
Langit malam itu terlihat begitu tenang, tak ada gulungan awan tebal yang menutupi cahaya bulan yang bersinar terang. Namun, pemandangan yang indah tersebut membuat sepasang manik merah yang menatapnya terlihat begitu sendu.
“Tak pernah kuduga bahwa kau mampu menampakkan wajah seperti itu,” sebuah suara berkata, membuat Lu Si—si pemilik manik merah—menoleh.
Menatap pria dengan netra hitam kecokelatan di hadapannya membuat ekspresi Lu Si berubah datar seketika. “Wang Chengliu, sebagai anggota keluarga kerajaan, kukira sopan santunmu lebih baik dari ini.” Dia berjalan menghampiri tamu tak diundangnya, lalu melewati sosok tersebut dengan dingin.
Wang Chengliu memasang sebuah senyuman tipis penuh kepura-puraan, berusaha menutupi amarah dalam dirinya atas sikap Lu Si yang sama sekali tidak menghormatinya. “Kukira, tak perlu ada sopan santun di antara kita?” Dia berbalik dan melihat Lu Si mendudukkan diri di kursi seraya menyangga sisi kepalanya dengan kepalan tangan, menampakkan sikap malas. “Kita berdua jelas sedang saling menggunakan.”
Mendengar hal itu, pelipis Lu Si berkedut, tak sudi disetarakan dengan makhluk di hadapannya itu. Namun, dia mengabaikannya dan bertanya, “Sudah kau ambil keputusanmu?” Dia tak ingin banyak berbasa-basi.
Tanpa dipersilakan duduk oleh pemilik ruangan, Wang Chengliu duduk di atas kursi dalam ruang tamu itu dengan santai. Lagi pula, ruangan itu bagian dari kediaman pribadinya.
“Tentu saja,” Wang Chengliu berkata, “semua juga telah disiapkan sesuai rencana.” Manik hitam kecokelatannya melirik ke arah Lu Si yang memasang wajah datar dan malas. “Berikutnya, giliranmu yang mengambil tindakan.”
Lu Si menjatuhkan pandangannya, mencoba membayangkan keadaan seseorang yang membuat dirinya ragu mengambil segala tindakan. ‘Lan’er,’ pria itu menutup mata seraya membisikkan nama tersebut di dalam hatinya, ‘mengalahkanmu … adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirimu.’
***
“Keluarga Xue bukanlah keluarga bangsawan dengan reputasi yang baik. Sebaliknya, mereka merupakan keluarga saudagar yang dianggap rendah oleh para bangsawan,” Lan’er memulai dan melirik ke arah Huang Miaoling, “kau tahu itu, bukan?”
“Ya,” balas Huang Miaoling. “Demikian, memiliki Xue Kexin sebagai ibu angkatnya tidak banyak membantu Wang Chengliu di pengadilan.” Dia menambahkan, “Status Xianfei yang ibunya miliki hanya berguna untuk mempertahankan nyawanya.”
Lan’er menjatuhkan pandangannya, menatap cangkir yang ada di hadapannya. “Pertemuan Xue Kexin dengan Wang Weixin terjadi ketika sang kaisar masih begitu muda, jauh sebelum politik menodai hubungan pria itu dengan berbagai wanita. Mereka adalah teman masa kecil.”
Huang Miaoling tahu cerita itu, banyak orang yang sering membicarakan hal tersebut ketika nama sang Xianfei menjadi topik utama. Wang Weixin memiliki perasaan kepada Xue Kexin, tapi sebagai seorang anggota keluarga kerajaan, dirinya terkekang status.
“Setelah dijodohkan dengan Situ Mingmei, hubungan Wang Weixin dengan Xue Kexin dipaksa berakhir. Demi menghindari masalah yang tidak diinginkan, Ibu Suri Shen memerintahkan keluarga Xue untuk meninggalkan ibu kota.” Pandangan Lan’er kemudian terangkat, sebuah senyuman tipis terpampang di wajahnya. “Selanjutnya, tebak apa yang terjadi?”
“Bertahun-tahun silam, mendiang kaisar meninggal dunia, dan Wang Weixin naik ke atas takhta. Perang dalam negara tentunya tidak bisa dihindari karena kecurigaan beberapa orang atas kematian mendiang kaisar yang mendadak,” jelas Huang Miaoling berdasarkan rumor yang dia ketahui. “Dan, dalam salah satu perang yang dipimpin oleh Wang Weixin sendiri, Xue Kexin muncul sebagai salah satu korban perang,” tambahnya lagi.
Siku Lan’er menempel pada meja, lalu telapak tangannya menyangga sisi wajahnya. “Takdir … sungguh suatu hal yang menakjubkan, bukan begitu?”
Kening Huang Miaoling berkerut, ‘Sungguh … takdir?’ Dia tak percaya.
“Keluarga Xue jatuh akibat perang, dan Xue Kexin bersama dengan pelayan pendampingnya, Chen Meilian, sangatlah beruntung karena bisa melalui semua itu dengan selamat.” Lan’er menambahkan, “Kau yakin itu takdir?”
__ADS_1
“Tidak masuk akal,” balas Huang Miaoling. “Kalaupun keluarga Xue jatuh akibat perang, bagaimana bisa dua gadis muda berhasil melewati semua itu tanpa terluka sedikit pun? Dari ucapan semua orang, Xue Kexin dan Chen Meilian memiliki paras yang rupawan, aneh bagaimana tidak ada yang mengambil kesempatan dalam kekacauan untuk menyentuh mereka.”
Pemerkosaan di tengah perang, entah itu bagi rakyat jelata maupun bangsawan, hal tersebut tak bisa dihindari. Dalam perang, status tidak berarti apa pun. Semua orang bisa menjadi korban.
Lan’er menganggukkan kepalanya, lalu dia menuangkan teh ke dalam cangkirnya yang jernih. “Ibu Suri Shen adalah seorang wanita kerajaan, jalan berpikirnya pelik dan teliti. Tahu dari awal bahwa putra pertamanya memiliki penyakit kronis, dia sudah menduga bahwa akan ada saat di mana putra keduanya, Wang Weixin, naik takhta sebagai kaisar.”
Huang Miaoling langsung mengerti maksud ucapan Lan’er. Ketika Wang Weixin melanjutkan takhta, dia akan memiliki kesempatan untuk mengangkat sejumlah selir. Namun, Ibu Suri Shen tak ingin darah jelata mengotori keluarga kerajaan. Oleh karena itu, dia tidak bisa membiarkan keluarga Xue pergi begitu saja.
“Ibu Suri Shen memilih cara yang paling kejam,” ujar Lan’er dengan mata sendu. “Dia memilih untuk menyingkirkan keluarga Xue dari ibu kota, juga tak mengizinkan mereka tinggal di kota-kota besar. Wanita itu menciptakan berbagai keadaan yang memaksa keluarga Xue untuk tinggal di desa kecil di pinggir perbatasan.”
“Lalu, di saat itulah keturunan Raja Zhou mendekatinya …,” Huang Miaoling menyelesaikan ucapan Lan’er, membuat gadis itu tersenyum. Kemudian, Huang Miaoling terbelalak. Dia menatap Lan’er dan berkata dengan jantung berdetak kencang, “Hubungan Chen Meilian dan Kaisar—” dia tak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Terdapat kilatan mengerikan dari mata Lan’er, tapi kalimat yang dia ucapkan jauh lebih menakutkan, “Ya, itu memang bagian dari rencana. Tidak mampu mengendalikan diri karena mabuk, apa Wang Weixin terlihat seperti pria yang memiliki toleransi lemah terhadap anggur?”
Tidak.
Lan’er kemudian tertawa kecil, seakan teringat akan sebuah lelucon. “Namun, kerja sama Chen Meilian dengan Xue Kexin bak pisau bermata dua. Kebencian … tak bisa sepenuhnya melawan cinta,” suara gadis itu terdengar parau ketika mengucapkan hal tersebut. “Ketika keturunan Raja Zhou itu mengandung dan begitu bersiaga terhadap keturunan Li, dia tak menyadari bahwa di sisinya ada orang yang lebih berbahaya.”
Alis Huang Miaoling bertaut. “Kau bermaksud untuk mengatakan bahwa Xue Kexin … terlibat dengan kematian Chen Meilian?”
***
“Ahhh!” teriakan nyaring seorang wanita bergema di salah satu halaman istana belakang. Namun, selain sejumlah pelayan dan satu bidan, tak ada lagi orang lain di dalam ruangan tersebut.
Di luar ruangan, seorang wanita dengan wajah yang begitu rupawan menampakkan ekspresi setenang air tak beriak. Berbeda dengan wanita itu, pelayan pendampingnya memamerkan ekspresi khawatir.
“X-Xianfei, Meiren terdengar begitu kesakitan,” ujar gadis pelayan itu dengan tubuh bergetar, sedikit takut dengan apa yang mungkin bisa terjadi. “Kalau dia tidak berhasil—”
Xue Kexin menatap ruangan Chen Meilian dengan wajah datar. “Bayi itu akan lahir,” sebuah dengusan bisa terdengar dari sosok cantik itu, “wanita itu tak akan membiarkan rencananya selama bertahun-tahun hancur begitu saja.”
Mendengar balasan dingin Xue Kexin, pelayan pendamping itu terdiam, tak berani lagi mengucapkan apa pun. Di dalam hatinya, dia mengira bahwa majikannya itu pasti masih belum bisa menerima kenyataan. Ya, kenyataan bahwa mantan pelayan pendampingnya akan memberikan keturunan kepada keluarga kerajaan, dan bukan dirinya sendiri. Rencana yang Xue Kexin sebut itu diduga sang pelayan sebagai rencana menggoda kaisar, dan itu salah.
Tiba-tiba, suara teriakan nyaring wanita yang kesakitan itu digantikan oleh tangisan seorang bayi.
“Sudah lahir!” seru pelayan pendamping Xue Kexin dengan mata berbinar, mensyukuri nasib baik Chen Meilian, saudari yang pernah bersama-sama melayani sang Xianfei dengannya.
__ADS_1
Ekspresi wajah Xue Kexin menjadi semakin dingin, dan dia pun berkata, “Ayo, kita masuk.”
Sesampainya di dalam, pandangan Xue Kexin pertama kali mendarat pada sosok bayi yang berada dalam pelukan bidan. Mata hitam kecokelatan yang diwariskan dari ibunya itu membuat sang Xianfei mengepalkan tangannya. Namun, wajah tampan tersebut … mengingatkan wanita itu terhadap suaminya.
“Anak laki-laki, Meiren! Kau sungguh diberkati! Kerajaan Shi sungguh diberkati!” seru bidan itu dengan bersemangat, membuat Chen Meilian yang terbaring di tempat tidurnya juga tersenyum lemah.
Chen Meilian mengangkat tangannya, ingin menimang putranya. “Bawa dia pada—”
“Menyingkir,” potong Xue Kexin dengan dingin, membuat Chen Meilian dan semua orang terkejut. “Apa kau tidak dengar ucapanku?” tanyanya lagi dengan ketus kepada sang bidan yang baru saja ingin menyerahkan sang bayi ke dalam pelukan ibunya.
Melihat sang bidan menjauh, Chen Meilian mengerutkan kening. “Apa … maksud tindakanmu ini, Xue Xianfei?” tanya Chen Meilian, tak berani sepenuhnya menunjukkan amarah terhadap Xue Kexin di depan semua orang, khawatir identitas aslinya akan diketahui.
Tanpa basa-basi, Xue Kexin menarik satu konde dari rambutnya dan menancapkan benda tersebut pada tubuh Chen Meilian. Hal tersebut membuat semua orang tercengang, membeku di tempat dengan keringat dingin mengaliri pelipis dan punggung mereka.
Erangan kesakitan terlepas dari bibir sang Meiren. “K-kau—!” Chen Meilian terbelalak. “Wang Weixin tak akan—!”
Sebelum kata lain keluar dari bibir Chen Meilian, Xue Kexin menarik keluar konde tersebut dan menancapkannya lagi pada tubuh wanita itu. Berkali-kali tindakan itu terulang, bahkan sedikit darah terciprat ke wajah cantik sang Xianfei. Namun, ekspresi dingin di wajah Xue Kexin tidak berubah.
Entah berapa kali Xue Kexin menusuk tubuh Chen Meilian, tapi yang jelas dia belum berhenti bahkan ketika sang Meiren tak lagi bernapas. Hanya ketika amarah dalam hatinya mereda dan tangannya bergetar karena kelelahan, barulah sang Xianfei berhenti.
Xue Kexin menatap Chen Meilian yang tak lagi bernyawa, menatap wajah wanita itu yang menampakkan ekspresi tak rela dan tak percaya. Setelah semua perjuangannya, Chen Meilian pasti tak menyangka akan berakhir di tangan orang yang selalu dia rendahkan dan jadikan alat.
Selesai menyingkirkan duri dalam dagingnya, Xue Kexin mengelap wajahnya dengan sapu tangan. “Proses melahirkan yang sulit membuat Meiren kehilangan banyak darah. Namun, karena tekad dan kasih sayangnya, Meiren berhasil memastikan putranya lahir ke dunia dengan selamat.” Wanita itu melirik kepada rentetan pelayan dan bidan yang terdiam gemetar, “Apa kalian mengerti?”
Tersentak, para pelayan dan bidan itu segera berlutut dan bersujud, “K-kami mengerti, Xianfei!”
Xue Kexin menghampiri bidan yang memeluk sang pangeran keenam, menghampiri bayi yang masih menangis nyaring itu. Lalu, wanita itu memasang wajah jijik. Dia memalingkan wajah dan berjalan ke luar.
Ketika matanya memandang sosok pengawal muda yang berlutut dengan air mata menuruni wajahnya, Xue Kexin mendengus dan berkata, “Chenxiao, kau bertanggung jawab membereskan semuanya.”
Dengan kedua tangan yang mengepal di atas tanah, Chenxiao memaksakan diri untuk menjawab, “Chenxiao … menerima perintah Xianfei.”
___
A/N: He he
__ADS_1