
“Bawa aku menemuinya!” Terlihat sosok Chen Long yang berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya, tapi Mudan menghentikannya, “Jangan paksa dirimu, Wakil Jenderal. Lukamu tidaklah sederhana.”
Decakan lidah Chen Long terdengar, “Kekacauan terjadi, dan aku tak bisa membantu. Itu sudah membuktikan bahwa aku tak berguna.” Tangan pria itu mengepal erat. “Sekarang, tahu penyelamatku ada di dalam gedung yang sama, tapi aku tak mampu menghadapnya. Bukankah itu membuatku jadi orang yang tidak tahu diri?” Chen Long meringis, tak hanya karena rasa sakit pada tubuhnya, tapi juga kekecewaan dalam hati terhadap dirinya sendiri.
Setelah mendapatkan ketenangan, Huang Miaoling bergegas mengirimkan Mudan untuk memberikan kabar kepada Chen Long mengenai semua yang terjadi. Dia yakin pria itu mendengar keributan di lantai bawah, dan kalau tidak segera mengabarinya, pria itu pasti akan memaksa dirinya untuk keluar dari ruangan demi mencari tahu apa yang dia lewatkan.
Beruntung Mudan tiba tepat waktu ketika Chen Long baru saja menapakkan kaki di lantai. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada luka pria itu, terutama sekarang ketika Liang Fenghong tak lagi ada di dalam kota.
Mendengar gerutuan Chen Long, Mudan memasang wajah kesulitan. “Sejujurnya, aku tak yakin Nona Lan’er berada dalam kondisi yang cocok untuk menerima kunjungan,” ujarnya, teringat dengan pandangan kosong yang diberikan gadis itu ketika sosok pria bermata merah tersebut menghilang dari pandangan. ‘Itukah … ekspresi kehilangan?’
Mudan menggelengkan kepalanya. Di saat seperti ini, dia tak memiliki waktu untuk mencemaskan orang lain.
Selesai melaksanakan tugas yang diberikan oleh Huang Miaoling, Mudan mengundurkan diri dari ruangan Chen Long dan membiarkan anggota Lianhua Yuan yang lain menjaga pria tersebut. Sementara itu, dia pergi ke lantai bawah untuk membantu Yuanli membereskan kekacauan yang dihasilkan oleh Lu Si.
Tepat ketika Mudan tiba di lantai bawah, dia bisa melihat Tabib Bai—yang entah sejak kapan telah tiba—sedang mengobati luka salah satu anggota Lianhua Yuan yang terluka. Beberapa anggota Lianhua Yuan lainnya juga sedang sibuk membereskan benda-benda yang menjadi korban Lu Si.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Tabib Bai berujar bingung sembari memeriksa pasiennya. Walau sempat kesal dibangunkan di tengah malam, tapi perasaan itu tak bertahan lama ketika melihat betapa banyaknya orang yang terluka di tempat tersebut. “Monster macam apa yang bisa meninggalkan luka seperti ini?"
Luka yang diderita oleh para penjaga Lianhua Yuan tidak kentara parah, tapi ketika memeriksa nadi mereka, Tabib Bai terkejut dengan betapa kacau denyutnya. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang menyerang para penjaga itu adalah seorang ahli bela diri … dengan tenaga dalam yang sangat mengerikan.
“Maaf harus mengganggu malammu, Tabib Bai,” ujar Yuanli sembari tersenyum tipis. Dia tak memiliki hak untuk menjawab, terutama karena majikannya telah memperingatkan untuk tidak menceritakan semua yang telah terjadi.
__ADS_1
Menerima balasan Yuanli, Tabib Bai pun tidak lagi lanjut bertanya. Dia tahu maksud ucapan gadis itu.
Kejadian malam ini adalah rahasia.
Karena suara langkah kaki yang mendekat, Yuanli mengalihkan pandangannya dan melihat Mudan. “Jadi, gadis itu juga orang yang menyelamatkan Wakil Jenderal Chen?” tanyanya dengan suara rendah, kebetulan tadi Yuanli juga sempat mendengar perintah Huang Miaoling pada kawannya seperjuangannya itu. Anggukan kepala Mudan membuat Yuanli mengerutkan keningnya, “Apa dia … manusia?” gumamnya dengan suara rendah.
“Ingat ucapan Junzhu,” Mudan mulai memperingati, “jangan coba untuk mencari tahu hal yang tak seharusnya kau mengerti.” Dia pun beralih kepada salah satu penjaga yang terluka dan mulai membantu Tabib Bai menyelesaikan tugasnya.
“Aku tahu,” gumam Yuanli seraya ikut membantu.
Selagi semua orang sibuk melakukan tugas masing-masing, terdengar suara pintu utama yang didorong terbuka. Semua yang berada di ruang tengah Lianhua Yuan menoleh dan mendapati sosok familier yang datang.
Huang Yade melambaikan tangan dan bertanya dengan ekspresi suram, “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Dia melirik ke arah Mudan, lalu pandangannya mendarat kepada Yuanli. “Yuanli? Kenapa kau di sini?” Pria itu langsung bisa menebak bahwa ada yang terjadi di istana. “Apa yang terjadi di istana?”
Yuanli membuka mulutnya, tapi suara lain telah terlebih dahulu menggantikan dirinya untuk memberikan jawaban, “Suatu hal yang menggemparkan.” Semua orang menoleh ke arah tangga dan mendapati sosok Huang Miaoling sedang berjalan menuruninya. Mata sang Mingwei Junzhu terlihat lelah seiring dirinya berkata, “Siapa yang mengizinkan kalian memberitahukan yang terjadi kepada Menteri Huang?” Nada bicara wanita itu terdengar marah.
Bagaimana tidak? Yuanli sekarang berada di Lianhua Yuan, dan itu berarti mata Wang Chengliu akan mengarah ke sini. Ada kemungkinan bahwa sang pangeran keenam sinting itu akan mengirimkan pasukan ke sini untuk serangan lanjutan. Kalau demikian, bukankah itu berarti Huang Yade ikut terlibat dalam bahaya?
“Jangan salahkan mereka,” ujar Huang Yade ketika melihat beberapa anggota Lianhua Yuan memasang wajah ketakutan. “Cap Lianhua Yuan masih berada di tanganku, itu berarti semua yang terjadi di tempat ini harus dilaporkan padaku,” pandangannya menyapu sekeliling, “terlebih masalah sebesar ini.”
Huang Miaoling menghela napas, melupakan cap Lianhua Yuan yang masih dikuasai Huang Yade. Selain itu, setelah dia berpikir lebih jauh, tak mungkin Wang Chengliu akan mengejar Yuanli sampai ke sini. Kalau pria itu tahu Yuanli berada di Lianhua Yuan dan telah memberikan kabar kepada Huang Miaoling, seharusnya sang pangeran keenam itu akan lebih sibuk berusaha menutupi kejadian malam ini dibandingkan mementingkan seorang gadis pelayan.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Huang Miaoling menuturkan semua hal yang terjadi kepada Huang Yade. Yah, tentu saja dia juga mengubah sedikit jalan cerita yang melibatkan Lu Si. Tidak hanya karena Lan’er tak ingin kejadian ini diketahui orang lain, tapi juga karena Huang Miaoling merasa menceritakan hal ini hanya akan membuat masalah menjadi semakin runyam. Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, apa yang terjadi beberapa saat yang lalu adalah suatu hal yang tak mungkin.
Seorang pria bermata merah yang menembus pertahanan Lianhua Yuan dan melesat ke lantai tiga dalam hitungan detik? Yang benar saja.
Mendengar cerita yang disampaikan oleh adiknya, Huang Yade memijit pelipisnya. “Wang Chengliu … dan Huang Wushuang?” seluruh tubuhnya bergetar ketika mengatakan hal tersebut. Jijik, marah, tak percaya, juga bingung, itulah yang dia rasakan. “Apa yang sebenarnya pria itu inginkan?!”
Pertanyaan yang Huang Yade ucapkan merupakan pertanyaan yang sama seperti yang sempat bersemayam di otak Huang Miaoling. Bahkan setelah menjadi istrinya untuk bertahun-tahun di kehidupan lalu, wanita itu masih tidak bisa mengerti cara berpikir sang pangeran keenam.
Tidak. Pada kenyataannya, tak ada orang yang bisa sepenuhnya mengerti cara pikir orang lain, bukan begitu?
Huang Miaoling menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kalau dia tidak berbicara dengan Lan’er, mungkin dia akan membalas Huang Yade dengan dua kalimat, “Perset*n dengan apa yang Wang Chengliu inginkan. Yang terpenting bagiku adalah untuk menyingkirkannya.”
Namun, sekarang hati Huang Miaoling dipenuhi kegusaran.
Jawaban yang Lan’er berikan kepada Huang Miaoling terus terngiang di otaknya, “Kebebasan, Miaoling.” Senyuman lebar yang menghiasi wajah Lan’er entah kenapa membuat hati Huang Miaoling merasa sakit. “Kebebasan atas segala hal yang mengikatku.”
‘Lan’er ….’ Huang Miaoling menutup matanya, mengerti makna di balik ucapan gadis misterius itu. ‘Kebebasan yang kau maksud … apa itu berarti kematian?’
__ADS_1