Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 45 Alasan Yuanli dan Kedatangan yang Tertunda


__ADS_3

Setelah kepergian Yuanli, Huang Wushuang tidak bisa melakukan apa pun selain mematung. Totokannya tidak dibuka oleh pelayan itu, dan dia pun hanya bisa terdiam menerima nasib.


Sekitar tiga jam kemudian, totokan pada tubuh Huang Wushuang terbuka dengan sendirinya, memberikan izin pada wanita itu pun untuk bisa bergerak. Hanya saja, bahkan setelah kemampuannya untuk bergerak telah kembali, Huang Wushuang tak berani melakukan apa pun. Benaknya terus dihantui oleh wajah Xiaoxue yang begitu mengerikan.


Sampai pagi tiba dan Yuanli kembali mengunjungi dirinya, Huang Wushuang baru mulai memberikan reaksi. Wanita itu dengan sigap mendudukkan diri dan menempelkan punggungnya di tembok, mencoba menjauh dari sang Kepala Pelayan halamannya.


Bagai langit dan bumi, Yuanli di pagi hari begitu berbeda dengan malam sebelumnya. Gadis itu memasang senyum sopan selagi menawarkan bantuan untuk mengubah pakaian dan kasur Huang Wushuang yang berbau amis.


Bukan, bau amis itu bukan karena bekas darah Xiaoxue yang menempel—Yuanli tentu tak akan mengizinkan adanya jejak atas kejadian di malam tadi. Hal yang menciptakan bau amis pada pakaian dan kasur Huang Wushuang tak lain adalah air seni wanita itu sendiri. Karena rasa takut yang berlebih, indra penciuman dan peraba Huang Wushuang sampai tak bekerja untuk menyadarkan dirinya sendiri tentang kondisinya yang memalukan.


Saat Yuanli menggantikan kain yang melapisi tempat tidurnya sembari bersenandung, puluhan—mungkin juga ratusan—perasaan bercampur aduk dalam diri Huang Wushuang. Malu, marah, takut, merasa hina, dan masih banyak lagi. Semua energi negatif itu menyelimuti dirinya.


Ketika Huang Wushuang sedang memutar kembali kekacauan yang telah menimpa dirinya di dalam benaknya, dia dikejutkan oleh suara ketukan pada pintu ruangannya. “Putri Mahkota, kau harus segera bersiap, Long Momo pasti akan segera kembali mengunjungimu sebentar lagi.”


Suara Yuanli dari balik pintu bisa terdengar diikuti dengan decitan pintu yang terbuka. Langkah kakinya yang mendekat membuat pegangan Huang Wushuang pada selimutnya menjadi semakin erat.


Dari balik pembatas ruang tamu dan ruang tidurnya, wajah Yuanli yang dihiasi senyuman perlahan muncul. Kalaupun senyuman itu terlihat manis dan mengundang, tapi bagi Huang Wushuang, dia seperti sedang melihat sesosok iblis yang mengerikan.


Dengan nada manis, Yuanli berkata, “Putri Mahkota, kau harus bergegas. Kau tahu betapa pentingnya menjaga penampilanmu di hadapan Long Momo, bukan?”


Seakan baru saja mendapatkan kekuatannya kembali, Huang Wushuang membatin dengan semangat, ‘Aku harus meminta tolong pada Ibu Suri Shen. Ini adalah kesempatanku meminta pertolongannya melalui Long Momo!’


Detik berikutnya, ekspresi Yuanli berubah gelap dan matanya memandang Huang Wushuang dengan penuh kebencian. “Kau sebaiknya tidak berbuat macam-macam.” Ucapannya membuat wanita di hadapannya mematung. “Kau kira, selama ini Ibu Suri Shen begitu menyayangimu?”

__ADS_1


Sebuah seringai mengejek terpampang jelas di wajah Yuanli. Gadis itu mendekatkan wajahnya ke arah Huang Wushuang, membuat wanita itu tersentak dan mencoba menjauh.


Ekspresi di wajah Yuanli terlihat semakin terhibur seiring dirinya mengatakan, “Obat yang kau minum sama sekali bukan untuk mendukung kehamilan, melainkan sebaliknya,” jelasnya dengan nada berbisik yang menggelitik.


Selama sesaat, Huang Wushuang terdiam. Otak wanita itu seakan tidak cukup cepat dalam bekerja untuk memproses informasi yang baru saja diterima. ‘Sebaliknya?’ batin sang Putri Mahkota dengan napas yang mulai sesak.


Hal pertama yang menunjukkan perubahan adalah ekspresi Huang Wushuang. Mata wanita itu membesar, memancarkan kengerian yang mendalam. Alisnya menekuk tajam, saling bertautan untuk menggambarkan ketidakpercayaan. Bibir mungil cantik itu sedikit terpisah, menandakan ucapan yang tersedak di tenggorokannya.


Walau wajahnya menampilkan air muka mengejek, tapi otak Yuanli sedang berputar. Matanya memancarkan sebuah pertimbangan atas setiap tindakan yang telah dan akan dia lakukan. ‘Seharusnya, ini sudah cukup bukan?´ pikirnya. ‘Aku harap tindakanku ini selaras dengan keinginan Ketua dan sungguh bisa membantu Nona.’


***


“Pangeran Qing Zhuang menunda kedatangannya?” Huang Miaoling membelalak, berita ini tidak sesuai dengan keinginannya. “Kenapa?” tanya gadis itu kepada Qing Gangtie yang sekarang sedang berada di paviliunnya.


Dari para pria yang meninggalkan kediaman, Qing Gangtie adalah orang pertama yang kembali. Pria itu menjelaskan bagaimana dirinya telah berusaha untuk meyakinkan Kaisar Weixin mengenai tindakan Huang Miaoling. Namun, pada akhirnya, sang Kaisar tidak memberikan jawaban dan memerintahkan sang Guru Besar untuk meninggalkan istana. Tak perlu heran, pria agung itu pasti memerlukan waktu untuk memikirkan tindakan selanjutnya yang harus dia ambil.


Sementara Huang Miaoling menunggu jawaban, mata Qing Gangtie sibuk memperhatikan para muridnya yang sedang berlatih di halaman gadis itu. Dia tak menyangka kalau Xiang Ruyi akan menjadi begitu bersemangat dalam berlatih di bawah tuntunan sang Mingwei Junzhu.


“Kau cocok menjadi guru,” celetuk Qing Gangtie, tak menanggapi pertanyaan serius Huang Miaoling.


“Guru Besar Qing ….” Nada bicara Huang Miaoling terdengar memelas, meminta sebuah jawaban.


Qing Gangtie melirik gadis muda itu. “Sejujurnya, aku tak tahu,” jawabnya. “Namun, dikatakan bahwa ada beberapa hal yang terjadi di Kerajaan Zhou. Hal tersebut memaksa Kaisar Zhou untuk menunda rencana pernikahan.”

__ADS_1


Jawaban Qing Gangtie membuat Huang Miaoling menarik napas dalam-dalam. Gadis itu kemudian menautkan alisnya, membuatnya terlihat seperti sedang berpikir keras.


‘Mungkinkah Wang Chengliu melakukan sesuatu?’ pikir Huang Miaoling. Dia menutup matanya. ‘Tidak, waktunya tidak tepat, terlalu cepat. Kecuali dia mengetahui apa yang akan terjadi, tak mungkin dia ….’


Benak Huang Miaoling mendadak kosong. Lalu, secara cepat, memori demi memori mengalir di dalam kepala kecil itu. Beberapa detik kemudian, kelopak mata Huang Miaoling terbuka, memamerkan manik hitamnya yang mengeluarkan kilatan berbahaya.


‘Mungkinkah? Mungkinkah dia juga sama?!’


Qing Gangtie menangkap pandangan yang dipancarkan oleh Huang Miaoling, dan hal itu membuat alis kanannya meninggi. ‘Apa yang dia pikirkan?’ batinnya, penasaran. Tiba-tiba, sudut matanya menangkap sosok yang baru saja melangkah masuk ke dalam halaman gadis tersebut. “Liqiang!” serunya, sedikit mengejutkan Huang Miaoling.


Huang Junyi dan Xiang Ruyi yang sedang berduel menghentikan kesibukan mereka. Keduanya memberi salam kepada Huang Liqiang untuk sesaat sebelum kembali melanjutkan pelatihan mereka.


Melihat sang Kakek mendekat ke arah paviliunnya, Huang Miaoling berdiri dari kursinya. Gadis itu memberi salam pada Huang Liqiang. “Kakek,” panggilnya seraya membungkuk hormat.


“Hmm,” balas Huang Liqiang seraya menganggukkan kepalanya. “Aku yakin kau menuntut penjelasan dari sisiku.” Lalu, pria itu menyunggingkan sebuah senyuman menantang. “Oleh karena itu, sebaiknya kau jelaskan niatmu menghubungi Kaisar Zhou, Qing Shan.”


Huang Miaoling tidak terkejut dengan pertanyaan Huang Liqiang, dia hanya tersenyum selagi melirik Qing Gangtie sesaat. Sesuai dugaannya, sang Guru Besar itu menyampaikan informasi kepada sang Kakek mengenai surat yang dititipkannya.


“Kakek, duduklah terlebih dahulu.” Huang Miaoling memberi isyarat agar kakeknya terduduk.


Melihat kedatangan Huang Liqiang, Qiuyue dengan sigap juga mengisi satu cangkir teh kosong untuk kemudian diberikan pada sang Tetua. “Silakan, Tetua,” ucapnya yang diikuti dengan Huang Liqiang yang langsung meneguk seluruh isi cangkir tersebut.


Huang Miaoling menghela napas melihat betapa tak sabarnya sang Kakek. Ekspresinya kemudian berubah serius. “Aku ingin membersihkan jalan bagi Wang Qiuhua dan juga memotong sumber daya Wang Chengliu.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2