Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 112 Pengkhianatan


__ADS_3

Teriakan Huang Jieli membuat lari Wang Xiangqi melambat, lalu pemuda itu menoleh kebingungan. “Hah?”


Sebelum ada yang mampu bergerak, suara angin terbelah bisa terdengar. Hal itu diikuti dengan suara erangan kesakitan dan dentuman lutut yang bertemu dengan tanah.


“Pangeran Ketujuh!” teriak Huang Jieli yang melihat sebuah belati menancap para pundak Wang Xiangqi. “Lindungi Pangeran Ketujuh!” teriaknya dengan lantang. “Bawa dia per— Argh!"


“Wakil Jenderal!” teriak seorang prajurit ketika melihat sosok sang wakil jenderal jatuh ke tanah akibat sebuah serangan yang dia terima di pinggang. “Baj*ngan!” geram prajurit itu ke arah prajurit Tubo yang melancarkan serangan.


Melihat para prajurit Tubo melesat ke arah mereka, pasukan Kerajaan Shi di bawah pimpinan Huang Jieli dan Wang Xiangqi segera maju. Hal itu dilakukan untuk menghalangi musuh dari menyentuh pemimpin mereka.


Huang Jieli yang terjatuh ke tanah berumput berusaha untuk berdiri. Sejumlah prajurit yang telah tiba di sisinya ingin membantunya, tapi mereka khawatir malah akan menyakiti pria tersebut.


“Cabut! Cabut saja!” geram Huang Jieli kepada salah satu prajuritnya. Lalu, dia melirik kepada yang lain, “Pastikan Pangeran Ketujuh baik-baik saja! Segera bawa dia pergi dari sini!” Mendadak, dia merasakan benda asing di sisi tubuhnya dicabut paksa. “Agh!”


Dengan sigap, prajurit di sisi Huang Jieli itu segera merobek pakaiannya. Kemudian, dia menggunakan kain hasil robekan itu untuk melibat luka sang wakil jenderal.


Setelah luka pada tubuhnya ‘diobati’ seadanya, Huang Jieli memaksakan diri untuk berdiri. Namun, dia hanya bisa berlutut di tanah karena rasa sakit yang begitu menusuk.


Di saat Huang Jieli mengangkat pandangannya, dia bisa melihat satu per satu pasukannya dijatuhkan. Hal tersebut membuat sang wakil jenderal berteriak dalam hati, ‘Bagaimana bisa seperti ini!? Bagaimana bisa seperti ini!?”


“Wakil Jenderal! Kita harus pergi!” teriak prajurit yang membantu mengobati Huang Jieli. Dia mencoba untuk membopong sang wakil jenderal, lalu mulai berlari sementara prajurit lainnya menghadang para prajurit Tubo.


“Bagaimana … bagaimana dengan Pangeran Ketujuh!?” tanya Huang Jieli di tengah-tengah pelariannya.


“Aku yakin dia telah dibawa ke tempat aman!” jawab prajurit itu dengan asal.


Sebagai prajurit di bawah pimpinan Huang Jieli, prajurit tersebut sadar bahwa tugasnya adalah memastikan bahwa pemimpinnya itu selamat. Dia yakin bahwa hal yang sama juga terjadi di sisi Wang Xiangqi!

__ADS_1


“Kita harus—!” Tak sempat prajurit itu menyelesaikan ucapannya, sebuah panah menembus tubuhnya. Namun, dengan usaha keras untuk tidak memedulikan lukanya, prajurit itu berusaha untuk terus berjalan dan membawa Huang Jieli menjauh dari medan perang.


Huang Jieli hanya terpaku di tempat, merasa napasnya tercekat. “Berhenti …,” ucapnya dengan wajah kesulitan, emosinya menjadi tak terkendali. “Kau … kau sudah berjuang.”


“Tidak,” balas prajurit itu. Suaranya mulai melemah, “Belum … cukup … jauh ….”


Walau ingin membantu Huang Jieli untuk pergi lebih jauh, tapi tenaganya telah terserap habis untuk menahan rasa sakit yang dia rasakan. Prajurit itu pun tumbang ke tanah, membuat Huang Jieli jatuh bersamanya.


Dengan napas tersengal-sengal dan mata menatap ke arah sang wakil jenderal, prajurit itu berkata, “Wakil … Jenderal … lari ….” Dia terbatuk, mungkin tersedak darah yang mulai naik ke tenggorokan. “Kau harus … hi … dup.”


Sembari menatap cahaya kehidupan menghilang dari manik hitam prajuritnya, Huang Jieli mengepalkan tangannya seraya mengalihkan pandangannya. Dia pun berusaha kuat untuk berdiri, lalu mulai berlari, meninggalkan para prajuritnya yang berjatuhan selagi menghadang kejaran musuhnya.


Hina … Huang Jieli sungguh merasa hina. Pemimpin mana yang lari ketika prajurit di bawah kuasanya mengorbankan nyawa untuk dirinya?!


Seakan menjawab permintaan Huang Jieli, sebuah belati menancap di kaki wakil jenderal itu, membuatnya berhenti berlari dan terjatuh keras ke tanah. Huang Jieli mengerang keras akibat rasa sakit yang melanda.


Ketika mendengar langkah kaki yang mendekat, Huang Jieli dengan cepat berbalik untuk melihat penyerangnya. Mata biru yang biasa terlihat menenangkan itu sekarang terasa begitu mengerikan. Dengan tubuh yang tinggi menjulang, Huang Jieli bisa melihat prajurit Tubo itu menghampiri dirinya.


Sejujurnya, Huang Jieli tidak yakin apakah ini merupakan ulah Wang Junsi atau bukan. Namun, setelah semua yang terjadi, ada begitu banyak kemungkinan terpampang di hadapannya perihal orang yang mampu menjadi dalang. Oleh karena itu, kalimat terakhirnya bertujuan untuk memancing kebenaran.


Paling tidak, sebelum dia kehilangan nyawanya, Huang Jieli ingin tahu siapa yang telah menjebak dirinya!


Mendengar hal ini, Tubo Rang hanya menatap Huang Jieli dengan dingin. “Sedari awal, aku tidak pernah mengabdi pada Kerajaan Shi.” Dia mengabaikan pertanyaan lain targetnya itu, tahu keinginan Huang Jieli untuk memancingnya. Tanpa berbasa-basi lagi, Tubo Rang dengan cepat mengarahkan belati di tangannya kepada Huang Jieli.


Di tengah serangan Tubo Rang, Huang Jieli melemparkan segenggam tanah dan pasir ke arah pria itu. Hal tersebut membuat pria dari Kerajaan Tubo itu mengerang akibat penglihatannya yang terganggu.


Walau dalam posisi tak menguntungkan, tapi Tubo Rang terus mengayunkan belatinya. Dia bertindak demikian demi berjaga-jaga kalau Huang Jieli berniat mengambil kesempatan untuk menyerangnya.

__ADS_1


Sementara itu, Huang Jieli dengan cepat mencabut belati dari kakinya dan mulai berlari dengan pincang. Belati yang melukai kakinya itu telah dicabut, tapi tidak dia singkirkan. Benda itu sekarang merupakan penjaga terakhir yang Huang Jieli miliki.


Saat penglihatannya kembali normal, Tubo Rang menggeram rendah, “Rendahan!”


Huang Jieli bisa mendengar hinaan itu, tapi dia memaki dalam hati, ‘Kalau aku rendahan, kau sendiri apa?! Baj*ngan!’


Mendengar derap langkah kaki di belakangnya, Huang Jieli terpaksa menoleh. Saat menyadari Tubo Rang hanya beberapa langkah dari dirinya, wakil jenderal itu segera berbalik dan melemparkan belati di tangannya dengan kencang.


Dalam jarak yang begitu dekat, Tubo Rang tentu saja tidak bisa menghindar. Namun, pria itu sempat menggeser sedikit tubuhnya untuk membiarkan belati itu melukai bagian yang tidak fatal—sisi lengannya.


Huang Jieli memaki dengan suara rendah, dan berusaha untuk terus berlari. Akan tetapi, Tubo Rang yang hanya mendapatkan luka ringan dengan mudah menggapai kakinya, menyebabkan Huang Jieli terjerembap ke tanah dengan menyakitkan.


Berhasil menjatuhkan Huang Jieli, Tubo Rang segera menahan tubuh wakil jenderal itu ke tanah. Kemudian, dengan satu tangan menekan kepala Huang Jieli, Tubo Rang mengangkat tinggi belati di tangannya.


Dari sela-sela jari Tubo Rang pada wajahnya, Huang Jieli bisa melihat belati itu mengarah ke tubuhnya. Pria itu menutup matanya, air mata menuruni wajahnya, ‘Meiliang … maafkan aku.’


 


 


___


A/N:


"... sosok sang wakil jenderal jatuh ke tanah akibat sebuah serangan yang dia terima di pinggang."


Author: Jir, kena encok juga dia?

__ADS_1


Maap, kudu ngomong aja soalnya kepikiran encok juga ini sekarang aku. Wkwk


Anyway, libur dulu yak bulan depan, 3 days, sampe selasa keknya atau MAX sampe Jumat. Capek wkwk


__ADS_2