
A/N: Yaa, untuk yang merasa flashbacknya kepanjangan, jangan dibaca dulu aja. Tunggu sampe ada ancang-ancang balik ke masa depan wkwkw. Kalau aku sekip, nnt ada yang bilang plot holee hayoo. Paling juga 2 bab lagi sih kelar, tapi gak janji deh. Entar kalo gak kelar dalam 2 bab flashbacknya, diblg tukang boong :")
____
Sebuah senyuman pahit kemudian terlukis di wajah Wang Chengliu, seakan hatinya terluka. “Tak kusangka kau juga mengetahui hal ini,” ucapnya. “Kakak Keempat … dia pasti akan berterima kasih padamu.”
Setelah mengatakan hal itu, Wang Chengliu mengangkat cap naga di atas meja, lalu menekannya di atas dokumen yang berada di hadapannya. Dia kemudian mengangkat kertas tersebut, membacanya sekilas sebelum akhirnya memberikannya kepada Jiang Feng.
“Tuan Jiang, pengabdianmu akan selalu kuingat,” ujar Wang Chengliu dengan sebuah senyuman yang begitu tulus. “Apabila Lianhua Yuan menghadapi masalah, kerajaan akan membantumu.”
Jiang Feng menerima surat yang diberikan oleh Wang Chengliu, lalu dia membungkuk hormat. “Yang Mulia bijaksana, semoga langit memberkati Yang Mulia hingga puluhan ribu tahun.”
Tepat pada saat itu, sebuah suara berucap dari luar, “Yang Mulia, Raja Hui meminta izin untuk bertemu denganmu.”
Jiang Feng membatin, ‘Hui?’ Matanya melirik ke arah pintu, menatap dua bayangan yang terlihat di kertas pembatas pintu.
“Persilakan dia masuk,” balas Wang Chengliu.
Pintu ruangan kerja sang kaisar pun terbuka, mempersilakan seorang pria dengan wajah tampan berbalut pakaian serba putih untuk melangkah masuk. Pria tersebut kemudian membungkuk sopan kepada pemimpin negaranya.
“Aku memberi salam kepada Yang Mulia,” ujar pria tersebut.
Wang Chengliu bergegas menganggukkan kepalanya, “Kakak Kelima.” Dia tersenyum kepada pria yang tak lain adalah Wang Wuyu. “Apa yang membawamu kemari?” tanyanya.
Wang Wuyu melirik ke arah Jiang Feng, melemparkan pandangan tidak nyaman pada pria itu. “Hal penting dari perbatasan Wu,” jawabnya singkat.
Tak perlu waktu lama bagi Wang Chengliu untuk mengerti maksud kakaknya. Dia pun melirik Jiang Feng dan berkata, “Tuan Jiang, kau diizinkan untuk pergi.”
Izin yang diberikan oleh Wang Chengliu diikuti oleh hormat Jiang Feng, “Terima kasih, Yang Mulia.” Pria itu pun berjalan keluar dari ruangan selagi menggenggam erat gulungan kertas di tangannya.
Karena pintu yang terbuka, Jiang Feng bisa mendengar kalimat yang terucap dari bibir Wang Wuyu. “Yang Mulia, kudengar kabar bahwa Wu Changsheng—"
Sayang, dua prajurit yang berjaga di depan pintu ruang kerja sang kaisar dengan cepat menutup pintu rapat-rapat.
Dengan seorang kasim yang bertugas mengantarkan dirinya sampai ke gerbang utama istana, Jiang Feng sedang sibuk memutar otaknya. ‘Sudah kuduga Wang Chengliu adalah dalang dari semuanya,’ geram Jiang Feng dengan api membara yang bersemayam di pancaran matanya. ‘Keguguran Huang Miaoling, juga kematian Wang Junsi.’
Benak Jiang Feng melayang kepada sosok Wang Wuyu yang menatapnya dengan waspada. Sedari awal, pria itu tak pernah menyukai dirinya, terutama karena dirinya menunjukkan dukungan yang luar biasa kepada Wang Chengliu. Dia khawatir dengan bantuan Jiang Feng, sang kaisar akan terlepas dari kendalinya.
‘Heh,’ Jiang Feng mendengus dalam hati. ‘Andai dia tahu bahwa dirinyalah yang berada dalam kendali Wang Chengliu.’ Alis pria itu sedikit bertaut, ‘Tunggu … karena keluarga Situ, Huang, Wei, dan Li telah gugur. Mungkinkah ….’
Empat keluarga terkuat di Kerajaan Shi—Situ, Huang, Wei, dan Li—telah kehilangan kekuatan mereka. Hal tersebut berarti akan ada empat keluarga terkuat yang baru.
Atau tidak?
‘Wang Chengliu menjanjikan keluarga Yang untuk menjadi pemimpin para keluarga ternama di Kerajaan Shi,’ pikir Jiang Feng.
__ADS_1
Jiang Feng mengakui bahwa Wang Chengliu mengambil keputusan yang baik, terutama mengingat Wang Wuyu hanya menginginkan kekuasaan. Dengan kedok kaisar boneka, dia memberikan Wang Wuyu kekuasaan semu semata.
Takhta dan kekuasaan, itu dua hal yang berbeda.
Mendadak, lamunan Jiang Feng terganggu dengan gemeresik dedaunan. Dia mengangkat pandangan dan mendapati dirinya sedang berjalan melalui salah satu taman istana.
Kening Jiang Feng bertaut. “Tak ada perlu untuk melalui taman ini demi mencapai gerbang utama,” ujarnya seraya menatap sang kasim yang berjalan di hadapannya. “Kenapa kau—”
Ucapan Jiang Feng terpotong akibat sebuah belati yang terarah padanya. Sungguh beruntung, tapi mantan menteri keuangan itu memiliki kemampuan bela diri. Dengan lincah, Jiang Feng menghindari serangan lawan dengan mudah.
“Matilah!” geram kasim itu selagi menusukkan belati dengan panik ketika menyadari bahwa mangsanya berhasil menghindar.
Melihat hal itu, Jiang Feng mengambil satu langkah ke kanan, menjauh dari serangan sang kasim. Kemudian, dia mencengkeram pergelangan tangan lawannya tersebut untuk kemudian memukulnya keras dengan tangan yang lain, mematahkan tangan sang penyerang.
“Argh!” teriakan yang memilukan pun terdengar bersamaan dengan dentingan belati yang terpelanting di tanah berbatu.
Tangan Jiang Feng yang terbebas langsung mencengkeram leher sang kasim, menyebabkan pria itu berjuang untuk bernapas. “Katakan, siapa yang memerintahkanmu,” tanya Jiang Feng seraya mencengkeram rahang sang kasim, menghalangi lawannya itu dari menggigit lidah.
Kasim tersebut enggan menjawab, dia bungkam selagi terus melepaskan diri.
Mata Jiang Feng memicing, tidak sabar dan tahu dirinya tak punya waktu banyak. Dia pun menyebut sebuah nama, “Wang Chengliu ternyata.”
Tepat pada saat nama itu diucapkan oleh Jiang Feng, manik sang kasim membulat. Hal itu membuat sebuah seringai tipis terlukis di wajah Jiang Feng, senang karena dirinya mendapatkan jawaban yang diinginkan.
“Sudah kuduga,” gumam Jiang Feng sebelum wajahnya berubah gelap dengan cepat.
Dengan mata dingin, Jiang Feng meninggalkan tempat tersebut. “Wang Chengliu,” geramnya. ‘Sudah kuduga dia tak akan membiarkanku pergi begitu saja.’
Tanpa berpikir lebih lama lagi, Jiang Feng langsung melesat ke satu arah. Namun, langkahnya mendadak berhenti ketika satu sosok muncul dari salah satu cabang jalan istana.
“Yuanli?” Jiang Feng terlihat kaget.
Terlihat sosok Yuanli berdiri dengan pakaian pelayan istana di hadapan Jiang Feng. “Ketua, kau harus pergi. Pasukan Kematian jelas akan datang untuk memastikan kematianmu,” tutur gadis itu dengan wajah serius.
“Ada yang harus kulakukan sebelum pergi,” balas Jiang Feng dengan wajah gelap. Dia merasa Yuanli tahu apa yang ingin dirinya lakukan, tapi gadis itu masih berpura-pura bertanya.
Sesuai dugaan Jiang Feng, Yuanli tahu tujuan majikannya itu. “Ketua ingin menemui Permaisuri?” tanya gadis itu dengan kening berkerut, khawatir dengan tujuan majikannya.
“Menyingkir,” geram Jiang Feng.
Yuanli yakin Jiang Feng mengira dirinya sedang berusaha menghalangi pertemuannya dengan Huang Miaoling. “Ketua bisa menemui Permaisuri, tapi tidak sekarang,” ucap Yuanli. “Malam hari nanti, aku akan mempersiapkan semuanya.”
Jiang Feng mengerjapkan matanya, dia sungguh mengira Yuanli serupa Xiaoming, tidak mendukung perasaannya kepada Huang Miaoling. “Kau ….”
Tiba-tiba, ekspresi Yuanli berubah serius. “Namun, bila dia menolak untuk pergi, menyerahlah, Ketua,” tutur gadis itu. Ekspresi sedih dan kesulitan terpancar dari pandangan Yuanli. “Kecuali dia tersadar akan betapa tidak berperasaannya pria itu, tiada ruang di hatinya untukmu.”
__ADS_1
***
“Permaisuri, apa kau buta? Dia bukan lagi pria yang kau cintai! Dia sudah berubah!” Suara teriakan itu bergema dari dalam sebuah ruangan.
Dua pasang manik hitam saling beradu, mencoba menelisik pikiran pemiliknya masing-masing.
“Jiang Feng,” panggil Huang Miaoling dengan alis bertaut, tak mengerti alasan kemarahan pria di hadapannya, juga dengan sikapnya yang begitu membingungkan. “Apa yang membuatmu bersikap seperti ini?”
Jiang Feng menghela napas kasar, dia tak punya waktu untuk menjelaskan. “Huang Miaoling, aku berikan satu kesempatan lagi padamu, pergi atau tidak?!” geramnya. “Kalau kau tidak pergi, maka—"
“Aku tidak akan pergi,” balas Huang Miaoling dengan wajah penuh keyakinan. “Aku adalah istrinya, aku percaya pada keadilan dalam dirinya.” Wanita itu melanjutkan, “Lagi pula, lari dari masalah bukanlah caraku menyelesaikan masalah. Hidup sebagai pelarian?” Sebuah senyuman tipis terlukis di wajah Huang Miaoling, “Jiang Feng, kau tidak mengerti diriku.”
Mata Jiang Feng memancarkan ketidakpercayaan, “Huang Miaoling, kau—”
“Ketua,” sebuah suara memotong ucapan Jiang Feng. Pria itu menoleh dan melihat pantulan bayangan pada kertas pintu ruangan sang permaisuri. “Sudah waktunya untuk pergi.”
Jiang Feng mengertakkan giginya. Kemudian, dia meraih tangan Huang Miaoling, mengejutkan wanita itu. “Berjuanglah,” pinta pria itu. “Paling tidak berjuanglah sampai aku bisa kembali untukmu.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Jiang Feng pergi meninggalkan Huang Miaoling yang termenung di dalam ruangannya. Wanita itu berusaha mengejar keluar, meminta kejelasan. Akan tetapi, ketika dirinya baru menginjakkan kaki di teras, hanya kegelapan yang menyelimuti pandangannya.
Huang Miaoling mencengkeram pergelangan tangan kirinya, tempat Jiang Feng menyentuhnya. ‘Sakit ….’ Walau sebuah keluhan terucap dalam hatinya, tapi tak bisa wanita itu pungkiri bahwa cengkeraman kuat tersebut membuatnya merasa aman. Sadar mengenai apa yang dia pikirkan, Huang Miaoling segera menggelengkan kepalanya. ‘Apa-apaan ….’
Tiba-tiba, Huang Miaoling mendengar derap langkah kaki yang mendekat ke halamannya. Sejumlah prajurit istana terlihat menghampiri gerbang halamannya, membuat dua penjaga yang bersiaga di sana terlihat takut.
Huang Miaoling menduga bahwa Jiang Feng membayar kedua orang itu untuk bisa menyusup ke kediamannya. Oleh karena itu, dia melangkah ke luar dan bertanya, “Apa yang membuat Jenderal Chenxiao mendatangi kediamanku yang sederhana ini?”
Chenxiao menatap Huang Miaoling selama sesaat, terdiam seakan tak tahu harus mengatakan apa. Kemudian, dia membuka mulut dan berkata, “Permaisuri, ada penyusup di istana, apa mungkin kau mengetahui sesuatu?”
Ekspresi Huang Miaoling yang terlihat tenang dalam sekejap berubah buruk, dia yakin bahwa mereka membicarakan Jiang Feng. ‘Apa yang telah dia lakukan sehingga Wang Chengliu bersikap seperti ini?’ batin wanita itu dalam hati. Bibir tipisnya pun terpisah, “Tidak. Kalaupun ada, aku tak yakin mereka berani mendatangi kediamanku.”
Jawaban itu membuat kedua penjaga Huang Miaoling sedikit terkejut. Manik mereka terarah kepada sang permaisuri sembari memancarkan kecurigaan. ‘Bukankah sang permaisuri memiliki hubungan buruk dengan sang menteri keuangan?’ itu jelas pertanyaan dalam benak kedua prajurit tersebut.
Tidak hanya kedua penjaga itu, tapi dua orang yang bersembunyi di atas salah satu pohon rindang di kediaman Huang Miaoling pun tercengang. Tak ada satu pun dari mereka yang mengira bahwa sang permaisuri akan membela sang menteri keuangan.
Dua orang tersebut tak lain adalah … Yuanli dan Jiang Feng.
Yuanli melirik ke arah ketuanya, mendapati ekspresi pahit Jiang Feng. Kemudian, wanita itu mengalihkan pandangannya kembali kepada Huang Miaoling yang memasang wajah datar. ‘Permaisuri … kau ….’
Setelah sekumpulan prajurit itu pergi, Huang Miaoling kembali ke dalam ruangannya, dan dua penjaga di depan gerbang pun kembali bertugas. Sementara itu, Yuanli dan Jiang Feng bergegas melesat untuk meninggalkan istana selagi menghindari prajurit patroli.
Begitu mereka berhasil keluar dari area istana, Jiang Feng berjalan dengan ekspresi penuh tekad di wajahnya. Melihat hal itu, Yuanli merasa bahwa Jiang Feng masih belum menyerah.
“Ketua,” panggil Yuanli, baru saja ingin memulai nasihatnya, “kau sudah—"
“Satu tahun,” Jiang Feng memotong ucapan Yuanli, “aku akan dapatkan kembali takhta Wu dan kembali untuk membawanya pergi.” Pria itu mengepalkan tangannya. “Pada saat itu, jangan harap ada orang yang mampu menghentikanku.”
__ADS_1
___
A/N: Kalau kalian teliti, part ini itu nyambung banget sama bab-bab awal Phoenix. This is why kalo gak ada bab-bab flashback ini, nantinya terkesan kurang. So, yeah, deal with it! WKWK