Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 36 Jodoh di Tangan Takdir


__ADS_3

“Apa kudapannya telah selesai dibuat? Nona dan para nyonya sudah menunggu,” ujar Qiuyue dengan tidak sabar.


Sejak usaha Jingxiang untuk meracuni Huang Miaoling serta kerja sama Mingyue dengan Mu Buhui beberapa bulan yang lalu, Huang Yade kembali menyaring para pelayan di kediaman Huang. Hal tersebut berujung pada berkurangnya jumlah pelayan yang bekerja di kediaman. Untuk menghindari insiden yang tidak diinginkan, Huang Qinghao juga mengusulkan untuk tidak mempekerjakan pelayan baru sampai keadaan menjadi lebih stabil. Karena kedua hal tersebut, sekarang segala pelayanan di kediaman menjadi sedikit terhambat, pekerjaan para pelayan yang tersisa juga menjadi lebih berat.


Mengingat hal itu, Qiuyue hanya bisa menghela napas. Selain mendesak sang Juru Masak dan meningkatkan kesabarannya, dia tak bisa melakukan hal lain.


Setelah menerima kudapan untuk disajikan kepada para majikannya, Qiuyue meninggalkan dapur dan bergegas kembali ke halaman Yueliang. Namun, saat melewati pintu gerbang utama kediaman Huang, dia melihat pintu itu terbuka diiringi dengan kemunculan satu sosok yang sudah tak lagi asing di matanya.


“Tuan Muda Liang!” seru Qiuyue seraya memberi salam dengan sebuah senyuman.


Setiap kali melihat kedatangan pria itu, Qiuyue merasa hatinya berdebar. Bukan, bukan karena dia jatuh cinta kepada Liang Fenghong, melainkan karena tidak sabar melihat rona merah dan perilaku menarik majikannya.


“Nona telah menunggumu untuk sekian lama,” ujar pelayan itu, berbasa-basi dengan niat meningkatkan nilai Huang Miaoling di mata Liang Fenghong—sesuatu yang tak perlu dia lakukan karena sepertinya Huang Miaoling memiliki nilai setinggi langit di mata pria itu.


Mendengar ucapan Qiuyue, Liang Fenghong mengangkat sudut bibirnya. “Jangan berbohong,” balasnya singkat yang diikuti dengan kerjapan mata Qiuyue. “Langit akan runtuh kalau nonamu sungguh melakukan hal itu,” jelasnya lagi membuat pelayan itu tersenyum semringah, akhirnya mengerti maksud pria tersebut.


Liang Fenghong berjalan didampingi oleh Qiuyue menuju halaman Yueliang, pelayan itu tak lupa menjelaskan percakapan Huang Miaoling dengan Huang Jieli beberapa saat yang lalu. Pria itu hanya mendengarkan dalam diam, menyerap informasi yang disuguhkan oleh Qiuyue dengan tangan terbuka.


Saat melihat Qiuyue terkekeh ketika menceritakan bagaimana Situ Yangle menyarankan Huang Miaoling untuk membujuk Liang Fenghong agar bisa keluar dari rumah, pria itu menaikkan alisnya. “Qiuyue,” panggilnya membuat pelayan itu berhenti berbicara. “Kalau aku memberi tahu nonamu mengenai apa yang kau katakan, apa yang mungkin akan dia lakukan?”


Tahu bahwa Liang Fenghong sedang memperingatkannya untuk tidak berkata terlalu banyak pada orang lain mengenai Huang Miaoling, Qiuyue tertawa. “Tuan Muda Liang, apa aku masih perlu meragukan perasaanmu pada Nona?” balas pelayan itu dengan cerdik membuat Liang Fenghong sedikit terperanjat.

__ADS_1


Maksud ucapan Qiuyue sangat jelas, dia mengindikasikan bahwa dirinya tahu betapa dalamnya perasaan Liang Fenghong pada Huang Miaoling. Oleh karena itu, sudah sewajarnya Qiuyue percaya pada pria itu. Tak hanya itu, Qiuyue juga tahu bahwa pria itu senang mendapatkan informasi mendalam mengenai Huang Miaoling. Dengan demikian, dia tak mungkin memberi tahu gadis itu mengenai tingkah Qiuyue karena khawatir ‘informasi berharga’ akan sulit didapatkan lagi di kemudian hari.


Sang Putra Perdana Menteri Liang itu pun menggelengkan kepalanya. ‘Pelayan ini begitu licik, sama seperti majikannya,’ batin pria itu, tidak menanggapi pertanyaan Qiuyue.


Sesampainya di kediaman Yueliang, Liang Fenghong bisa melihat sosok Huang Miaoling yang terlihat begitu tertekan ketika dikelilingi oleh dua kakak iparnya dan Huang Jieli. Dari pancaran mata gadis itu yang terlihat kesal, Liang Fenghong segera tahu bahwa Huang Jieli telah menjelaskan semua yang sedang terjadi di belakang Huang Miaoling.


Saat Huang Miaoling menangkap kedatangan Liang Fenghong dan Qiuyue, dia tak bisa menahan diri untuk tidak mengerucutkan bibirnya—sungguh sebuah ekspresi yang jarang terlihat. Dari ekspresi pelayan pendampingnya yang begitu ceria dan air muka Liang Fenghong yang begitu terhibur, tak perlu orang lain untuk memberi tahu Huang Miaoling bahwa Qiuyue telah bercerita pada pria itu mengenai beberapa hal—beberapa hal yang membuat Liang Fenghong berada satu langkah lebih jauh darinya.


Kesal, Huang Miaoling pun mengalihkan pandangannya, berpura-pura tak melihat Liang Fenghong.


Alih-alih terluka maupun tersinggung dengan tindakan gadis itu, Liang Fenghong merasa hatinya diselimuti kehangatan. Kedua sudut bibir pria itu terangkat sedikit, menampakkan sebuah senyuman pelit yang manis.


Tidakkah gadis itu terlihat begitu menggemaskan? Kapan lagi Liang Fenghong bisa melihat sosok Huang Miaoling yang biasa begitu dingin dan dewasa bersikap seperti seorang bocah yang kehilangan mainannya?


Lagi pula, jodoh berada di tangan takdir.


“Tuan Muda Liang,” sapa Shang Meiliang membuat Huang Jieli dan Situ Yangle menoleh ke arah Liang Fenghong untuk memberi salam.


“Shang Junzhu, Wakil Jenderal Huang, Nyonya Situ,” ucap Liang Fenghong, membalas sapaan ketiga orang itu. “Ling’er,” panggilnya, tak enggan lebih dahulu menyapa walau tradisi mengharuskan sang Calon Istri untuk memberi salam padanya terlebih dahulu.


Situ Yangle mencubit pinggang Huang Miaoling yang masih terdiam, membuat gadis itu melenguh kecil. Pelototan kakak iparnya itu membuat Huang Miaoling dengan enggan memberi salam singkat, “Hmm.”

__ADS_1


Tak ingin berada dalam suasana kaku lebih lama lagi, Situ Yangle berdiri dari kursinya dan berkata, “Niu Lang sudah datang, maka Ratu Langit akan undur diri terlebih dahulu dan membiarkan dua sejoli ini bertemu untuk beberapa waktu [1].”


Candaan itu membuat Shang Meiliang dan Qiuyue tertawa kecil selagi Huang Jieli membuat ekspresi kebingungan. Di sisi lain, Huang Miaoling memasang ekspresi terkejut, sungguh jarang dirinya mendengar Situ Yangle mengutarakan sebuah gurauan. Gadis itu lebih terkejut lagi karena saudara-saudaranya itu memutuskan untuk meninggalkan dirinya dan Liang Fenghong ketika di hari lain mereka akan memaksa untuk tinggal.


Yah, Huang Jieli memang ingin tinggal untuk mengawasi adiknya. Namun, istrinya telah mendelik dan menarik tangannya agar pria itu segera pergi meninggalkan halaman tersebut.


Mengganggu sepasang kekasih, tidakkah Huang Jieli pernah muda? Apa dia tidak merasa sungkan kepada sang Dewi Cinta karena telah mengganggu tugasnya?


Setelah semua orang pergi meninggalkan halaman itu—menyisakan Liang Fenghong dan Huang Miaoling—sang Nona Pertama Huang itu berdiri dan melangkah ke ruangannya. Beberapa pelayan terkekeh geli ketika melihat Liang Fenghong tersenyum tipis selagi mengikuti calon istrinya itu masuk ke dalam ruangan. Sangat jarang mereka melihat sang Majikan berada di sisi kekalahan.


“Jangan tertawa! Kalau Nona tahu, kalian tak akan bisa membayangkan akibatnya,” tegur Qiuyue dengan setengah berbisik.


“Aiya, Kak Qiuyue, kau sendiri sedang berusaha keras untuk tidak tertawa,” balas seorang pelayan lain sembari menunjuk ke arah bibir Qiuyue yang bergerak-gerak menahan tawa. “Selain itu, tidakkah Nona terlihat begitu menggemaskan? Walau marah, tapi dia tak bisa menjauh dan menolak Tuan Muda Liang. Ah, sungguh pasangan yang membuat iri.”


Pelayan lain menghela napas kagum. “Aku harap langit selalu memberkati mereka.”


Mendengar ucapan pelayan tersebut, Qiuyue tersentak dan senyumannya menghilang. Dia sudah mendengar kejadian di hari yang lalu dari percakapan para majikan, hal itu membuat hatinya tak tenang. ‘Aku harap … hari pernikahan datang dengan lebih cepat. Semoga langit tidak memisahkan Nona dan Tuan Muda.’


___


[1] Candaan yang menggunakan legenda Niu Lang dan Zhi Nv – Legenda yang mendasari hari raya valentine bagi rakyat Tiongkok (七夕节 Qixi Jie/Festival Qixi)

__ADS_1


___


A/N: Kukasih santai dulu, besok-besok siap-siap jantungan


__ADS_2