
Mendengar perkataan Liang Fenghong, Huang Yade merasa semakin aneh. Kejeliannya meningkat dan dia mulai menyadari kalau ada yang sedikit berbeda dengan sosok Liang Fenghong. Namun, semakin lama dia memperhatikannya, dia menjadi semakin tidak tahu apa yang berbeda.
Tunggu, apakah ini hanya perasaan Huang Yade atau … bibir pemuda itu seperti menggunakan gincu?
Huang Miaoling yang menyadari perubahan ekspresi kakaknya selagi pandangan pria itu terarah pada wajah Liang Fenghong terbelalak. Instingnya memperingatkan kalau Huang Yade mulai menyadari adanya keanehan. Mata Huang Miaoling melirik ke arah Liang Fenghong, tapi dia tak bisa melihat bagian depan wajahnya karena pria itu sedang menghadap sang Kakak.
Gadis itu pun berdeham dan berkata, “Jadi, apa alasan Kakak kemari?”
Huang Yade tersadar dari lamunannya dan langsung beralih pada adiknya. Keningnya yang sudah berkerut karena kebingungan sekarang diselingi aura emosi bergejolak. Pria itu mendengus. “Tuan Muda Liang cepat-lambat akan menjadi bagian dari keluarga kita. Karena demikian, maka aku akan terus-terang.”
‘Sepertinya, aku tahu hal apa yang akan Kakak Pertama katakan,’ gumam Huang Miaoling dalam hati sembari membayangkan dirinya memutar bola mata.
Sesuai dugaan Huang Miaoling, Huang Yade berceloteh panjang lebar, menegur dirinya atas segala kejadian yang terjadi hari ini. Betapa beraninya Huang Miaoling memojokkan Kaisar Weixin mengenai persoalan Wang Wuyu dan juga menangguhkan diri untuk masuk dalam jebakan pangeran itu dan Li Guifei.
Huang Yade juga menyebutkan mengenai laporan Wei Shulin mengenai perdebatan Liang Fenghong dan Huang Wushuang. Dia masih tak percaya kalau adiknya itu memiliki keberanian setinggi langit untuk melibatkan Putri Wu Meilan agar melindunginya dari tangan Huang Wushuang. Jika ada masalah, tidakkah hubungan kerajaan Wu dan kerajaan Shi yang akan menjadi korbannya?
Selagi mulut kakaknya terbuka dan tertutup tanpa henti, Huang Miaoling menatap Liang Fenghong, merasa sedikit malu karena sifat kakaknya yang asli mulai terbongkar. Namun, di sisi lain, otaknya juga masih dihiasi pernak-pernik indah dari cengkeramanya dengan sang Tuan Muda Liang. Hal tersebut membuat gadis itu sedikit kehilangan fokus terhadap omelan sang Kakak.
Menangkap kalau Huang Miaoling tak mendengarkannya, Huang Yade menggeram rendah. “Huang Miaoling! Apa kau dengar ucapanku?!”
Liang Fenghong yang memerhatikan Huang Yade mengalihkan pandangannya ke arah Huang Miaoling. Pria itu tersadar kalau calon istrinya itu sedikit terkejut, kentara dari mata hitam bulatnya yang sedikit membesar. Seperti ada kupu-kupu dalam perut sang Tuan Muda Liang ketika menatap gadis itu.
Huang Miaoling mengerutkan wajahnya dan menganggukkan kepalanya. “Aku dengar, aku dengar. Namun Kakak, apakah kau pikir aku melakukan itu hanya untuk menjatuhkan Wang Wuyu dan Li Guifei? Mereka tak layak!” seru gadis itu, secercah kekesalan bisa terdengar dari nadanya. Mungkin karena keindahan yang dihasilkan pergumulannya dengan sang Calon Suami sedikit terganggu.
Ah!!
Maaf, sedikit perubahan ….
Maksudnya, mungkin karena Huang Yade mengganggu waktu istirahatnya ….
__ADS_1
“Apa maksudmu?” tanya Huang Yade.
Baru saja Huang Miaoling ingin membuka mulutnya, Liang Fenghong menyelanya, “Karena musuh terbesar di mata Ling’er adalah Pangeran Keenam, Wang Chengliu.”
Berbeda dengan kali sebelumnya Liang Fenghong menyebutkan nama pria itu, kali ini wajahnya terlihat santai. Sepertinya, beban dalam hatinya telah menghilang setelah ‘pembicaraannya’ dengan Huang Miaoling.
Huang Yade memasang wajah kaget. “Wang Chengliu?” Dia bertanya, “Ada apa dengannya?”
Sebagai orang yang bekerja sama dengan sang Pangeran Keenam, Huang Yade menaruh sedikit harapan pada pangeran itu, sama seperti kenyataan bahwa dirinya mulai percaya pada Wang Junsi. Bagaimanapun, ketiganya bisa dikatakan sempat membangun sebuah rencana bersama. Bila ingin disetarakan, maka hubungan Huang Yade, Wang Junsi, dan Wang Chengliu sama seperti hubungan Liang Fenghong, Wang Junsi, dan Huang Miaoling saat kali pertama mereka menyusun rencana untuk menyelamatkan Wang Zhengyi.
Huang Yade berharap dirinya bisa terus bekerja sama dengan Wang Chengliu untuk menyelesaikan perseteruan dalam istana, menyeimbangkan kekuatan dalam kerajaan. Namun, mendengar ucapan adiknya, sepertinya rencananya itu harus dirombak kembali.
“Tidakkah Kakak bertanya-tanya mengenai alasan Pangeran Keenam membantu Wang Junsi untuk menyusul ke kerajaan Wu?” Huang Miaoling mengangkat alisnya. “Tidakkah kau merasa keputusannya untuk membantu kita cukup aneh?”
Pertanyaan Huang Miaoling masuk akal, tapi Huang Yade merasa dia memiliki jawabannya sendiri. “Pangeran Keenam adalah keturunan kerajaan Shi, mengetahui Li Hongxia dan Ibu Suri He ingin menguasai negaranya, tentu dia akan membantu. Selain itu, aku dengar dari Pangeran Keempat kalau sang Pangeran Keenam ingin menjatuhkan keluarga Li demi membalaskan dendam ibunya.” Dia mengangkat alisnya dengan bingung. “Tidakkah itu alasan yang masuk akal?”
Sadar kalau mereka begitu kompak, kedua sejoli itu saling menatap untuk sesaat sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangan kepada Huang Yade dengan sedikit rona merah terbentuk di wajah mereka. Hal tersebut membuat Huang Yade mengernyitkan wajahnya.
‘Apa-apaan?’ batin Huang Yade dengan mata sedikit membesar saat menyadari rona yang hinggap di wajah kedua sejoli itu. ‘Oh, jangan katakan mereka—!?’ Dia mulai bisa menebak apa yang telah terjadi!
Sebelum pikiran liar penuh tuduhan Huang Yade sempat selesai, Huang Miaoling berkata, “Itu tak mungkin.”
Lagi-lagi, pemikiran Huang Yade terganggu. Dia langsung menatap adiknya dengan bingung. “Kenapa tak mungkin? Li Guifei meracuni Chen Meiren, tak heran bila Pangeran Keenam menyimpan dendam.” Lalu, dia menambahkan, “Lebih tepatnya, akan lebih masuk akal bila sang Pangeran Keenam menyimpan dendam pada Li Guifei.”
Huang Miaoling mengerutkan wajahnya, seakan sang Kakak baru saja mengatakan sesuatu yang sangat aneh. “Kakak, kau ini bicara apa?” tanyanya membuat suasana berubah menjadi sedikit aneh, tegang.
Liang Fenghong menoleh ke arah Huang Miaoling, merasa ada yang salah dengan nada bicara gadis itu. ‘Ada apa dengan reaksi Ling’er? Seperti ada secercah kekesalan dalam nada bicaranya.’
“Siapa yang mengatakan Chen Meiren dibunuh oleh Li Guifei?” tanya Huang Miaoling lagi.
__ADS_1
Pertanyaan adiknya membuat Huang Yade mengedipkan mata, amarah yang tadi masih menyelimutinya sekejap menghilang digantikan kebingungan. “Itu ….” Dia memutar otaknya, mencoba mengingat-ingat.
Siapa yang mengatakan hal tersebut?
Setelah beberapa saat, Huang Yade berkata, “Tidak ada.” Ucapannya membuat Huang Miaoling memasang wajah buruk. “Aku … aku baru tersadar kalau itu hanya asumsiku dari ucapan Pangeran Keenam.” Air muka Huang Yade memancarkan kebingungan, tak menyangka dirinya sebenarnya hanya mendasarkan pernyataannya pada sebuah asumsi belaka.
Melihat ekspresi Huang Miaoling yang terlihat semakin mengerikan, Liang Fenghong tak bisa menahan diri untuk menatap wanitanya itu dan bertanya, “Ling’er, apa yang kau tahu?”
“Chen Meiren dibunuh Li Guifei?” Kepala Huang Miaoling bergeleng keras. “Konyol.” Matanya menatap tajam ke arah Huang Yade. “Chen Meiren mati ketika melahirkan, murni karena kelahiran yang sulit dan tanpa campur tangan orang lain!”
Huang Yade menggigit bibirnya. “Bagaimana kau tahu itu?” Pertanyaan itu murni karena rasa ingin tahu. Dia selalu merasa Huang Miaoling seperti kotak yang mengandung begitu banyak informasi tersembunyi yang telah dipastikan kebenarannya.
Huang Miaoling berusaha menjelaskan dengan tenang bagaimana asumsi Huang Yade sangatlah tidak masuk akal. Li Guifei mungkin adalah seorang wanita yang kejam dan licik, selicin belut dan secerdas rubah. Namun, kecerdasannya itu diarahkan pada mereka yang mampu menggoyahkan kekuasaan.
Chen Meilian, seorang pelayan yang tanpa sengaja disentuh oleh sang Kaisar Weixin karena sebuah kecelakaan, bukanlah batu sandungan Li Guifei. Posisi Meiren yang diberikan pada wanita itu adalah hasil rasa bersalah … dan bukan cinta yang tulus dari sang Kaisar. Bahkan jika wanita itu hamil dan melahirkan seorang putra, putranya tak akan dilirik oleh sang Kaisar maupun mendapatkan dukungan para pejabat. Oleh karena itu, tak ada alasan bagi Li Guifei untuk takut pada mantan pelayan itu!
Membunuhnya? Itu hanya akan membuang-buang tenaga Li Guifei yang memiliki lawan lain yang lebih kuat seperti Yang Defei, Huang Shufei, dan Xue Xianfei!
Huang Miaoling yakin kalau kakaknya yang dipanggil sang Ahli Strategi Genius seharusnya bisa berpikir sama dengannya. Lalu, apa yang membuat Huang Yade begitu buta dan berakhir menebak kalau Chen Meiren dibunuh oleh Li Guifei?!
Huang Miaoling mengepalkan tangannya. ‘Ini pasti ulah Wang Chengliu!’ geram gadis itu dalam hati. Matanya memancarkan aura membunuh yang kental.
Sebuah dengusan bisa terdengar dari Huang Miaoling. Gadis itu menertawakan dirinya yang beberapa saat lalu mencurigai Liang Fenghong sebagai orang yang datang dari kehidupan lalunya.
Dibandingkan dengan Liang Fenghong, bukankah orang yang paling mencurigakan bagi Huang Miaoling adalah … Wang Chengliu?
___
A/N: Ohooo? Ohooo?! Ohooo ....
__ADS_1