
A/N: Inget banget kemaren ada yang nanya sikon Huang Wushuang, dan aku langsung kayak "Wow, bisa meramal dia." Soalnya, pas banget episode hari ini ada wanita itu, wakakakak.
_____________________
Gesekan sapu pada lantai berbatu dan dedaunan menghasilkan suara yang anehnya menenangkan. Tentunya, hal tersebut hanya berlaku bagi mereka yang mendengarkan, bukan bagi yang menghasilkan suara.
Seorang gadis pelayan terlihat sibuk menyapu halaman sang Putri Mahkota bersama dengan satu pelayan lainnya. Bulir-bulir keringat menghiasi dahi mereka akibat matahari yang hari itu bersinar begitu terik.
Saat dirinya menghentikan aktivitasnya untuk mengelap keringat pada dahinya, salah satu pelayan tersebut mengangkat pandangannya. Kebetulan, dia melihat sosok kepala pelayan halaman tersebut keluar dari ruangan sang Majikan. Ekspresi yang terlukis di wajah sang Kepala Pelayan terlihat tenang, tapi pancaran matanya terlihat mencekam dan mengerikan.
Ketika sosok Yuanli telah menghilang dari pandangan—entah menuju ke mana—pelayan itu menyikut lengan temannya. “Tangtang, apa ini perasaanku atau Kepala Pelayan terlihat mengerikan sejak hari sebelumnya?”
Mendengar ucapan sahabatnya, gadis pelayan bernama Tangtang itu segera membeku. “Yun’er, jaga ucapanmu.” Matanya melirik ke kiri dan ke kanan. “Kalau ada yang mendengar apa yang kau katakan dan memberi tahu Kepala Pelayan, maka tak hanya nyawamu yang menghilang, melainkan nyawaku juga!” desisnya dengan setengah berbisik.
Kening Yun’er berkerut. “Kau berlebihan. Kepala Pelayan adalah orang yang baik selama kau mengerjakan tugasmu dengan benar.”
Tangtang menggeleng keras, dia membenarkan, “Kepala Pelayan adalah orang yang baik selama kau tidak melakukan hal yang tidak dia inginkan.” Gadis itu segera melanjutkan tugasnya. “Kau tidak ingin berakhir seperti Xiaoxue, bukan? Cepat lanjutkan pekerjaanmu!”
“Xiaoxue?” Yun’er terlihat bertanya-tanya. “Ah, apa yang terjadi padanya? Aku tak melihatnya sejak kemarin sore.”
Mata Tangtang membesar, tak percaya temannya itu tak tahu-menahu mengenai situasi di halaman tersebut. Dia melirik ke kanan ke kiri lagi sebelum berkata dengan nada rendah, “Dia menghilang.”
“Hah?”
Tangtang mendecakkan lidahnya. “Apakah kau masih tak mengerti maksudku?!” tanyanya dengan frustrasi. “Jika seorang pelayan menghilang, maka hanya ada dua kemungkinan yang terjadi.” Pandangannya menggelap. “Antara dia kabur atau seseorang telah menyingkirkannya.”
Ekspresi Yun’er terlihat mengejek, seakan Tangtang baru saja mengatakan hal yang sangat tak masuk akal. “Namun, ini adalah istana kerajaan! Siapa yang bisa kab …?!” Ucapan gadis itu terhenti saat dia mengerti maksud temannya.
Melihat kalau sahabatnya telah mengerti, Tangtang segera melanjutkan pekerjaannya. Yun’er yang masih terkejut hanya bisa terbengong dengan wajah bodoh.
Perlahan, ekspresi di wajah Yun’er terlihat penuh kengerian. ‘Apakah Xiaoxue—?!’
Dari sudut matanya, Tangtang menangkap sosok Yuanli telah kembali mendekat ke arah ruangan sang Putri Mahkota. “Yun’er! Kepala Pelayan telah kembali! Cepat bekerja!” desis Tangtang yang membuat sahabatnya itu langsung kembali ke dunia nyata.
***
“Antara dia kabur … atau seseorang telah menyingkirkannya.”
Walau kalimat tersebut diucapkan dengan nada yang begitu rendah, tapi suasana sunyi halamannya membuat Huang Wushuang bisa mendengar ucapan itu dengan jelas. Matanya memancarkan kengerian, seluruh tubuhnya yang dibalut dengan selimut bergetar karena takut.
__ADS_1
Kejadian di hari yang lalu masih terus terulang di benak Huang Wushuang. Detak jantung yang begitu kencang, bau amis yang menusuk hidung, serta pemandangan mengerikan yang menyeruak masuk secara paksa ke dalam pandangannya. Semua hal itu menghantuinya entah di dunia nyata maupun di dunia mimpi.
Awalnya, Huang Wushuang mengira kalau kegagalan rencana Li Guifei untuk menjebak Huang Miaoling tidak akan berakhir fatal. Dia memiliki kepercayaan bahwa walau Yuanli tahu mengenai keterlibatannya, yang bisa wanita itu lakukan hanya sekadar menekannya saja. Lagi pula, ada status putri mahkota yang melindungi dirinya.
Namun, Huang Wushuang kemudian mengerti betapa polos pemikirannya itu.
Sore hari sebelumnya, Huang Wushuang telah mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi Yuanli. Namun, gadis itu bersikap tenang dan tidak mengacuhkannya sama sekali. Oleh karena itu, Huang Wushuang percaya kalau gadis itu masih belum menerima kabar mengenai hal yang terjadi kepada Huang Miaoling.
Saat malam tiba, Huang Wushuang telah terlelap ke dalam dunia mimpi. Namun, tidurnya yang nyenyak terganggu ketika hidungnya samar-samar mencium bau daging terbakar bercampur dengan bau amis yang menyengat. Karena merasa sangat tidak nyaman dengan aroma-aroma itu, Huang Wushuang pun terpaksa untuk bangun.
Tepat ketika dia membuka mata, Huang Wushuang mendapati keberadaan sepasang manik yang mengarah ke atas, menampakkan bagian putih bola matanya. Beberapa luka sayatan mengerikan yang mengeluarkan darah juga menjadi hiasan tambahan pada wajah gadis yang hanya berjarak beberapa inci dari wajah sang Putri Mahkota. Jika diperhatikan dengan baik, ada juga bekas air mata yang belum sepenuhnya mengering di wajah tersebut.
Dengan cepat, Huang Wushuang mencoba menjauh dari kepala tak bertubuh itu. Baru saja mulut terbuka untuk berteriak, tapi sebuah tangan dengan cepat membungkam Huang Wushuang. Satu tangan lain menotok satu titik di tubuh sang Putri Mahkota, menghentikan pergerakannya.
“Tidakkah dia terlihat cantik?” bisik sang Tamu Tak Diundang dengan nada ceria yang mengerikan. “Mungkin, aku bisa membantumu untuk terlihat secantik itu, Putri Mahkota.”
Jantung Huang Wushuang berdebar kencang, dia sekejap terbangun dari kantuknya. Tak perlu waktu lama sebelum wanita itu mengenali siapa orang yang berada di belakangnya saat ini.
‘Yuanli!’ pekik Huang Wushuang dalam hati, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam.
Saat Yuanli mendapati ekspresi yang menghiasi wajah Huang Wushuang, dia terkekeh. “Oh, jangan menatapku seperti itu. Tidakkah kau tahu bahwa aku bermaksud baik dengan menyingkirkannya dari sisimu?” tanyanya dengan nada bangga. “Dia tak bisa membantumu perihal rencana siang tadi, bukan? Bukankah itu berarti dia tak berguna?” Mata Yuanli memancarkan kegilaan. “Sebaliknya, aku menyelesaikan perintahmu untuk mengantarkan hadiah kepada Huang Shufei. Tidakkah aku lebih berguna?”
Selain itu, Yuanli telah melakukan sesuatu hal yang gila. Dia sudah berani membunuh dengan tangannya sendiri di istana!
Melihat air mata yang mulai mengalir menuruni wajah Huang Wushuang membuat senyuman mengejek di wajah Yuanli menghilang. “Menangis? Tidakkah kau bosan?” Gadis itu mendengus, dan pancaran matanya berubah dipenuhi amarah bercampur kegelapan. “Huang Wushuang, apakah kau menganggap semua perkataanku sebagai angin lalu, hah?”
Yuanli menjambak rambut Huang Wushuang dengan kasar ke belakang, membuat leher jenjang wanita itu terungkap. Tangan Yuanli yang terbebas meraih belati yang diselipkan di ikat pinggang pakaiannya yang berwarna hitam, lalu dia menempelkan belati pendek itu di leher sang Majikan Sementara.
“Kau kira aku tak berani membunuhmu?”
‘Dia tak berani, dia tak mungkin berani!’ Huang Wushuang mencoba untuk berpegang pada akal sehatnya yang terakhir. ‘Aku adalah putri mahkota, dia tak akan berani!’ batinnya lagi.
Yuanli menarik rambut sang Putri Mahkota dengan kasar ke samping, membuat Huang Wushuang seakan menoleh dari pundaknya untuk menatapnya. Kemudian, gadis itu mencengkeram kedua sisi wajah Huang Wushuang dengan keras, menciptakan rasa sakit pada rahang wanita itu.
“Satu-satunya hal yang menghalangiku dari membunuhmu saat ini … adalah kenyataan bahwa majikanku tak mengizinkanku untuk melakukannya. Entah apakah alasannya adalah karena kau masih berhubungan dengan keluarga Huang atau karena kau masih berguna. Yang jelas, kau harus sadar kalau keluarga Huang adalah alasanmu masih hidup sekarang,” ucap Yuanli, tak menjelaskan lebih dalam majikan yang mana yang dia maksud.
Huang Miaoling atau Liang Fenghong?
Yah, tak peduli yang mana. Lagi pula, di mata Yuanli, keduanya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
__ADS_1
Kemudian, Yuanli mendorong kepala Huang Wushuang ke arah kepala Xiaoxue, menyisakan satu-dua inci jarak di antara keduanya. Setelah diperhatikan dengan jelas oleh Huang Wushuang, kepala gadis pelayan itu berada di dalam kotak yang biasa digunakan oleh para pelayan untuk mengantarkan kudapan. Tak heran ketika tutup kayu pada sisi kotak dibuka, bau amis itu dengan cepat menyeruak masuk ke dalam hidung sang Putri Mahkota.
Tak hanya itu, Huang Wushuang juga menyadari beberapa sisi leher Xiaoxue terlihat terbakar. Hal tersebut jelas berasal dari usaha Yuanli dari menghentikan aliran darah dari sisi bawah leher yang terpotong dengan kasar.
“Perlu dua kali ayunan kapak sebelum kepalanya benar-benar terpisah dari tubuhnya,” celetuk Yuanli membuat rasa dingin meresap ke dalam tubuh Huang Wushuang. “Awalnya, aku ingin berbaik hati dan menyelesaikannya dalam satu ayunan. Namun, dia mencoba untuk lari.” Gadis itu menggelengkan kepalanya, seakan benar-benar prihatin pada pilihan Xiaoxue. “Oleh karena itu, aku sempat meleset dan harus melakukan ayunan kedua sebelum berhasil menghabisinya.”
Sering dikatakan bahwa semakin sedikit ayunan yang diperlukan untuk menebas kepala seseorang, maka semakin sedikit juga rasa sakit yang dirasakan orang tersebut. Yuanli jelas merujuk kepada hal tersebut, tapi sepertinya Huang Wushuang tak menangkap maksudnya. Yang wanita itu tahu hanya satu, bahwa Yuanli telah memisahkan kepala Xiaoxue dari tubuhnya dengan sebuah kapak.
‘Gila, gadis ini gila. Ya, langit. Tolong selamatkan aku!’
Yuanli tertawa kecil untuk sesaat sebelum ekspresinya berubah dingin. “Sebaiknya, kau lihat dengan jelas apa konsekuensi dari tindakanmu.” Emosinya semakin menggebu ketika membayangkan apa yang mungkin telah terjadi kepada Yunlin di tangan Pasukan Kematian. “Kalau tak ingin berakhir seperti itu, lebih baik kau menjaga sikapmu.” Lalu, dia melemparkan Huang Wushuang ke sisi ranjang, membiarkan wanita itu terbanting ke atas kasurnya dengan tidak berdaya.
Yuanli menutup kotak tempat dirinya meletakkan kepala Xiaoxue. Kemudian, dia menjauh dari tempat tidur sang Putri Mahkota. Kejutan yang dia berikan untuk Huang Wushuang mendapatkan sebuah reaksi yang memuaskan hasratnya.
Detik berikutnya, Yuanli menyadari bahwa bagian bawah pakaian tidur Huang Wushuang terlihat basah, begitu pula dengan area kasur di sekitar paha wanita itu. Hal tersebut membuat gadis itu memasang ekspresi merendahkan.
“Karena kau tak menyukai hadiahku, maka aku akan memusnahkannya.” Yuanli melangkah pergi seraya berkata, “Ingatlah, Huang Wushuang. Kalaupun tak kentara, tapi aku memiliki kemampuan untuk melakukan hal di luar akal sehat.”
Yuanli mengerutkan keningnya seraya mengencangkan cengkeramannya pada pegangan kotak. Benaknya melambung pada saat-saat Liang Fenghong membawa kembali Huang Miaoling dalam keadaan tak berdaya. Ekspresi khawatir majikannya itu ditambah dengan kondisi sang Nona Pertama Huang yang memprihatinkan membuat dadanya sesak.
“Kalau kau berani menyentuh seseorang yang tak seharusnya kau sentuh, percaya atau tidak akan ada beberapa orang yang akan mengejarmu bahkan sampai ke alam baka.”
_____________
A/N: Ada nggak sih yang sempet mikir, di saat-saat seperti ini, bukankah Yuanli terlalu bebas menekan Huang Wushuang? Bagaimanapun, wanita itu putri mahkota, masa ditindas gitu aja nggak ada yang tahu?
.
.
.
.
.
LOL, kayaknya cluenya berlebihan ya? Atau malah bikin tambah pusing? wkwkwkwkwkk, gak ada akhlak emang otornya ihihi
__ADS_1