Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 149 Pertemuan, Perpisahan, Persatuan, dan Penyesalan


__ADS_3

“Apa yang membuatmu begitu percaya pada gadis itu?” pertanyaan itu terlontar dari bibir Huang Junyi, membuat Huang Miaoling dan Liang Fenghong terdiam di tempat.


Huang Miaoling mengalihkan pandangan ke lantai, mencoba untuk mencari jawaban. ‘Kenapa? Kenapa aku begitu percaya pada Lan’er? Karena dia berbeda? Karena dia menunjukkan sesuatu yang tidak mungkin?’ Alis hitam wanita itu terjalin erat. ‘Bahkan setelah Junyi mempertanyakannya, saat ini hanyalah pembenaran yang kucari!’ Dia melirik Liang Fenghong yang terdiam. ‘Kenapa kami begitu percaya padanya?’


“Tidak peduli apa alasannya, gadis itu telah memberikan begitu banyak hal yang seharusnya tidak mungkin,” ujar sebuah suara menanggapi pertanyaan Huang Junyi.


Semua orang mengalihkan pandangan dan melihat sosok Liang Siya berjalan masuk ke dalam ruangan. Sepertinya, wanita tua itu sudah sejak lama mendengarkan dari luar ruangan.


“Nenek,” panggil Huang Miaoling seraya berdiri dari kursinya, sama seperti semua orang lainnya. Wanita itu kemudian menghampiri Liang Siya yang telah menjulurkan tangan untuk menyentuhnya.


Tangan Liang Siya menyentuh wajah cucunya dengan lembut. “Kau baik-baik saja, ini adalah sebuah berkah,” ucap wanita tua itu diikuti dengan sebuah senyuman hangat. Dia pun beralih menatap Liang Fenghong, “Penasihat Liang,” panggilnya.


Liang Fenghong menganggukkan kepalanya dan menyapa dengan sopan, “Nyonya Besar Huang.”


Liang Siya menarik tangan Liang Fenghong, lalu menempatkannya di atas tangan Huang Miaoling. “Kepercayaan didasari kasih sayang dan juga cinta. Kalau kalian percaya, hal itu berarti ada bagian dalam diri kalian yang mengasihi tanpa diminta. Dan sering kali, cinta datang tanpa alasan yang jelas.” Wanita tua itu menatap kedua orang di hadapannya. “Kalau memang gadis itu telah memanipulasi kalian, apa itu berarti semua yang telah terjadi adalah kebohongan?”


“Semua yang terjadi …?” Huang Miaoling mengulangi ucapan neneknya.


“Pertemuan, perpisahan, persatuan, dan juga penyesalan,” Liang Siya menjelaskan, “semua yang kalian lalui sampai detik ini.”


Kali ini, Liang Fenghong yang memutuskan untuk membalas, “Tidak.” Dia memasang wajah tegas selagi mengenggam erat tangan istrinya. “Kebenaran ditentukan oleh diri sendiri, dan aku bertanggung jawab atas apa yang kupercaya.”


Huang Miaoling merasakan tekad Liang Fenghong, dan dia pun tersenyum. “Kalaupun pada akhirnya terbukti ada sebuah kebohongan dari yang kuketahui, maka aku sendiri yang akan bertanggung jawab atas hal itu. Namun, semua yang kulalui, tidak ada satu pun yang kuanggap sebagai sebuah kebohongan. Aku menjalaninya secara nyata dan benar.”


Balasan pasangan di hadapannya itu membuat Liang Siya tersenyum. “Tak peduli apa pun yang terjadi, satu-satunya harapanku saat ini adalah agar kalian bisa tetap jujur kepada diri sendiri. Demikian, tidak ada penyesalan yang akan kalian rasakan di masa depan.”


Ucapan Liang Siya membuat hati Liang Fenghong terasa hangat. Dia membungkuk begitu rendah, memberi hormat pada wanita tua itu. “Ajaran Nyonya Besar Huang akan selalu kuingat,” balasnya.


Tak mampu Liang Fenghong elak, ketika Huang Junyi mengutarakan pertanyaan itu, hati kecilnya cukup bertanya-tanya mengenai Lan’er. Hanya karena gadis itu mampu melakukan hal yang tidak mungkin, tapi itu bukanlah hal yang membuatnya pantas dipercaya. Hanya ketika Liang Siya mengingatkannya perihal hubungan dan jalinan takdir antara dirinya dan Lan’er, barulah dia tersadar begitu banyak perjuangan yang gadis itu lakukan.


‘Walau tidak tahu untuk siapa dan apa alasan Lan’er melakukan semua hal ini, tapi yang jelas aku tahu tidak sekali pun dia melukai orang yang bersalah,’ batin Liang Fenghong, menerawang ingatannya perihal sosok Lan’er. ‘Paling tidak … tidak di kehidupan ini,’ imbuhnya.


“Bagus.” Liang Siya mengangguk untuk kemudian mengarah ke tempat duduk, kakinya telah terlalu lama berdiri. “Junyi,” panggilnya.


Huang Junyi pun tersentak. “Nenek,” balasnya, khawatir bahwa sang nenek akan menegurnya.


Melirik cucu termudanya itu, Liang Siya tersenyum. “Kau adalah pemuda yang teliti dan berhati-hati, pertahankan itu. Setiap orang memiliki saat di mana mereka harus diperingatkan mengenai hal-hal kecil.”


Pujian yang didapat membuat Huang Junyi terkejut. Dia pun membungkuk hormat kepada sang nenek dan berucap, “Aku mengerti, Nenek. Terima kasih.”


Selesai menenangkan seisi ruangan perihal pertanyaan Huang Junyi, Liang Siya kembali mengalihkan pembicaraan pada topik sebelumnya, “Jadi, apa rencana kalian berikutnya? Tidak mungkin kalian akan kembali ke ibu kota setelah kita bersusah-payah keluar dari sana, bukan?”


Huang Yade dan Huang Qinghao tidak berani menjawab. Bagaimanapun, orang yang sekarang memegang kendali atas perkembangan perang hanya ada dua, yakni Huang Miaoling dan Liang Fenghong. Bagaimanapun, mereka adalah dua orang yang paling mengenal Wang Chengliu dan mampu mendekati pemikiran pria tersebut di Jingcheng.


Huang Miaoling pun memutuskan untuk menjawab, “Ya, Nenek. Dibandingkan kita yang menyerang ibu kota, Wang Chengliu jelas akan memutuskan untuk menyerang kita terlebih dahulu.” Dia menatap Liang Fenghong. “Kau memutuskan datang ke sini karena suatu hal, bukan hanya perihal Kakak Kedua bersama kedua pangeran, bukan begitu?”

__ADS_1


Liang Fenghong menganggukkan kepalanya dan mengeluarkan sebuah surat dari dalam pakaiannya. “Sebuah surat datang dari Lianhua Yuan, Menteri Shao yang mengirimkannya.”


Ucapan Liang Fenghong berhasil membuat seisi ruangan terkejut.


“Menteri Shao? Shao Yanjun?” tanya Huang Hanrong dengan alis tertaut. “Bukankah dia … berada di sisi Pangeran Keenam?”


Di saat ini, Huang Yade memasang sebuah senyuman tak berdaya. “Hari kau mengunjungi kediaman Shao, inikah salah satu tujuannya? Kau menjadikannya sekutu?” tanyanya. “Bagaimana mungkin?”


Selagi Huang Miaoling masih sibuk membuka suratnya, Liang Siya angkat bicara, “Nyonya Besar Shao, Rong Xia dan juga Nyonya Li ada di Jingcheng.”


Tanpa perlu dijelaskan lebih jauh, seisi ruangan langsung mengerti. Huang Miaoling menjanjikan keselamatan kedua wanita yang paling berharga untuk Shao Yanjun sebagai ganti sebuah kerja sama.


Detik berikutnya, suhu di ruangan berubah dingin, terlebih ketika semua orang menyadari ekspresi Huang Miaoling yang berubah sinis. “Sesuai dugaan … Wang Chengliu berniat untuk menyerang Jingcheng,” ucapnya seraya memberikan surat kepada Huang Yade. “Ada beberapa pemerintahan daerah yang bersedia membantunya.”


“Berita perihal keselamatan Jieli bersama Pangeran Keempat dan Ketujuh pasti telah mencapai telinganya juga,” timpal Huang Qinghao dengan wajah dingin.


Huang Yade mengerutkan keningnya. “Dia berniat untuk mengakhiri kita sebelum bala bantuan dari Zhou tiba.”


Mendengar pernyataan demi pernyataan yang dilontarkan, ekspresi Huang Junyi menjadi sedikit buruk. “Hanya ada jarak waktu 2 hari untuk sebuah pasukan tiba dari ibu kota ke Jingcheng, sedangkan perlu setidaknya 3 hari berkuda tanpa henti dari Zhou menuju Shi,” ujarnya. “Dengan pasukan kita sekarang, kita hanya bisa bertahan.”


“Biarkan dia datang,” ujar Liang Fenghong membuat semua orang beralih kepadanya. “Aku akan pastikan Jingcheng bertahan sampai bala bantuan tiba.”


***


Darah ….


‘Kenapa … begini?’ batin pria itu, tak mampu mengeluarkan suara. Tenggorokannya terasa tercekik rasa sakit yang menyelimuti tubuhnya. ‘Aku akan mati?’ tanyanya lagi ketika merasakan cairan hangat terus mengalir keluar dari telapak tangan yang menutup luka di perutnya.


Di antara dedaunan pohon yang lebat, pria tersebut hanya bisa memandang ke arah bulan yang menggantung di langit. Kegelapan hutan yang mencekam malam itu telah sepenuhnya dia abaikan.


Mendadak, suara rumput yang terinjak mendarat di telinga pria tersebut. “Oh!” Suara terkesiap seorang gadis muda membuat mata sang pria melirik perlahan ke kanan.


‘Siapa … itu?’ batin sang pria.


Pria itu tak mampu melihat jelas ekspresi sang gadis. Namun, dia yakin bahwa gadis dengan keranjang berisi rerumputan di belakang punggungnya itu merasa takut kepadanya. Melihat tubuh berlumuran darah dalam kegelapan hutan di malam hari jelas bukan pemandangan yang indah.


Ketika gadis itu mendekati dirinya, pandangan pria tersebut membuyar, lalu kegelapan sepenuhnya menelan kesadarannya.


Di saat kesadaran pria itu kembali, tangannya masih berlumuran darah. Namun, kali ini dia tidak terbaring tak berdaya di tanah, melainkan bersandar pada sebuah pohon di tengah hutan. Dan berbeda dengan sebelumnya, saat ini adalah siang hari ketika matahari berada pada puncaknya.


‘Di mana ini?’ tanya pria itu lagi dalam hati.


Kali ini, pria tersebut bisa menggerakkan kepalanya, tapi luka pada perutnya masih tetap ada. Hanya saja … luka itu terasa lebih baru.


‘Masih … di hutan yang sama?’ batinnya.

__ADS_1


Tiba-tiba, telinga pria itu menangkap derap kaki yang semakin lama semakin keras. Dengan pedang yang berada di tangannya, dia berusaha untuk berdiri dan bersiaga terhadap pengunjung tak diundangnya.


Tak pernah pria itu sangka bahwa dia akan melihat sosok familier itu muncul kembali di hadapannya. Seorang gadis yang memikul keranjang penuh rerumputan di punggungnya hadir dan menatap dirinya.


“Siapa … kau?” tanya pria tersebut dengan pedang terhunus ke arah sang gadis.


Tiba-tiba, pria itu mulai terbatuk dan merosot ke tanah. Hal tersebut diikuti dengan suara pedang yang terjatuh ke atas rumput. Darah bisa terlihat terlontar keluar dari mulut sang pria.


Tanpa pria itu sadari, sang gadis telah berada tepat di depannya. Tidak sempat dirinya bereaksi ketika sang gadis membuka paksa pakaiannya.


Pria itu bisa merasakan bahwa aura sang gadis berbeda dari sebelumnya. Alih-alih diselimuti rasa takut, gadis itu menunjukkan kekhawatiran.


“Telan ini,” ucap gadis itu seraya menyodorkan sebuah pil ke sisi bibir sang pria. Suaranya terdengar tegas, tapi juga lembut. “Telanlah kalau ingin tetap hidup.”


Tahu dirinya akan mati apabila tidak segera diobati, sang pria pun menelan pil yang diberikan sang gadis. Kalau pil itu benar racun, dia hanya akan mati lebih cepat, tidak ada ruginya.


Entah kapan dirinya kehilangan kesadaran, tapi kali berikutnya dia sadar, sang pria mendapati dirinya membuka mata dan berada di sebuah rumah kayu yang kumuh. Wangi khas yang menenangkan tercium olehnya.


“Kau sudah bangun?” tanya seseorang yang membuat sang pria menoleh ke arah sumber suara.


Terlihat oleh sang pria bahwa sang gadis sedang berjalan masuk ke dalam ruangan. Gadis itu menuangkan segelas air, dan membantu sang pria untuk meminumnya.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya gadis itu lagi seraya meletakkan gelas kosong ke atas meja di pinggir tempat tidur.


Dengan suara yang masih sedikit parau, pria itu mendudukkan dirinya sendiri dan menjawab, “Aku … merasa lebih baik.” Alisnya tertaut, lalu berkata, “Terima kasih.”


Selain senyuman manis yang terpasang di wajah gadis itu, sang pria tak mampu melihat jelas wajah sang gadis, seperti ada sesuatu yang menghalangi pandangannya. Namun, pria tersebut bisa melihat jelas rambut cokelat bergelombang gadis itu bersinar terang akibat cahaya matahari yang mendarat di atasnya, membuatnya cukup terpesona.


“Siapa … kau?” tanya sang pria untuk yang kesekian kalinya.


Gadis tersebut terdiam sesaat, lalu berkata, “Meilan.” Dia memaksa sang pria untuk menelan sebuah pil seraya menjelaskan, “Aku adalah seorang tabib.” Gadis itu menatap sang pria menelan pil dengan susah payah selama sesaat sebelum akhirnya bertanya, “Siapa namamu?”


Pria itu menutup matanya, lalu menjawab, “Namaku Chengliu, margaku … margaku ….” Dia merasa kepalanya terasa sedikit pening. “Aku … aku tidak ingat.”


“Tidak masalah,” ujar Meilan sembari menyodorkan gelas yang entah kapan telah kembali terisi air ke hadapan pria bernama Chengliu itu. “Kau bisa secara perlahan mengingatnya.”


***


Wang Chengliu membuka matanya secara mendadak. Dia menyadari bahwa dirinya tengah terduduk di takhta yang berada di aula utama istana. Matanya terlihat merah, menunjukkan bahwa sudah begitu lama sejak dirinya tertidur dengan nyenyak.


Dengan tangan menyentuh sisi kepalanya yang terasa pening, Wang Chengliu terus berbisik, “Meilan … Meilan ….” Nama gadis dalam mimpinya itu berulang kali keluar dari mulutnya.


Seorang kasim yang baru saja naik pangkat menggantikan Kasim Gao berusaha menenangkannya, “Yang Mulia, setelah menjatuhkan para pemberontak di Jingcheng, kau akan segera bertemu dengan Tuan Putri Wu.” Dia mengira bahwa sang kaisar tengah merindukan Wu Meilan.


Mendengar perkataan sang kasim, Wang Chengliu melemparkan sebuah pandangan mematikan, memaksa kasim tersebut untuk bersujud memohon ampun. “Enyah dari hadapanku!” geramnya membuat sang kasim bergegas mengundurkan diri. ‘Wanita itu bukan Wu Meilan … siapa dia?!’

__ADS_1


___


A/N: Oh? Cuplikan apa itu di akhir???? Leave a comment below guysss


__ADS_2