
“Kau bilang apa?” Rong Gui yang sedari tadi bertindak tenang menghadapi segala susunan rencana gila dari Huang Miaoling akhirnya mengerutkan keningnya. “Keturunan Zhou? Dia keturunan keluarga kerajaan Zhou? Omong kosong apa ini?”
Huang Miaoling melirik ke arah Rong Gui, merasa dirinya ingin tersenyum. Reaksi itu merupakan reaksi yang sama dengan yang dirinya berikan ketika menerima berita ini.
“Berhati-hatilah untuk menghindari kesalahpahaman, Penyelidik Rong,” ujar Huang Miaoling sembari menegapkan tubuhnya, lalu melipat kedua tangannya dengan angkuh. “Keturunan Zhou dan keturunan keluarga Zhou adalah dua hal yang berbeda. Aku tidak merujuk kepada keluarga kerajaan bermarga Qing yang menguasai kerajaan Zhou, melainkan keluarga kerajaan bermarga Zhou.”
Pusing, Wei Shulin menutup matanya seraya memijit pelipisnya. Dengan satu tangan yang terarah kepada Huang Miaoling, meminta waktu agar wanita itu menghentikan ucapannya, Wei Shulin berujar, “Tunggu, tunggu, tunggu. Ulangi!” Dia membuka mata dan menatap Huang Miaoling dengan serius. “Kau bermaksud berkata bahwa Pangeran Keenam adalah keturunan Raja Zhou?!”
Dan, Huang Miaoling pun menganggukkan kepala.
Wei Shulin melangkah mundur dan membanting tubuhnya ke kursi. “Ini … tidak mungkin.” Dia berusaha menenangkan diri setelah mendengar informasi tersebut.
“Dari mana … dari mana kau tahu mengenai hal ini, Junzhu?!” Rong Gui merupakan salah satu orang dengan reaksi paling besar. Sebagai seseorang yang pernah bekerja sama dengan Wang Chengliu dan tak pernah tahu soal hal ini, tentunya dia akan sangat terkejut.
Huang Miaoling berbalik dan duduk di kursinya. Kemudian, dia menjawab, “Suamiku.”
Benak Huang Miaoling melayang kepada percakapannya pagi tadi dengan Liang Fenghong. Ketika dirinya baru saja selesai membantu suaminya itu mengenakan baju zirahnya, pria itu mendadak menggenggam tangan Huang Miaoling dengan erat.
“Aku akan segera pergi,” ucap Liang Fenghong dengan pandangan sendu. “Ada sesuatu hal yang ingin kukatakan padamu,” imbuhnya seraya menatap mata Huang Miaoling dalam-dalam.
“Apa itu?” tanya Huang Miaoling dengan tenang, tak mengetahui akan kejutan yang akan datang menghantam dirinya.
“Awalnya, aku berniat untuk memberitahukan hal ini di kemudian hari padamu. Namun, situasi tidak memungkinkan lagi bagiku untuk menyimpan rahasia ini lebih lama, terutama karena kau akan segera berjuang sendiri di dalam kerajaan,” Liang Fenghong mulai berkata panjang lebar, dan hal itu membuat Huang Miaoling terkekeh. “Apa?” Pria itu mengerutkan kening, sedikit kesal karena istrinya malah tertawa ketika dirinya sedang serius.
“Kau bersikap seakan aku akan mencari masalah di ibu kota,” jawab Huang Miaoling.
Mendengar hal ini, Liang Fenghong mendengkus. “Jauh sebelum diriku menjadi suamimu, aku tahu jelas sifatmu. Oleh karena itu, aku tahu kau tak akan tinggal diam dan akan segera berbuat onar.” Pria itu memberikan sentilan ringan pada dahi istrinya.
Huang Miaoling mendesis sembari mengusap dahinya yang memerah. “Cepat selesaikan ucapanmu,” ujarnya ketus.
“Wang Chengliu adalah keturunan Raja Zhou,” ucapan itu membuat Huang Miaoling membeku di tempat, mengalihkan pandangannya kepada Liang Fenghong. “Ibunya, Chen Meilian, merupakan anak dari kemenakan Raja Zhou.” Pandangan pria itu terlihat kesulitan seraya dia melanjutkan, “Selain itu, dia juga satu-satunya keturunan pria yang tersisa dari Raja Zhou.”
__ADS_1
Terngiang kembali kenyataan yang dijabarkan oleh suaminya, Huang Miaoling tak bisa menahan diri untuk memejamkan mata. Tak heran Chen Meiping, wanita yang juga keturunan dari Raja Zhou, bersedia untuk bekerja sama dengan Wang Chengliu untuk memanipulasi Qing Zhuang. Selain itu, ditambah dengan kenyataan Wang Chengliu merupakan seseorang yang kembali dari masa lalu, bukanlah hal yang aneh apabila dia telah terlebih dahulu membuktikan identitasnya kepada wanita itu.
Penjelasan Huang Miaoling membuat Rong Gui bungkam. Namun, pria itu kemudian angkat bicara, “Dari mana kiranya Penasihat Liang mengetahui hal ini?” Ada kecurigaan yang terpampang di wajahnya.
Huang Miaoling terdiam. Dirinya sendiri menanyakan hal ini pada Liang Fenghong, tapi pria itu enggan menjawab. “Ketika aku kembali, aku akan menceritakan semuanya padamu. Aku berjanji,” itulah balasan yang Huang Miaoling dapatkan.
“Dia tidak menceritakannya. Namun, aku menebak dia mengetahui hal itu ketika dirinya sempat menjadi tabib terhormat Kerajaan Zhou,” jawab Huang Miaoling, berbohong. Dia tahu bahwa Liang Fenghong tak mungkin mendapatkan informasi sepenting itu selagi menjadi tabib istana di Zhou.
Namun, sebagai seseorang yang memang tidak mengetahui apa pun di luar kerajaan, Rong Gui hanya bisa menelan kembali kecurigaannya. “Kalau kita salah ….”
“Kalau kita salah, itu tak mengubah apa pun,” ucap Huang Miaoling. “Kenyataan bahwa Wang Chengliu akan menggunakan minimnya penjagaan ibu kota untuk melakukan kudeta tetap ada, dan aku bersumpah untuk menghalanginya.”
***
“Berhenti!” teriak seorang komandan pasukan yang berada di barisan paling depan. “Hari ini kita beristirahat di sini!”
Setelah memastikan bawahannya menyampaikan perintahnya dengan baik, Perdana Menteri Liang mengalihkan pandangannya kepada Liang Fenghong yang telah turun dari kudanya. Pria itu terlihat terlalu tenang bagi seseorang yang baru saja meninggalkan istrinya untuk berperang. Ditambah dengan kenyataan bahwa Huang Miaoling juga dikelilingi bahaya di ibu kota, Perdana Menteri Liang merasa sikap putranya itu sangat mencurigakan.
Sebagai ayah dari Huang Miaoling, Huang Qinghao adalah orang yang paling penasaran dengan sikap Liang Fenghong. Sedikit berbeda dengan Perdana Menteri Liang, pria itu bahkan sedikit curiga kalau sebenarnya menantunya itu tak peduli dengan putrinya, dan hal itu membuat Huang Qinghao sesekali melemparkan pandangan curiga kepada Liang Fenghong.
Akhirnya, Huang Qinghao pun menjadi orang pertama yang membuka suara, “Kau terlihat tenang untuk seseorang yang baru pertama kali meninggalkan istrimu demi perang. Tidakkah kau sadar betapa berbahayanya ibu kota dengan kepergianku?”
Mendengar hal ini, Liang Fenghong menatap Huang Qinghao lekat-lekat. “Ayah Mertua, kau datang kemari karena rencana Ling’er, bukan?” Anggukan kepala ayah mertuanya membuat pria itu melanjutkan, “Bukankah itu berarti kau percaya bahwa rencana Ling’er akan berhasil?”
“Selalu ada kemungkinan untuk kegagalan, Hong’er,” ujar Liang Shupeng kepada putranya. “Walau Miaoling sungguh seorang wanita yang luar biasa, itu tak menutup kemungkinan rencananya bisa gagal.”
Ucapan kedua orang tuanya yang berbelit itu membuat Liang Fenghong tersenyum tak berdaya. “Kalian menggunakan cara yang begitu rumit untuk mengorek informasi dariku,” balasnya. Setelah memberikan tali kudanya kepada Xiaoming, pria itu berkata, “Kalian tak perlu khawatir.” Ekspresinya terlihat begitu serius, “Aku sudah mempersiapkan segalanya.”
***
Terlihat di dalam sebuah ruangan, seorang pria sedang sibuk menuliskan sesuatu di atas meja kerjanya. Dengan rentetan pelayan serta pengawal di bawah panggung kehormatannya, pria itu tak khawatir akan adanya orang yang mengganggu dirinya.
__ADS_1
Mendadak, pintu ruangan yang begitu luas tersebut terbuka kecil, mempersilakan seorang kasim melangkah masuk perlahan. Dia menghampiri pria dengan mahkota yang bertengger di kepalanya itu dengan hati-hati, lalu berkata dengan suara rendah, “Yang Mulia, penyerangan terhadap Kerajaan Wu telah mencapai telinga Kerajaan Shi. Selain itu, dalam penyerangan,” dia terlihat gusar, “Permaisuri Tianzhen kehilangan nyawanya.”
Mematung, itulah yang terjadi kepada pria yang dipanggil “Yang Mulia” tersebut. Tangan kanan pria yang memegang kuas itu gemetar, tapi dengan cepat tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan kanannya, menstabilkan keseimbangannya. Namun, getaran tersebut membuat tinta pada kuas mengotori laporan yang sedang dia tangani.
Qing Zhuang—sang Kaisar Zhou—memejamkan mata, berusaha menenangkan gejolak emosi yang mendadak menghantam dirinya. Lalu, pria itu meletakkan kuasnya dan berkata, “Semuanya, terkecuali Kasim Cao dan Jenderal Hu, keluar.”
Para pelayan dan pengawal itu segera memberi hormat, “Baik, Yang Mulia.” Mereka pun pergi meninggalkan tiga orang di dalam ruangan tersebut; sang kaisar, sang kasim, dan sang jenderal.
Tanpa ada orang lain di ruangan, ekspresi Qing Zhuang yang tadinya terlihat tenang segera berubah geram. Dia menggenggam sisi mejanya dengan erat, terasa ingin menghancurkannya.
“Bagaimana mungkin Permaisuri Tianzhen bisa kehilangan nyawanya?! Aku jelas-jelas memerintahkan untuk tidak menyentuh keluarga kerajaan! Tidakkah kau sampaikan itu, Jenderal Hu?!” desis Qing Zhuang dengan wajah yang mengerikan. Kaisar Zhou itu mungkin berusia muda, tapi dia tetap kaisar, dan amarahnya mampu menggemparkan seisi kerajaan.
Kasim Cao dan Jenderal Hu segera berlutut di lantai. “Yang Mulia, tenanglah!” ujar keduanya.
“Yang Mulia, hamba telah pastikan bahwa pesan tersebut tersampaikan kepada pasukan kita.” Jenderal Hu mengangkat kepalanya, “Aku yakin bahwa Hudie tidak membawa pasukan kita untuk penyergapan istana. Oleh karena itu, hal ini bisa terjadi.”
‘Baj*ngan Wang Chengliu itu …,’ maki Qing Zhuang dalam hati. Kemudian, pria itu menatap Kasim Cao. “Bagaimana dengan Kaisar Wu Huatai?” tanyanya, ada kekhawatiran di matanya. “Apa dia juga ….”
“Tidak, Kaisar Wu baik-baik saja,” jawab Kasim Cao cepat.
Helaan napas keluar dari mulut Qing Zhuang. “Syukurlah. Paling tidak, aku tidak kehilangan orang terpenting.” Dia kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya. “Kalau Wu Huatai kehilangan nyawanya, maka itu sama saja dengan kegagalanku untuk memenuhi perjanjian Ayahanda dengan orang itu.” Pria tersebut menggigit bibirnya, menunjukkan keraguannya. “Bila hal itu terjadi, maka hanya ada malapetaka yang menunggu Kerajaan Zhou.”
Jenderal Hu dan Kasim Cao saling memandang, tahu jelas siapa yang dibicarakan oleh pemimpin mereka. Ekspresi khawatir dan takut terpancar di wajah kedua orang tersebut, sama seperti yang beberapa saat lalu terpancar di wajah Qing Zhuang.
Qing Zhuang menyentuh dagunya, terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Jenderal Hu,” panggilnya. “Sampaikan perintahku pada Jenderal Besar Ren, sudah waktunya untuk menjalankan rencana.”
“Baik, Yang Mulia!” balas Jenderal Hu seraya berdiri dan meninggalkan ruangan dengan cepat.
Setelah itu, Qing Zhuang berdiri dari kursinya. Kasim Cao bergegas menghampiri sang kaisar untuk membantu pria tersebut menuruni tangga panggung kehormatan.
“Waktu kita tidak banyak,” ucap Qing Zhuang seraya berjalan meninggalkan ruang kerjanya. “Wang Chengliu telah menjalankan rencananya, dan aku … harus mematahkannya.”
__ADS_1
___
A/N: *Author yang berteleportasi keatas genteng markas Longzhu\, terus atas pohon di hutan yang rombongan Liang Fenghong lewati\, sampe ke atas genteng ruang kerja Kaisar Qing* : Woi anjay\, capek gw pindah-pindah. Ini apa yang sebenarnya sedang terjadeeeh?!