Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 34 Asal-Usul Rong Gui


__ADS_3

Rong Gui bersujud di hadapan pintu ruang Wang Chengliu. “Hamba berterima kasih atas pengertian Yang Mulia.” Dia menyentuhkan kepalanya tiga kali di lantai sebelum akhirnya berdiri dan memberi hormat dengan setengah membungkuk. “Hamba mengundurkan diri. Semoga Yang Mulia diberkati oleh langit.”


Seusai mengucapkan semua hal yang perlu diucapkan, Rong Gui berbalik dan meninggalkan kediaman Wang Chengliu. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam hatinya ketika meninggalkan tempat tersebut. Sebaliknya, pria itu terlihat begitu lega, seakan dirinya baru saja terlepas dari sebuah jeratan.


Tak lama setelah kepergian Rong Gui, terdengar suara sebuah benda yang terpecah menjadi berkeping-keping. Para pengawal yang berada di luar ruangan bergidik ngeri, merasa kalau hari ini merupakan hari yang dipenuhi dengan emosi menggebu-gebu.


“Yang Mulia, tenanglah!” pinta Chenxiao seraya memperhatikan tangan Wang Chengliu yang berdarah akibat baru saja memukulkan buku-buku jarinya pada sebuah guci porselen.


Sebuah senyuman mengejek yang dipenuhi amarah terlukis di wajah Wang Chengliu. “Berutang budi? Dia memutuskan hubungan denganku, orang yang mampu mengabulkan keinginannya untuk membalas dendam, hanya karena utang budi kepada gadis itu?! Tidak masuk akal! Sungguh sebuah kebodohan!”


Melihat kemarahan majikannya, Chenxiao memaki dalam hati tindakan Rong Gui beberapa saat yang lalu. Pria yang belum lama berhasil dirangkul oleh Wang Chengliu untuk menjadi mata-matanya di Departemen Pertahanan secara mendadak mengundurkan diri. Tak hanya itu, alasan Rong Gui mengundurkan diri adalah … karena dirinya berutang budi kepada Huang Miaoling!


“Begitu susah payah aku menemukan dirinya, menemukan seseorang yang memiliki alasan untuk memberikan dukungan penuh terhadapku. Namun … karena Huang Miaoling ….” Wang Chengliu menggertakkan giginya dengan tidak rela.


Ya, dengan bantuan Shao Yanjun, Wang Chengliu mendapatkan informasi mengenai Rong Gui. Pria itu memiliki dendam yang begitu mendalam terhadap para bangsawan akibat masa lalu kelam ibunya, Rong Xia, dan hal tersebut merupakan suatu hal yang bisa digunakan oleh sang Pangeran Keenam.


Rong Xia merupakan seorang pelayan yang sempat memiliki hubungan dengan tuan muda dari sebuah keluarga bangsawan kecil. Dengan bualan cinta sang Tuan Muda dan janji perihal pernikahan, gadis muda itu memberikan segalanya pada pria itu, termasuk kesuciannya. Karena kerelaan Rong Xia dalam menyerahkan tubuh dan hatinya pada pria itu, bukanlah hal yang mengejutkan bahwa hubungan tersembunyi keduanya pun berakhir dengan sebuah kehamilan.


Tak ingin mengakui, tapi tak ingin melepaskan. Sang Tuan Muda membuat Rong Xia menutupi bahwa anak dalam kandungan gadis itu adalah miliknya, tapi pria itu juga memberikan syarat bahwa Rong Xia tidak boleh menggugurkan janinnya. Untuk menutupi aibnya, Rong Xia dipaksa pergi dari kediaman untuk tinggal di gubuk kecil di pinggiran kota. Entah sungguh karena perasaan cinta … atau hanya sekedar merasa bersalah, tapi sang Tuan Muda berjanji untuk menafkahi dirinya. Satu persyaratan yang menggantung di antara keduanya, Rong Xia tak boleh kembali ke kota sampai waktu yang tepat tiba.


Entah kapan waktu yang ‘tepat’ sebenarnya akan datang.


Sesuai janji, sang Tuan Muda sungguh mengirimkan uang setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan Rong Xia. Bahkan, pria itu sesekali mengunjungi dirinya.


Ketika waktu persalinan mendekat, sang Tuan Muda mengirimkan seorang bidan untuk mengawasi dan merawat Rong Xia. Lalu, setelah kelahiran sang Putra, sang Tuan Muda begitu bahagia, dia bahkan memberikan nama ‘Gui’ yang berarti ‘mulia’ bagi putranya. Namun, karena khawatir identitas sang Putra akan mempersulit dirinya, maka dia membiarkan sang Putra menggunakan marga Rong Xia.


Itu adalah awal mula seorang Rong Gui, puncak kebahagiaan dari Rong Xia … sebelum badai menghantam.


Setelah Rong Gui berusia tiga tahun, sang Tuan Muda semakin jarang mengunjungi Rong Xia. Wanita itu sama sekali tak tahu apa yang terjadi di kota, dan tak ada orang yang bisa dia tanyakan mengenai hal tersebut. Oleh karena itu, yang Rong Xia ketahui adalah sang Tuan Muda berhenti datang sepenuhnya saat usia Rong Gui mencapai lima tahun. Walau khawatir kalau sang Tuan Muda mulai meninggalkannya, tapi bantuan uang yang dijanjikan terus mengalir, membuat Rong Xia berpegang teguh terhadap kepercayaannya pada pujaan hatinya.


Sampai akhirnya Rong Gui genap berusia enam tahun.

__ADS_1


Di satu malam yang ditakdirkan itu, suatu kejadian yang tak pernah Rong Xia duga terjadi. Kalau bukan karena langit yang masih melindunginya dan membuatnya terbangun di tengah malam, Rong Xia pasti tak akan mengetahui kedatangan seorang pria berpakaian hitam yang berniat untuk membunuh dirinya dan putranya. Kalau bukan karena berkat dari para dewa, Rong Xia juga tak mungkin tanpa sengaja mengakhiri nyawa pria itu, mendorongnya ke arah sebuah paku yang mencuat dari dinding, membiarkan kepala pria tak dikenal itu tertembus benda tersebut tanpa belas kasih.


Hanya ketika dirinya menarik lepas kain yang menutupi wajah sang Penyusup barulah Rong Xia tahu bahwa pria itu adalah pengawal pendamping sang Tuan Muda. Pria itu diperintahkan untuk menyingkirkan Rong Xia.


Tersadar bahwa impiannya untuk bersanding dengan sang Pujaan Hati hanyalah sebuah angan-angan yang tak akan pernah menjadi kenyataan, dan tahu bahwa dirinya dalam bahaya, Rong Xia pun pergi dari kota tersebut dan memutuskan untuk pindah ke ibu kota. Dia berharap akan ada kesempatan baginya untuk memulai kehidupan baru di sana, di Qiongpo Di, tempat para mereka yang terbuang berkumpul dan saling melindungi.


Tak ingin sang Putra berakhir seperti dirinya, Rong Xia berjuang keras untuk mengumpulkan cukup uang agar Rong Gui mampu mendapatkan pendidikan, bahkan jika hanya dengan membaca sekumpulan buku. Beruntung, Rong Gui adalah seorang putra yang berbakat dan taat. Dia berusaha keras untuk memenuhi keinginan ibunya.


Namun, kecerdasan datang dengan sebuah ambisi. Bagi Rong Gui, ambisinya adalah untuk mengetahui siapa sebenarnya ayah kandungnya. Karena bila dia berhasil menemukannya, dia bersumpah akan membuat pria itu bertekuk-lutut di hadapan ibunya.


Walau cerita asal-usul mereka berbeda, tapi ada satu unsur yang begitu mirip dari Wang Chengliu dan Rong Gui. Kesamaan itu tak lain adalah … penindasan dari para bangsawan terhadap sosok ibu yang melahirkan mereka ke dunia.


Wang Chengliu begitu beruntung lahir sebagai keluarga kerajaan, tapi dia juga sangat malang karena tak pernah merasakan kasih sayang ibu kandungnya. Di saat yang bersamaan, Rong Gui memiliki nasib buruk karena harus tumbuh besar di Qiongpo Di dan berjuang keras untuk mencapai titik keberhasilannya sekarang. Namun, di sisi lainnya, pria itu masih merasakan kasih sayang ibu dan bahkan masih memiliki kesempatan untuk membalas wanita yang berjasa itu.


Simpati? Empati?


Entah apa sebutannya, tapi Wang Chengliu tahu kalau Rong Gui tak akan bisa membencinya. Sebaliknya, ada kepercayaan tersirat di antara keduanya.


Namun, sekarang … pria itu mengubah pikirannya? Hanya karena Huang Miaoling?!


“Kalau memang Yang Mulia tidak senang, kenapa tidak langsung membereskannya?”


Wang Chengliu mendelik ke arah Chenxiao. “Apakah kau bertanya karena kau sungguh tidak tahu … atau kau sedang mencobai kesabaranku?” balasnya dengan ketus membuat bawahannya itu menundukkan kepala. “Pergilah! Aku perlu waktu untuk berpikir!” usirnya.


“Baik ….”


Setelah Chenxiao meninggalkan ruangannya, Wang Chengliu memijit pelipisnya. Pangeran itu mencoba untuk menelusuri kembali percakapannya dengan Rong Gui beberapa saat yang lalu.


***


“Kau mengenal Huang Miaoling?” Wang Chengliu terbelalak mendengar pernyataan Rong Gui. “Bukan …. Kau berutang budi padanya? Bagaimana mungkin?! Dia bahkan tidak di dalam kerajaan ketika kau pertama kali menginjakkan kaki di pemerintahan!” Pria itu merasa dengan sedang mendengar lelucon menyebalkan.

__ADS_1


Rong Gui menundukkan kepalanya. “Yang Mulia, aku bertemu dengan Junzhu jauh sebelum itu,” jawabnya dengan mata menerawang ke dalam memori yang tersimpan di pojokan benaknya, pada masa Huang Miaoling menyelamatkan ibunya dengan identitas Min An. “Aku tak bisa menceritakan jelasnya, tapi intinya Junzhu menyelamatkan ibuku.” Dia melanjutkan, “Walau kau menjanjikanku pertolongan untuk menyelidiki tentang … pria itu, aku tak bisa menerimanya karena itu berarti aku harus melukai penolongku.” Rong Gui menengadahkan kepalanya. “Bagiku, dendam harus dibalaskan. Namun, begitu pula dengan budi. Oleh karena itu, aku akan mencari cara lain untuk membalaskan dendamku, tapi itu harus terlepas dari menyakiti Mingwei Junzhu.”


“Kau ingin mengkhianatiku?!” bentak Wang Chengliu, tak percaya dia akan mendengar omong kosong dari sosok Rong Gui.


Tangan kanan Rong Gui mencengkeram kepalan tangan kirinya di depan dada, sebuah gerak-isyarat untuk menunjukkan rasa hormat. “Pangeran, kau salah sangka,” ujarnya. “Tidak akan kucampuri masalahmu dengan keluarga Huang.” Dia melanjutkan, “Namun, itu adalah hal yang berbeda bila orang yang kau targetkan adalah Mingwei Junzhu.”


Mata Wang Chengliu menggelap. “Kau ingin melawanku?” tanyanya dengan nada mengancam.


Kepala Rong Gui menggeleng. “Aku hanya melindunginya sebagai bentuk balas budiku.”


“Rong Gui, kau tahu bahwa aku bisa membunuhmu sekarang?”


Kening Rong Gui berkerut untuk sesaat, menampakkan kekhawatiran dalam dirinya. “Aku tahu.” Dia memejamkan mata selagi berdoa dalam hati. “Oleh karena itu, ini adalah kesempatan yang kuberikan pada Pangeran.”


***


Memikirkan percakapan tersebut membuat hati Wang Chengliu berdebar keras, amarahnya mendidih. Pria itu kemudian memukulkan tangannya pada meja dengan kesal. ‘Cerdik, sungguh cerdik!’


Sang Pangeran Keenam yakin bahwa Rong Gui tahu dirinya tak akan bisa membunuh di dalam kediamannya dengan kekacauan yang terjadi di istana hari itu. Keamanan istana diperketat, dan sangat sulit bagi Wang Chengliu untuk membereskan kematian Rong Gui apabila dia sungguh membunuh pria tersebut. Selain itu, identitas Rong Gui sebagai anggota departemen penyelidikan dan orang kepercayaan Wei Shulin juga membuat Wang Chengliu harus berpikir dua kali sebelum mengambil tindakan.


Huang Yade pasti akan mengendus sesuatu bila Wang Chengliu menyingkirkan Rong Gui.


‘Sekarang, aku harus menyusun kembali rencanaku,’ batin Wang Chengliu seraya memejamkan matanya.


Tiba-tiba, mata Wang Chengliu terbuka, tangannya meraih satu cangkir teh dan dengan kencang melemparkannya ke satu arah—menuju pojok ruangannya. Entah kenapa, alih-alih hancur berkeping-keping ketika menabrak dinding, suara tepukan yang dihasilkan pertemuan cangkir dengan suatu benda empuk bisa terdengar.


Terlihat sebuah tangan yang menggenggam satu cangkir teh itu keluar dari kegelapan. Perlahan, cahaya bulan tak hanya mendarat pada satu tangan, melainkan satu sosok berkulit pucat dengan mata merah yang berpendar mengerikan.


Mata Wang Chengliu menyipit, mencoba terlihat mengintimidasi. Namun, kentara dari getaran dalam pandangannya kalau dia merasa takut dan khawatir. “Kau, apa yang kau lakukan di sini?”


 

__ADS_1


 


__ADS_2