
“Ayahanda, aku tidak begitu mengerti maksudmu,” jawab Wang Chengliu seraya menegapkan tubuhnya. “Namun, tidaklah masuk akal apabila aku berbahagia di kala kerajaan kita sedang mengalami sebuah musibah,” jelasnya dengan wajah datar, seakan sama sekali tidak berbohong.
Kaisar Weixin terdiam sembari menatap lurus wajah putranya. “Begitukah?” ucapnya pada akhirnya. Pria itu mempersilakan dirinya untuk duduk di salah satu kursi yang berada di dalam paviliun.
Ketika melihat sang ayahanda meraih teko teh yang disediakan, Wang Chengliu berniat untuk membantunya. Namun, Kaisar Weixin mengangkat tangannya, mengisyaratkan dia akan melakukan hal itu sendiri.
“Kapan terakhir kali kau mengunjungi ibumu, Raja Hui?”
Panggilan yang digunakan Kaisar Weixin membuat Wang Chengliu merasa aneh, seakan relasi di antaranya dan sang ayah begitu asing. Selain itu, pertanyaan yang pria itu lontarkan membuat sang pangeran keenam merasa bingung. “Aku berakhir menetap di istana hari ini dengan tujuan untuk mengunjungi Ibunda. Sayangnya, Ibunda—”
“Aku membicarakan mengenai ibu kandungmu,” potong Kaisar Weixin, sekejap membuat Wang Chengliu bungkam.
Setelah terdiam beberapa saat, Wang Chengliu menjawab, “Tahun lalu, Ayahanda, di hari peringatannya.” Pancaran matanya terlihat tenang, tapi bila diperhatikan dengan jeli, ada getaran penuh arti di sana. Pria itu tersenyum tipis, lalu berkata, “Apa yang membuat Ayahanda membicarakan mengenai Ibu?”
“Ibunda”, “Ibu”, mereka jelas sedang membicarakan dua orang yang berbeda. “Ibunda” merujuk pada Xue Kexin, dan “Ibu” merujuk pada Chen Meilian.
Pertanyaan Wang Chengliu membuat Kaisar Weixin mengalihkan pandangannya pada pangeran itu. “Apa aku tak diperbolehkan menanyakan hal tersebut?” Tangannya meraih cangkir teh untuk kemudian menyesapnya.
“Tentu tidak demikian, Ayahanda,” balas Wang Chengliu. Dia tak lagi berani banyak berkata setelah Kaisar Weixin mengajukan pertanyaan menantang seperti itu.
Wang Weixin mengecap, lalu meletakkan cangkir teh di tangannya ke atas meja. “Dalam dua hari, aku akan mengirimkan pasukan ke perbatasan Zhou-Shi.” Dia melanjutkan, “Wakil Jenderal Huang akan memimpin perang kali ini, dan Wang Junsi akan memimpin pasukan Tubo, Shiyan, serta sebagian prajurit yang diberikan Kaisar Wu untuk membantu.”
“Aku yakin Kakak Keempat mampu melaksanakan tugasnya dengan baik,” ujar Wang Chengliu, tak tahu harus mengatakan apa lagi. ‘Andai dia tahu para prajurit itu seharusnya mementingkan keselamatan negaranya …,’ pria itu mendengus dalam hati.
Sebuah pandangan penuh arti dilemparkan oleh Kaisar Weixin kepada sang pangeran keenam itu. “Kau tidak bertanya kenapa kali ini aku tidak mengirimmu?” Biasanya, pria itu mengirimkan Wang Chengliu untuk mengatasi permasalahan antara Shi dan Zhou.
Hembusan angin pada sisi wajah Wang Chengliu membuat telinga pria itu terasa tergelitik. Pertanyaan yang Kaisar Weixin lontarkan membuat pria itu menyunggingkan sebuah senyuman tipis. “Setelah kerja samaku dengan Kerajaan Zhou sebelumnya, tentu ada banyak mata yang mencurigai diriku. Tidak melibatkanku dalam perang merupakan usaha Ayahanda untuk menghindari perselisihan."
Anggukan kepala diberikan oleh Kaisar Weixin terhadap jawaban putranya itu. “Bagus kalau kau mengerti.” Kemudian, pria itu berdiri dari kursinya, membuat Wang Chengliu membungkuk memberi hormat. Selagi berjalan melewati putranya, Wang Weixin berkata, “Jangan biarkan ambisi menguasai diri, Raja Hui. Kita tidak tahu kapan makna pada sebuah nama bisa berubah [1].”
Setelah sosok sang ayahanda perlahan menjauh dari tempatnya berada, Wang Chengliu mengepalkan tangannya. Pancaran mata tenang pria itu diselimuti kegelapan dan juga hasrat kebencian yang mendalam.
‘Wang Weixin ….’
Mendadak, telinga Wang Chengliu menangkap pergerakan tidak jauh dari tempatnya berada. Dia menoleh dan mendapati sosok Chenxiao muncul dari kegelapan.
Chen Xiao memberi hormat. “Yang Mulia, sudah kusampaikan pesanmu,” lapornya.
Sebuah senyuman mengembang di wajah Wang Chengliu. “Bagus. Mari kita tunggu permainan apa yang akan disuguhkan oleh wanita itu.”
***
__ADS_1
Setelah meninggalkan halaman tempat tinggal sementara Wang Chengliu di istana, Kaisar Weixin sengaja berjalan menyusuri istana belakangnya. Gerbang Li Shijing tertutup rapat, sesuai perintah yang diberikan oleh Kaisar. Namun, tidak dengan gerbang-gerbang selir yang lain. Semua gerbang itu terbuka lebar, mengharapkan sang kaisar akan melangkah masuk dan bertamu, walau hanya untuk sesaat.
Ah, tidak. Selain gerbang Li Shijing, masih ada satu gerbang lagi yang terkunci, bahkan untuk sang kaisar sendiri.
‘Kexin,’ batin Wang Weixin seraya berhenti di hadapan gerbang kediaman Xue Xianfei, selir yang mengangkat Wang Chengliu menjadi putranya.
Melihat pancaran mata Kaisar Weixin, Kasim Gao segera bertanya, “Yang Mulia, apa kau ingin hamba menanyakan kembali?” Dia tebak sang putra langit rindu berbincang dengan wanita yang berada di dalam halaman tersebut.
Wang Weixin menggelengkan kepalanya. “Bahkan putranya saja tidak diizinkan untuk berkunjung, terlebih lagi diriku,” tuturnya. “Segera infokan pada kediaman Defei bahwa aku akan segera berkunjung.” Kesedihan menyelimuti ekspresi sang kaisar. “Kematian Pangeran Kelima … tentu begitu mengejutkan baginya.”
Tak perlu waktu lama sebelum Kaisar Weixin mencapai halaman Yang Defei. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, sambutan dari kediaman sang selir tidak terlihat mewah dan ramah. Wajah para pelayan terlihat memaksakan sebuah senyuman, mencoba menutupi rasa lelah dan emosi sedih yang merayapi jiwa mereka.
Begitu mencapai ruangan selirnya, Kaisar Weixin melihat sosok Yang Defei terduduk di pinggir ranjang sembari memegang sebuah giok. Matanya tidak terpisah dari giok itu, bahkan untuk sedetik pun. Wanita itu bahkan tak peduli dengan kedatangan Kaisar Weixin.
Melihat sikap majikannya terhadap sang kaisar, pelayan pendamping Yang Defei segera berbisik, “Y-Yang Mulia, mohon maafkan Defei, dia—” Wanita itu menghentikan ucapannya ketika melihat tangan Kaisar Weixin terangkat, mengisyaratkan baginya untuk diam.
“Pergilah,” perintah Wang Weixin seraya menghampiri selirnya itu.
Mendengar perintah sang kaisar, tak ada lagi yang berani bersuara. Semua pelayan bergegas keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Wang Weixin mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur Yang Defei, tapi wanita itu sama sekali tidak bereaksi. “Yuechan,” panggilnya dengan lembut. Namun, tak ada balasan.
Mata Wang Weixin beralih pada meja yang masih terisi makanan. Bahkan tanpa laporan dari para pelayan, jelas bahwa tak sedikit pun dari makanan itu disentuh oleh Yang Defei.
Ucapan Kaisar Weixin memancing sebuah reaksi dari Yang Defei. Mata wanita itu mendelik dan dia berkata, “Dia sudah mati. Apakah orang mati bisa bersedih?”
Kalimat menantang yang dilontarkan oleh Yang Yuechan membuat Wang Weixin sedikit tidak sabar. Pria itu meletakkan piring berisi makanan kembali ke atas meja, dan dia pun berujar dengan frustrasi, “Apa yang kau ingin aku lakukan, Yuechan? Apa kau kira aku tidak bersedih dalam hal ini?! Wuyu juga putraku!”
Nada tinggi dari sang suami tidak membuat Yang Yuechan takut, dia membalas, “Putra kita dibunuh, dan tak kulihat kau melakukan apa pun untuk memberikannya keadilan!” Wanita itu memasang sebuah senyuman mengejek. “Entahlah, mungkin karena kau masih memiliki empat putra lainnya yang masih bernapas!”
“Lancang!” bentak Wang Weixin dengan ekspresi marah. “Kita akan segera berperang dengan Zhou, dan itu memerlukan waktu serta persiapan!” bentak Kaisar Weixin. “Apa? Kau ingin aku segera berkuda ke Kerajaan Zhou sekarang juga untuk memenggal Qing Zhuang? Apa dengan kematianku kau baru menganggap bahwa aku memberikan keadilan bagi putra kita?!”
Yang Yuechan tidak lagi bisa memendam amarahnya. “Putra kita terbunuh akibat ulah gadis marga Huang itu! Ah … dia sekarang menjadi Nyonya Liang, bukan begitu? Kalau bukan karena dirinya, Wuyu tidak akan keluar dari istana dan meninggal dalam perjalanan!”
Wang Weixin terdiam, tersadar bahwa pikiran selirnya itu tidak lagi jernih. Dalam keadaan ini, Yang Yuechan jelas akan menyalahkan semua orang yang terlibat. Kebetulan, orang terdekat yang bisa dia lampiaskan amarahnya adalah Huang Miaoling.
Pada akhirnya, Wang Weixin hanya bisa menghela napas. “Kau tidak sedang berpikir jernih,” ujarnya.
Mata Yang Yuechan membesar. “Oh, tapi aku berpikir dengan sangat jernih! Pembunuh anak kita ada di ibu kota, dan kalau kau tidak berniat untuk bertindak, maka aku sendiri yang akan membalaskan dendam padanya!”
Wang Weixin memandang Yang Yuechan dengan tatapan tajam. “Jangan kau berani sentuh Mingwei Junzhu,” dia memperingati wanita di hadapannya itu dengan aura mengerikan, membuat sang selir membeku di tempat. “Kau tidak tahu malapetaka macam apa yang akan menimpa Shi apabila kau berani menyentuhnya.”
__ADS_1
Mendengar hal ini, pelipis Yang Yuechan berkedut. ‘Apa mungkin Yang Mulia tahu bahwa Liang Fenghong adalah ….’
Akhirnya, Wang Weixin menghela napas. Dia berbalik seraya berkata, “Aku tidak kemari untuk berdebat denganmu.” Pria itu berjalan meninggalkan ruangan. “Karena kau tidak menginginkan kehadiranku, maka aku akan pergi dari sini!”
Yang Yuechan tidak mengatakan apa pun dan hanya diam memperhatikan kepergian suaminya. Lagi pula, tak ada yang bisa dibicarakan di antara keduanya saat ini. Dengan emosinya yang tidak terkendali, Yang Yuechan sudah sangat beruntung karena sang kaisar tidak menjatuhkan hukuman padanya.
Tiba-tiba, seorang pelayan melangkah masuk ke dalam ruangan. Dia menghampiri Yang Yuechan dengan hati-hati, lalu berkata, “Defei, ada pesan untukmu.”
***
Jalanan ibu kota terlihat begitu sepi malam itu. Isu mengenai perang yang akan segera terjadi antara Shi dan Zhou mulai terdengar di Zhongcheng. Oleh karena itu, sebagian besar orang enggan untuk menghabiskan waktu di luar rumah pada waktu yang rawan ini. Hal tersebut merupakan sesuatu yang dimanfaatkan oleh satu sosok yang melesat menyusuri jalanan utama ibu kota.
Ketika dia tiba di hadapan kediaman Huang, sosok tersebut mengambil jalur belakang untuk melompat masuk menembus pertahanan tempat tersebut. Baru saja dia mendarat, pandangannya yang baru mendarat pada tanah mendapati sejumlah tombak diacungkan padanya.
“Siapa kau?!” geram satu dari sejumlah prajurit kediaman Huang yang menangkap basah penyusup tersebut.
Penyusup berpakaian hitam itu segera mengangkat kedua tangannya. “Ini aku!” pernyataan tersebut membuat semua prajurit Huang itu mengernyitkan dahi mereka, tidak merasa ucapan orang tersebut membuktikan apa pun. Tersadar bahwa dirinya tak dikenali, sosok tersebut membuka penutup wajahnya.
“Meihua?” Xiaofei yang kala itu bertugas memimpin penjaga malam bergegas memerintahkan pada para bawahannya untuk menurunkan senjata mereka. “Kenapa kau kemari dengan cara seperti ini?!” desisnya. Keamanan kediaman Huang telah diperketat akibat saran dari menantu pria kebanggaan Huang Qinghao, dan kedatangan Meihua yang diam-diam seakan menantang para prajurit Huang. “Apa ini cara majikanmu itu untuk mencobai keamanan kami?” dengus Xiaofei.
Ucapan Xiaofei membuat Meihua terkekeh. “Mungkin,” balasnya singkat. “Aku kemari untuk mengantarkan pesan. Namun, aku harus menyampaikannya secara lisan,” ucapannya menunjukkan bahwa pesan ini begitu rahasia, dan tidak boleh diketahui sembarangan orang.
Xiaofei menautkan alisnya. “Aku mengerti.” Lalu, dia bergegas melaporkan kedatangan Meihua pada Huang Qinghao.
Dalam hitungan menit, para petinggi keluarga Huang telah berkumpul di ruang tengah. Menyambut kedatangan bawahan Liang Fenghong di tengah malam menunjukkan bahwa terjadi suatu hal yang genting.
Huang Qinghao menatap ke arah Meihua yang berada di tengah ruangan sembari berlutut dengan satu kaki. “Kau bilang apa?!” ucapnya setengah berseru. Dia membanting punggungnya pada kursi dan menyentuh kepalanya, mencerminkan frustrasi dan tekanan yang dia rasakan.
“Ini gila …,” gumam Huang Jieli. “Apakah Qing Zhuang berencana untuk meratakan empat kerajaan dan menjadikannya satu?” Tangannya mengepal selagi emosinya menggebu. “Apa membalaskan dendam atas kematian ayahnya merupakan alasan belaka?!”
Huang Yade yang selama beberapa saat hanya terdiam mendadak berkata, “Apa Miaoling mengatakan sesuatu?” Di saat seperti ini, lebih baik mendengarkan pikiran adik perempuannya itu terlebih dahulu.
Meihua menjawab, “Karena Shi masih harus mengatasi Suku Sihan dan Kerajaan Zhou, awalnya Ketua tidak ingin merepotkan Shi dalam perang mereka.” Lalu, dia menambahkan, “Namun, Nyonya ….”
____
[1] “Jangan biarkan ambisi menguasai diri, Raja Hui. Kita tidak tahu kapan makna pada sebuah nama bisa berubah.”
Ucapan Kaisar Weixin ini merupakan permainan kata dari “Hui” yang berarti cerdas atau mulia. Bila nada pengucapannya berubah, maka maknanya bisa menjadi penyesalan atau kehancuran.
Intinya, ucapan Kaisar Weixin merupakan sebuah peringatan untuk Wang Chengliu.
__ADS_1
___
A/N: Next episode is ... a bit intimate. Mau yang hot? Atau lebih sweet?