Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 116 Doa dan Harapan


__ADS_3

Sepasang manik hitam kecokelatan itu menatap nanar ke depan, ke arah seorang pria dengan mahkota bertengger di atas kepalanya. Jari telunjuk pria tersebut ditudingkan ke satu arah, yakni pemilik sepasang manik hitam kecokelatan tersebut.


“W-Wang Zhengyi, k-kau—!”


Ya, pemilik manik hitam itu adalah Wang Zhengyi.


‘Ayahanda! Bukan aku! Bukan aku!!’ batin pangeran itu meraung. Dia ingin menangis, tapi tak ada air mata yang keluar.


Sekilas, mata milik Wang Zhengyi menyapu luka pada tubuh ayahandanya. Noda darah mulai menghiasi pakaian berkabung pria agung itu.


“Demi takhta, kau rela membunuh ayahandamu sendiri?!” teriak Kaisar Weixin dengan wajah penuh amarah dan ekspresi terluka.


‘Tidak!’


***


“Tidak!” Teriakan lantang penuh ketakutan itu mengejutkan seorang gadis yang sedang memeras kain di tangannya.


Dari ruang tamu rumah kumuh tempatnya berada, gadis itu segera melesat ke dalam ruang tidur. Dia menepiskan kain pembatas ruangan dengan kasar, dan di sanalah dia melihat sosok pria dengan wajah tampan itu terduduk dengan wajah tersiksa.


“Pangeran Mahkota, kau—”


Wang Zhengyi melirik ke arah gadis tersebut, lalu mengerutkan dahinya. Dia tak mengenali siapa gadis yang berdiri di hadapannya itu. Namun, mendengar panggilan yang digunakan gadis itu padanya, juga pandangan khawatir yang dilemparkan, pangeran tersebut yakin orang di hadapannya kemungkinan besar seorang pelayan.


“Aku … aku di mana?” tanya Wang Zhengyi dengan suara parau. Dia menyentuh lehernya, merasa suara yang dikeluarkan terdengar aneh.


Melihat hal itu, gadis tersebut segera mengambilkan air dari meja kecil yang berada di dekat ranjang. Lalu, dia mendekatkan gelas tersebut ke arah Wang Zhengyi.


Namun, pandangan curiga yang diberikan Wang Zhengyi membuat wanita itu menghela napas. Dia mengambil satu tegukan dan memberikan gelas itu kembali kepada pria tersebut. “Tidak beracun, Pangeran. Tenanglah,” jelasnya, tidak berniat mengambil gelas lain, tahu Wang Zhengyi masih akan curiga dengan kemungkinan gelas baru itu telah diracun.


Sesuai dugaan, Wang Zhengyi sungguh menerima gelas yang diberikan gadis tersebut. Dia meneguk isinya dan bertanya, “Siapa kau?” Maniknya melirik tajam sosok gadis dengan ekspresi datar itu. “Aku di mana?” dia mengulang pertanyaan sebelumnya.


Gadis itu memberi hormat layaknya seorang petarung, mengejutkan Wang Zhengyi yang mengira bahwa dirinya adalah seorang pelayan. “Yang Mulia bisa memanggilku Mudan, aku adalah salah satu anggota Lianhua Yuan,” jelasnya. “Saat ini, kita sedang berada di Qiongpo Di. Aku tidak tahu apakah Yang Mulia mampu mengingatnya, tapi di hari ritual kematian—"


Belum selesai Mudan menjelaskan, Wang Zhengyi segera terbelalak. “Ayahanda!” teriaknya, mengejutkan gadis itu. “Di mana Ayahanda? Bagaimana keadaannya?!”


‘Ah, dia memiliki ingatan tentang hal tersebut …,’ batin Mudan sembari mengumpat dalam hati, sadar bahwa dia menyebutkan hal yang salah. “Tenanglah, Pangeran. Yang Mulia Kaisar berada di rumah seberang, aku telah mengobat—!”


Sekali lagi, tanpa menunggu penjelasan Mudan sampai selesai, Wang Zhengyi mengambil tindakan mengejutkan. Entah dari mana pria itu mendapatkan tenaga, tapi Wang Zhengyi melompat turun dari tempat tidurnya dan bergegas berlari keluar.


Melihat hal tersebut, Mudan segera mengejar Wang Zhengyi. “Pangeran!” teriaknya.


Baru saja Mudan keluar dari rumah kumuh itu, dia melihat Wang Zhengyi berlari ke arah para prajurit yang mengelilingi rumah tempat Kaisar Weixin berada. Gadis itu terdiam, lalu memutuskan untuk pergi ke arah yang lain.

__ADS_1


‘Aku harus memberi tahu Menteri Huang,’ batin Mudan.


Namun, tak lama gadis itu berlari, dia melihat satu sosok yang familier sedang berbicara dengan sejumlah orang. Walau kelihatan sedang membahas hal penting, tapi gadis itu tak peduli. Dibandingkan sosok-sosok lain yang berada di sana, hanya sosok itu yang memiliki status tak jauh di atasnya dan tahu apa yang harus dilakukan.


“Penyelidik Rong!” teriak Mudan, membuat Rong Gui yang sedang berbicara dengan sang perdana menteri—wajah pria itu begitu suram—menoleh. “Pangeran Mahkota telah sadar.”


***


“Menyingkir!” teriak seorang pria dengan wajah marah. “Aku ingin bertemu Ayahanda!” geramnya dengan lantang kepada para prajurit yang menghalangi jalannya dengan tombak yang terhunus. Pantang menyerah, dia terus berteriak, “Biarkan aku masuk!”


Pria itu berada di depan sebuah rumah kecil kumuh yang hanya dibatasi oleh kain kusam, sama seperti rumah yang dia tempati beberapa saat yang lalu. Dengan sikap lancang pria itu, juga dengan kehadiran para prajurit berpakaian besi, pemandangan itu terlihat aneh dan menarik perhatian sejumlah orang di sekitar tempat tersebut.


Tak lama, sebuah tangan ramping dengan kulit yang bersinar bagaikan giok menyingkirkan kain yang berfungsi sebagai pintu masuk rumah kumuh di belakang para prajurit. Sosok Permaisuri Mingmei muncul, tapi dengan pakaian berkualitas rendah yang mengejutkan sang tamu tak diundang itu.


“I-Ibunda,” pria itu tergagap melihat penampilan Permaisuri Mingmei.


Para prajurit menyingkir, mempersilakan Permaisuri Mingmei menghampiri pria yang tak lain adalah Wang Zhengyi. Entah itu para prajurit, maupun para penonton, tak ada yang menyangka bahwa sebuah tamparan keras akan mendarat pada wajah tampan Wang Zhengyi.


“Anak durhaka!” maki Permaisuri Mingmei dengan tangan bergetar. Wajah wanita itu menunjukkan amarah, tapi tamparan yang baru saja dia layangkan menyakiti hatinya. “Apa kau tahu akibat dari hal yang kau lakukan?!” geramnya.


Untuk sepersekian detik, pandangan Wang Zhengyi terlihat berkunang-kunang. Dia baru saja sadar, tapi dirinya sudah langsung menerima serangan.


Ketika kesadaran meresap, Wang Zhengyi segera berlutut di tanah. “Ibunda, bukan aku!” Dia sungguh tidak mengetahui apa yang telah terjadi.


Wang Zhengyi memutar kembali ingatannya perihal apa yang terjadi di ritual kematian Wang Wuyu. Jelas-jelas dirinya sedang menjulurkan tangan untuk meraih panah dari Wang Chengliu, tapi mendadak tubuhnya membeku. Mengikuti hal tersebut adalah ketidakmampuan Wang Zhengyi untuk menggerakkan tubuhnya. Lalu, melalui matanya sendiri, Wang Zhengyi melihat tubuhnya bergerak untuk melepaskan panah ke arah ayahandanya sendiri.


Walau dirinya tidak mampu menguasai tubuhnya, tapi Wang Zhengyi bisa mengingat jelas pemandangan saat itu. Kepalanya terasa sakit, tapi tidak lebih sakit dibandingkan hatinya saat ini.


“Ibunda, aku pantas mati!” seru Wang Zhengyi dengan dahi menempel ke tanah, tak berani untuk menatap ibundanya lagi. Kekecewaan yang terpancar jelas dari manik wanita itu membuat dirinya seperti sampah.


“Mati?” ulang Permaisuri Mingmei dengan ekspresi marah bercampur tawa. Wanita itu mengulurkan tangannya ke arah satu prajurit, meminta sesuatu.


Prajurit tersebut mengerti maksud sang permaisuri, tapi dia tak elak terkejut. Dengan wajah suram dan sedikit tidak rela, prajurit itu meraih pedang yang bergelantung di pinggangnya dan memberikan benda tersebut pada Permaisuri Mingmei.


Wang Zhengyi mampu mendengar desing pedang yang berayun di udara, tapi dia tak bergerak. Apa pun yang ibundanya lakukan, hukuman apa pun yang diberikan, pria itu rela menerimanya.


Karena tak ada perlawanan dari putranya, Permaisuri Mingmei mendecakkan lidahnya. ‘Sedikit pun tidak bersikap seperti seorang keturunan naga!’ Tanpa menunggu lebih lama, dia mengayunkan pedangnya.


“Hentikan!”


Tepat sebelum sudut tajam pedang bertemu dengan leher Wang Zhengyi, seseorang datang dan menghalangi serangan sang permaisuri. Dentingan dua pedang yang bertemu membuat Wang Zhengyi menoleh ke kanan, menatap dua bilah pedang yang hanya berjarak dua inci dari wajahnya.


‘I-Ibunda sungguh akan membunuhku …,’ pikir Wang Zhengyi. Dia kemudian mengalihkan pandangan pada orang yang melindunginya. “Kau ….” Sosok Mudan menyeruak masuk ke dalam pandangannya.

__ADS_1


“Mudan!” teriak seorang gadis lain yang langsung Wang Zhengyi kenali, Wang Qiuhua. Putri tersebut melirik ke arah kakak tertuanya dengan mata terbelalak, lalu dia dengan cepat menghampirinya. “Kakak Pertama, lekaslah berdiri!” Bagaimanapun, kakaknya adalah seorang pangeran mahkota, bagaimana bisa dia berlutut di hadapan orang banyak!


“Beraninya kau menghentikanku,” tegur Permaisuri Mingmei ke arah Mudan dengan nada mengancam.


Karena jarak Wang Zhengyi dengan pedang Permaisuri Mingmei tidak lagi dekat, Mudan segera menarik kembali pedangnya. Gadis itu memberi hormat kepada sang permaisuri dan berkata, “Permaisuri, maafkan kelancanganku, tapi harap jaga sikapmu. Perlu kuingatkan bahwa kita tidak lagi berada di istana dan sedang dalam keadaan rawan?” Dia menegapkan tubuhnya, lalu menambahkan, “Selain itu, telah dijelaskan oleh Menteri Huang bahwa Pangeran Mahkota sama sekali tidak berniat melukai Kaisar Weixin.”


“Apa kau sedang mengguruiku?”


“Aku tidak berani, Permaisuri. Aku hanya sedang membantumu untuk menjaga moral semua orang yang berada di tempat ini,” jawab Mudan dengan tegas.


“Kau—”


“Ibunda! Tenanglah!” potong Wang Qiuhua secara mendadak. “Situasi saat ini sudah cukup untuk membuat semua orang tegang, apa kau sungguh akan memperburuk suasana?” racau gadis itu, tak lagi peduli dengan sopan santun yang seharusnya dia pertontonkan.


Mendengar ucapan putrinya, Permaisuri Mingmei menautkan alisnya. “Hmph!” dengusnya seraya melemparkan pedang ke tanah. Karena tak ada hal lain yang bisa dikatakan, wanita itu berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Wang Qiuhua segera mengalihkan pandangannya kepada Wang Zhengyi, “Kakak, kau baik-baik saja?” tanyanya dengan wajah khawatir.


“Aku … baik-baik saja,” jawab Wang Zhengyi seraya berdiri dengan bantuan adiknya. Kemudian, pria itu melemparkan pandangan sedih. “Namun, aku … aku sungguh telah melukai Ayahanda ….”


Ucapan Wang Zhengyi membuat Wang Qiuhua terdiam. Sungguh, gadis itu juga sangat terkejut dengan tindakan kakak pertamanya itu di hari ritual kematian. Namun, walau tak tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi, hati kecil Wang Qiuhua percaya bahwa Wang Zhengyi sama sekali tidak berniat membunuh ayahanda mereka.


‘Dan, Ibunda seharusnya juga tahu akan hal itu ….’ Wang Qiuhua mulai bertanya-tanya, ‘Lalu, untuk apa dia bersikap seperti tadi?’


Tak sempat berpikir lebih jauh, derap langkah kaki sejumlah orang membuat Wang Qiuhua beserta Wang Zhengyi dan Mudan mengalihkan pandangan mereka. Sosok Huang Yade berjalan cepat bersama dengan Rong Gui ke arah mereka.


“Pangeran Mahkota,” Huang Yade baru mulai menyapa, tapi Wang Zhengyi langsung mencengkeram kedua lengannya dengan kuat.


“Menteri Huang,” panggil Wang Zhengyi. “Kau harus percaya padaku, aku tidak berniat untuk melukai Ayahanda,” jelasnya dengan wajah memelas.


Kepanikan yang terpancar di wajah Wang Zhengyi membuat Huang Yade semakin yakin dengan deduksinya, sang pangeran mahkota tak memiliki niat untuk memberontak. Lagi pula, hal itu sama sekali tidak menguntungkan dirinya!


“Pangeran Mahkota, tenangkanlah dirimu terlebih dahulu,” ujar Huang Yade. Dia melirik ke arah Mudan selama sesaat, lalu kembali pada Wang Zhengyi. “Murid sang Tabib Jianghu yang mengobati Kaisar, dia pasti akan segera siuman.”


Mendengar ucapan Huang Yade, pelipis Mudan sedikit berkerut. Pertama, dia bukan murid Liang Fenghong, statusnya tidak setinggi itu. Kedua, ucapan Huang Yade terdengar sangat menjanjikan keselamatan Kaisar Weixin.


Mudan menghela napas dalam hati. Kenyataannya, gadis itu sendiri tak yakin bahwa Kaisar Weixin akan bertahan lebih lama lagi. Selain Liang Fenghong, Mudan tak percaya ada yang bisa menyelamatkan pria agung itu. Bahkan, Tabib Bai yang diketahui merupakan tabib ternama di Kerajaan Shi saja mengakui dirinya tak mampu dan hanya bisa berusaha.


‘Ketua … kau di mana?’ batin Mudan bertanya-tanya. Seperti sebagian besar orang lainnya, gadis itu berdoa, ‘Segeralah kembali.’


___


A/N:

__ADS_1


Kata pepatah, kalau kalian berdoa dengan sungguh-sungguh, permintaan kalian suatu hari nanti akan dikabulkan. :)


Pertanyaan: Apa author dengan nama 'LuciferAter' ini begitu baik hati sampai akan mengabulkan doa kalian?


__ADS_2