
Hanya ketika pintu ruangannya tertutup, barulah Huang Miaoling mampu menggerakkan tubuhnya lagi. Dia berdiri dan bergegas melangkah keluar ruangan. Akan tetapi, sesuai dugaannya, Lan’er telah menghilang dari pandangan.
‘Lan’er,’ Huang Miaoling berbisik dalam hatinya. Entah kenapa, hatinya merasa sesak dan tenggorokannya tercekat. Hal tersebut membuat sang Mingwei Junzhu mencengkeram dadanya yang terasa sakit. ‘Apa aku sedang bersedih akan perpisahan ini?’ tanyanya, sedikit bingung dengan emosi yang mendadak melanda dirinya.
Siapa Lan’er baginya? Sahabat? Saudari?
Entahlah. Yang jelas, Huang Miaoling tahu bahwa Lan’er adalah orang … dewi … dia yang memberikan kesempatan padanya untuk mengubah takdir. Namun, pahit bagaimana Huang Miaoling tak bisa membantu gadis itu untuk menghindari takdirnya sendiri ….
Melihat sosok Huang Miaoling yang berada di ambang pintu, seorang pengawal yang kebetulan melewati halaman tersebut bergegas menghadap. “Junzhu, ada apa?” tanyanya dengan waspada, sadar bahwa kondisi majikannya tidak terlihat baik.
Terkejut, Huang Miaoling mengembalikan ekspresi tenang di wajahnya, lalu dia menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa,” ujarnya. Sebelum berbalik untuk kembali ke kamarnya, wanita itu teringat sesuatu, “Sampaikan pesan pada Letnan Jenderal Fang Yu bahwa aku ingin A Pao melapor kepadaku di hari esok.”
“Ah?” Prajurit itu terlihat bingung. Dari semua prajurit Longzhu, kenapa harus A Pao, si pembuat onar itu?
Sebuah senyuman tipis terpasang di wajah sang Mingwei Junzhu. “Menyuruhnya membawa Mazu berkeliling kota, apa kau kira aku melakukan hal tersebut hanya sekadar untuk menghukumnya?” tanya wanita itu. “Aku ingin tahu segala hal yang dia dengar dari para penduduk ibu kota.” Lalu, dia berbalik dan ekspresi gelap pun menghiasi wajahnya. ‘Terutama karena aku yakin Wang Chengliu akan segera bertindak.’
Seusai menutup pintu kamarnya, pandangan Huang Miaoling terarah ke atas meja. Terdapat pedang dan mahkota miliknya yang berada di sana.
Tangan Huang Miaoling terjulur kepada mahkota putri tingkat ketiga miliknya, lalu dia menyusuri ukiran indah di setiap incinya. ‘Ah, haruskah aku memancingnya?’
***
“Setelah minggu lalu terus-menerus menerima berita kekacauan, sangatlah aneh karena tidak ada berita menggemparkan lainnya yang terjadi dalam satu minggu ini,” ujar seorang pelayan yang sedang sibuk membersihkan sebuah halaman besar bersama dengan seorang pelayan lain.
Gadis pelayan yang lain membalas dengan ketus, “Ketenangan yang kau sebutkan itu hanyalah ilusi, kau tahu? Kematian Pangeran Kelima sudah cukup menekan kalangan rakyat, ditambah dengan perang internal Kerajaan Wu serta peperangan antara Zhou dan Shi, tak ada yang bisa tidur dengan benar-benar tenang belakangan ini.” Dia melanjutkan tugasnya dengan alis bertaut. “Keadaan saat ini … hanyalah ketenangan sebelum badai besar.”
Pelayan pertama mendesis, “Jangan mengatakan hal sial seperti itu.” Dia kemudian terdiam sesaat sebelum akhirnya teringat akan sebuah gosip lain. “Oh, ya. Apa kau sudah dengar mengenai hantu yang berada di halaman sang mantan putri mahkota?” tanyanya dengan sebuah senyuman menantang, semangat untuk membahas topik baru.
Pelayan kedua memutar bola matanya, malas mendengar ocehan temannya itu. “Aku tidak memiliki waktu untuk mendengarkan gosip seperti dirimu,” balasnya ketus. “Selain itu, sebut dia dengan status terhormatnya, Selir Huang. Bagaimanapun, dia adalah wanita Pangeran Mahkota.”
“He he, kelihatannya kau belum tahu,” ujar pelayan pertama dengan wajah bangga, mengabaikan nasihat temannya. “Kau tahu gadis bernama Xiaoxue yang sempat mendampingi Selir Huang, bukan? Gadis sombong bermuka dua itu?”
Dengan malas, pelayan kedua bersenandung mengiyakan, “Hmm, dia menghilang, bukan? Apa akhirnya ada yang menemukan mayatnya?” tanya gadis itu dengan wajah datar, seperti sudah biasa mendengar berita semacam itu.
“Bukan! Kudengar hantunya berkeliaran di halaman Selir Huang!” seru pelayan pertama. “Belakangan ini, beberapa pelayan dan pengawal patroli yang melewati tempat tersebut mengaku sering melihat bayangan hitam berkeliaran.”
“Hmm, begitu?” balas pelayan kedua dengan santai, menganggap berita tersebut bak angin lalu. Majikannya bukan sang Selir Huang, untuk apa dia repot-repot memikirkan mengenai halaman wanita tersebut?
Setelah terdiam sesaat, pelayan pertama kembali bercelatuk, “Oh, ya. Apa kau sudah dengar bahwa pelayan pendamping Selir Huang, Yuanli, tidak lagi ada di sana?”
“Hah?” pelayan kedua segera menghentikan tangannya yang tadi sibuk menyapu. Oke, masalah ini cukup membuatnya terkejut. Dia langsung menoleh dengan wajah kaget. “Apa maksudmu? Dia juga menghilang?”
“Bukan, dia kembali melayani sang Mingwei Junzhu!” Gadis itu terkekeh, senang temannya itu akhirnya memberikan reaksi. “Sepertinya, karena adiknya telah terbukti tidak berguna, Mingwei Junzhu tidak lagi ingin mendukungnya. Kemungkinan, dia malu memiliki adik rendahan seperti itu, he he.”
Mengabaikan pernyataan menghina kawannya, pelayan kedua bertanya dengan bingung, “Tidakkah Pangeran Mahkota mengatakan apa pun? Bagaimanapun, tidak masuk akal membiarkan wanitanya tanpa seorang pelayan pendamping.”
Pelayan pertama mendecak-decakkan lidahnya, mengejek temannya yang kurang berpengetahuan. “Sejak sikap tak sopan Selir Huang terhadap Long Momo, Pangeran Mahkota tak pernah memedulikan wanita itu. Selain itu, Pangeran Mahkota sangat menghormati Mingwei Junzhu yang pernah menyelamatkan nyawanya. Oleh karena itu, tak heran dia tidak melakukan apa pun terhadap keputusan Junzhu untuk menarik kembali pelayan utusannya.”
__ADS_1
Selagi melanjutkan tugas mereka, kedua pelayan tersebut terus bergosip. Tanpa mereka ketahui, terdapat sepasang mata yang mengawasi dari jauh dan mendengarkan setiap detail percakapan mereka.
‘Menarik kembali Yuanli dari sisi Huang Wushuang?’ Sosok misterius itu mengernyitkan wajahnya. ‘Mengapa begitu tiba-tiba?’ batinnya bertanya-tanya.
Karena tidak lagi bisa mendapatkan informasi penting, sosok misterius itu berbalik dan berjalan pergi. Dia berjalan di bawah bayangan pohon rindang, melalui jalanan bercabang istana, lalu berhenti di hadapan sebuah ruangan.
“Selir Song, ini aku,” ujar sosok misterius yang ternyata seorang perempuan itu.
Dari dalam ruangan, terdengar suara Song Qiaolan membalas dengan nada melantun, “Masuklah.” Begitu pintu ruangan terbuka dan pandangan sang selir mendarat pada sosok yang familier itu, dia tersenyum. “Berita apa yang akan kau berikan padaku sekarang, Mingyue?”
Mingyue memberi hormat pada Song Qiaolan, lalu menceritakan semua yang dia dengar dari halaman utama kediaman pangeran mahkota. Dia tidak lupa menambahkan bumbu, “Sepertinya, keluarga Huang telah sepenuhnya menyerah dalam mendukung Huang Wushuang.”
Mendengar hal ini, Song Qiaolan sangat bahagia. Dia melemparkan sebuah perhiasan kepada Mingyue, lalu berkata, “Hiburan yang luar biasa untuk mengatasi kebosananku hari ini, kau pantas diberikan hadiah.” Wanita itu kemudian berdiri dari kursinya dan menutup kipas lipatnya. “Aku ingin berjalan-jalan sebentar, temani aku,” ucapnya seraya menjulurkan tangannya, meminta untuk dituntun.
Telah lama sejak dirinya tinggal di istana, Mingyue sudah sepenuhnya mengerti tata krama yang diperlukan. Selain itu, hanya satu kali semua orang penting melihat wajahnya di pengadilan, dan hari tersebut sudah lama berlalu.
Setelah mendapatkan jaminan dari Permaisuri Mingmei, Mingyue tidak lagi perlu menyembunyikan dirinya seperti dulu. Berkeliaran di istana bukan lagi hal yang dia hindari, terutama karena salah satu tugasnya adalah untuk mendengar gelombang rumor yang berkeliaran di tempat tersebut.
“Baik, Selir Song,” balas Mingyue seraya berdiri dan menuntun majikan sementaranya itu dengan hati-hati.
Bersama dengan seorang kasim dan sejumlah pelayan lain, Song Qiaolan dan Mingyue berjalan menyusuri jalanan istana yang menjadi area kediaman Pangeran Mahkota. Dengan perginya dua pangeran ke medan perang, suasana istana menjadi sangat tenang.
Ketika mencapai kolam bunga teratai, langkah Song Qiaolan mendadak berhenti. Mingyue yang sedang menuntun wanita itu dengan kepala tertunduk—guna memperhatikan jalan—langsung menengadahkan pandangannya.
Melihat wanita yang berjalan menghampiri, kedua perempuan itu membeku di tempat. Saat sosok dengan sepasang netra hitam mencekam itu berdiri menjulang di hadapan mereka, barulah semua orang membungkuk sesuai kedudukan masing-masing untuk memberi salam, “Hormat kepada Mingwei Junzhu, sang Wu Jiushi Zhu.”
“Salam kepada Selir Song,” balas Huang Miaoling dengan sopan. Bagaimanapun, wanita di hadapannya adalah selir Wang Zhengyi. Walau statusnya sebagai Wu Jiushi Zhu membuat para wanita di istana, terkecuali para selir kaisar dan tuan putri, wajib menghormati dirinya, tapi tak baik bila dia bersikap terlalu arogan. “Hari ini begitu cerah, jadi kau memutuskan untuk berjalan-jalan?”
Song Qiaolan tak pernah bertemu Huang Miaoling secara langsung, ini adalah kali pertama. Awalnya, dia meremehkan ucapan Mingyue mengenai betapa menyeramkannya wanita ini. Tak hanya itu, pujian yang dilontarkan berbagai orang juga dipertanyakan olehnya. Namun, sekarang dia baru tersadar bahwa wanita di depannya ini … memiliki tekanan yang sungguh mematikan.
“Jawab Junzhu, itu benar,” balas Song Qiaolan singkat, merasa punggungnya sedikit basah karena keringat.
Cuaca memang cerah, tapi suhu tidaklah panas. Tubuh Song Qiaolan yang mulai berkeringat jelas diakibatkan oleh tekanan mengerikan dari sang Mingwei Junzhu!
‘A-aku harus segera menyingkir dari jalannya.’ Lalu, Song Qiaolan sadar akan suatu hal. ‘Oh, tidak! M-Mingyue!’
Sesuai dugaan Song Qiaolan, manik Huang Miaoling segera bergeser ke arah Mingyue yang berada di sisi sang selir. Mantan pelayan pendamping Huang Wushuang itu mencoba untuk menahan keinginannya untuk kabur, tapi tak elak menyembunyikan tubuhnya yang bergetar hebat ketika netra hitam malam itu mendarat pada tubuhnya.
“Mingyue …,” panggil Huang Miaoling. “Lama tidak berjumpa.”
***
“Huang Miaoling bertemu dengan Song Qiaolan?” Wang Chengliu mengerutkan keningnya, sedikit terkejut dengan berita yang diterimanya. “Untuk apa dia menemui wanita itu?” tanya pria tersebut lagi. Mata tajamnya terlihat kosong, dirinya fokus mengobrak-abrik benaknya. “Dia menemui Mingyue?” duganya.
Chenxiao yang berdiri di hadapan meja kerja Wang Chengliu menjelaskan, “Mereka hanya berpapasan sejenak di taman kolam teratai.” Pria itu kemudian menambahkan, “Namun, cukup aneh bagaimana Mingwei Junzhu tidak memberikan reaksi apa pun terhadap Mingyue.”
Mendengar hal ini, Wang Chengliu menyeringai. “Huang Miaoling jelas tahu dari Yuanli bahwa kau yang menyelamatkan Mingyue.” Lalu, pria itu menutup matanya, membayangkan ekspresi mengerikan sang Mingwei Junzhu ketika menatap sosok Mingyue. “Tidak memberikan reaksi terhadap Mingyue … tidak mungkin. Walau terlihat tenang, tapi di dalam benaknya, Huang Miaoling pasti sedang memperhitungkan cara untuk menyingkirkan pelayan kurang ajar itu.”
__ADS_1
“Namun, apa yang bisa seorang Mingyue lakukan sehingga Mingyue Junzhu ingin menyingkirkannya?” tanya Chenxiao, tak mengerti.
Wang Chengliu mengangkat pandangannya, lalu membalas tatapan kebingungan Chenxiao. “Ada begitu banyak hal yang bisa seseorang lakukan, Chenxiao,” pria itu menaikkan alisnya, “tapi alasan utama sang Mingwei Junzhu akan berusaha untuk menyingkirkan seorang pelayan kecil … jelas karena dia khawatir Mingyue memiliki kegunaan untukku.” Sebuah senyuman mengerikan tampak di wajah Wang Chengliu, ‘Dan, dia tidak salah.’
***
“Tuan Putri, kau makan terlalu sedikit,” ujar seorang pelayan kepada sosok majikannya yang termenung dengan wajah sedih. “Tuan Putri, makanlah lebih banyak. Kalau kau—”
“Aku lelah,” ujar Wu Meilan. Kemudian, dia menoleh dan tersenyum dengan pahit. “Tidak bisakah kau berikan aku waktu untuk beristirahat sebentar saja?” Walau lembut, tapi ucapan Wu Meilan terdengar tajam, dan dia pun berhasil membuat sang pelayan bergegas mengundurkan diri.
Setelah selesai memindahkan mangkuk dan piring di atas meja ke atas nampan, pelayan tersebut melangkah mendekati pintu keluar. Namun, baru dia membuka pintu, hal pertama yang menyeruak masuk ke dalam pandangannya adalah kedatangan sosok yang tak terduga.
“Mingwei Junzhu?” seru pelayan tersebut seraya membalikkan tubuhnya untuk menatap Wu Meilan. “Tuan Putri, Junzhu datang mengunjungimu!” suaranya terdengar terlalu girang, mungkin mensyukuri akhirnya ada seseorang yang ‘mungkin’ mampu membuat majikannya merasa lebih baik.
Sesuai dugaan sang pelayan, mata sendu Wu Meilan sekejap diselimuti semangat. Gadis itu berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri teras.
“Miaoling,” panggil Wu Meilan dengan tangan mencengkeram jubahnya, sebuah cara untuk menyalurkan emosi dalam dirinya.
Melihat sosok Wu Meilan yang pucat dan lemah mengingatkan Huang Miaoling kepada Lan’er. Hal tersebut membuat wanita itu menampakkan wajah sedih.
“Salam kepada Tuan Put—!” Belum sempat Huang Miaoling menyelesaikan hormatnya, dia dikejutkan dengan sosok Wu Meilan yang melemparkan diri padanya. Ketika tersadar tubuh Wu Meilan bergetar, Huang Miaoling membalas pelukan itu, membiarkan sang tuan putri melampiaskan emosinya. “Apa yang terjadi?” tanyanya, sadar bahwa ada yang salah.
Wu Meilan melepaskan pelukannya, matanya memerah dan berkaca-kaca. Sebelum gadis itu mengatakan apa pun, dia menarik tangan Huang Miaoling dan membawa wanita itu ke dalam ruangan.
“Jangan biarkan siapa pun melewati pintu ini!” teriak Wu Meilan dengan nada tegas, mengejutkan Huang Miaoling yang selama ini menganggap sang tuan putri sebagai seorang gadis yang lembut.
Setelah pintu tertutup, Huang Miaoling bertanya, “Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?” Wanita itu menuntun Wu Meilan untuk duduk, berharap dengan begitu emosi gadis tersebut akan lebih tenang. “Katakan padaku.”
Wu Meilan menggenggam tangan Huang Miaoling, lalu menyatakan dengan wajah kacau, “Kaisar Weixin … Kaisar Weixin berkata dia akan menikahkanku dengan Pangeran Keenam!”
____
A/N:
*Author yang bersantai di salah satu batang pohon sambil nguping omongan pelayan*: Elah\, telat gak sih mereka denger beritanya.
*Insert: Mingyue nguping*
Author: ANJ*R NIH ORANG IKUT-IKUTAN NGUPING?! GAK ORI LU!
Beberapa saat kemudian.
*Author yang di genteng Wu Meilan shok liat dia tarik Miaoling\, langsung berteleportasi ke belakang pembatas kamar dan ruang tamu*
Wu Meilan: Kaisar Weixin akan menikahkanku dengan Pangeran Keenam!
Me: WADAFAK!~~~~
__ADS_1