Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 56 Ayah Tetaplah Ayah


__ADS_3

A/N: Sangat disarankan baca setelah update besok, feelnya lebih dapet--harusnya


____


“Ling’er,” panggil Liang Fenghong dengan mata yang masih tertuju pada Huang Miaoling. Sangat jelas di mata semua orang bagaimana pria itu telah ditawan oleh kecantikan yang disuguhkan di hadapannya.


Baru saja Liang Fenghong mengambil satu langkah, para gadis di halaman itu segera berdiri dan menghalanginya.


“Aiya, tidak semudah itu, Tuan Muda Liang,” ujar Wei Xiaomei sembari terkekeh. “Kau mungkin melewati para pria, tapi belum dengan para wanita.”


“Kain merahnya!” teriak Wang Qiuhua.


Selagi Wei Xiaomei dengan berani menghadang Liang Fenghong, Qiuyue segera meraih kain merah untuk menutup kepala dan wajah Huang Miaoling.


“Apa yang para pria itu lakukan? Kenapa dia bisa datang begitu cepat?!” gerutu Wang Qiuhua yang juga ikut membantu menutup wajah Huang Miaoling. ‘Beruntung tidak ada pria lain yang sempat melihat.’


Kening Liang Fenghong berkerut menghadapi Wei Xiaomei dan para gadis lainnya, dia sendiri bingung dengan apa gunanya kain merah yang menutupi wajah Huang Miaoling. Dia sudah mengetahui wajah calon istrinya, tak ada gunanya lagi menyembunyikan hal tersebut.


Namun, setelah dipikirkan dengan baik, Liang Fenghong tidak akan protes. Apabila pria lain melihat kecantikan Huang Miaoling, dia khawatir pernikahannya sungguh tak akan berjalan dengan mulus, terutama setelah apa yang terjadi di malam yang lalu.


Berbeda dari biasanya, ekspresi yang ditampakkan sang Tuan Muda Liang itu tidak membuat para wanita ketakutan, melainkan semakin girang. Hal tersebut mungkin didukung oleh pakaian cerah dan ketampanan pria itu yang semakin mencolok. Sebagian besar dari para gadis itu tertawa kecil, mungkin merasa semakin bersemangat menggoda.


“Yo, ganas sekali!” Wei Xiaolan berceletuk. “Calon ipar keluarga Huang yang satu ini telah tersihir kecantikan Miaoling. Lihat bagaimana dia begitu terburu-buru untuk membawanya pergi!” godanya.


Tepat pada saat itu, kerumunan pria yang tadi tertinggal di belakang tiba. “L-larinya cepat sekali!” ujar Huang Jieli sembari terengah-engah karena mencoba mengimbangi kecepatan Liang Fenghong.


“Apa kalian sungguh telah menghalangi pengantin pria?” tanya Wei Xiaomei dengan ragu. “Atau kalian sudah ‘dibeli’ olehnya?” Saudara sepupunya itu adalah seorang wakil jenderal, bagaimana mungkin dia kalah dibandingkan Liang Fenghong yang berprofesi sebagai saudagar dan juga tabib ini?


Perdebatan terjadi di antara kubu wanita dan pria untuk beberapa saat. Namun, Liang Fenghong sama sekali tidak memedulikan mereka. Matanya hanya tertuju pada sosok Huang Miaoling yang sekarang kepalanya telah tertutup oleh kain merah.

__ADS_1


Setelah mendengarkan penjelasan Huang Jieli, akhirnya Wei Xiaolan berkata, “Puisi?” Sebuah senyuman menghiasi wajahnya. “Mengenai bagus atau tidak, aku tak percaya pada penilaian kalian para pria. Oleh karena itu, aku ingin mendengarnya sendiri!” Dia menoleh pada Liang Fenghong. “Tuan Muda Liang, silakan ulangi puisimu tadi!”


Kala itu, Wei Shulin sempat terperangah mendengar ucapan adiknya. Bisa-bisanya gadis itu merendahkan para pria! ‘Tidakkah dia sadar ucapannya tidak menunjukkan keluhuran seorang wanita?! Apa dia tidak ingin menikah?!’


Di sisi lain, Liang Fenghong yang tadinya menatap ke arah Huang Miaoling mengalihkan pandangannya pada Wei Xiaolan. “Aku lupa,” jawabnya, membuat semua orang terbengong. Ada sedikit keengganan yang terpancar dari mata pria itu untuk mengulangi puisi yang dia ucapkan tadi.


‘Lupa?’ pikir Huang Miaoling. ‘Tidak biasanya ….’ Lalu, dia sedikit tersenyum. ‘Mungkin, dia malu padaku karena telah menciptakan puisi jelek,’ batinnya.


“Aku ingat! Aku ingat!” seru Huang Hanrong di tengah-tengah kerumunan. “Aku bisa mengulanginya untukmu, Kak Xiaolan!” Tak ada berapa lama sejak dia mengucapkan hal tersebut, pemuda itu melenguh. “Aduh!”


Huang Jieli melotot ke arahnya dengan pandangan memperingati. “Kenapa kau sekarang membantunya, hah?” Huang Jieli tidak bersuara, tetapi dari wajahnya, paling tidak itulah kalimat yang sepertinya ingin diutarakan oleh sang Wakil Jenderal Kerajaan Shi.


“Ayo, Adik Sepupu Kelima, kami semua menunggu!” seru salah seorang saudara perempuan.


Setelah mendapatkan geraman rendah dari Huang Jieli, Huang Hanrong sedikit membungkukkan tubuhnya. Hanya ketika kakak keduanya itu memberikan pertanda mengizinkan barulah dia berani angkat suara.


Dengan sangat lancar, Huang Hanrong mengulangi puisi yang dibuat oleh Liang Fenghong. Di saat yang sama, seluruh tubuh sang Pengantin Pria pun menegang, sedikit khawatir bahwa makna dari puisinya akan terbongkar.


“Puisi ini ….”


Semua orang sedikit terkejut ketika mendengar sosok Huang Miaoling angkat bicara. Mereka mengalihkan pandangan kepada gadis itu, menunggu apa kelanjutan dari ucapan sang Pengantin Wanita.


Dari balik kain merah itu, sebuah senyuman tipis menghiasi bibir merah Huang Miaoling. “Aku … menyukainya.”


Mendengar ucapan gadis itu, Liang Fenghong merasa jantungnya berhenti sesaat. Walau sebuah pujian yang Huang Miaoling utarakan, hatinya malah merasa semakin tidak tenang.


‘Dia … masih memilihku?’


***

__ADS_1


Setelah pengantin wanita dijemput oleh pengantin pria, keduanya diarahkan menuju ruang tengah yang sekarang hanya ditempati oleh para tetua. Huang Liqiang dan Wei Xinhao bersama kedua istri mereka terduduk di dua sisi ruangan, sedangkan Huang Qinghao selaku ayah dari pengantin wanita terduduk di ujung ruangan bagian tengah, menghadap ke pintu masuk. Papan plakat Wei Ningxin terlihat berada di pelukan sang Jenderal Besar.


“Pengantin pria dan pengantin wanita memasuki halaman!”


Mendengar hal tersebut, semua orang segera menoleh ke arah gerbang halaman ruang tengah.


Sosok Liang Fenghong dan Huang Miaoling terlihat berjalan menghampiri ruang tengah, beberapa kerabat dan pelayan terlihat mengiringi mereka. Gaun merah panjang dengan sulaman benang emas menyelimuti tubuh keduanya, membuat pasangan tersebut terlihat sangat anggun dan serasi. Sebuah tali yang terbuat dari kain dipegang erat masing-masing ujungnya oleh kedua pengantin, memberikan makna sang Suami yang memandu sang Istri dalam sebuah pernikahan.


Sesampainya di hadapan para tetua, seorang pelayan mengangkat kain merah yang menutupi kepala Huang Miaoling, mengizinkan dirinya untuk menunjukkan wajah di hadapan keluarganya. Riasan yang ditorehkan membuat gadis itu terlihat sangat menawan, sedikit berbeda dengan kecantikan alami menyejukkan yang biasa diperlihatkan olehnya.


Di kursinya, Huang Qinghao menggenggam erat plakat Wei Ningxin, seakan dirinya sedang menggenggam erat tangan istrinya. Air mata berkumpul di pelupuk matanya. ‘Xin’er, putri kita begitu cantik, bukan?’ bisiknya. ‘Apa kau bisa melihat ini?’ Satu tetes air mata jatuh menuruni wajahnya.


Kedua pengantin memberi hormat tiga kali kepada Huang Qinghao, lalu tiga kali kepada Wei Ningxin. Tindakan tersebut guna meminta restu kepada kedua orang tua dari mempelai wanita.


Kemudian, tibalah waktu bagi Huang Miaoling untuk mengutarakan perpisahannya kepada kedua orang tuanya. “Ayah, Ibu, Miaoling pamit,” ujar Huang Miaoling singkat.


Memang bukan sang Putri yang harus mengutarakan ucapan perpisahan yang panjang, melainkan sang Ayah. Demikian, Huang Miaoling mendengarkan rentetan pesan dari Huang Liqiang, sebagian besar bersangkutan dengan kewajibannya untuk menjadi istri yang patuh dan berbudi luhur. Hal tersebut diikuti dengan wejangan sang Ayah bagi calon suaminya, memperingatkan Liang Fenghong untuk melindungi dirinya dari segala luka, entah itu batin maupun fisik.


“Kala kau membuatnya menitiskan air mata, maka itu adalah hari terakhir kau melihat dirinya di kediamanmu,” ancam Huang Qinghao dengan mata membara, tidak bermain-main dengan ucapannya.


Liang Fenghong membungkuk dengan hormat. “Pesan Ayah Mertua akan Fenghong ingat selalu,” balasnya dengan sangat sopan.


Huang Qinghao menganggukkan kepalanya. Lalu, dia melambaikan tangannya. “Pergilah.”


Terlihat sosok seorang pelayan kembali memasangkan kain merah di kepala Huang Miaoling. Lalu, dengan tali kain merah yang menghubungkan keduanya, Liang Fenghong membawa istrinya itu pergi.


Pandangan Huang Qinghao terpaku pada sosok putrinya yang berjalan meninggalkan ruangan. Ketika menyadari bahwa putri semata-wayangnya dengan Wei Ningxin itu kemungkinan besar akan dibawa pergi ke Kerajaan Wu, sang Jenderal Besar merasa hatinya dicengkeram erat. Tenggorokan pria itu terasa tercekat ketika membayangkan betapa sulitnya menemui gadis itu di kemudian hari.


Tiba-tiba, Huang Qinghao berdiri dari kursinya dan berkata dengan lantang, “Ling’er! Keluarga Huang akan tetap ada untukmu.” Huang Qinghao menitiskan satu air mata. “Ayah tetaplah ayahmu!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2