Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 103 Pancingan


__ADS_3

“Menikah dengan … Pangeran Keenam?” Huang Yade tak menyangka akan menerima berita ini dalam kunjungan pertama sang adik ke ruangannya di departemen pertahanan. Dengan kening berkerut, bibir pria itu terpisah dan menyuarakan keraguan dalam hatinya, “Yang Mulia Kaisar … sungguh orang yang mengatakan hal tersebut?”


Huang Miaoling yang terduduk di salah satu kursi kosong yang disediakan membalas, “Wu Meilan bukanlah orang yang akan berbohong mengenai masalah semacam ini,” ekspresi wanita itu tegas, tapi pancaran matanya diselimuti keraguan.


Sesungguhnya, bahkan Huang Miaoling sendiri mengalami kesulitan untuk mempercayai ucapan Wu Meilan. Setelah semua percakapan yang terjadi antara dirinya di malam yang lalu dengan Lan’er, terutama mengenai hubungan Wang Weixin dan Wang Chengliu, keputusan sang kaisar mengenai pernikahan sang pangeran keenam dan Tuan Putri Wu benar-benar tidak masuk akal!


“Ini tidak masuk akal,” celetuk Wei Shulin, menyuarakan pikiran semua orang.


Di kursi yang berada di seberang sang Mingwei Junzhu, terlihat sosok Wang Zhengyi yang sedang menutup mata dengan kedua jari memijit batang hidungnya. Dia tidak bersuara, tapi terlihat tenggelam dalam pemikirannya sendiri.


Huang Miaoling pun memutuskan untuk bertanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai hal ini, Pangeran Mahkota?”


Dengan pandangan menerawang, Wang Zhengyi menjawab, “Tak pernah ada yang mengerti jalan pikiran Ayahanda, bahkan Ibunda, yang telah bertahun-tahun bersanding di sisinya, juga demikian.”


“Mungkinkah Yang Mulia Kaisar berusaha memberikan cobaan kepada Pangeran Mahkota?” tebak Wei Shulin dengan asal.


Huang Miaoling menggelengkan kepalanya. “Tidak, menitahkan pernikahan antara Tuan Putri Wu dan Pangeran Keenam mempertaruhkan berbagai hal. Akan lebih masuk akal apabila Kaisar menikahkan Tuan Putri dengan Pangeran Mahkota,” jelasnya.


Wang Zhengyi mengangkat pandangannya dan menatap Huang Miaoling, dia tidak setuju dengan ucapan wanita tersebut. “Menikahkan Wu Meilan kepadaku mampu memicu hinaan dari berbagai arah. Entah dari pihak Wu, maupun dari rakyat dan pejabat Shi. Bahkan bila Ayahanda ingin memperkuat posisiku sebagai penerus takhta, tapi menikahkan Wu Meilan kepadaku sama saja dengan menghina sang tuan putri,” tuturnya.


Mendengar ucapan Wang Zhengyi, Huang Yade tidak menampakkan ekspresi apa pun. Namun, aslinya dia ingin sekali tersenyum puas.


‘Pangeran Mahkota sungguh telah berubah,’ batin Huang Yade, menjadi semakin yakin dengan pilihan adiknya untuk mendukung pangeran yang satu ini.


Detik berikutnya, Huang Miaoling terpikirkan sesuatu, ‘Tunggu, apa keuntungan menikahkan Wang Chengliu dengan Wu Meilan.’ Wanita itu bergumam, “Pernikahan … dengan Kerajaan Wu ….”


Semua orang bisa mendengar gumaman Huang Miaoling, lalu mereka pun memasang wajah yang buruk. Di saat itu, semua orang membatin dalam hati, ‘Wu telah jatuh, jadi … Wu Meilan tidak lagi berharga?’


Namun, Huang Miaoling tidak menyadari perubahan ekspresi semua orang. Wanita itu malah mendadak beranjak dari kursinya, lalu mengarah ke meja kerja Huang Yade. Wajah Huang Miaoling menampakkan sebuah keseriusan yang mengerikan.


Mencapai meja kerja kakaknya, Huang Miaoling meraih sebuah kertas dan mulai menggambarkan sesuatu. ‘Demi berjaga-jaga … maka aku harus mempersiapkan hal ini!’


Wang Zhengyi dan Wei Shulin berdiri dari kursi mereka, lalu menghampiri meja Huang Yade, penasaran dengan apa yang sedang sang Mingwei Junzhu lakukan. Di sisi lain, Huang Yade hanya bisa terdiam memperhatikan tangan adiknya melayang dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah, melukiskan sebuah gambar yang membuat alisnya bertaut.


Di saat kuas di tangan Huang Miaoling berhenti, suara Huang Yade yang pertama kali terdengar, “Apa ini?” tanyanya dengan nada kebingungan.


Huang Yade menengadahkan pandangannya, berniat untuk menatap adiknya. Namun, pria itu malah terkejut dengan ekspresi yang terpasang di wajah Wang Zhengyi.


‘Kenapa Pangeran Mahkota terlihat begitu terkejut?’ batin Huang Yade dalam hati. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya pada kertas di atas meja. ‘Apa sebenarnya yang Miaoling lukis? Peta?’ Keningnya berkerut saat matanya mendarat pada satu tulisan. ‘Tunggu, apa itu?’ dia memicingkan matanya terhadap suatu tulisan, ‘Kediaman Permaisuri?’

__ADS_1


Tanpa mengacuhkan pertanyaan Huang Yade, Huang Miaoling memandangi lukisan di hadapannya dengan saksama. ‘Ya, harusnya seperti ini.’ Wanita itu menganggukkan kepalanya mantap, lalu menghadap ke arah Wang Zhengyi. Dia memberi hormat, dan kemudian berkata, “Yang Mulia, aku memerlukan bantuanmu.”


Dengan ekspresi yang rumit, Wang Zhengyi membalas, “Bantuan apa yang kau perlukan, Junzhu?” Sadar bahwa permintaan wanita itu memiliki sangkut-paut dengan sang ibunda, sang pangeran mahkota tidak terkejut melihat Huang Miaoling beralih padanya. “Aku akan membantumu sebisaku.”


Huang Miaoling tersenyum tipis, “Sebenarnya, bantuan A Ling yang kubutuhkan,” ujarnya, membuat A Ling yang berada di luar ruangan dengan mata tertutup segera melotot karena kaget. “Namun, berhubung A Ling adalah pengawal pendampingmu, aku meminta izin kepadamu terlebih dahulu.”


Wang Zhengyi tak elak tersenyum mendengar ucapan Huang Miaoling, merasa tak berdaya dengan betapa terus-terangnya wanita tersebut. “A Ling,” panggilnya, dan pintu ruangan pun terbuka, menampakkan sosok A Ling yang segera berlutut dengan satu kaki. “Dengarkan perintah Junzhu.”


Tak perlu basa-basi, Wang Zhengyi tahu bahwa dirinya tak akan bisa menolak Huang Miaoling. Lagi pula, dia juga yakin bahwa wanita itu tak akan membahayakannya, terutama karena mereka memiliki tujuan akhir yang sama;


Hak untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik mereka, dan juga perlindungan atas orang yang dicintai.


“A Ling siap menerima perintah,” balas A Ling dengan hormat.


Huang Miaoling tersenyum kepada Wang Zhengyi, lalu dia memberikan kertas di tangannya kepada A Ling, membiarkan pria itu membaca isinya. Kurang dari waktu satu dupa, A Ling terbelalak.


Namun, hal tersebut tak menghentikan Huang Miaoling untuk berkata, “Selidiki apakah jalur rahasia di kediaman permaisuri ini masih ada.” Sebuah ekspresi dingin menyelimuti wajahnya, “Kita akan memerlukannya.”


***


Langkah kaki Huang Miaoling diiringi sejumlah pelayan yang mendampingi dirinya. Bukan, istana tidak memberikan fasilitas yang begitu luar biasa karena statusnya sebagai Mingwei Junzhu, melainkan karena identitasnya sebagai Wu Jiushi Zhu. Keamanan dan kenyamanan Huang Miaoling harus terjaga, itu penting demi menunjukkan rasa hormat terhadap hubungan Wu dan Shi.


Di samping Huang Miaoling, terlihat sosok Rong Gui berdiri dengan canggung. Sejumlah pelayan yang berpapasan dengan mereka memberi hormat, tapi setelah cukup jauh, pria itu bisa mendengar bisikan-bisikan tak mengenakan.


Sang Mingwei Junzhu, seorang wanita, berkeliaran di istana tanpa pelayan dan pengawal pendamping. Tak hanya itu, sebagai wanita bersuami, bagaimana dia bisa bertemu dengan sejumlah pria berbeda di hari yang sama? Tidakkah wanita itu sadar apa yang dinamakan budi luhur?


Dengan usaha untuk menahan emosi, Rong Gui berpikir dalam hati, ‘Hari ini, Junzhu bertemu sejumlah orang di istana, entah sengaja maupun tidak. Selir Song, Tuan Putri Wu, departemen kehakiman yang berisi Pangeran Mahkota, Ketua Wei, dan juga Menteri Huang. Sekarang, dia dengan terbuka mengundangku berjalan bersamanya?’ Rong Gui menghela napas di dalam hati, tak mampu mengerti alasan Huang Miaoling secara tidak langsung memberi tahu semua orang mengenai interaksinya dengan sejumlah tokoh penting negara. ‘Aku menyerah mencoba mengerti wanita ini.’


Mendadak, Huang Miaoling menghentikan langkah. Lalu, dia berbalik menghadap sejumlah pelayan dan kasim di belakangnya, “Lima langkah.”


Mendengar perintah itu, para kasim dan pelayan sempat terkejut. Namun, sebagai pelayan istana, mereka tahu maksud ucapan wanita itu. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengambil lima langkah mundur menjauhi Huang Miaoling dan Rong Gui.


Melihat hal ini, Rong Gui bereaksi serupa dengan para pelayan dan kasim itu, kaget. ‘Kalau bukan karena aku mengenalnya, aku akan mengira bahwa Junzhu telah tinggal di istana untuk waktu yang lama!’ Saat tersadar ada pandangan yang mendarat ke arahnya, pria itu menoleh dan tersentak dengan tatapan yang diberikan Huang Miaoling padanya. “Junzhu,” Rong Gui bergegas membungkuk hormat.


Huang Miaoling tersenyum. “Penyelidik Rong, Qiongpo Di adalah tempat di mana kau hidup untuk waktu yang begitu lama,” ucap wanita itu, membuat pelipis Rong Gui sedikit berdenyut, tidak menyangka sang Mingwei Junzhu akan membahas tempat tersebut. Lalu, wanita itu merogoh saku lengannya dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas, “Aku yakin kau mampu menemukan tempat ini unt—.”


“Salam kepada Pangeran Keenam,” sorakan salam dari rentetan pelayan dan kasim yang mengantar Huang Miaoling memotong ucapan wanita tersebut.


Sebelum Huang Miaoling dan Rong Gui sempat bereaksi, Wang Chengliu meraih gulungan kertas yang terjulur dari tangan wanita itu. Hal tersebut membuat Huang Miaoling mengerutkan keningnya dengan tidak senang.

__ADS_1


“Pangeran Keenam, itu adalah milikku,” ujar Huang Miaoling dengan ekspresi yang menyeramkan. Dia ingin sekali meraih kembali barang miliknya, tapi dia tahu bahwa ada begitu banyak pandangan terarah padanya.


Rong Gui yang mendengar ucapan Huang Miaoling bergidik ngeri. Wanita itu memang menyandang status sebagai Wu Jiushi Zhu, juga Mingwei Junzhu, tapi di hadapan Wang Chengliu yang merupakan pangeran dari kerajaan ini, sikap Huang Miaoling mampu dihadiahi hukuman!


Di luar dugaan Rong Gui, Wang Chengliu malah memasang sebuah senyuman semringah, mengejutkan semua orang di tempat tersebut. Tak ada yang mengerti apa yang membuat sang pangeran keenam terlihat begitu bahagia.


Wang Chengliu secara tidak langsung baru saja dihina, bagaimana bisa dia tersenyum?


“Bukankah kau sedang menungguku, Miaoling?” tanya Wang Chengliu membuat semua orang membelalak, termasuk Huang Miaoling sendiri.


Panggilan yang begitu intim, kalimat yang ambigu, dua hal ini menimbulkan prasangka pada hati semua orang di tempat tersebut!


Di saat seperti ini, Huang Miaoling mengambil langkah menjauh dari Wang Chengliu, tak ingin jarak di antara dirinya dan pria itu terlalu dekat. Dia tidak ingin ada rumor yang mengaitkannya dengan pria di hadapannya itu.


“Pangeran Keenam, aku tidak mengerti maksud ucapanmu.” Ekspresi di wajah Huang Miaoling menunjukkan bahwa dirinya sedang berusaha mengendalikan emosi. “Mohon jangan menimbulkan kesalahpahaman, terutama ketika suamiku tidak sedang berada di ibu kota,” balasnya seraya memberi hormat.


Melihat ekspresi Huang Miaoling seakan ingin menerkamnya, Wang Chengliu merasa sesuatu di dalam hatinya terasa panas. Dia menyukai tatapan itu.


Kemudian, wajah Wang Chengliu berubah, menunjukkan rasa bersalah. “Ah, apa leluconku keterlaluan?” ucapan pria itu sukses membuat semua orang mengerutkan kening, menjadi semakin bingung. “Aku hanya bercanda.” Pria itu menyodorkan gulungan kertas itu ke arah Rong Gui, yang langsung menerimanya. “Namun, aku kemari karena memang ingin membicarakan suatu hal denganmu.”


“Apa keperluanmu denganku, Yang Mulia?” tanya Huang Miaoling dengan ketus selagi berusaha mempertahankan sopan santunnya. Ketika menangkap tatapan Wang Chengliu mengarah ke Rong Gui, wanita itu menggertakkan giginya. “Rong Gui, kau sudah bisa pergi.”


Rong Gui terkejut. Setelah bekerja untuk sekian waktu di sisi sang pangeran keenam, dia tahu seperti apa obsesi Wang Chengliu terhadap Huang Miaoling. Meninggalkan wanita itu dengan pria tersebut bukanlah pilihan yang bijak.


“Akan tetapi, Junzhu—!”


“Pergilah,” ulang Huang Miaoling dengan tegas. Mata wanita itu memancarkan sebuah keyakinan yang menenangkan.


Walau tidak rela, Rong Gui pun hanya bisa membungkukkan tubuhnya dan mengucapkan kalimat pamit, “Rong Gui … mengundurkan diri,” dan dia pun berbalik untuk meninggalkan area tersebut.


Kepala Rong Gui ingin sekali menoleh, tapi pria itu menahan dirinya. Langkah kakinya tidak lebar, menunjukkan secara tidak langsung bahwa ada keraguan yang menyelimuti diri seiring sosoknya meninggalkan Huang Miaoling.


Setelah berjalan cukup jauh, Rong Gui mempercepat langkahnya. Ekspresinya yang tadi begitu terjaga mendadak berubah diselimuti keterkejutan.


Dengan tangan menutupi setengah wajahnya, Rong Gui memaki dalam hati, ‘Gila! Ini gila!’ Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut terhadap apa yang mungkin terjadi kepada Huang Miaoling, melainkan apa yang telah wanita itu lakukan. ‘T-tebakan Junzhu sungguh tepat. Setelah bertemu dengan orang-orang tertentu, Pangeran Keenam pasti akan mencarinya!’


___


A/N: Apa kiranya yang ingin Huang Miaoling bicarakan dengan Wang Chengliu? Kenapa dia tidak langsung menemui pria itu saja? Hmm?

__ADS_1


__ADS_2