
“Hormat kepada Yang Mulia,” semua pejabat berseru dan memberikan hormat kepada Kaisar Weixin yang berjalan menuruni panggung takhtanya.
Setelah berlangsung begitu lama dan berujung dengan sebuah kenyataan mengejutkan, Kaisar Weixin memutuskan untuk menghentikan pengadilan sampai pemberitahuan berikutnya. Kalau pengadilan terus dilanjutkan, alih-alih menemukan pengkhianat sebenarnya, keadaan akan menjadi semakin kacau dan jawaban akan semakin pudar. Oleh karena itu, sang Pria Agung hanya bisa memerintahkan semua orang untuk ditahan di kediaman masing-masing, sama seperti terakhir kali terjadinya percobaan pembunuhan Wang Zhengyi.
Saat Kaisar Weixin berada di hadapan Liang Fenghong dan Huang Miaoling, pria itu berhenti sesaat. “Penasihat Liang, aku memerlukanmu untuk suatu hal. Ikutlah denganku,” ujarnya. Kemudian, pria itu melirik Huang Miaoling. “Junzhu, kau tak keberatan, bukan?” tanyanya.
“Tentu tidak, Yang Mulia,” balas Huang Miaoling dengan hormat.
Liang Fenghong menoleh ke arah istrinya, lalu berkata dengan suara rendah, “Tunggu aku.” Pandangan pria tersebut terlihat begitu lembut dan penuh perhatian. “Berhati-hatilah.”
Huang Miaoling mengangguk. “Pergilah.” Dia memerhatikan kepergian Liang Fenghong dengan Kaisar Weixin dan juga Kasim Gao. Walau ekspresinya tetap datar dan tak menunjukkan apa pun, tapi Huang Miaoling merasa ada yang mengganjal dari permintaan sang Kaisar. ‘Secara khusus memanggil A Feng …. Kalau bukan karena informasi, maka karena ilmu medisnya.’
“Ling’er,” panggil sebuah suara yang membuat Huang Miaoling berpaling. Huang Qinghao menghampirinya dengan wajah khawatir. “Kau sudah tahu?” Pria itu jelas sedang merujuk kepada pengkhianat kerajaan yang sempat disebut Wang Xiangqi.
Pada saat ini, sebuah suara lain menyela, “Apa yang tidak Mingwei Junzhu ketahui?”
Mendengar suara ini, ekspresi Huang Miaoling sekilas berubah buruk. Namun, dalam sekejap, wanita itu kembali tenang. Tak boleh ada sedikit pun emosi yang terbaca oleh lawan bicara barunya itu.
Huang Miaoling memasang sebuah senyuman sopan dan memberi hormat kepada pria yang baru saja datang, “Pangeran Keenam, pertanyaan itu seharusnya diutarakan padamu.” Wanita itu tertawa kecil, mencoba menutupi emosi negatif yang sempat merebak dari nada bicaranya.
“Oh? Kenapa demikian?” Wang Chengliu membalas ucapan wanita dengan manik sehitam malam itu dengan santai, seakan memancing.
Saat suasana terasa sedikit menegang, sebuah suara lain berkumandang, “Adik Keenam, kau terdengar seperti sedang memojokkan saudari kita.” Wang Zhengyi berjalan mendekati tiga orang yang menarik perhatian itu. Pria itu kemudian beralih kepada Huang Miaoling. “Baru satu hari sejak pernikahanmu dengan Tuan Liang, tapi kebersamaan kalian harus terganggu. Sungguh menyebalkan bagaimana urusan pemerintahan mengganggumu, bukan?”
Mendengar Wang Zhengyi menyebutnya dengan panggilan ‘saudari’, Huang Miaoling merasa lucu dan geli. Pria yang dahulu sempat berusaha dirinya tendang jauh-jauh dari kehidupannya sekarang menganggapnya saudara, tidakkah itu konyol dan ajaib? Ditambah dengan kenyataan Huang Miaoling berencana membantu Wang Zhengyi mempertahankan takhta, itu lebih menggelikan lagi.
Dengan sikap malu, Huang Miaoling tersenyum canggung. “Pangeran Mahkota, jangan mempermainkanku,” balasnya dengan rona merah yang perlahan merambat di kedua pipinya, membuat Wang Zhengyi tertawa.
Wang Zhengyi melirik ke arah Wang Chengliu, secara kebetulan menangkap pancaran mata membunuh dari pria tersebut. ‘Hmm ….’ Matanya teralihkan ke arah Huang Qinghao yang juga sedang memperhatikan putrinya. Dari mata sang Jenderal Besar, terlihat adanya rasa syukur yang mendalam, mungkin bahagia dengan pernikahan putrinya yang berjalan lancar. ‘Sungguh bertolak-belakang,’ batin Wang Zhengyi.
“Huang Miaoling,” panggil seseorang dengan nada tegas, mengalihkan pandangan keempat orang tersebut. Sosok Wang Junsi dengan wajah suram muncul, tak ada sedikit pun rasa sungkan menunjukkan ekspresi semacam itu di depan semua orang. “Aku perlu bicara denganmu.”
Wang Zhengyi menatap Huang Miaoling yang terdiam. Mengira kalau wanita itu keberatan dengan permintaan adik keempatnya, sang Pangeran Mahkota pun angkat bicara, “Adik Keempat, tak bisakah kau bicarakan masalahmu di sini? Sebagai istri Tuan Liang, Junzhu harus menjaga reputasinya.” Dia menambahkan dengan nada penuh candaan, “Selain itu, saat ini semua orang adalah tersangka sebagai pengkhianat negara.”
Walau tidak mengatakan dengan terbuka, tapi semua orang mengerti maksud Wang Zhengyi. Entah wanita lajang maupun sudah menikah, tak pantas bagi keduanya untuk menghabiskan waktu berdua dengan seorang pria. Hanya saja, cara sang Pangeran Mahkota menekankan kata ‘istri Tuan Liang’ membuat semua orang merasa dia sedang menyindir saudaranya itu.
__ADS_1
Beberapa pejabat yang tadinya sedang membahas mengenai kematian Wang Wuyu dan pengkhianatan Zhou segera mengalihkan pandangan mereka, penasaran dengan apa yang akan terjadi. Mata mereka bak elang yang sedang memperhatikan mangsa.
“Tidak masalah, Pangeran Mahkota,” ujar Huang Miaoling sembari tersenyum. “Xiaoming berada di luar aula utama, dia bisa menemaniku untuk berbicara dengan Pangeran Keempat. Pengawal istana juga bisa mendampingi kami kalau memang diperlukan.” Wanita itu mengalihkan pandangannya terhadap Wang Junsi. “Pangeran Keempat tentu tak masalah dengan hal tersebut, bukan?”
Tanpa membalas, Wang Junsi segera berbalik dan berjalan ke arah gerbang aula utama. Itu adalah sebuah bentuk persetujuan bisu dari sang Pangeran Keempat, dan Huang Miaoling mengerti.
“Di mata Ayahanda, kau adalah berlian, mencurigaimu sama saja dengan kebodohan.” Wang Zhengyi mengibaskan tangannya. “Pergilah. Apa pula yang bisa kau lakukan di daerah istana?”
‘Banyak hal,’ ucap Huang Qinghao dalam hati.
Karena tak ada yang menahan, Huang Miaoling berpamitan singkat kepada ayahnya, lalu pada Wang Zhengyi. Senyuman lebar juga wanita itu lemparkan kepada Wang Chengliu ketika dirinya memutuskan untuk berjalan pergi mengikuti Wang Junsi.
Wang Chengliu memerhatikan kepergian Huang Miaoling dan Wang Junsi. Perlahan, pandangannya berubah gelap. ‘Huang Miaoling, langit akan segera berubah, apakah kau tahu?’ Seraya berjalan pergi menjauhi Wang Zhengyi dan Huang Qinghao, pria itu tersenyum tipis. ‘Mungkin, kau bahkan belum siap.’
***
“Ini—!” Liang Fenghong terperangah dengan apa yang dia lihat di ruang tabib istana sekarang. Pandangannya tak mampu dialihkan dari sosok yang terbaring di dalam peti mati kayu dengan tenang.
Dengan hati-hati, jari-jari Liang Fenghong menyusuri jahitan yang melingkari leher Wang Wuyu. Kening pria itu juga berkerut mendapati kelopak mata pangeran kelima itu mengempis, seakan benda bulat yang seharusnya ada di sana telah tiada.
Tidak hanya memenggal kepalanya, tapi juga mengambil bola mata Wang Wuyu. Suku Sihan dan Nanhan sungguh tidak memiliki niat untuk berdamai dengan Kerajaan Shi, hal itu terlihat jelas dari tindakan mereka yang begitu lancang!
Walau hubungan terakhir Liang Fenghong dengan Wang Wuyu adalah musuh, tapi pria itu sempat menjadi salah satu orang yang dekat dengannya. Teringat masa-masa mereka menguak mengenai kejahatan Li Shijing, Liang Fenghong merasa dadanya sesak. Orang yang beberapa hari yang lalu masih berjalan pergi dengan punggung tegap, sekarang berakhir dengan kondisi yang begitu menyedihkan.
Hidup … memang tak pernah terduga.
“Tak kusangka akan kulihat ekspresi semacam itu dari wajahmu,” ujar Kaisar Weixin secara mendadak.
Sadar bahwa dirinya terbawa emosi, Liang Fenghong segera mengalihkan pandangannya dari mayat Wang Wuyu kepada sang Kaisar Shi. “Maafkan aku, Yang Mulia,” ujar pria itu. Dia menutup matanya selama sesaat, lalu membukanya kembali setelah ekspresinya kembali tenang. “Apa maksud Yang Mulia membawaku kemari?”
Kaisar Weixin memasang wajah yang begitu terluka selagi memerhatikan Wang Wuyu. “Aku mengira … bahwa Pangeran Ketiga adalah putra terakhir yang akan kuantarkan kepergiannya.” Mata sang Pria Agung terlihat berkaca-kaca. “Namun, tak kusangka aku harus mengantar putraku yang keempat juga.” Dia memejamkan matanya, mencoba untuk menahan air mata dari turun. “Seharusnya, seorang putralah yang mengantar kepergian orang tuanya, bukan sebaliknya.”
Liang Fenghong terdiam di tempatnya, dia sungguh tak tahu harus mengatakan apa. Perasaan seorang ayah, sang Tuan Liang masih belum mengerti mengenai hal tersebut.
Tiba-tiba, Kaisar Weixin melangkah ke arah sebuah meja di ujung ruangan. Dia meraih sebuah kain lebar berwarna merah gelap, lalu menatapnya dengan saksama.
__ADS_1
Akibat tindakan sang Pria Agung, Liang Fenghong yang masih berada di sisi peti mati Wang Wuyu ikut memperhatikan kain tersebut. Ada noda yang begitu kentara pada kain yang menarik perhatian pria tersebut.
Detik berikutnya, mata Liang Fenghong memancarkan keterkejutan. Dengan cepat, dia melangkah mendekati Kaisar Weixin dan memerhatikan simbol pada kain tersebut dengan saksama.
Ketika Kaisar Weixin memberikan kain tersebut padanya, Liang Fenghong segera membolak-balikkan benda tersebut. “Ini bendera Wu,” ujar pria itu dengan mata ngeri. “Dari mana kau—!” Dia menyadari sesuatu. “Noda ini … noda darah.” Pria itu mulai memiliki dugaan.
“Dugaanmu benar,” ujar Kaisar Weixin. “Kepala putraku dibawa kembali dalam kondisi terpisah dari tubuhnya selagi dibalut bendera tersebut.”
Liang Fenghong menatap ke arah Kaisar Weixin. ‘Tak heran dia dan Huang Qinghao mencobaiku di pengadilan tadi. Kemudian, Wang Junsi ….’ Dia menggertakkan giginya. “Kau jelas tahu Wu tidak mungkin melakukan tindakan kotor seperti ini …,” ucapnya saat menyadari ekspresi sang Kaisar begitu buruk.
Kaisar Weixin tidak mengalihkan pandangannya dan menatap lurus kepada Liang Fenghong. “Aku tidak sedikit pun mencurigai Wu,” jawabnya jujur. “Yang kucurigai adalah dirimu.”
Ucapan Kaisar Weixin membuat Liang Fenghong mengerutkan kening. “Dengan koneksi yang kau miliki dengan Qing Shan cukup untuk membuatku waspada terhadapmu. Kemudian, kuasamu atas Lianhua Yuan, dan juga identitasmu sebagai putra dari Perdana Menteri Liang.” Pria itu melanjutkan, “Bukanlah hal yang tidak mungkin bagimu untuk memorak-porandakan Shi, terutama dengan pasukan ayahmu yang sebagian telah masuk ke dalam Zhongcheng.”
Liang Fenghong terdiam, dia tahu jelas kalau ucapan Kaisar Weixin sangat masuk akal. Kalau bukan karena Putri Wu Meilan, pasukan Perdana Menteri Liang tak mungkin akan dibiarkan masuk ke dalam ibu kota Shi.
“Namun, sebagian dari diriku juga mempercayai dirimu, terutama karena dirimu dan Mingwei Junzhu dengan begitu keras membantu untuk menopang putra pertamaku,” jelas Kaisar Weixin.
Jujur, Liang Fenghong cukup terkejut dengan kalimat terakhir sang Kaisar Shi. Tak pernah sebelumnya pria itu duga bahwa Kaisar Weixin memiliki pandangan yang begitu jeli mengenai hal yang sedang terjadi. Liang Fenghong selalu mengira sang Pria Agung merupakan orang yang buta mengenai banyak hal, seorang penguasa yang hanya beruntung akibat begitu banyaknya pejabat yang setia padanya.
Ternyata, tidak demikian.
“Setelah pernyataanmu di pengadilan tadi, aku sadar bahwa aku mempercayai orang yang benar,” ucap Kaisar Weixin. Akan tetapi, pandangannya semakin menggelap. “Namun, itu berarti hal terburuk yang kuduga kemungkinan besar telah terjadi.”
Alis Liang Fenghong bertaut, dia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Sayangnya, kali ini otaknya tidak lebih cepat dibandingkan perasaannya. “Apa maksudmu, Yang Mulia?” tanyanya dengan ragu.
Kaisar Weixin terdiam sesaat, membuat seisi ruangan terasa mencekam. “Apakah kau sudah mendapatkan kabar dari Wu beberapa waktu ini?”
Sekejap, Liang Fenghong merasa telinganya berdengung. Benaknya terbawa kembali kepada ucapan Mudan beberapa saat yang lalu, “Ketua, Lianhua Yuan masih belum menerima kabar apa pun dari Wu.”
Tangan Liang Fenghong bergetar, tenggorokannya merasa tercekat. Mulutnya tertutup rapat, pikirannya membeku, tak berani mengajukan dugaan apa pun.
Sayangnya, Kaisar Weixin tak bersedia untuk menunggu sampai Liang Fenghong siap. Pria agung itu berkata, “Wu berada dalam bahaya.”
___
__ADS_1
A/N: Yak, serangan bertubi-tubi dari pihak musuh! Apakah benar Wu berada dalam bahaya?!