
“Kita harus pergi melalui jalur belakang!” teriak Chen Long seraya memegang pinggangnya yang terasa nyeri.
Liang Jian melirik ke bawah, lalu membelalak saat mendapati ada noda merah pada tubuh kekasihnya. “Lukamu terbuka!” desisnya dengan wajah pilu.
“Aku baik-baik saja,” balas Chen Long dengan cepat seraya memaksakan sebuah senyuman. “Ayo, kita harus segera pergi!”
Liang Jian pun segera menghampiri Yun Xia dan menggenggam tangannya, “Ayo, Ibu.” Dia juga tak lupa mengisyaratkan kepada Wu Meilan untuk mengikuti dirinya. “Tuan Putri, mari.”
Keempat orang itu baru saja ingin meninggalkan gedung ketika mereka mendengar suara seruan, “Wakil Jenderal!”
Semua orang menoleh dan mendapati Mudan bersama dengan sejumlah pengawal Lianhua Yuan menghampiri. Di belakangnya, sosok Wang Zhengyi bisa terlihat berjalan berdampingan dengan Wang Qiuhua, wajahnya terlihat pucat. Sementara itu, A Ling—pengawal pendamping sang pangeran mahkota—dengan setia berjaga di barisan paling belakang bersama pasukan Lianhua Yuan yang lain.
“Apa yang terjadi?” tanya Chen Long, kebetulan juga menyadari keberadaan luka yang cukup parah di lengan sang pangeran mahkota Kerajaan Shi. “Apa Wang Chengliu berhasil menemukan kita?”
Mudan memasang wajah suram dan menganggukkan kepalanya. “Menteri Huang sedang memimpin pasukan yang tersisa untuk menghadang.” Dia mendapati pandangan Chen Long menggerayangi luka yang diderita Wang Zhengyi. “Ada beberapa prajurit dari Pasukan Kematian yang menyelinap dan berusaha melukai Tuan Putri Qiuhua,” jelasnya seraya melirik luka Chen Long yang kembali terbuka.
Chen Long tidak mengatakan apa pun lagi dan menganggukkan kepalanya. “Kita harus pergi,” ujarnya. “Ada satu yang sempat menyelinap kemari,” jelasnya seraya menunjuk kepada prajurit yang terkapar tak bernyawa di tanah. “Dia bisa masuk, berarti yang lain juga akan segera menyusul.”
“Bagaimana dengan keluarga kerajaan yang lain? Bagaimana dengan Kaisar Shi?” celetuk Wu Meilan dengan wajah kebingungan, tapi dirinya masih ikut berlari mengikuti Chen Long dan yang lainnya.
Wang Qiuhua menggantikan Mudan untuk menjawab, “Mereka akan segera menyusul.” Kening gadis itu berkerut, menunjukkan kekhawatiran. “Paling tidak, itu yang Penyelidik Rong janjikan padaku,” jelas Wang Qiuhua, teringat bagaimana Rong Gui menekankan bahwa keberadaan dirinya malah akan membahayakan sang ibunda, ayahanda, dan juga sang nenek.
Selagi mereka berlari, Wang Zhengyi memutar otaknya. Dia baru saja terbangun hari ini dan masalah sudah begitu cepat menghampiri, dirinya sama sekali tidak diberi kesempatan berpikir jernih.
Namun, ada satu hal yang mengganjal dirinya; ke mana perginya sebagian besar penduduk Qiongpo Di?
“Qiongpo Di adalah permukiman para pengemis dan orang-orang terbuang. Dari laporan tahunan kementerian keuangan, bisa kupastikan jumlah penduduk tempat ini tidak sedikit,’ batin Wang Zhengyi. Keningnya pun berkerut, merasa ada yang aneh. ‘Ke mana perginya para penduduk itu?’ tanyanya, menyadari bahwa sejak terbangun, dia hanya melihat segelintir orang yang benar-benar warga Qiongpo Di.
__ADS_1
Seakan memiliki pemikiran yang senada dengan Wang Zhengyi, Wu Meilan mendadak bertanya, “Apa yang akan terjadi kepada para penduduk tempat ini jika pasukan Pangeran Keenam berhasil menembus pertahanan Menteri Huang?” Matanya menyapu pemandangan sekitar, sesekali bertemu dengan pandangan sejumlah penduduk yang berada di dalam rumah, tak tahu-menahu dengan yang kekacauan yang sedang terjadi.
Di saat ini, Mudan mendengus tertawa, tak sengaja melepaskan kendali atas emosinya—mengejutkan semua orang. Wajah gadis itu kembali datar seraya dirinya berkata, “Tuan Putri, penduduk Qiongpo Di adalah hal terakhir yang perlu kau khawatirkan.”
Semua orang menatap Mudan bertanya-tanya, ingin mengetahui jawabannya.
“Semua orang mengira bahwa makna Qiongpo Di adalah permukiman kumuh, jadi tidak mengherankan bagaimana tempat ini menampung para penduduk terbuang,” Mudan mulai menjelaskan. “Namun, apabila ditelusuri makna lainnya, kalian bisa menemukan arti lain dari nama itu.”
Mendengar hal ini, benak semua orang segera berpacu mencari jawaban. Wang Qiuhua bergumam, “Qiong … Po … Di?” Lalu, dia terbelalak. “Tunggu, kau tidak mungkin bermaksud untuk mengatakan—”
“Qiongpo Di, penyendiri yang mampu menghancurkan bumi.” Pandangan Wang Zhengyi terlihat gelap dan suram, tapi dia memaksakan diri untuk berkata, “Mereka adalah sekelompok pemberontak yang tak akan segan membunuh keluarga kerajaan apabila mereka rasa hal itu diperlukan.”
Chen Long terbelalak mendengar hal tersebut. ‘Pasukan pemberontak?’
Tidak, bukan keberadaan pasukan pemberontak yang mengejutkan Chen Long. Lagi pula, setiap kerajaan pasti memiliki kelompok semacam itu. Hanya saja, yang lebih dipertanyakan oleh sang wakil jenderal Kerajaan Wu adalah … bagaimana pasukan tersebut bersedia membantu keluarga kerajaan untuk menempati tempat ini!
Sementara Wang Qiuhua sedang mengkhawatirkan identitas Rong Gui, Wang Zhengyi sedang memikirkan perihal lain. ‘Huang Miaoling mengetahui identitas Rong Gui sebagai penghuni Qiongpo Di. Dengan begitu, apakah dia juga tahu perihal Qiongpo Di yang merupakan markas para pasukan pemberontak?!’ Ada sedikit amarah dalam dirinya. ‘Tidakkah dia tahu ini membahayakan nyawa keluarga kerajaan?!’
Mudan bisa merasakan emosi kedua keturunan keluarga Kerajaan Shi itu, tapi dia tidak mengatakan apa pun. Situasi sudah seperti ini, dia tidak bisa meluangkan fokusnya lagi untuk hal tidak penting seperti menjelaskan. Yang paling penting sekarang adalah membawa pergi orang-orang ini.
“Kita hampir sampai,” ucap Mudan ketika tujuannya sudah mulai terlihat.
Mendengar hal ini, Liang Jian berkerut. “Mudan, itu jalan buntu,” ucapnya, menyuarakan isi benak semua orang.
“Tidak,” Mudan menjawab seraya berhenti di hadapan tembok besar yang membatasi ujung jalan Qiongpo Di dengan dunia luar, tempat yang bukan lagi bagian dari ibu kota Zhongcheng, melainkan hutan belantara. “Ini adalah jalan keluar kita,” jelas gadis itu seraya menyapu dataran kasar tembok dengan telapak tangannya.
Semua orang menatap Mudan dengan tatapan kosong dan kebingungan, merasa kalau gadis itu sedang mengatakan hal di luar akal sehat.
__ADS_1
Walau Chen Long juga sempat mengatakan bahwa mereka harus pergi menggunakan jalan belakang, tapi sejujurnya dia tidak tahu apa yang dimaksud dengan ‘jalur belakang’. Dia hanya mengikuti pesan Mudan sebelumnya untuk membawa Wu Meilan ke jalur belakang kalau-kalau sesuatu terjadi. Oleh karena itu, melihat Mudan menggerayangi tembok besar Zhongcheng, dia hanya bisa menatap dengan ekspresi konyol.
“Ah!”
Tiba-tiba, Mudan berseru dan memasang wajah terkejut, mengagetkan semua orang. Gadis itu kemudian mendorong bagian tembok dengan kedua tangannya.
Tidak ada yang terjadi.
“Mudan … kau yakin ini tempatnya?” tanya Yun Xia, sedikit khawatir.
Mudan menoleh ke belakang dan menatap melewati para keluarga bangsawan. “Kau!” teriaknya kepada A Ling yang kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali karena bingung. “Ya, kau. Cepat bantu aku.”
A Ling bergeming selama sesaat. Kemudian, dia dengan cepat melangkah menghampiri Mudan. Sesampainya di sisi gadis itu, A Ling mengikuti tindakan Mudan yang meletakkan kedua tangannya di tembok.
“Dorong!”
Bersamaan dengan seruan itu, getaran kecil mulai terasa pada telapak tangan A Ling, membuat pria itu—dan juga semua orang yang melihatnya—terbelalak. ‘Tembok ini bergerak!’ batinnya.
Semakin lama, tembok itu semakin terdorong ke belakang. Lalu, sebuah celah pun perlahan terbentuk, membiarkan secercah cahaya ikut melaluinya. Pandangan semua orang membesar, tak percaya bahwa sungguh ada jalan rahasia semacam itu di tempat kumuh seperti ini!
Wang Zhengyi membatin, ‘Kalau bukan karena pemberontakan Wang Chengliu, aku tak akan pernah tahu perihal pasukan pemberontak dan juga jalan rahasia ini.’ Dia tersadar bahwa ada sejumlah hal yang patut dia syukuri saat ini. Namun, begitu pandangan Wang Zhengyi melihat melalui celah yang sudah cukup besar, matanya terbelalak dan dia pun berteriak nyaring, “Awas!”
Teriakan Wang Zhengyi membuat Mudan mengangkat pandangannya, mendapati keberadaan suatu benda tajam menghampiri. Namun, tubuhnya tidak mampu bereaksi cukup cepat, dan dia pun hanya bisa membatin lirih dalam hati, ‘Mereka juga … mengetahui jalur ini?’
___
A/N:
__ADS_1
Hampir nyerah nulis hari ini, tapi ternyata mampu selesai 1 bab. Semoga suka ya. Aku pribadi ngerasa ada yang missing sih, kurang bermain tekanan 'dag dig dug ser'-nya di bab ini. Menurut kalian gimana?