Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 144 Karma


__ADS_3

Bola mata dalam kelopak pria itu bergerak-gerak tidak tenang. Hal tersebut diikuti dengan sebuah seruan lantang dari sisinya, “Yang Mulia sadar! Yang Mulia sadar!”


Detik berikutnya, pria tersebut membuka mata secara perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang menyeruak masuk ke dalam pandangan. Sebuah wajah yang familier perlahan muncul di hadapannya.


“Fenghong, apa kau bisa mendengarku?” tanya pria dengan kerutan dalam yang terbentuk di keningnya.


“Ayah … Mertua,” ujar Liang Fenghong sebagai jawaban.


Huang Qinghao menghela napas lega, menampakkan sebuah senyuman. “Syukurlah, syukurlah!”


“Hong’er!” seru seorang pria lain di sebelah Huang Qinghao. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya dengan pandangan khawatir.


Kening Liang Fenghong berkerut. “Ayah?” pria tersebut memanggil Liang Shupeng dengan nada bertanya-tanya.


Pening yang menyerang membuat Liang Fenghong menyentuh dahinya dan mendesis. Teringat mengenai hal terakhir yang terjadi, dia langsung membelalak.


“Di mana Kaisar?” tanya Liang Fenghong, nada bicaranya sedikit membentak. “Di mana kakakku!?”


Persetan dengan hukuman takdir,


Mendengar pertanyaan Liang Fenghong, ekspresi kedua pria itu berubah suram. Hal tersebut membuat sang Penasihat Liang langsung melompat turun dari tempat tidurnya dan berlari keluar.


“Hong’er, berhenti!” teriak Liang Shupeng dengan panik.


Ketika dia keluar dari ruangan, langkah Liang Fenghong berhenti mendadak akibat kemunculan sebuah pemandangan tak biasa. Sebuah lingkaran api menghiasi halaman tengah kediaman tersebut.


“Setelah kalian berhasil menguasai kembali Wu, lingkaran api ini akan kembali muncul di tempat yang sama. Ketika kalian melewatinya, kalian akan tiba di gerbang Jingcheng.” Ucapan Lan’er terngiang di benak Liang Fenghong.


‘Kita … berhasil menguasai Wu,’ batin Liang Fenghong. Namun, dia tidak bisa merasa senang.


Liang Fenghong membuang muka, tidak ingin melihat lingkaran api tersebut. Kemudian, dia lanjut berlari ke arah gedung tempat Wu Huatai seharusnya berada.


Prajurit yang melihat kedatangannya langsung membuka pintu dan menunduk. Ada yang berbeda dari pandangan mereka, seperti pandangan … mengasihani.

__ADS_1


Mengesampingkan ketidaknyamanan yang diakibatkan dari pandangan para prajurit itu, Liang Fenghong berlari menerobos ruangan sampai ke ruang tidur Wu Huatai. “Kakak …,” panggilnya, membuat sosok Wu Huatai yang terbaring lemah di tempat tidur dengan Li Changsheng di sisinya mengalihkan pandangan.


“Hong’er,” balas Wu Huatai dengan sebuah senyuman lemah penuh syukur. “Kau selamat.” Tangannya terulur, berusaha menggapai saudaranya. “Pria itu tidak berdusta.”


Liang Fenghong segera menghampiri Wu Huatai. “Bagaimana keadaanmu?”


Liang Fenghong mencoba mengecek apakah ada bagian tubuh kakaknya yang terluka. Hanya saja, wajah Wu Huatai yang begitu pucat membuat dirinya tahu bahwa saudaranya itu tidak baik-baik saja. Lu Si jelas tidak akan mengambil nyawa kakaknya dengan cara ‘manusiawi’.


Merasa tidak berguna, Liang Fenghong jatuh berlutut di sebelah tempat tidur Wu Huatai. “Kakak, kenapa kau begitu bodoh?” tanyanya, yakin bahwa sang kakak telah menyetujui persyaratan Lu Si. “Apa gunanya aku selamat kalau dirimu berakhir seperti ini?!”


Li Changsheng yang melihat hal tersebut menutup matanya, berusaha untuk menahan air mata yang berkumpul di pelupuk matanya. Dia juga merasa bersalah karena tidak bisa menghalangi hal ini dari terjadi. Namun, sebesar apa pun penyesalannya, Li Changsheng tahu dirinya tak bisa melakukan apa pun.


“Aku bodoh … atau kau yang bodoh?” tanya Wu Huatai sembari tersenyum.


Wu Huatai menggenggam tangan adiknya, masih bisa bercanda bahkan dengan keadaaannya yang begitu lemah. Pria tersebut mengalihkan pandangan ke langit-langit, lalu menghela napas lelah.


“Tianzhen sudah tiada, begitu pula dengan Rongya,” ucap Wu Huatai dengan pandangan menerawang, membayangkan wajah kedua orang yang begitu dia cintai. “Tak hanya itu, Wu jatuh ke dalam tangan musuh di bawah kuasaku, mengakibatkan begitu banyak orang kehilangan nyawa karena ketidakmampuanku.”


“Ini adalah karma, Fenghong. Sebuah karma yang tidak akan pernah bisa aku hindari.”


‘Karma?’ Liang Fenghong termenung, merasa tidak asing dengan kata itu. Kepalanya terasa pening, seperti ada sesuatu yang memblokir ingatannya.


“Di sisi lain, kalau kau mati …,” Wu Huatai kembali menatap Liang Fenghong, “siapa yang akan menjatuhkan Wang Chengliu? Siapa yang akan menjaga keluarga Liang? Siapa pula yang akan bertanggung jawab atas sisa hidup Mingwei Junzhu?” Kaisar itu melanjutkan, “Kalau aku mati … paling tidak aku bisa menemani istri dan adik perempuanku.”


“Kakak, apa yang kau katakan?!” teriak Liang Fenghong, tidak menerima alasan itu.


“Changsheng,” Wu Huatai mengulurkan tangannya yang terbebas.


“Kakak,” panggil Li Changsheng seraya menggenggam tangan Wu Huatai.


“Kalian … adalah anggota keluarga Kerajaan Wu, tak peduli apakah darah yang mengalir dalam tubuh kalian adalah darah Wu atau tidak,” ucap Wu Huatai, memandang keduanya dalam-dalam. “Demikian, kuserahkan Meilan dan Kerajaan Wu kepada kalian.”


Air mata menuruni wajah Li Changsheng, merasa tak layak diperlakukan seperti ini setelah apa yang telah dia lakukan. “Kakak, bagaimana mungkin kau menyerahkan kewajiban ini kepada—"

__ADS_1


“Berjanjilah padaku,” Wu Huatai memotong ucapan Li Changsheng. “Jaga dia dan Kerajaan Wu untukku.” Pandangannya berubah serius dan penuh dengan tekad, tergambar jelas dengan genggaman tangannya yang menguat. “Sampai kalian menemukan orang yang tepat … jaga keduanya untukku, kalian mengerti?”


Li Changsheng dan Liang Fenghong langsung mengerti ucapan Wu Huatai. Pria itu tahu bahwa mereka tidak menginginkan takhta, begitu pula dengan kehidupan keluarga kerajaan. Dengan demikian, dia hanya bisa meminta keduanya untuk menjaga Kerajaan Wu untuk sementara.


“Kakak … minta maaf,” ujar Wu Huatai kepada kedua saudaranya, merasa sangat bersalah. “Kakak mengingkari …,” napas pria itu melemah, “… janji.”


Wu Huatai telah bersumpah, bersumpah untuk memberikan kebebasan kepada Liang Fenghong dan Li Changsheng untuk memilih jalan hidup yang mereka inginkan. Namun, keadaan mendesaknya untuk memaksa kedua adiknya itu mengambil pilihan.


Dia … sudah mengingkari janjinya.


“Tidak … jangan minta maaf padaku,” ujar Liang Fenghong di sela tangisannya. “Aku yang bersalah padamu!” serunya, merasakan bahwa tangan dalam genggamannya menjadi semakin berat. “Aku yang bersalah!”


Manik hitam Wu Huatai berakhir mendarat pada Liang Fenghong, tahu bahwa adiknya itu akan terus merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya. Hal tersebut membuatnya sangat tak rela meninggalkannya.


Namun, nyawa harus dibayar dengan nyawa, dan karma … tidak akan pernah bisa dia hindari.


‘Waktuku … sudah berakhir.’ Sebelum kesadaran Wu Huatai sepenuhnya menghilang, dia membatin kepada dirinya sendiri, ‘Tianzhen … kita akhirnya akan bertemu kembali ….’


Ketika dirinya tak lagi merasakan kekuatan pada genggaman Wu Huatai, Liang Fenghong memanggil, “Kakak …?” Suaranya bergetar, merasa begitu takut.


Namun, tidak ada jawaban dari Wu Huatai.


Mata Liang Fenghong terpejam, berusaha meresapi kehangatan terakhir yang tersisa pada tangan kakaknya. “Aku bersalah, aku bersalah padamu ….”


___


A/N: Tips, make sure kalian remember judul chapter ini. Itu kata kunci penting dari keseluruhan cerita ini. + Author gak bisa kayak dulu ya, tiap hari berturut-turut update~ You know, real life.


Ranting moment, sekip ae ... gak penting wkwk:


Kalau memang yang gak betah, ya ora popo, tunggu sampe kelar dulu baru baca ... gak dibaca juga ora popo, aku mah lanjutin buat yang mau baca eak. Minta tlg untuk coba tidak komen nyelekit di kolom komentar daku dan membuat down [Tears]. Komen sih jelas hak kamu, tapi yah sadar juga apa yang kamu katakan itu berefek pada mental seseorang :")


Tidak perlu pakai kalimat, "Hak saya berkomentar dong." Me: Bruh, hak saya juga untuk minta tlg, man. Minta tlg kok inii, bukan bersabda wkwkwk, chill out hoomans *___*

__ADS_1


__ADS_2