
“Ahh!”
Mata pria itu terbuka secara mendadak, otot-ototnya mengencang, menyebabkan rasa sakit menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya. Pandangan pria itu terarah ke atas, pada langit-langit ruangan yang tidak familier baginya. Kemudian, dia melirik ke bawah, ke arah tubuhnya yang mengenakan pakaian bersih tak ternoda, bukan baju zirah yang berlumuran darah.
Dari pakaian yang seperti sengaja dibiarkan setengah terbuka, pria itu melihat perban membalut tubuhnya. Alis pria itu bertaut, dirinya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, juga siapa yang telah menyelamatkannya.
Pandangan pria itu kemudian beralih pada ruangan tempatnya berada. Dia menyapu pemandangan sekelilingnya dan berbisik, ‘Bagaimana aku bisa di sini?’ Kepalanya terasa pening, dan hal itu membuat pria tersebut mengernyitkan dahi.
Mendadak, pintu ruangan terbanting terbuka, mengejutkan pria yang berada di atas tempat tidur itu. Hal tersebut diikuti dengan kemunculan seorang gadis yang melangkah masuk ke dalam ruangan, wajahnya terlihat begitu khawatir dan serius.
“Siapa?!” geram sang pria dengan suara serak, kerutan pada keningnya menunjukkan bahwa berbicara saja bisa menyebabkan pria itu merasa kesakitan. Namun, semangat untuk melindungi diri menyebabkan pria itu memaksa tubuhnya untuk terduduk dan bersiaga.
Melihat hal tersebut, gadis dengan pakaian pelayan itu segera berlutut di lantai. “Wakil Jenderal Chen, mohon jangan takut! Hamba adalah Mudan, bawahan dari Tuan Liang, bagian dari Lianhua Yuan!” Dia tahu kalau menjelaskan identitasnya jauh lebih penting untuk menenangkan sosok Chen Long yang sangat waspada. Mudan meringis ketika melihat noda merah yang mulai menyebar di perban yang membalut tubuh sang wakil jenderal. “Wakil Jenderal Chen, mohon jangan bergerak. Lukamu begitu parah, dan gerakan besar akan menyebabkannya terbuka kembali.”
Begitu ucapan Mudan mendarat di telinga Chen Long, wajah pria itu langsung berkerut akibat rasa sakit yang menusuk pada dadanya. “Aku … bagaimana aku bisa tiba di sini?” tanyanya seraya menyandarkan punggungnya pada tembok di belakang.
Chen Long tak mengerti, jelas-jelas hal terakhir yang dirinya ingat adalah berada di luar gerbang ibu kota, menyaksikan seluruh pasukannya dibantai habis oleh Nanhan Ding. Hongchen … Hongchen juga mati di sana.
Lalu, bagaimana dirinya bisa berakhir di Kerajaan Shi?!
‘Ah!’ Chen Long terbelalak, sebuah gambaran muncul dalam pikirannya. ‘Tidak, hal terakhir yang kuingat adalah ….’
Tepat pada saat ingatan mulai mengalir ke dalam benaknya, Chen Long mendengar sejumlah langkah kaki yang kian mendekat. Pandangan sang wakil jenderal itu pun teralihkan pada sosok-sosok yang menghampiri pintu ruangan yang terbuka.
Di saat mata Chen Long bertemu dengan sosok Huang Miaoling, kewaspadaannya sekejap menghilang. “Huang Miaoling!” Lalu, dia melirik ke arah pria di sebelah wanita itu. Berbeda dengan reaksi yang biasa dia tunjukkan ketika bertemu dengan pria tersebut, Chen Long segera berteriak penuh semangat, “Liang Fenghong!” Wakil jenderal itu berusaha untuk turun dari tempat tidur. Namun, dirinya malah berakhir terjatuh.
“Chen Long!” Huang Miaoling segera melangkah menghampiri pria itu, dan Liang Fenghong bergegas mengikutinya.
Di saat Huang Miaoling dan Liang Fenghong mendekat untuk membantunya berdiri, Chen Long segera mencengkeram tangan mereka dengan kuat. “Kalian harus segera pergi! Kalian harus segera bawa pasukan dan selamatkan Wu!” teriaknya, tak memedulikan lukanya yang kembali terbuka.
Tahu bahwa Chen Long tak bisa dibiarkan dalam kondisi panik, Liang Fenghong segera menotok beberapa titik di tubuh sang wakil jenderal. Hal tersebut membuat tubuh Chen Long melemas karena kehilangan tenaganya. Kemudian, Liang Fenghong mengangkat tubuh Chen Long ke tempat tidur.
__ADS_1
Bahkan dengan lukanya yang semakin parah, Chen Long tetap berteriak, “Liang Fenghong! Apa kau dengar ucapanku?! Kerajaan Wu dalam bahaya! Li Changsheng menyergap istana dan menyandera Kaisar Huatai! Suku Nanhan membantunya! Kaisar Huatai dalam bahaya!” Karena tidak mendapatkan reaksi yang dia inginkan dari lawan bicaranya, Chen Long beralih kepada Huang Miaoling. “Huang Miaoling! Kau adalah penyelamat Wu! Aku mohon gunakanlah kekuatanmu untuk membantu kami lagi!”
"Berteriak tidak akan menyelesaikan apa pun!” balas Liang Fenghong, tak mampu mengendalikan semburan amarahnya. Teriakannya mengejutkan semua orang di dalam ruangan, terkecuali Huang Miaoling yang tahu alasan pria itu tak bisa mengendalikan emosinya.
Huang Miaoling maju selangkah dan menyentuh pundak suaminya, menenangkannya. Kemudian, dia berkata kepada Chen Long, “Tenangkan dirimu, Chen Long. Biarkan A Feng mengobati lukamu terlebih dahulu. Setelah dia melakukannya, kau bisa menjelaskan pada kami mengenai semua yang terjadi. Dengan demikian, kami tahu langkah selanjutnya yang harus diambil.”
Chen Long berusaha keras untuk mengendalikan emosinya. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menutup matanya. Dia berharap dengan begitu ingatan dalam sudut benaknya akan terpacu untuk mengalir keluar.
Setelah Mudan membawakan peralatan yang diperlukan, Liang Fenghong memberikan sebuah obat kepada Chen Long. Kemudian, dia membuka perban yang membalut luka sang wakil jenderal.
Ketika berhasil melihat luka pada tubuh Chen Long, Liang Fenghong terbelalak. “Ini—!” Dia segera bertanya, “Mudan, kau yang memberikan pertolongan pertama ini?”
Dari tempatnya, Mudan menundukkan kepala seraya menjawab, “Benar, Ketua. Aku tidak memiliki keahlian yang cukup dalam hal medis. Maafkan aku, Ketua.” Dia menebak bahwa tindakannya tidak sesuai dengan harapan Liang Fenghong.
Liang Fenghong menggelengkan kepalanya, “Bukan, bukan itu masalahnya.” Kemampuan medis Mudan memang tidak sebaik dirinya. Oleh karena itu, tak heran bila gadis itu tidak menyadari keanehan yang dia tangkap. Dia melirik ke arah Chen Long. “Kapan perang terjadi?”
Mendengar pertanyaan Liang Fenghong, Huang Miaoling mengerutkan keningnya. Wanita itu mengambil satu langkah maju seraya berpikir, ‘Apa yang membuat A Feng begitu—’ dan dia ikut terkejut saat mengerti alasan suaminya bersikap begitu aneh. ‘Luka itu—?!’
Huang Miaoling merupakan orang pertama yang mendapatkan kembali kesadarannya. “T-tenanglah,” ucapnya kepada Chen Long. “Kami terkejut bukan karena berapa lamanya sejak hari itu telah berlalu, melainkan … betapa cepatnya kau berhasil tiba di sini.”
Kerutan pada kening Chen Long menjadi semakin dalam, dia tak lagi sadar bahwa Liang Fenghong telah mulai menjahit lukanya—tentu saja hal ini juga disebabkan oleh obat penangkal rasa yang diberikan di awal. “Apa maksudmu?” tanya wakil jenderal itu.
Manik hitam Huang Miaoling bersinar, lalu dia menjawab, “Chen Long, baru tiga hari berlalu sejak hari itu.” Ucapannya berhasil membuat mata Chen Long membesar, seakan ingin melompat dari soketnya. “Aku sungguh ingin tahu bagaimana kau bisa berakhir di sini. Namun, aku rasa hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mendengar ceritamu mengenai apa yang terjadi hari itu.” Huang Miaoling menambahkan, “Mulailah dari awal.”
Chen Long menelan ludahnya, mencoba menyusun kembali pikirannya. “Hari itu adalah hari istirahat, para pejabat pemerintahan tidak diharuskan untuk datang ke pengadilan istana. Oleh karena itu, aku dan Ayah menghabiskan waktu di lapangan militer untuk melatih pasukan.” Pria itu mengerutkan keningnya, “Tiba-tiba, pesan datang dari gerbang Selatan dan Barat perihal penyerangan yang diluncurkan oleh pasukan Nanhan.”
Mendengar hal ini, Huang Miaoling mengerutkan keningnya. ‘Nanhan hanyalah sebuah suku kecil, mereka tak mungkin memiliki pasukan sebanyak itu untuk menjatuhkan dua gerbang utama ibu kota Wu,’ ujarnya dalam hati. ‘Tidak, mereka bahkan tidak memiliki cukup banyak pasukan untuk bisa menerobos pertahanan kota lainnya dan tiba di ibu kota.” Lalu, dia tersadar akan sesuatu, ‘Terkecuali … ada kerajaan lain yang terlibat, juga seorang dalam yang menghasut pemerintahan daerah.’ Wanita itu sangat menyayangkan satu pihak yang terlibat, ‘Li Changsheng ….’
Walau memiliki dugaan dalam benaknya, tapi Huang Miaoling sama sekali tidak menyuarakannya. Wanita itu hanya terdiam selagi dirinya mendengarkan kronologis kekacauan yang terjadi di Kerajaan Wu.
Chen Long menjelaskan bahwa di saat dirinya dan sang ayah berniat menahan pasukan musuh dari dua sisi, seorang pembawa pesan lainnya—seorang kasim istana—datang dan memberitahukan bahwa istana telah disergap dan Kaisar Huatai beserta Permaisuri Tianzhen disandera. Dengan pedang kekaisaran yang dibawakan oleh sang kasim sebagai bukti, Chen Qiang dengan cepat mengetahui bahwa situasi telah mencapai titik terburuk. Tidak hanya nyawa keluarga kerajaan dalam bahaya, tapi ibu kota Wu juga kemungkinan besar akan jatuh hari itu juga.
__ADS_1
“Oleh karena itu, Ayah menyuruhku untuk pergi membawa sejumlah pasukan untuk keluar dari ibu kota melalui gerbang Timur, berharap pesan bisa diantarkan kepada Perdana Menteri Liang untuk kembali dengan bala bantuan dari Shi.” Begitu dirinya mengatakan hal tersebut, mata Chen Long terasa panas. “Awalnya, semua berjalan begitu mulus …. Namun, siapa yang mengira …? Siapa yang mengira baj*ngan itu akan—?!” Ucapan Chen Long terhenti, tidak kuat membayangkan kembali apa yang telah terjadi kepada pasukannya.
Liang Fenghong yang baru saja selesai menjahit luka Chen Long segera membersihkan tangannya, dia membiarkan Mudan menyelesaikan langkah terakhir dan membalut luka sang wakil jenderal dengan perban. “Lalu,” Liang Fenghong angkat bicara, “apa yang terakhir kali kau ingat sebelum berakhir di sini?” Matanya menatap tajam ke arah Chen Long, ada sebuah harapan tersembunyi dari tatapannya.
Tanpa menyadari tatapan yang diberikan oleh Liang Fenghong, Chen Long mengerutkan keningnya. “Hal terakhir yang kuingat adalah ….”
***
Tawa menggelegar bisa terdengar dari arah gerbang ibu kota. Senyuman lebar terpampang di wajah Nanhan Ding selagi dirinya melihat sosok Chen Long jatuh berlutut di tanah. Penampilan menyedihkan yang ditampakkan oleh sang wakil jenderal Kerajaan Wu itu merupakan suatu hal yang sangat memuaskan.
Awalnya, Nanhan Ding tidak memiliki niat untuk menyisakan Chen Long seorang. Namun, ketika dia melihat kedatangan sang wakil jenderal dengan baju zirah kehormatannya, Nanhan Ding langsung tahu bahwa pemuda itu merupakan seseorang yang telah siap berkorban—bukan sekadar untuk negaranya, melainkan juga demi para bawahannya.
Penampilan Chen Long yang lengkap dengan seragam dan pelindung kepala wakil jenderal Kerajaan Wu begitu menarik perhatian. Dari hal itu, Nanhan Ding yakin bahwa wakil jenderal itu sedang mengharapkan musuh untuk menargetkannya. Hal tersebut bertujuan agar prajurit Wu lainnya memiliki kesempatan besar untuk meninggalkan ibu kota.
Muak dengan niat Chen Long yang terkesan begitu mulia, Nanhan Ding pun menurunkan perintah agar para bawahannya mempersulit wakil jenderal itu. Sementara itu, dia membiarkan bawahannya yang lain untuk mempermudah kepergian prajurit Wu lainnya. Ketika orang pertama—Hongchen—berhasil lewat, Nanhan Ding memberikan tanda pada para pemanahnya yang berada di dalam hutan. Panah yang dikira Chen Long ditujukan pada Hongchen … adalah tanda yang dimaksud.
Di saat-saat terakhir, ketika seluruh bawahan Chen Long berhasil melewati batas yang Nanhan Ding berikan, dia pun sengaja membiarkan prajuritnya melepaskan wakil jenderal itu. Hal tersebut akan meninggikan harapan dalam hati Chen Long, mengira bahwa tak hanya sebagian besar bawahannya berhasil selamat, tapi dirinya bahkan berhasil melarikan diri dengan selamat!
Namun, kenyataan tidaklah seindah itu.
“Ha ha ha! Malangnya,” ejek Nanhan Ding sembari tersenyum menatap Chen Long. “Dia pasti hancur melihat semua yang dia harapkan selamat … berakhir menjadi mayat.”
Di sebelahnya, wakil Nanhan Ding memberi hormat, “Ketua bijaksana,” pujinya.
“Heh!” Nanhan Ding mendengkus bangga. “Panah,” dia merentangkan satu tangannya. Setelah wakilnya dengan cepat memberikan hal yang dia inginkan, Nanhan Ding segera membidik ke arah Chen Long yang masih terduduk lemas di atas tanah. “Biar aku antarkan dirimu untuk bertemu para bawahanmu.” Dan, panah pun dilepaskan.
___
A/N:
*Tersenyum lega*
__ADS_1