Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 151 Kegelisahan Wang Chengliu


__ADS_3

Di malam yang sendu itu, terlihat pencahayaan ruang kerja sang kaisar Kerajaan Shi masih belum padam. Di kursinya, sosok Wang Chengliu menampakkan ekspresi kesulitan.


Bayang-bayang wajah wanita bernama Meilan yang tidak mampu dia ingat dengan jelas menghantui benaknya. ‘Menyebalkan,’ pikir pria itu seraya memijit pelipisnya.


Mendadak, jendela ruang kerjanya terbanting terbuka, membiarkan angin malam yang kencang menyusup masuk dan memadamkan semua lilin yang ada. Hal tersebut membuat Wang Chengliu dengan cepat meraih pedang yang berada di sisinya.


“Kau tidak terlihat tenang,” ujar sebuah suara secara tiba-tiba.


Terkejut, Wang Chengliu refleks berdiri dari kursinya dan menghunuskan pedang di tangannya. “Siapa di sana?!” serunya dengan suara tegas, tidak menunjukkan sedikit pun ketakutan.


“Apa yang membuatmu begitu gelisah?” tanya suara itu lagi, kali berasal dari arah jendela.


Ketika sosok misterius itu berdiri di depan jendela, mata merah yang mencolok di kegelapan tersebut membocorkan identitas pemiliknya.


Wang Chengliu menurunkan pedangnya dan memasang ekspresi murka. “Lu Si …,” geramnya. “Ke mana saja kau selama ini?”


Lu Si hanya menatap Wang Chengliu dengan dingin, sebelum kemudian bertanya, “Apa sebenarnya yang membuatmu terdorong untuk menguasai Dataran Timur?” Pria itu menatap lurus ke arah sang kaisar. “Kekuasaan? Kekayaan? Dendam?”


Pertanyaan Lu Si membuat Wang Chengliu merasa aneh. Tidak pernah sebelumnya pria bermata merah itu menunjukkan ketertarikan terhadap apa yang dirinya pikirkan. Sangatlah aneh bagaimana pria tersebut memulai pembicaraan yang—menurut Wang Chengliu—tidak memiliki arti, terlebih dalam situasi yang tidak menyenangkan ini.


“Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjaw—.”


“Kau bisa saja membiarkan Huang Miaoling menghancurkan musuh-musuhnya, begitu pula dengan Liang Fenghong. Kau hanya perlu bertahan di belakang layar dan hidup dengan tenang,” ujar Lu Si, tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Wang Chengliu. “Lalu, kenapa kau begitu bertekad untuk menghalangi jalan mereka?”


Tekanan dari pandangan dan aura yang dikeluarkan Lu Si membuat Wang Chengliu tak mampu mengelak. Namun, bibirnya tak bersedia terbuka.

__ADS_1


“Sebagai pangeran yang dilahirkan oleh seorang pelayan, kau dihina dan direndahkan. Ibu angkat yang kau panggil ibunda, seseorang yang di matamu begitu mulia ternyata adalah orang yang membunuh ibu kandungmu. Ingin melindungi orang yang dikasihinya, juga untuk menutupi aibnya, Ayahandamu berusaha membiarkanmu mati di medan perang,” Lu Si menyebutkan satu per satu kemalangan yang Wang Chengliu alami di kehidupan ini, membuat ekspresi pria tersebut memburuk. “Yang paling menyedihkan adalah ketika kau mengetahui bahwa ibu kandungmu melahirkanmu hanya untuk pembalasan dendam.”


“Apa yang ingin kau katakan?” Nada bicara Wang Chengliu terdengar dalam dan mengerikan.


“Aku merasa dibandingkan mempersatukan Dataran Timur, kau terlihat berniat untuk menghancurkannya,” balas Lu Si dengan ekspresi yang begitu dingin. “Itukah alasan kau ingin menjatuhkan Huang Miaoling dan Liang Fenghong? Kau ingin membuat mereka yang berusaha mempertahankan kedamaian Dataran Timur … menghilang dari jalanmu?”


Wang Chengliu tidak bersuara, dia hanya membalas tatapan Lu Si. Kemudian, ekspresinya berubah begitu tenang, membuatnya terlihat sedikit mengerikan.


“Kau membaca pikiranku,” balas Wang Chengliu seraya memiringkan kepalanya dan memasang sebuah senyuman menantang. “Dari sikapmu, aku tak merasa kau menyukai dunia ini. Demikian, kau tidak akan menghalangiku, bukan?” tanyanya.


Lu Si terdiam sesaat, lalu menggelengkan kepalanya. Bibirnya membentuk sebuah senyuman mengejek.


Merasa orang di hadapannya terlalu lancang, Wang Chengliu mendecakkan lidah dan berkata dengan tidak senang, “Apa yang kau tertawakan?”


Tak sempat Wang Chengliu menyelesaikan ucapannya, sebuah gulungan dilemparkan oleh Lu Si ke arahnya. Dengan sigap, kaisar muda itu menangkis gulungan kain dengan pedangnya, sebuah refleks menghalangi hal yang mampu membahayakan dirinya.


“Berhenti!” seru Wang Chengliu. “Ke mana lagi kau akan pergi sekarang? Perjanjian kita masih belum sepenuhnya terlaksana!”


Wang Chengliu menyadari bahwa posisinya saat ini terjepit. Sudah begitu lama sejak terakhir dia menerima kabar dari Chen Meiping di Zhou, dan kembalinya Liang Fenghong ke Zhongcheng menunjukkan bahwa Hudie telah gagal menjalankan tugasnya di Wu. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan untuk mengamankan semuanya adalah dengan menjatuhkan keluarga Huang dan keluarga kerajaan di Jingcheng.


Kekalahan bukanlah sebuah pilihan, maka dari itu Wang Chengliu memerlukan bantuan Lu Si!


Dengan kemampuan yang dirinya miliki, Lu Si mampu membaca niat Wang Chengliu. Dia berbalik untuk menatap sang kaisar muda dan berkata, “Perjanjian di antara kita telah selesai. Kau telah memenuhi keinginanku, dan aku telah memberikan hal yang kau mau. Dengan begitu, tidak ada lagi hal yang mengharuskanku untuk menemani dirimu menyelesaikan perang terakhir.”


Alis Wang Chengliu tertaut. ‘Perang terakhir katanya,’ batin pria tersebut. ‘Apa dia menyumpahi kematianku?’

__ADS_1


Wang Chengliu memang telah memenuhi keinginan Lu Si, yakni dengan mengacaukan hari ritual kematian Wang Wuyu dan juga melukai Wang Weixin. Mengenai apa alasan pria misterius itu menginginkan hal tersebut, Wang Chengliu tidak tahu dan tidak peduli. Namun, satu hal yang dia ketahui.


Lu Si belum memberikan hal yang dia mau!


“Kau belum membantuku menghancurkan Dataran Timur, belum pula membantuku menjatuhkan orang-orang yang menghalangi jalanku. Dengan begitu, atas dasar apa kau mengatakan dirimu telah memberikan hal yang kumau?” tanya Wang Chengliu, merasa tidak puas.


Dengan nada tenang, Lu Si bertanya, “Menghancurkan Dataran Timur?” Sebuah pandangan tajam dilemparkan olehnya kepada Wang Chengliu. “Kau yakin itu adalah hal yang sesungguhnya kau inginkan?”


Wang Chengliu merasa sangat aneh dengan sikap Lu Si, tapi dia selalu merasa demikian. Pria di hadapannya itu selalu bersikap seakan seluruh rahasia dunia berada di dalam telapak tangannya.


Dan, hal tersebut membuat Wang Chengliu kembali meragukan dirinya sendiri.


“Yang kau inginkan berada dalam gulungan itu,” Lu Si berkata dengan yakin. “Dengan ini, kita tidak lagi saling berutang, Wang Chengliu.”


Mendengar hal itu, Wang Chengliu pun mengepalkan tangannya selagi mengarahkan pandangan pada gulungan kain yang tergeletak di lantai. Dia meraih gulungan tersebut, merasakan kasarnya kain tersebut—pertanda usianya yang begitu tua.


Ketika gulungan kain itu terbuka, kerutan yang begitu dalam terbentuk di kening Wang Chengliu. ‘Ini … ini adalah ….’


Hal pertama yang Wang Chengliu lihat … adalah sebuah senyuman manis yang memesona dirinya. Guratan halus yang membentuk seorang gadis muda berambut gelombang itu menyuarakan keras isi hati pelukisnya, ada perasaan mendalam di setiap goresan tintanya.


Melihat wajah gadis tersebut, pening di kepala Wang Chengliu sekejap menghilang. ‘Meilan …,’ panggilnya dalam hati tanpa sadar.


Mata Wang Chengliu awalnya bersinar, tapi dengan cepat kedua manik hitam kecokelatannya itu kembali berubah gelap. Kebencian tiada tara tanpa dimengerti mendidih di dalam hatinya.


“Siapa gadis ini?!” tanya Wang Chengliu dengan suara parau yang mengerikan. “Siapa sebenarnya gadis bernama Meilan in—?!”

__ADS_1


Ketika mengalihkan pandangan ke tempat Lu Si berada, Wang Chengliu tidak mampu melanjutkan ucapannya. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, tapi tidak ada lagi orang lain di dalam ruangan itu selain dirinya.


Tiba-tiba, suara Lu Si bergema di dalam benaknya, “Pergilah ke Jingcheng, dan kau akan mendapatkan seluruh jawabannya.”


__ADS_2