Dia pun melanjutkan langkahnya sembari berkata, “Antar aku ke satu tempat.”
***
“Apa katamu?!” Suara Huang Qinghao terdengar menggelegar, menampakkan keterkejutan atas pesan yang baru saja disampaikan oleh bawahannya. Dia memijit pelipisnya, merasakan kepalanya pening. “Baj*ngan itu sungguh-sungguh ….”
Di sisinya, Huang Yade yang terduduk di kursi dengan luka di beberapa sisi wajahnya terlihat menutup mata. Kemudian, dia mengibaskan tangannya kepada prajurit pembawa pesan tersebut, “Pergi dan beristirahatlah, kau sudah melakukan pekerjaanmu.”
Prajurit pembawa pesan itu memberi hormat kepada Huang Yade. “Terima kasih, Menteri Huang, Jenderal Besar Huang. Hamba mengundurkan diri.”
Sepeninggalan prajurit tersebut, terdengar sejumlah langkah kaki dari arah luar ruang tengah kediaman Huang di Jingcheng itu. Sosok Huang Junyi dan Huang Hanrong memperhatikan ekspresi suram yang ditunjukkan saudara pertama dan ayah mereka.
“Ada berita apa?” tanya Huang Junyi, merasa yakin bahwa berita kali ini adalah berita buruk.
Huang Yade melirik kedua saudaranya dan menjawab, “Wang Chengliu telah dinobatkan sebagai Kaisar.”
__ADS_1
Berita ini membuat Huang Hanrong dan Huang Junyi mengerutkan kening. “Bagaimana mungkin? Kaisar belum dinyatakan meninggal, bagaimana mungkin mereka mengangkat orang lain untuk—” Huang Hanrong menghentikan ucapannya. Dengan ekspresi diselimuti kengerian, dia bergumam, “Dia … apa yang dia lakukan?”
Mendadak, sebuah suara dari luar ruangan berkumandang, “Keluarga Huang telah dibutakan oleh keserakahan dan berakhir mengambil nyawa sang Putra Langit. Tindakan mereka adalah sebuah pengkhianatan terhadap keluarga kerajaan. Dengan demikian, mereka akan dieksekusi saat mereka ditemukan.”
Semua orang beralih ke arah pintu masuk dan terbelalak ketika menemukan sosok Huang Miaoling berjalan masuk dengan wajah tak berekspresi.
“Ling’er!” seru Huang Qinghao yang langsung berdiri dari kursinya diikuti oleh Huang Yade.
Sementara itu, tanpa mengatakan apa pun Huang Junyi langsung berlari dan memeluk kakak ketiganya itu, mengejutkan Huang Miaoling. “Jangan khawatir, aku sudah baik-baik saja,” ujar wanita itu sembari menepuk punggung adiknya.
Mendengar Huang Miaoling, Huang Junyi merasa lidahnya kelu. Dia melepaskan pelukannya dan menatap saudaranya itu dengan marah.
“Jangan khawatir” Alis kanan Huang Junyi meninggi. “Kakak tidak tahu betapa mengerikannya kondisimu dua hari yang lalu!” ujarnya. “Ditambah dengan sikap Kakak Ipar Ketiga yang menghalangi kami dari menemuimu, bagaimana mungkin kami tidak khawatir!?”
Seruan Huang Junyi bergema di dalam ruangan, tapi Huang Yade tidak menyuarakan protes sedikit pun. Lagi pula, saudaranya itu mewakilkan dirinya mengatakan ketidakpuasan dalam hatinya. Liang Fenghong memang suami dari Huang Miaoling, tapi dia tidak seharusnya menghalangi mereka dari melihat keadaan wanita tersebut!
Di sisi lain, Huang Qinghao hanya terdiam. Huang Miaoling telah menikah ke dalam keluarga Liang, dan hal itu berarti keluarga Huang tidak memiliki hak untuk melawan keputusan Liang Fenghong yang memiliki status sebagai suami wanita itu. Selain itu … Huang Qinghao tahu apa yang membuat Liang Fenghong bersikap demikian.
“Jangan berbuat onar,” tegur Huang Qinghao dengan wajah kesulitan. “Kau tidak tahu apa yang kakak ipar ketigamu rasakan.”
Berusaha menepiskan suasana tegang, Huang Miaoling berkata, “Setiap orang memiliki kesulitannya masing-masing, aku harap kalian mampu memahami hal tersebut. Dan perihal sikap A Feng,” Huang Miaoling membungkukkan tubuhnya, membuat semua orang terkejut, “aku mewakilinya untuk meminta maaf.”
Huang Miaoling tersenyum tipis, lalu menjawab, “Aku tidak akan membenarkan sikap suamiku, tapi sebagai istrinya, kesalahannya adalah kesalahanku.”
Di saat ini, Huang Hanrong bergegas menarik Huang Junyi yang siap berdebat. Pemuda itu menganggukkan kepalanya berkali-kali seraya berkata, “Benar, Kakak Ketiga benar. Kita harus bersikap pengertian.” Dia menekan pundak Huang Junyi, mengisyaratkan agar adiknya itu mengalah. “Bocah, kau masih terlalu kecil untuk berdebat tentang pernikahan,” bisiknya di telinga sang adik.
Karena satu masalah berhasil ditekan—walau untuk sesaat—Huang Miaoling mengembalikan pembicaraan kepada topik utama, “Jadi, apa Wang Chengliu sungguh menyampaikan amanat seperti yang kukatakan?”
Huang Yade menghela napas dan mengarahkan tangannya ke satu kursi kosong, mempersilakan saudarinya itu untuk duduk. “Dia memfitnah kita di hadapan rakyat Zhongcheng.”
“Rakyat Zhongcheng tidak mungkin mempercayainya, bukan?” Huang Hanrong bertanya seraya memaksa adiknya untuk duduk.
“Rakyat Zhongcheng mengenal kita, jelas mereka tidak akan semudah itu percaya. Namun, apa Kerajaan Shi hanya memiliki satu kota saja?” balas Huang Yade.
Di saat ini, Huang Junyi memberanikan diri mengutarakan kenyataan pahit, “Kakak Kedua masih belum ditemukan keberadaannya, Kakek tidak bisa lagi berpartisipasi dalam perang dengan luka yang dia derita, Kakak Ketiga memang sudah sadar, tapi kondisi Kakak Ipar Ketiga sedikit mengkhawatirkan. Tak hanya itu, sekarang pemerintahan daerah jelas tidak akan mendukung kita.” Pemuda itu mengalihkan pandangan kepada ayah dan kakaknya. “Situasi kita … tidak begitu baik, bukan?”
Huang Miaoling mengepalkan tangannya. Hatinya sakit ketika teringat dengan kenyataan bahwa masih belum ada kabar perihal Huang Jieli, Wang Junsi, dan juga Wang Xiangqi. Namun, ada satu hal dari cerita Liang Fenghong yang menimbulkan harapan dalam dirinya.
__ADS_1
“Namun, dengan keberadaan keluarga kerajaan di Jingcheng, bukankah kita bisa membuktikan bahwa kita berada di pihak kebenaran?” tanya Huang Hanrong seraya menuangkan teh untuk dirinya sendiri.
Melihat sang ayah memberikan isyarat untuk duduk, Huang Miaoling memberi hormat sebelum akhirnya berjalan ke salah satu kursi. “Keluarga kerajaan memang berada bersama kita, tapi menggunakan mereka sebagai bukti bukanlah sebuah pilihan,” ujarnya.
“Kenapa demikian?” Huang Hanrong tak mengerti.
“Karena itu adalah hal yang Wang Chengliu inginkan,” balas Huang Miaoling sembari menatap adiknya. “Tidak semua pejabat memiliki kesetiaan yang kuat. Kalaupun mereka setia, tapi situasi akan memaksa mereka untuk berkhianat.”
Penobatan Wang Chengliu sebagai kaisar jelas akan mengundang kemunculan partai oposisi. Namun, dengan kekuatan yang pria itu miliki saat ini, dia bisa dengan mudah menekan lawannya. Dia akan memaksa pejabat setia untuk berkhianat dan mengundang pejabat korup untuk menjadi kawan.
“Kalau kita berusaha membuktikan diri kepada sejumlah kepala daerah bahwa keluarga kerajaan berada bersama kita, hal itu sama saja membuka jalan bagi pihak Wang Chengliu untuk mencelakai mereka,” jelas Huang Miaoling seraya menggelengkan kepala. “Mata-mata akan dengan mudah masuk, terutama karena selain Jingcheng, kita tidak memiliki kerabat dekat di kota lain.”
Mendengar hal ini, Huang Junyi pun mengambil suatu kesimpulan. “Kakak, Wu adalah sekutu kita yang cukup kuat. Karena kau tidak menyebutkannya, maka apakah itu berarti Kaisar Huatai … dia ….”
Huang Miaoling menutup matanya. “Wu tidak dalam kondisi untuk membantu kita,” jelasnya singkat, tidak berani menjelaskan terlalu banyak. Itu adalah hak suaminya. “Satu-satunya harapan kita … adalah ekspedisi Zhou-Shi.”
Huang Hanrong kembali bersuara, “Namun, sampai sekarang kita masih belum menerima berita apa pun ….” Hatinya ingin percaya bahwa sang kakak kedua baik-baik saja. Akan tetapi, otaknya yang berusaha berpikir logis mengatakan … kemungkinan besar sang kakak kedua telah gugur.
Tepat pada saat itu, terdengar suara teriakan yang semakin lama semakin mendekat, “Lapor! Laporan dari perbatasan!”
Teriakan itu membuat seisi ruangan mengalihkan pandangan ke arah seorang prajurit pengantar pesan lain. Berbeda dengan anggota keluarganya, Huang Miaoling tidak terlihat terkejut dengan hal tersebut. Dia malah beralih menghitung sesuatu dengan jari-jari lentiknya.
Ketika sampai di dalam ruangan, prajurit tersebut berlutut dan memberi hormat. “Jenderal Besar, perbatasan mengirimkan pesan!” Dia dengan cepat memberikan sebuah surat kepada Huang Qinghao.
Huang Qinghao membuka surat itu dengan kasar, lalu membaca isinya. Hal tersebut diikuti dengan kerutan dalam yang terbentuh di dahinya. “I-ini—”
Mata Huang Miaoling melirik ekspresi sang ayah, dan dia pun mengepalkan tangannya. ‘Mungkinkah …?’
___
A/N:
Huang Hanrong: Bocah, kau masih terlalu kecil untuk berdebat tentang pernikahan
Huang Junyi: Says YOU!
Me di atas pohon yang lagi bersante: helah, dua bocah aja sok-sokan dewasa
__ADS_1
Btw, karena lagi kangen ama kalian semua, jadi gue mau jawab 10 pertanyaan pertama yang diajukan hari ini! Monggo diajukan di komen.