Phoenix Reborn Book II

Phoenix Reborn Book II
Bab 138 Kejutan


__ADS_3

Dengusan kesal terdengar dari seorang pria dengan dandanan seorang wanita. “Satu orang berkerudung yang mengendalikan ratusan panah dengan ayunan tangan? Menghilang dari pandangan bagai tertiup angin? Omong kosong!” bentak pria itu sembari memukul meja dengan keras. “Kalian para Suku Nanhan hanya lemah dan tak berani mengakui kelalaian kalian!” Dia menuding ke arah seorang pria lain bertubuh pendek dengan aura yang cukup dominan.


“Hudie, jangan kau lupa bahwa dirimu hanyalah bawahan dari sang pangeran keenam. Pada akhirnya, kau hanya baj*ngan rendahan. Ada hak apa dirimu membentakku seperti itu?” geram pria pendek itu dengan mata tajam sembari melipat kedua tangannya dan bersandar malas di kursi.


Melihat perilaku Nanhan Ding, emosi Hudie semakin menggebu-gebu. “Kalau memang sosok berkerudung itu sungguh ada dan mampu mengendalikan panah, kenapa aku tidak melihat pasukanmu mati berserakan karenanya, hah?!”


Nanhan Ding mendecakkan lidah, dia sendiri tidak tahu jawabannya. Namun, karena dia melihat keajaiban itu dengan mata-kepalanya sendiri, tak mungkin baginya untuk lari dari kenyataan!


“Hal itu sudah terjadi berhari-hari yang lalu! Berhenti membahasnya dan pikirkan apa yang harus kita lakukan sekarang, si*lan!” balas Nanhan Ding yang ikut kesal. “Keturunan Chen itu berhasil lari, tak lama lagi Perdana Menteri Liang akan kembali dengan bala bantuan dari Shi. Kita harus mulai menyusun rencana untuk menahan mereka cukup lama di tempat ini.”


“Tidak perlu bagimu untuk memberitahuku mengenai hal itu!” seru Hudie dengan nada membentak. Mengetahui tujuan majikannya—Wang Chengliu—tentu saja dia tahu bahwa hal terpenting sekarang adalah cara menahan pasukan Liang Shupeng dan bala bantuan Shi nanti. ‘Kita perlu memajukan rencana. Berita penyerangan Wu pasti akan terdengar ke Shi lebih cepat, dan itu berarti waktu untuk menguasai seluruh daerah Wu juga semakin singkat. Sepertinya … kita harus merelakan sejumlah daerah,’ pikirnya.


“Apa yang kalian takutkan?” sebuah suara berkumandang dengan nada melantun, menarik perhatian Hudie dan Nanhan Ding. Sosok seorang pria tampan dengan pakaian seorang bangsawan terduduk di kursi yang berada di seberang Nanhan Ding. “Perlu setidaknya satu minggu untuk pergi ke Shi,” imbuh pria itu.


“Langsung kepada intinya, Keturunan Li,” geram Hudie, tidak berada dalam emosi terbaiknya.


Li Changsheng menaikkan alisnya, lalu berkata, “Dengan luka Chen Long yang begitu parah, kalau memang Jenderal Nanhan kita tidak berbohong, maka perlu setidaknya dua minggu baginya untuk tiba di Shi. Perlu setidaknya satu minggu untuk pasukan bala bantuan Liang Shupeng dan Shi datang.” Pria itu meraih cangkir teh dan menikmati aromanya. “Kita masih punya kurang-lebih tiga minggu, apa yang kalian takutkan?”


Mendengar hal ini, Nanhan Ding terdiam. Tentunya dia tahu bahwa ucapan Li Changsheng benar. Akan tetapi, dengan kemampuan sang sosok berkerudung hitam, dia memiliki firasat ada kemungkinan pasukan bala bantuan akan tiba lebih cepat.


Kalau memang sosok berkerudung itu bisa datang dan pergi sesuka hati, siapa yang bisa menjamin dia tidak bisa berpindah dari Wu menuju Shi dalam sekejap mata juga?!


Li Changsheng bisa melihat ekspresi Nanhan Ding yang tetap tidak tenang. Dia memicingkan matanya selama sesaat sebelum akhirnya berusaha terlihat santai. “Kudengar setelah semua ini berakhir, Sihan Nu berencana menikahi Li Yanran?” tanyanya secara sembarang. “Aku mengira bahwa Nanhan Gu akan menikahkannya padamu.”

__ADS_1


Nanhan Ding mengerutkan keningnya. “Sihan Nu?!” ucapnya setengah berseru marah. “Omong kosong! Aku tak pernah mendengar mengenai hal ini sebelumnya,” tambahnya. “Dari mana kau mendengar omong kosong ini?” Terdengar jelas ada ketidaksukaan dari cara bicara pria tersebut.


Nanhan Ding adalah sepupu dari pemimpin suku Nanhan, Nanhan Gu. Dia merupakan pria yang diharapkan semua orang akan menjadi pemimpin Suku Nanhan berikutnya, terutama karena Nanhan Gu tidak memiliki keturunan. Oleh karena itu, ketika Li Yanran—wanita yang memiliki tali ikatan dengan pemimpin suku—datang, dia yakin bahwa dirinya akan dijodohkan dengan gadis itu untuk menjaga garis keturunan Nanhan Gu.


‘Heh,’ Li Changsheng mendengus di dalam hati, mengejek betapa mudahnya pikiran Nanhan Ding teralihkan. “Sebelum kita berangkat dari padang rumput, aku tak sengaja mendengar ucapan sang pemimpin Suku Nanhan.”


Kening Nanhan Ding berkerut. ‘Ini tidak boleh dibiarkan,’ pikirnya.


Jika Li Yanran menikahi Sihan Nu, maka Suku Sihan akan kembali menjadi suku pemimpin padang rumput. Bila hal itu terjadi, tak ada guna bagi Nanhan Ding untuk menjadi pemimpin Suku Nanhan. Dia hanya akan berakhir membungkuk pada orang lain!


Di sisi lain, Hudie menautkan alisnya. ‘Li Yanran menikahi Sihan Nu? Apakah Nanhan Gu kehilangan otaknya?’ maki pria itu. ‘Sebagai adik dari Li Changsheng, gadis itu akan lebih berguna bila dijadikan selir untuk Yang Mulia. Dengan begitu, Kerajaan Wu yang dipimpin oleh Li Changsheng akan tetap berada di bawah kendali Yang Mulia!’ Dia melirik Nanhan Ding yang terlihat marah. ‘Sepertinya … ada beberapa orang yang harus disingkirkan.’


Pandangan Li Changsheng menyapu ekspresi semua orang di ruangan itu, dan dia pun menutup mata. Pria itu berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan ruangan.


“Kau ingin pergi ke mana?” tanya Hudie,


Di tempatnya, Hudie mendengus. “Hal berguna?” Dia memutar bola matanya, mengejek ucapan Li Changsheng yang terkesan bijak. “Aku berani bertaruh dia akan menghabiskan waktu di sel atau di kediaman mendiang Tuan Putri Wu.”


***


“Kita … sungguh berada di Wu,” ucap Liang Shupeng, mengenali kediaman mendiang Wu Rongya yang sering dia kunjungi dahulu.


Sebagai kelompok pertama yang melalui lingkaran api—juga sebagai orang yang lebih familier dengan denah istana Kerajaan Wu—Liang Shupeng dan para prajuritnya bertanggung jawab untuk mengecek keadaan di sekitar, memastikan tidak ada musuh yang akan membocorkan lokasi mereka. Seiring waktu berjalan, mereka tersadar bahwa tidak ada orang yang berjaga di kediaman Wu Rongya.

__ADS_1


‘Tentu saja, tidak ada yang menduga bahwa sebuah pasukan besar akan muncul di tengah istana!’ teriak Liang Shupeng dalam hati.


“Kita sungguh di Wu?” tanya Huang Qinghao yang melihat ekspresi takjub para prajurit Wu yang telah melalui lingkaran api. Alisnya bertaut, masih sulit untuk percaya dengan keajaiban yang terjadi. “Siapa gadis itu?” tanyanya, berharap Liang Shupeng mengetahui satu-dua hal, terutama karena kelihatannya gadis bernama Lan’er itu adalah kenalan putranya.


Liang Shupeng menggeleng. “Tidak pernah kulihat dia sebelumnya,” jawab pria itu. Dia kemudian melihat sosok Liang Fenghong yang keluar dari lingkaran api dengan wajah suram. “Ada baiknya kita menanyakan hal tersebut pada orang yang terlibat langsung dengan gadis tersebut.”


Liang Fenghong melihat tatapan yang diberikan oleh semua orang padanya, dan dia pun menggelengkan kepala. “Jangan harapkan sebuah penjelasan. Akan lebih baik untuk tahu lebih sedikit mengenai gadis itu,” tuturnya singkat. Kemudian, mata pria itu memancarkan api membara. “Kita harus fokus pada tujuan utama kita saat ini, yaitu menyelamatkan Kaisar dan menyingkirkan para pemberontak dari ibu kota.”


Walau sedikit enggan mengesampingkan mengenai identitas Lan’er, tapi Liang Shupeng dan Huang Qinghao sadar bahwa ucapan Liang Fenghong benar. Pembahasan Lan’er bisa dilakukan di hari yang lain.


Huang Qinghao pun menganggukkan kepala dan memulai, “Tanpa informasi jelas mengenai lokasi Kaisar Wu, tak masuk akal bila kita langsung melancarkan serangan. Sebaiknya kita mengirimkan sejumlah kecil—"


Ucapan Huang Qinghao terhenti mendadak ketika suara decitan pintu yang terbuka terngiang di udara. Sejumlah kepala dengan cepat menoleh ke arah gedung tempat tinggal mendiang tuan putri untuk melihat satu sosok menatap mereka penuh kengerian.


Li Changsheng menatap pasukan besar di hadapannya dengan mata membesar dan ekspresi tak percaya. “Kalian … bagaimana kalian sampai di sini?!”


__


A/N:


Author dengan tampang serius menuliskan: Li Changsheng menatap pasukan besar di hadapannya dengan mata membesar dan ekspresi tak percaya. “Kalian … bagaimana kalian sampai di sini?!”


Author liat bagian judul masih kosong, lalu tersenyum: Kejutan~~

__ADS_1


 


 


__ADS_2