
Ketukan sepatu kuda pada jalanan berbatu terdengar garing. Namun, temponya yang sedikit cepat membuat jantung kedua orang yang berada di dalam kereta berpacu seirama.
Tidak seperti biasanya, sosok Huang Miaoling yang biasanya terduduk tegap di kursinya terlihat sedang bersandar pada pundak suaminya. Jari-jarinya saling terkait dengan jari-jari Liang Fenghong, seakan mencoba untuk mendapatkan kekuatan lebih dari pria tersebut. Wajah wanita itu terlihat suram, benaknya berputar memikirkan mengenai berita yang dia terima beberapa saat yang lalu.
‘Siapa yang mungkin membunuh Pangeran Kelima?’ pikir Huang Miaoling dengan kening berkerut.
Liang Fenghong menatap wajah istrinya, merasa hatinya sedikit sakit karena kekhawatiran yang terpancar. “Tenanglah,” ujarnya. “Akan baik-baik saja.” Dia mempererat genggaman tangannya, berusaha menenangkan Huang Miaoling. “Aku tak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu.”
Huang Miaoling mengangkat pandangannya untuk menatap Liang Fenghong sesaat. Lalu, dia berkata, “Aku tahu.” Dia menambahkan dalam hati, ‘Hanya saja, kematian Wang Wuyu akan menimbulkan berbagai macam masalah lainnya.’
Liang Fenghong tahu apa yang ada di dalam pikiran istrinya. Hal tersebut membuatnya mengerutkan kening. ‘Dalangnya tak lain orang itu ....' Kepalanya terasa pening. 'Bagaimana mungkin koneksinya bisa tersebar sejauh itu?’ Perasaannya tidak tenang. ‘Dia … jauh lebih mengerikan dibandingkan yang kukira.’
Perayaan pernikahan kedua sejoli itu belum sepenuhnya selesai. Namun, seakan langit tidak menyetujui persatuan keduanya, begitu banyak masalah timbul beriringan.
Suara kusir yang menghentikan kuda membuat Huang Miaoling dan Liang Fenghong merasa sedikit waspada. Pria itu membuka tirai dan melihat kalau mereka baru saja melewati gerbang istana.
‘Kenapa berhenti?’ pikir Liang Fenghong.
Mata Liang Fenghong tertuju pada sosok yang sedang berbicara dengan prajurit yang mengawal mereka. Tak lama, sosok tersebut pun menghampiri jendela kereta seraya memberi hormat.
“Tuan Liang, Mingwei Junzhu,” salam pria dengan pakaian pengawal tingkat tinggi itu.
Huang Miaoling yang telah menegapkan tubuhnya mengernyitkan kening. “Kau adalah pengawal pendamping Pangeran Mahkota, bukan?” ujarnya dengan curiga.
“Benar, hamba adalah pengawal pendamping Yang Mulia Pangeran Mahkota,” balas pria yang tak lain adalah A Ling.
“Ada apa?” tanya Huang Miaoling. ‘Pangeran Mahkota mengirimkan pengawal pendampingnya untuk menyampaikan pesan walau kami sedang menuju istana.’ Kerutan pada keningnya semakin mendalam. ‘Sepertinya, ada yang tidak beres.’
A Ling menyerahkan sebuah gulungan kertas—surat—yang kemudian diterima oleh Liang Fenghong. “Pangeran Mahkota hanya memerintahkanku untuk memberikan surat ini. Silakan Junzhu dan Tuan terima.” Setelah Liang Fenghong meraih surat tersebut, A Ling segera berkata, “Dengan demikian, hamba pamit.” Dia pun memberikan isyarat pada kusir untuk lanjut mengantar kedua tamunya dan berjalan pergi.
Di dalam kereta, Liang Fenghong segera membuka surat tersebut dan membacanya. Sekejap, alisnya bertaut dan pandangannya menggelap. Di sisi pria tersebut, Huang Miaoling memperhatikan ekspresi suaminya dengan saksama. Lalu, wanita itu mengalihkan pandangan pada surat yang dibiarkan terbuka oleh Liang Fenghong.
“Wang Junsi dan Wang Chengliu … bekerja sama?” Huang Miaoling tak bisa percaya dengan apa yang dia baca. “Ini omong kosong ….”
Huang Miaoling merebut surat tersebut dari Liang Fenghong dan mencoba membaca ulang, berharap dia salah membaca. Namun, isi surat memang mengatakan demikian, bahwa Wang Junsi bersekongkol dengan Wang Chengliu untuk menjatuhkan Wang Zhengyi.
Napas Huang Miaoling mulai terasa berat, tangannya yang terjatuh di atas pangkuannya bergetar. Mata wanita itu menerawang. “Wang Junsi?” Dia menutup matanya erat, mencoba menghubungkan satu benang dan yang lainnya. Mendadak, dia membuka matanya dan menghadap Liang Fenghong. “Ini tak masuk akal!”
Liang Fenghong menggenggam tangan Huang Miaoling yang bergetar. Pria itu mengerti bahwa saat ini istrinya sangat ketakutan. Kalau benar Wang Junsi bersekutu dengan Wang Chengliu, maka situasi keluarga Huang akan sangat berbahaya.
Hubungan Huang Miaoling dengan Wang Chengliu jelas bukan yang terbaik, Liang Fenghong tahu itu. Kalau Wang Junsi memutuskan untuk bersekongkol dengan Wang Chengliu, maka keluarga Huang bisa secara tidak langsung ikut terseret ke dalam sebuah pengkhianatan. Di sisi lain, bila Huang Miaoling melaporkan hal ini pada Kaisar Weixin, maka Wang Junsi ….
“Ling’er, tenang.” Liang Fenghong memasang wajah tegas. “Baca kembali,” ucapnya. “Pangeran Mahkota hanya mengatakan bahwa situasi dalam istana menegang. Dia merasa Pangeran Keempat dan Pangeran Keenam seakan memojokkannya. Itu hanya asumsi saja.” Liang Fenghong mencoba menenangkan Huang Miaoling. “Mungkin, kematian Wang Wuyu menjadi penyulutnya.”
Selama sesaat, Huang Miaoling terdiam. Dia memutar otak dan teringat dengan Pasukan Shiyan dan Tiaozhan yang diberikan kepada Wang Junsi dan Wang Chengliu. Hal itu membuat kepalanya menjadi semakin pening.
“Aku harus segera mengambil alih Pasukan Longzhu,” ujar sang Mingwei Junzhu. “Semakin lama Wang Junsi membantuku mengurusnya, maka akan semakin sulit bagiku untuk mengendalikan pasukanku sendiri.”
__ADS_1
Mendengar hal ini, Liang Fenghong tersenyum tipis. “Tenanglah, Pasukan Longzhu telah lama berada dalam naunganku.” Ucapannya membuat istrinya itu terbelalak, meminta penjelasan.
“Junzhu, Tuan Liang, kita telah tiba,” ujar sang kusir dari luar kereta.
Liang Fenghong mengusapkan ibu jarinya di wajah Huang Miaoling. “Akan kujelaskan nanti.” Lalu, dia keluar dari kereta dan menjulurkan tangannya untuk membantu istrinya itu turun.
Mendekati aula utama istana, Huang Miaoling dan Liang Fenghong bisa mendengar keributan. Hal itu membuat keduanya memasang wajah suram. Seiring keduanya melangkah masuk, semua orang yang berada di dalam ruangan segera mengalihkan pandangan untuk menatap sang Mingwei Junzhu dan Tuan Liang, kesunyian pun merebak.
Huang Miaoling dan Liang Fenghong dipersilakan oleh seorang pelayan untuk duduk. Dalam perjalanan menuju kursinya, sang Mingwei Junzhu telah menyapu seisi ruangan dan melihat orang-orang yang hadir. Kepada beberapa orang yang mereka kenal, mereka menyempatkan diri untuk memberi salam.
‘Para pangeran beserta para pejabat besar hadir, begitu pula dengan Guru Besar Qing.’ Mata Huang Miaoling sedikit berpindah ke satu sisi, menatap wajah Huang Yade yang sangat pucat. ‘Ini … buruk.’
Huang Yade tidak mengatakan apa pun, begitu pula dengan para pejabat lainnya. Seisi ruangan menjadi sunyi akibat kedatangan Huang Miaoling dan Liang Fenghong.
Tidak. Akan lebih tepat mengatakan bahwa seisi ruangan sunyi karena kedatangan Liang Fenghong.
Huang Miaoling melirik suaminya, menyadari bahwa pria itu sama sekali tidak terlihat terganggu. Dirinya sudah menduga ini akan terjadi, dan dia sudah membahas hal tersebut dengan Liang Fenghong, mencoba menghentikan kedatangan pria itu.
Bagaimanapun, Liang Fenghong adalah orang Kerajaan Wu, tidak seharusnya dia bergabung dengan pengadilan Kerajaan Shi. Demi Langit, bahkan Perdana Menteri Liang tidak hadir di sini!
Namun, apa yang bisa Huang Miaoling lakukan kalau perintah Yang Mulia Kaisar adalah meminta kehadiran Liang Fenghong juga?
Tiba-tiba, Huang Miaoling tersadar. ‘Kenapa hanya A Feng?’
Pikiran Huang Miaoling terhenti ketika sosok Kaisar Weixin berjalan masuk ke dalam ruangan diikuti dengan Kasim Gao dan beberapa pelayan lain. Wajah sang Putra Langit terlihat buruk, marah bercampur sedih, ditambah dengan lelah bercampur keputusasaan.
Tidak seperti biasanya, Kaisar Weixin hanya menganggukkan kepalanya dan duduk. Dia mengisyaratkan dengan tangan agar para pejabatnya bisa kembali duduk. Lalu, pria itu terdiam sesaat.
Saat dirinya siap, Kaisar Weixin membuka suara, “Qinghao, mulailah.” Suaranya terdengar begitu parau, seperti seseorang yang baru saja menangis.
Mendengar namanya disebut, Huang Qinghao pun berdiri dari kursinya dan memberi hormat. “Baik, Yang Mulia.” Dia berlanjut menjelaskan, “Seperti yang telah diberitahukan, Pangeran Kelima … terbunuh dalam perjalanan menuju Kun Lun.” Sang Jenderal Besar memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Sihan dan Nanhan merupakan dalangnya.”
Huang Miaoling mendelik. ‘Sihan?!’ Tangannya meremas roknya.
Apabila suku Sihan sungguh dalang dari pembunuhan Wang Wuyu, maka ada kemungkinan kalau Huang Qinghao akan terkena hukuman. Perang dengan suku Sihan dilaporkan telah selesai, kepulangan pasukan sang Jenderal Besar beberapa bulan yang lalu bisa dikatakan jaminannya.
“Apa yang membuktikan hal tersebut?” tanya Wang Zhengyi sembari menatap sang Jenderal Besar, matanya sekilas melirik Huang Miaoling. Pangeran tersebut tentunya ingin membantu wanita itu.
Huang Qinghao terdiam selama sesaat. “Petani yang mengantarkan mayatnya juga membawakan surat.”
“Petani?!” Yang Tianbai, kakek dari Wang Wuyu, ayah dari Yang Yuechan, berseru dengan suara tinggi. Sepertinya, pria itu bahkan masih belum sempat melihat tubuh cucunya. Mata pria itu memerah, seperti menahan tangis dan juga amarah. “Orang sudah mati, apa sedikit pun penghormatan tak bisa diberikan?! Bagaimana dia bisa mengantarkan cucuku kembali seperti itu?!”
“Apa kau berharap dia mengantarkan Wuyu dengan kereta emas?! Kau berharap ratusan wanita cantik mengarak mayatnya ke dalam kerajaan musuh?!” Kaisar Weixin berteriak dengan wajah merah, dia tak punya waktu untuk omong kosong seperti ini. “Kalau kau tidak bisa mengatakan suatu hal yang berguna, keluar!” Dia melayangkan jarinya ke arah pintu aula utama.
“Kaisar, tenanglah!” Semua pejabat segera menundukkan kepala, memohon.
Wang Chengliu tiba-tiba berkata, “Yang Mulia, tenanglah. Menteri Yang diselimuti kesedihan. Oleh karena itu, dia tak bisa mengendalikan emosinya.” Pria itu melemparkan sebuah pandangan ke arah Yang Tianbai.
__ADS_1
Ucapan sang Pangeran Keenam mengundang beberapa pasang mata tak bersahabat. Yang Tianbai mendelik dan mengepalkan tangannya. “Kau—!” Dia seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi dia menahannya dan kembali terdiam.
Ketika melihat Kaisar Weixin kembali tenang, Huang Qinghao menarik apas dalam-dalam. “Dendam para suku harus dibalaskan.” Sang Jenderal Besar melanjutkan, “Itu isi surat yang dititipkan pada sang Petani. Lambang kepala suku Sihan dan Nanhan tertera di atas kertas tersebut.”
Huang Miaoling yang sempat melemparkan tatapan kebencian kepada Wang Chengliu segera mengalihkan pandangannya kepada sang Ayah. Kening wanita itu berkerut. ‘Dendam?’ Matanya menggelap. ‘Jadi, di dalam suku Sihan juga terjadi—!’
“Pemberontakan.” Pandangan semua orang beralih kepada Liang Fenghong. “Kepala Suku Sihan telah meninggal.” Dia menatap Huang Qinghao. “Sihan Nu adalah dalangnya.”
“Sihan Nu?” Situ Haonan mengernyitkan wajahnya. “Adik dari Kepala Suku Sihan, juga ipar dari Kepala Suku Nanhan.” Pria itu menundukkan kepalanya, mencari-cari jawaban dalam otaknya. “Memberontak dengan bantuan iparnya untuk merebut kedudukan kepala suku dari kakaknya, lalu menyerang Shi? Tidakkah dia sadar kekuatan Shi masih jauh lebih besar dibandingkan dirinya?”
“Tidak.” Huang Yade membuat semua orang membeku. “Mereka tidak sebuta itu untuk tidak menyadari hal tersebut.” Alisnya bertaut dan dia menatap Situ Haonan. “Ada yang menyulut gerakan mereka.” Dia menatap Huang Miaoling. “Kekuatan yang lebih besar.”
Saat pandangannya bertemu dengan kakaknya, Huang Miaoling bisa merasakan seluruh tubuhnya tertelan emosi. Dia berusaha keras untuk mengendalikannya, dan telapak tangannya pun yang menjadi korban.
‘Ini jelas ulah … Wang Chengliu!’ Huang Miaoling merasakan tubuhnya bergetar, menahan diri untuk tidak menatap pria yang ada di dalam pikirannya. ‘Tak berhasil menyingkirkan Wang Junsi, dia beralih menyingkirkan Wang Wuyu terlebih dahulu. Pria itu sudah memulai gerakannya!’
Memikirkan hal tersebut, mata Huang Miaoling beralih kepada sosok Wang Junsi. Wajah sang Pangeran Keempat terlihat sedikit kelelahan dan pucat, sebagian karena dirinya baru saja kehilangan saudara, dan sebagian lagi karena hatinya masih belum sepenuhnya sembuh.
Huang Miaoling menarik napas dalam-dalam. ‘Tenanglah, Huang Miaoling. Berpikir ….’ Dia meregangkan semua ototnya yang sebelumnya menegang, lalu menatap ke arah Huang Yade. “Apa ada kabar dari Zhou?”
Pertanyaan mendadak dari sang Mingwei Junzhu membuat semua orang mengerutkan keningnya. Shao Yanjun berkata, “Junzhu, kita sedang membahas mengenai aliansi Sihan dan Nanhan serta kematian Pangeran Kelima, kenapa kau—?” Ucapannya terhenti ketika sepasang manik hitam segelap malam itu mendarat pada dirinya.
“Apa ada kabar dari Zhou?” Huang Miaoling mengulangi pertanyaannya.
Kali ini, Qing Gangtie yang memutuskan untuk menjawab, “Tidak.” Dia menggelengkan kepalanya. “Tidak ada kabar.” Entah kenapa, wajah pria tua itu terlihat dipenuhi kekhawatiran.
“Bagaimana dengan utusan Shi ke sana? Apa dia sudah kembali?” tanya Huang Miaoling, tidak memedulikan tatapan tak nyaman dari beberapa pejabat karena seorang wanita berbicara di pengadilan.
Huang Jieli yang bertugas mengenai hal tersebut menjawab, “Belum, sudah terlambat tiga hari. Kami berencana untuk mengirimkan pesan ke perbatasan untuk mengutus seseorang lagi.”
Huang Miaoling menjatuhkan pandangannya selama sesaat, dan semua orang pun terdiam. Seperti Kaisar Weixin yang sedang memperhatikan wanita itu, setiap orang lainnya di dalam ruangan itu sedang menunggu ucapan lain dari wanita itu.
Namun, tanpa diduga, seorang lain angkat bicara, “Tidak perlu kirimkan utusan lain.” Semua orang menatap ke arah Liang Fenghong yang memasang wajah datar.
“Kenapa?” tanya Situ Haonan. “Kita tidak bisa terus menunggu. Hari pernikahan terbaik semakin mendekat. Kalau tidak—!”
“Pernikahan tak akan dilangsungkan,” potong Liang Fenghong.
“Apa maksudmu?” Wang Junsi akhirnya angkat bicara.
Liang Fenghong menutup matanya sesaat sebelum berkata, “Zhou telah menghancurkan pakta.”
____________
A/N:
Author yang jadi notulen di dalam ruangan: (dalam hati) Omaigat, perang besar is coming? Iyakah? Apa banyak yang mati? Siapakah? Apa akan digagalkan? Tunggu, jadi Wuyu mati? Mana mayatnya?! Belom liat!
__ADS_1